Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 190. Daiva lemas


__ADS_3

Cyra tengah melamun seorang diri di dalam kantin sambil memegang buku, ia terus saja memikirkan perkataan mamanya kemarin yang dengan jelas berkata bahwa dia telah dilecehkan oleh Davin saat masih remaja dulu. Sulit rasanya bagi Cyra mempercayai hal itu, sebab yang ia tahu Davin adalah orang baik dan tak mungkin Davin sampai tega berbuat seperti itu kepada Ciara.


Tanpa ia duga, Amar yang sedari tadi sudah mengintai dari jauh langsung mendekat dan menyapa gadis itu dengan lembut disertai senyum manisnya. Sontak Cyra terkejut, reflek ia menatap ke arah pria itu dengan wajah jengkel pertanda bahwa ia tidak suka pada kemunculan Amar. Apalagi, pria itu memang kerap kali membuat Cyra merasa kesal karena paksaan atau kalimat yang sangat aneh.


"Hai Cyra! Masih pagi gini kamu udah ngelamun aja, hati-hati loh kesambet nanti!" sarkas Amar.


Cyra hanya diam tanpa ekspresi, ia justru merasa mual mendengar kata-kata yang dilontarkan Amar barusan. Sedangkan Amar sudah terduduk tepat di dekatnya, tampak pria itu tak menyerah begitu saja untuk bisa mendekati Cyra. Sepertinya Amar memang begitu tertarik pada Cyra, sehingga dia tidak semudah itu menyerah.


"Eee kamu ngapain ikut duduk disini? Tempat lain masih banyak yang kosong loh, kenapa kamu harus disini?" tanya Cyra dengan nada ketus.


Amar tersentak, ia sampai harus menelan salivanya karena gugup setelah mendengar ucapan gadis itu. Namun, Amar tak menyerah begitu saja dan malah bergerak semakin mendekati tubuh Cyra tanpa rasa malu sedikitpun. Cyra yang didekati seperti itu tentu saja merasa risih, tetapi Amar seolah tak perduli dengan sikap yang ditunjukkan Cyra saat ini.


"Kamu tuh mau apa sih, Amar? Jangan ganggu aku deh, aku lagi pengen sendiri!" sentak Cyra.


"Hm, emang kamu kenapa Cyra? Lagi ada masalah ya? Cerita aja sama aku sini, biar aku bisa bantu tenangin kamu!" ucap Amar.


"Kamu gak perlu tau, cukup dengan kamu pergi aja dari sini itu udah bantu aku kok!" pinta Cyra.


Sayangnya, Amar justru menggeleng seakan menolak untuk menuruti permintaan Cyra agar pergi dari sana. Ya Amar memang sengaja ingin tetap disana, karena ia telah memiliki rencana untuk bisa semakin dekat dengan Cyra. Rasa kagumnya pada gadis itu sudah semakin besar, membuat Amar tak mungkin dapat menjauh dari gadis itu lagi.


"Kalau aku gak mau pergi, gimana? Maaf banget nih Cyra, tapi aku kayaknya udah nyaman deh duduk di samping kamu kayak gini! Lagian ini kantin kan bukan punya kamu, jadi kamu gak berhak buat larang aku duduk disini!" ucap Amar.

__ADS_1


"Ohh, iya sih kamu emang benar. Ya tapi kan aku duluan yang duduk disini, kamu pergi sana ah sebelum aku teriak nih!" ancam Cyra.


Amar malah tersenyum dibuatnya, Cyra yang melihat itu sontak menggeleng tak senang dan ingin sekali rasanya ia memukul wajah pria menyebalkan itu. Hanya saja, Cyra tahu diri karena disana ada cukup banyak siswa dan siswi yang tengah bersantai. Lagipun, pastinya Cyra juga merasa tidak enak jika ia harus melakukan itu kepada Amar saat ini.


"Kenapa kamu kayak gitu, hm? Gak suka ya sama aku?" goda Amar.


"Itu kamu tau, kenapa kamu malah tetap aja deketin aku? Mending kamu cepat pergi deh, aku muak sama kamu!" ucap Cyra.


"Cyra, ka-kamu...."


Ucapan Amar terhenti, karena tiba-tiba Rachel alias sahabat dari Cyra muncul disana dan langsung menghampiri mereka. Ya kehadiran Rachel membuat Amar menggeram kesal, tapi tentu amat membahagiakan bagi Cyra saat ini.




Karena penasaran, Askha dan juga kedua teman lelakinya itu bergerak mendekat ke arah Daiva yang jalan dengan sempoyongan itu. Daiva juga tampak memegangi kepalanya, bahkan gadis itu tidak bisa berjalan sempurna dan harus meminta bantuan pada dinding di dekatnya. Kecurigaan Askha semakin menjalar, namun ia memilih untuk berpikir positif.


"Daiva, lu abis ngapain? Kenapa lemes kayak gini, ha? Lu sakit ya?" tanya Askha tampak cemas.


"Hah? Kak Askha??" Daiva terkejut bukan main ketika melihat Askha berdiri di depannya, rasa pusing di kepalanya semakin menjadi dan membuat ia mulai kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


Sontak Askha semakin panik ketika melihat Daiva yang nyaris terjatuh itu, dengan cepat ia bergerak lalu menahan tubuh Daiva disana. Beruntung Askha dapat tepat waktu menahannya. Jika tidak, mungkin saja Daiva sudah terjatuh ke lantai. Askha pun tampak penasaran, ia heran apa sebenarnya yang terjadi pada Daiva sampai terlihat begitu lemas.


"Daiva, lu ini kenapa sih? Badan lu kelihatan lemas banget loh, kayak orang abis nguli aja. Kenapa sih lu, hm?" tanya Askha kembali.


Daiva tampak bingung menjawabnya, tak mungkin ia berkata jujur kepada Askha mengenai apa yang baru saja ia lakukan bersama Davin di belakang sana. Daiva tak ingin dipandang buruk oleh Askha, apalagi ia juga menyukai permainan Davin sebelumnya. Kini Daiva berusaha mencari alasan yang tepat, agar Askha bisa percaya padanya.


"Gu-gue gapapa kok, gue mungkin lemas karena belum makan aja kali. Kepala gue juga pusing banget nih, gue mau ke kantin dulu ya kak?" ucap Daiva berbohong.


"Ohh, jadi lu belum makan? Ya ampun Daiva, udah ayo cepetan gue antar lu ke kantin! Mumpung masih ada beberapa menit lagi nih sebelum bel," ucap Askha.


"Makasih kak." Daiva pun tersenyum dan merasa lega karena Askha percaya pada jawabannya.


Akhirnya Askha memapah tubuh Daiva secara perlahan menuju kantin, kedua temannya juga mengikuti dari belakang. Askha hanya tak ingin jika Daiva terjatuh atau malah pingsan nantinya, meski ia sebenarnya tak terlalu menyukai gadis itu. Ya wajar saja bila Askha seperti itu, sebab sikap Daiva selama ini memang cukup menyebalkan.


"Huft, untung aja Askha percaya sama kata-kata gue! Kalau enggak, gue yakin dia pasti bakal nanya terus dan desak gue buat jawab!" batin Daiva.


Disaat yang sama, Daiva tak sengaja melihat sosok Davin juga melewati jalan di sekitar sana. Sontak Daiva tercengang, ia melihat jelas bahwa Davin tersenyum ke arahnya sembari mengedipkan satu matanya. Tubuhnya merinding seketika, senyuman Davin saat ini seolah-olah menunjukkan sesuatu yang penuh arti di dalamnya.


"Daiva, kamu lihatin apa sih?" Askha yang heran dengan ekspresi Daiva pun bertanya, ya tingkah gadis itu memang cukup mengherankan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2