Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 139. Adrian Sasmita


__ADS_3

Di hari pertama membuka prakteknya, Libra langsung berhasil memikat cukup banyak pasien dan membuat tempat itu ramai tak terkira. Bahkan, kini Libra tampak kesulitan untuk menangani pasien yang terus berdatangan ke tempatnya. Baik pria maupun wanita, mulai dari yang tua sampai yang muda sudah mencoba pengobatan di tempat praktek terbaru milik dokter Libra itu.


Kini Libra kembali mempersilahkan pasien selanjutnya untuk masuk kesana dan menjalani pemeriksaan, ia tampak menegakkan posisi duduknya dan bersiap menyambut pasien yang akan datang saat ini. Rasanya ia sudah nyaman dengan pekerjaannya itu, karena ia bisa bebas melakukan apapun sesuka hatinya tanpa perlu takut pada sang atasan atau dipecat.


Ceklek


Begitu pintu dibuka, Libra spontan menatap ke arah seseorang yang baru masuk itu dan tersenyum dibuatnya. Tampak seorang wanita cantik muncul di hadapannya saat ini, lalu terduduk tepat di hadapan Libra setelah diberi izin oleh sang dokter. Wanita itu pun terlihat begitu pucat dan tampak lemas, ia mengenakan sweater yang menutupi tubuhnya karena merasa sangat kedinginan.


"Dengan mbak siapa dan keluhannya apa?" tanya Libra pada wanita cantik itu.


"Uhuk uhuk, saya Alya dok. Dari kemarin saya ngerasa pusing dan panas dingin, malahan ini sekarang juga agak batuk-batuk. Saya udah coba minum obat warung, tapi gak ada hasilnya. Makanya saya coba buat datang ke tempat ini," jelas si wanita.


"Oalah, itu kamu kena gejala flu. Biar saya periksa dulu ya mbak, supaya nanti saya bisa berikan obat yang tepat buat mbak?" ucap Libra.


"I-i-iya dok.."


Libra mulai menggunakan alatnya untuk memeriksa kondisi wanita bernama Alya itu, sepanjang diperiksa itu juga Alya pun terus batuk-batuk serta sesekali bersin. Libra tersenyum menyadari bahwa sakit flu yang diderita Alya sudah cukup parah, dan hal itu tentunya harus segera diobati supaya tidak semakin memburuk nantinya.


"Gimana dok, saya bisa kan sembuh? Soalnya saya gak tahan banget sama kondisi saya yang kayak gini, jadi susah mau ngapa-ngapain," ucap Alya.


Libra tersenyum saja dibuatnya, ia sudah biasa menghadapi keluhan pasien yang seperti ini. Kemudian, tanpa basa-basi Libra memberikan catatan berisi obat untuk wanita itu tentunya. Alya pun tampak sangat berterimakasih, karena wanita itu merasa lebih baik setelah mendapat penanganan dari sang dokter yang tampan nan rupawan itu.


"Ini obatnya, nanti bisa kamu tebus di depan. Saran saya, banyak istirahat dan minum air putih ya! Semoga setelah ini, sakit yang kamu derita bisa cepat hilang!" ucap Libra.


"Terimakasih dok, kalo gitu saya permisi!" ucap Alya pamit pada sang dokter.


Libra mengangguk perlahan, sedangkan Alya tampak bangkit dan melangkah ke luar dari ruangan itu. Namun sebelum sempat membuka pintu, Alya malah merasa pusing dan akhirnya jatuh pingsan tepat di dekat pintu. Sontak Libra yang melihatnya merasa terkejut, begitu juga dengan sang suster yang membantunya disana.


"Loh dok, pasiennya pingsan dok. Gimana ini?" ujar suster itu merasa panik.


"Tenang tenang, kamu bantu saya rebahkan mbak Alya di brankar ya sus! Kayaknya dia pingsan karena keletihan," ucap Libra bangkit dari duduknya.


"Baik dok, saya siapkan semuanya!" ucap suster itu menyiapkan brankar yang ada disana.


Setelahnya, Libra menghampiri Alya dan coba mengeceknya sebelum mengangkat tubuh gadis itu untuk membawanya ke brankar. Libra meletakkan tubuh Alya dengan perlahan-lahan di atas sana, lalu mulai kembali memeriksanya. Tapi tanpa diduga olehnya, pintu tiba-tiba terbuka memperlihatkan sosok Ciara yang masuk kesana.


"Mas?" Ciara terkejut dan salah sangka saat melihat suaminya tengah membungkuk di dekat tubuh seorang wanita cantik.




Disisi lain, Tiara dipersilahkan masuk ke dalam ruang sang CEO untuk melakukan interview. Wanita itu tampak ragu saat memasuki ruangan itu, pasalnya sebelum ini ia telah bertemu dengan si ceo dan sempat terjadi selisih paham diantara mereka. Kini malah Tiara berdiri tepat di hadapan pria yang tadi ia sebut sombong itu, sehingga ia sendiri merasa bingung harus melakukan apa.


Sementara sang CEO sendiri masih fokus pada layar ponselnya disana, pria itu seolah tak perduli dengan keberadaan Tiara di depannya saat ini. Ya Tiara pun tampak jengkel dan mencoba menegur pria itu, tapi nampaknya si ceo masih tetap fokus pada ponsel yang dia pegang sekarang. Tiara semakin kesal dibuatnya, lalu kembali berdehem pelan untuk berusaha menyadarkan si ceo akan keberadaannya.


"Ehem ehem!" awalnya wanita itu berdehem pelan, tapi lambat laun deheman itu semakin keras karena si ceo yang terus mendiamkannya.


Akhirnya pria itu melirik sekilas ke arahnya, barulah ia letakkan ponselnya itu di meja dan beralih menatap wajah Tiara saat ini. Ia masih sedikit kesal dengan peristiwa di luar tadi, saat dirinya nyaris saja bertabrakan dengan wanita itu. Namun, kali ini pria itu memerintahkan Tiara untuk duduk yang langsung dituruti oleh si wanita.

__ADS_1


"Siapa nama kamu? Mau apa kamu datang ke ruangan saya?" tanya pria itu dingin.


Tiara memalingkan wajahnya dan mengumpat kesal di dalam hatinya, "Gak jelas banget sih nih orang! Dia masa gak tahu kalau aku kesini karena disuruh sama pak managernya?" begitulah isi kekesalan hatinya.


"Hey! Kenapa kamu malah diam? Apa kamu sudah tidak punya mulut untuk berbicara dengan saya, hm?" tegur si pria.


Kini Tiara kembali menatap ke arah pria itu, ia tersenyum lebar dan berusaha menahan emosinya. Biar bagaimanapun, Tiara harus bisa menjaga sikap di depan sang bos besar karena tetap ia masih membutuhkan pekerjaan itu. Meski Tiara amat jengkel dengan sikap sombong pria itu, tetapi Tiara tak memiliki pilihan lain untuk saat ini.


"Eee halo pak, salam kenal nama saya Tiara! Saya diminta datang kesini oleh pak manager untuk menemui bapak, katanya bapak sendiri yang akan mewawancarai saya," jelas Tiara dengan lembut.


"Ohh, jadi ini kamu yang mau melamar pekerjaan disini ya? Berani banget kamu, emangnya kamu bisa apa buat bekerja disini?" ucap si pria.


Tiara terdiam seraya menundukkan wajahnya, ia bingung harus menjawab apa kepada calon bos besarnya itu. Jika ditanya soal kemampuan, maka jujur Tiara memang belum memiliki banyak kemampuan dalam bekerja sebagai sekretaris. Ya terakhir kali ia bekerja, posisinya hanya sebagai staf biasa di kantor sang mantan suami.


"Umm, saya mungkin bisa berkomitmen pak untuk memajukan perusahaan ini. Lagian kalau memang bapak gak percaya sama saya untuk jadi sekretaris bapak, ya gapapa. Dari awal kan niat saya melamar di posisi admin," ucap Tiara lirih.


"Pesimis banget sih kamu, saya gak suka ya sama orang yang pesimis kayak gitu!" tegur si pria.


"Maaf pak, ya intinya saya janji akan melakukan yang terbaik kalau bapak memang mau memilih saya nantinya!" ucap Tiara sedikit gugup.


"Baiklah, kamu diterima!" ucap si pria singkat.


Deg


Tiara terkejut dan spontan mendongak ke arah wajah si pria, seolah tak menyangka kalau semua ini akan semudah itu. Apakah mungkin Tiara sudah diterima sebagai sekretaris pria itu, atau ini hanya bagian dari prank yang dibuat si pria? Tiara bingung saat ini, haruskah ia bahagia atau justru merasa sedih sekarang?


"Apa pak? Beneran ini saya diterima? Jadi sekretaris bapak gitu?" tanya Tiara memastikan.


"Eh ja-jangan pak! Saya mau kok jadi sekretaris bapak, ya walau agak nyebelin sih.." Tiara agak memelankan suaranya di akhir.


Namun, sepertinya pria itu masih bisa sedikit mendengar kata-kata Tiara barusan. Ya terbukti pria itu langsung bertanya pada Tiara mengenai apa yang dikatakan olehnya, tetapi Tiara masih bisa mengelak dan mengatakan kalau ia hanya bahagia dapat diterima bekerja di perusahaan sebesar itu.


"Yasudah, kamu mulai kerja sekarang aja ya! Temani saya meeting dengan klien satu jam lagi, sana gih kamu siap-siap!" ucap si pria.


"Baik pak! Tapi maaf, boleh saya tahu nama bapak?" tanya Tiara.


"Buat apa? Kamu nanti naksir lagi sama saya kalau tahu nama saya," cibir si pria disertai senyum tipis yang membuat Tiara muak.


Rasanya Tiara ingin segera pergi saja dari ruangan itu, ia sudah tak tahan dengan sikap bosnya itu yang benar-benar menjengkelkan. Akhirnya Tiara pun bangkit dari tempat duduknya, lalu pamit kepada si pria untuk bisa pergi.


"Saya permisi dulu pak, saya mau menyiapkan keperluan meeting bapak nanti!" pamit Tiara.


Pria itu hanya terdiam, tanpa menunggu jawaban dari si pria Tiara pun bergegas membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju pintu. Namun, tiba-tiba saja pria itu bangkit lalu menahan laju Tiara dengan suara beratnya.


"Tunggu!" teriak si pria menahan wanita itu.


Tiara menoleh ke arah bosnya, ia mengernyitkan dahi tanda heran saat melihat pria itu memanggilnya dan memintanya berhenti.


"Nama saya Adrian, Adrian Sasmita!" ucap si pria mengenalkan dirinya disertai senyuman.

__ADS_1


Entah mengapa jantung Tiara tiba-tiba berdebar cukup kuat mendengarnya, baru nama saja sudah berhasil membuatnya merasa gugup dan tidak tahu apa yang terjadi dengannya.




Galen kini tengah bersama salah seorang anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencari informasi mengenai Bagas, alias sosok kekasih dari Jessica. Sampai kapanpun, Galen tak akan pernah memaafkan Bagas yang sudah membuat hidupnya dan juga Tiara hancur. Akibat pria itu, saat ini Galen harus terpisah dari keluarganya dan hidup sebatang kara tanpa kasih sayang dari siapapun.


"Bagaimana Farrel, apa kamu sudah berhasil melakukan yang saya perintahkan?" tanya Galen dengan penasaran.


Farel tampak menunduk dengan kedua tangan ada di depannya, ia merasa takut untuk menceritakan apa yang ia alami selama melakukan penyelidikan. Ya Farrel khawatir jika Galen akan marah nantinya, tetapi dengan diamnya Farrel saat ini maka pasti sudah membuat Galen emosi. Apalagi, Farrel seolah tidak mau memberikan jawabannya.


"Farrel, kenapa kamu malah diam? Ayo jawab saja, katakan sesuai fakta yang ada!" tegur Galen.


"Ma-maaf pak, semua penyelidikan saya gagal membuahkan hasil. Saya malah nyaris ketahuan menyusup ke dalam perusahaan pria itu, untung saja saya masih bisa kabur pak," jelas Farrel gugup.


"Ah sial! Kenapa bisa kamu gagal sih? Saya kan sudah bilang, lakukan semuanya dengan hati-hati! Jangan sampai ketahuan, kamu itu dikasih tugas kecil kayak gini aja gak bisa dasar payah!" ucap Galen mengumpat kesal.


Tidak ada yang bisa dikatakan Farrel selain menunduk pasrah, pria itu sungguh menyesal karena telah gagal melakukan tugas dari bosnya. Memang betul apa yang dikatakan Galen tadi, bahwa Farrel tidak bisa bekerja dengan benar dan malah nyaris mengacaukan penyamarannya sendiri. Farrel juga bingung harus apa saat ini, karena semua rencana yang ia buat telah gagal.


"Sudahlah, kamu pergi sana! Tidak ada bayaran ya untuk kamu, karena kamu sudah gagal. Saya mau kamu bawa Bagas kesini, bukan malah berita tidak menyenangkan ini!" geram Galen.


"Sekali lagi saya mohon maaf pak, saya akan kembali melakukan penyelidikan dan membawa pria itu ke hadapan bapak!" tegas Farrel.


"Saya tidak butuh kata-kata, saya mau aksi dan kamu harus buktikan kalau kamu bisa diandalkan! Cepat kamu pergi, jangan buang waktu!" sentak Galen.


"Ba-baik pak, permisi!" gugup Farrel.


Akhirnya Farrel pergi dari sana meninggalkan Galen seorang diri, sedangkan Galen tampak begitu kesal dan memukul kursi rodanya. Galen benar-benar emosi karena gagal mendapatkan Bagas, padahal ia sudah sangat geram dan ingin sekali menemui pria yang telah membuat hidupnya hancur itu. Namun, saat ini ia harus mengurungkan niatnya tersebut karena Farrel gagal membawa Bagas kesana.


Tak lama kemudian, tanpa diduga Jessica muncul di depan pria itu secara tiba-tiba dan membuat Galen amat terkejut. Galen menatap wajah wanita itu dengan bingung, karena ia tak mengira kalau Jessica akan datang kesana menemuinya. Padahal, Galen sudah pergi secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh wanita itu.


"Mas, kamu ternyata selama ini masih cari-cari keberadaan Bagas? Buat apa sih mas? Udah lah kamu gausah cari gara-gara sama dia, nanti kamu bisa kena bahaya loh!" ucap Jessica.


Galen memalingkan wajahnya dan menghembuskan nafas dingin, rasa khawatir yang ada di dalam diri Jessica sama sekali tak berpengaruh bagi Galen. Jika Tiara yang mengatakan hal itu, maka mungkin Galen bisa mengurungkan niatnya. Ya hanya Tiara seorang yang bisa meluluhkan hati Galen, tetapi kini wanita itu telah bukan menjadi miliknya.


"Mas, ayolah kamu dengerin aku ya! Mending kita pulang aja terus urus calon anak kita ini bareng-bareng, gausah lah kamu mikirin si Bagas itu lagi!" bujuk Jessica.


"Anak itu akan baik-baik saja Jessica, tapi sekarang saya harus pastikan Bagas mati di tangan saya!" ucap Galen mengepalkan tangannya.


"Hah? Mas, kamu jangan salah bertindak loh! Salah-salah nanti malah kamu yang kena masalah, ingat mas Bagas itu bukan orang sembarangan!" ucap Jessica memperingati.


"Sssttt, sudah saya tidak mau dengar apapun dari kamu! Ayo kita pulang saja!" titah Galen.


"Iya mas."


Jessica mengangguk paham, lalu mulai mendorong kursi roda lelaki itu menuju ke dalam rumah mereka yang tidak terlalu jauh.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2