
Kini Ciara menghampiri pamannya yang sudah berada di meja makan dan tengah menunggunya, gadis itu pun tersenyum sambil menyapa sang paman dengan lembut. Sontak Libra terkejut, pria itu sebelumnya memang sedang melamun memikirkan Ciara sampai-sampai tak sadar kalau gadis yang ia bayangkan sudah ada di dekatnya.
Libra nyaris saja terjatuh dari kursinya jika Ciara tidak memeganginya, pria itu sepertinya benar-benar terkejut dengan kehadiran Ciara disana. Apalagi sedari tadi dirinya memang tengah membayangkan kejadian saat di kamar tadi, jujur Libra belum dapat melupakan bagaimana bentuk tubuh Ciara yang mulus dan seksi itu.
"Hayo, om mikirin apa aja daritadi? Masa aku sapa pelan aja kaget sih?" ujar Ciara.
"Eee gak ada kok, tadi saya kaget aja karena kamu munculnya tiba-tiba. Udah sini kamu duduk, kita sarapan dulu sebelum berangkat!" ucap Libra.
"Iya om, tapi beneran om gak mikirin apa-apa?" tanya Ciara sedikit menggodanya.
"Udah deh Ciara, kalau kamu begitu terus lama-lama saya gak tahan dan malah cium kamu lagi nih seperti waktu itu!" ucap Libra kesal.
Deg!
Ciara terkejut, kemudian memilih duduk di sebelah pamannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan olehnya. Ciara pun juga berpura-pura mengambil piring dan menuang nasi, padahal saat ini di dalam hatinya masih berdebar-debar akibat perkataan Libra tadi. Sedangkan Libra sendiri terus saja memandangi gadis itu tanpa berkedip.
"Saya makin cinta sama kamu Ciara," lirih Libra.
Lagi-lagi Ciara dibuat kaget dengan ucapan pamannya, gadis itu reflek menoleh dan menatap wajah Libra karena tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan pamannya itu. Libra sendiri juga menutup mulutnya, tak menduga jika Ciara dapat mendengar ucapannya. Dan kini pria itu pun terlihat kebingungan, dia tak tahu harus menjelaskan bagaimana pada Ciara saat bertanya nanti.
"Om, maksud om bicara kayak gitu apa? Om cinta sama aku? Bukannya om udah punya pacar ya, sama kak Bella kan?" tanya Ciara dengan polosnya.
Libra menggeleng perlahan, "Saya sudah gak punya pacar, dan lagian yang tadi saya bilang itu maksudnya cinta dalam bentuk paman ke ponakan gitu," jawabnya mengelak.
Ciara mengernyit penuh heran, "Udah gak punya pacar? Terus kak Bella dikemanain om?" tanyanya.
__ADS_1
"Kamu gausah sebut-sebut nama dia lagi di depan saya ya, Ciara! Saya itu udah benci banget sama dia, saya gak mau dengar apapun tentang dia lagi!" ucap Libra tegas.
"Emang kenapa sih om? Kok bisa om sampai sebenci itu sama kak Bella?" heran Ciara.
Bukannya menjawab, Libra justru menghela nafasnya dan memalingkan wajahnya dari gadis itu karena tak ingin menceritakan mengenai masalah yang menimpanya dengan sang kekasih. Menurutnya, kejadian itu sangat melukai hatinya dan ia sudah tidak ingin membahas itu lagi karena semuanya hanya akan melukai hatinya. Lagipun, Libra juga sudah bertekad untuk memulai kehidupan barunya dan melupakan Bella dari pikirannya.
"Om kok diem aja sih? Aku salah ya nanya kayak gitu? Maaf deh om, yaudah aku gak bakal bahas soal kak Bella lagi," ucap Ciara merasa bersalah.
"Ya, itu bagus. Saya emang udah gak mau bahas dia lagi sekarang," ucap Libra ketus.
Ciara pun memilih diam dan fokus menyantap makanan di meja, sangking fokusnya gadis itu sampai tersedak dan membuat Libra panik. Sontak Libra langsung mendekat lalu membantu Ciara untuk menghilangkan rasa sakitnya, pria itu menepuk punggung Ciara sampai sang empu sudah merasa lebih baik. Tanpa diduga, kejadian itu malah membuat wajah mereka jadi saling berdekatan dan saat itu juga keduanya pun bertatapan intens.
•
•
Seluruh murid tampak tertib duduk di tempat masing-masing dan memandang ke arah depan dengan kedua tangan di atas meja, hal yang sangat terjadi tentu di sekolah negeri wakanda ini. Mereka semua fokus mendengar apa yang disampaikan pak Romo, termasuk juga Ciara. Ya gadis itu tidak lagi melamun seperti kemarin, mungkin sudah kapok.
Pak Romo pun menyampaikan apa yang diminta kepala sekolah saat rapat bersama tadi, beliau mengatakan jika sekolah akan mengadakan kemping bersama untuk mengisi weekend mereka Minggu nanti. Tentunya semua disana tampak antusias menyambut pengumuman tersebut, sebab sudah sangat jarang acara camping diadakan.
"Baik anak-anak, jadi itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya harap kalian semua bisa mengikuti acara ini ya, karena ini bersifat wajib bagi angkatan kalian dan sunnah untuk anak-anak kelas 12! Tapi, bagi yang memang tidak bisa mengikuti acara ini harap sertakan alasannya," ucap pak Romo.
"Baik pak!" jawab mereka serentak disertai senyuman penuh kebahagiaan.
Begitu juga dengan Ciara, gadis itu terlihat amat antusias dan sudah tidak sabar ingin segera mengikuti camping tersebut. Namun, ia belum tahu apakah mama papanya akan mengizinkan ia untuk mengikuti camping kali ini. Anin dan Cleo pun menghampiri Ciara, kedua gadis itu merangkul Ciara dari kanan dan kiri sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Yeay Ciara, akhirnya kita bisa camping bareng deh! Gue yakin disana nanti pasti seru banget deh, apalagi kalau kita bareng-bareng!" ucap Anin.
"Bener tuh, gue jadi gak sabar deh pengen cepat-cepat hari Sabtu biar kita bisa langsung berangkat kesana! Kayaknya bakal asyik banget deh kalo kita camping bertiga," sahut Cleo.
"Iya guys, tapi kan itu masih lama. Sekarang baru juga hari Rabu, kalian balik gih sana ke tempat kalian!" ucap Ciara ketus.
"Ih kok lu galak amat sih Ciara? Lu kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Anin bingung.
Ciara menggeleng, "Enggak ada, cuma gak enak aja sama pak Romo tuh, dia kan masih ada di depan. Baiknya kalian balik ke tempat duduk," jawabnya.
"Hehe iya sih, yaudah kita kesana ya?" kekeh Cleo.
Ciara manggut-manggut saja mengiyakan ucapan sahabatnya itu, lalu Cleo dan Anin pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Sedangkan pak Romo di depan sana tampak menunjuk Ali, si ketua kelas untuk menyebarkan selebaran camping kepada teman-temannya disana. Ya selebaran itu berisi informasi mengenai camping, yang nantinya akan diserahkan pada orang tua seluruh murid.
"Ci, nih selebaran nya! Jangan lupa minta tanda tangan ke ortu lu, pokoknya lu harus ikut!" ucap Ali sembari menyerahkan selebaran itu pada Ciara dan tersenyum menatapnya.
"Iya iya.." Ciara mengiyakan saja perintahnya.
Setelah Ali pergi, Ciara mengambil selebaran itu dan menatapnya dengan wajah bingung. Jujur Ciara khawatir mama atau papanya tidak akan setuju dengan ini, sebab sebelumnya saat ia masih SD mereka tidak memperbolehkan dirinya mengikuti kegiatan camping.
"Huft, kira-kira aku bakal diizinin gak ya buat ikut kegiatan ini? Ah kan ada om Libra, aku bisa minta bantuan dia nanti!" gumam gadis itu.
Ciara pun memasukkan surat itu ke dalam tasnya, lalu lanjut tersenyum dengan dua tangan menopang dagunya. Ya gadis itu tanpa sadar kembali membayangkan wajah pamannya, entah mengapa belakangan ini ia seperti sulit sekali menghilangkan wajah sang paman dari pikirannya. Seolah-olah pria itu telah berhasil meracuninya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...