Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 79. Memang berhubungan


__ADS_3

Libra tersentak lalu melepas pelukannya dan menatap wajah Ciara dengan serius, ia mengernyit tanda heran karena tak mengerti apa yang dimaksud oleh Ciara. Sedangkan gadis itu spontan menutupi mulutnya menggunakan kedua tangan, tapi dengan cepat juga Libra menarik tangan Ciara dan menggenggam telapak tangannya dengan kuat.


"Kamu bicara apa tadi? Memangnya kamu pengen ya khilaf sama aku disini, hm? Udah mulai nakal ya kamu Ciara?" goda Libra.


"Apa sih om? Gak gitu maksud aku! Aku tuh—mmpphh..."


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Libra yang sudah tak tahan langsung saja *****4* kasar bibir gadisnya itu dan mendorongnya sampai menyentuh dinding kamar mandi. Tak lupa kedua tangan Ciara ditaruh di atas kepala gadis itu sendiri sembari digenggam dengan kuat, tak ada perlawanan dari Ciara karena memang Libra begitu pintar memancing gairahnya selama ini.


Tanpa diduga, tiba-tiba saja seseorang muncul disana dan terkejut melihat pemandangan itu. Ya siapa yang mengira, kalau ternyata di dalam toilet itu tengah ada sepasang kekasih yang asyik bercumbu. Tentu saja gadis yang tak lain Cleo itu reflek menutup mata dan berteriak kecil, membuat Ciara serta Libra menghentikan aktivitasnya.


"Aaaaa mataku ternodai..." teriakan Cleo itu didengar jelas oleh Ciara, gadis itu pun terbelalak dan langsung mendorong tubuh Libra dengan kuat sampai ciuman mereka terlepas.


"Hah Cleo??"


Ciara sangat tak percaya jika apa yang dilakukannya tadi bersama Libra dilihat secara langsung oleh Cleo, tentunya ia sangat malu kali ini. Ya bagaimana tidak, sahabatnya sendiri memergoki ia sedang melakukan hal yang tidak benar bersama pamannya sendiri di dalam toilet. Akhirnya Ciara pun bergegas menghampiri Cleo bermaksud menenangkan gadis itu, supaya tidak salah paham padanya.


"Eee Cleo, ka-kamu jangan salah paham dulu ya! Tadi itu aku sama om Libra gak ada maksud buat begitu, semuanya gak sengaja kok," ucap Ciara.


Cleo justru terkekeh dibuatnya, "Ahaha, gak sengaja gimana Ciara? Jelas-jelas gue lihat tadi, lu keenakan banget kok waktu om Libra cium lu! Udah deh mending lu ngaku aja, kalian ada hubungan spesial kan!" ucapnya meledek.


"Hah? Kamu bicara apa sih Cleo? Aku gak ada apa-apa kok sama om Libra, kita cuma sebatas om dan ponakan. Tadi tuh beneran gak sengaja tau, kamu percaya dong sama aku!" ucap Ciara.


"Bohong mulu lu Ciara, udah sih ngaku aja sama gue mah!" kekeh Cleo.


Ciara mendengus bingung sembari menatap wajah pamannya, ia hendak meminta bantuan karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada Cleo. Namun, yang terjadi justru Libra hanya tersenyum dan tak berbuat apapun. Ciara sontak menatap kesal ke arah pamannya itu, tapi kemudian Libra bergerak lalu berhenti tepat di hadapan Cleo.


"Udah sih Ciara, bener kata teman kamu ini. Lebih baik kamu akui aja kalau diantara kita ada hubungan, toh nyatanya kita emang pacaran kan!" ucap Libra.


Ciara terkejut bukan main mendengar ucapan pamannya, bukannya membantu justru pria itu malah membuat semuanya makin rumit dan ia sungguh kesal padanya. Sedangkan Cleo terkekeh saja melihat ekspresi sohibnya, dari awal dia sudah tahu kalau Ciara bohong dan nyatanya gadis itu memang memiliki hubungan spesial dengan Libra.


"Ohh, tuh kan bener dugaan gue. Cie cie Ciara, bagi pajak jadian dong buat gue!" ujar Cleo.


"Apa sih Cleo? Udah ah aku mau balik ke kelas aja!" Ciara yang kesal sekaligus malu, akhirnya memutuskan pergi dari toilet itu meninggalkan Cleo dan juga Libra, kekasihnya.


Libra serta Cleo kompak terkekeh melihat tingkah lucu Ciara, lalu setelahnya barulah Libra bergerak mengejar Ciara karena tak ingin berpisah darinya. Ya Libra masih sangat merindukan Ciara, sehingga ia mau gadis itu terus bersamanya. Meski ia tahu, sekarang ini masih memasuki jam pelajaran dan tak seharusnya Libra berada di tempat itu.



__ADS_1


Akhirnya Libra berhasil mengejar Ciara, menahan lengan gadis itu agar tidak bisa pergi kemana-mana. Sontak Ciara berontak, sebab ia ingin kembali ke kelasnya dan tak mau berlama-lama disana. Akan tetapi, Libra tetap memaksa meminta Ciara bersamanya sejenak. Ciara pun tak punya pilihan lain, ia terpaksa menuruti kemauan kekasihnya itu.


Setelah berdebat kecil-kecilan, Libra memutuskan membawa Ciara ke kantin sekolah untuk bisa bicara berdua sekaligus memesan makanan. Tak ada penolakan dari gadis itu, ia hanya bisa pasrah karena menolak pun percuma mengingat Libra adalah orang yang pemaksa dan tidak suka dibantah. Meski, Ciara tampak sangat geram dibuatnya.


Di kantin, mereka berdua pun duduk berdampingan dengan tangan saling menggenggam. Tampak Ciara terus celingak-celinguk, berharap tidak ada orang yang melihat mereka disana. Tentunya Ciara khawatir jika sampai dirinya kepergok sedang bolos oleh guru atau murid di tempat itu, karena pastinya Ciara bisa saja dihukum seperti dahulu.


"Om, kenapa om mesti ajak aku bolos sih? Aku tuh lagi serius belajar tau buat persiapan ujian, kalau nanti nilai aku jelek gimana om?" protes Ciara.


Libra tersenyum saja sembari mengecup pipi gadisnya, "Gausah cemas, kamu itu kan pintar sayang! Aku yakin kok sama kemampuan kamu, pasti kamu bisa dapat nilai bagus!" ucapnya lirih.


"Ih om, tetep aja aku butuh belajar lah. Lagian kalau ada guru yang lihat nih, aku bisa dihukum tau karena bolos jam pelajaran," ucap Ciara merengut.


"Terus kamu takut gitu?" tanya Libra.


Ciara manggut-manggut perlahan, kemudian Libra dengan santainya merangkul serta mencium pipi gadisnya berulang kali. Diperlakukan seperti itu, sontak Ciara hanya bisa pasrah menerima semua yang dilakukan pamannya. Libra tampak begitu nyaman melakukan itu pada Ciara, bahkan jika tidak ada orang disana mungkin Libra sudah kembali menyerang bibir gadis itu saat ini juga.


"Om, udah ah aku risih tau diciumin terus kayak gini! Emangnya aku bayi apa om?" kesal Ciara.


"Iya kamu itu bayi, bayinya aku. Makanya aku gak bisa berhenti ciumin kamu sayang, abis kamu lucu dan imut banget sih kayak bayi!" ucap Libra terus menggoda gadisnya.


"Mmhhh om udah ah! Aku mau balik ke kelas ya? Aku takut kalau kelamaan nanti gurunya jadi curiga sama aku!" ujar Ciara.


"Hah apaan? Dari awal aja aku gak kangen sama om tuh," elak Ciara.


"Masa? Buktinya pas aku chat kamu terus minta kamu kesini temuin aku, kamu langsung cepat-cepat keluar kelas tuh terus kesini," goda Libra.


"Ya itu kan karena aku takut sama om, nanti kalo gak diturutin om nekat lagi naik ke atas," ucap Ciara.


"Halah alasan aja kamu, intinya kamu juga kangen sama aku kan? Udah lah sayang, kita nikmati aja momen berdua ini ya!" ujar Libra.


"Ish dasar om mesum!"


"Mesum gini juga kamu mau kan dipacarin sama aku?"


Ciara bersemu malu mendengarnya, ia langsung melayangkan cubitan keras ke bahu sang kekasih untuk meredam rasa malunya. Sedangkan Libra justru terkekeh dan merasa senang mendapatkan cubitan dari Ciara, menurutnya itu adalah salah satu bentuk kasih sayang Ciara padanya yang akan selalu ia kenang sepanjang masa.


Namun, tanpa disadari oleh mereka rupanya Terry tak sengaja melihat aksi sejoli yang tengah kasmaran itu dari jauh. Terry pun terlihat sangat kecewa, ia tak percaya jika Ciara menjalin hubungan dengan pamannya sendiri. Pantas saja gadis itu selalu menolak saat bersamanya, ternyata semua karena Ciara sudah berhubungan dengan pamannya.


"Apa ini artinya aku gagal dapetin kamu, Ciara?" gumam Terry dengan lirih.

__ADS_1




Disisi lain, Nindi terkejut saat ia keluar dari sekolah dan melihat Leon sudah berdiri tepat di hadapannya seolah sudah menunggu sedari tadi. Sontak saja Nindi langsung berusaha menghindari pria itu, tetapi langkahnya lebih dulu ditahan olehnya sehingga Nindi tidak bisa kemana-mana. Ya akhirnya Nindi terpaksa berdiam diri menatap wajah Leon, meski ia masih khawatir pria itu akan mencurigainya.


"Nindi, kamu mau kemana sih? Aku sengaja kesini buat jemput kamu, tolong kamu jangan menghindar lagi!" ucap Leon memaksa.


"Maaf kak, tapi aku cuma gak mau ngerepotin kamu lagi untuk saat ini. Selama ini kan aku udah banyak terima bantuan dari kamu, jadinya aku rasa sekarang saatnya aku berjuang sendiri," ucap Nindi.


"Maksud kamu apa Nindi? Aku mau bicara sama kamu, ayo ikut aku ke mobil!" ucap Leon.


"Ta-tapi kak..."


Nindi tidak bisa menolaknya, Leon selalu berhasil membuat gadis itu pasrah dan mengikuti dirinya kemanapun ia mau. Mereka pun masuk ke dalam mobil bersama-sama, disana Leon mulai menatap wajah Nindi seraya melajukan mobilnya. Ada banyak yang harus dijelaskan tentunya oleh gadis itu, sehingga Leon menginginkan waktu bersamanya.


"Sebenarnya kenapa Nindi? Kenapa kamu selalu menghindari aku belakangan ini? Apa semua yang dibilang bos Galen tentang kamu itu benar, ha?" tanya Leon dengan tegas dan lantang.


Nindi terkejut mendengar itu, "Maksud kamu apa? Emangnya kak Galen bilang apa?" tanyanya.


"Dia bilang kamu itu hamil, dan kamu tahu gak? Aku loh yang dituduh hamilin kamu, karena kedekatan kita. Padahal aku sentuh kamu aja enggak loh," jawab Leon.


Deg


Seketika detak jantung Nindi bergerak lebih cepat dari biasanya, gadis itu sangat syok mendengar perkataan Leon yang menyatakan jika Galen sudah tahu mengenai kehamilannya. Padahal Nindi tak merasa pernah bercerita ke Galen, bahkan baru dirinya saja yang mengetahui hal itu. Namun, ia bingung darimana Galen bisa tahu soal itu.


"Kenapa kamu diam Nindi? Benar kan yang aku bilang itu? Kamu hamil, hm?" tanya Leon.


"Kak, aku mohon jangan bahas ini sekarang! Lagipula, kak Galen punya bukti apa coba sampe dia bisa nuduh aku hamil?" ucap Nindi gemetar.


"Dia bawa testpack dengan hasil positif yang ditemuin Rifka di kamar kamu," ucap Leon.


Deg


Lagi-lagi Nindi dibuat terkejut, rupanya testpack itulah sumber masalahnya. Pantas saja sedari kemarin Nindi mencari-cari testpack itu di kamarnya, dan tidak berhasil ditemukan. Ternyata Rifka sudah lebih dulu menemukannya dan memberikan itu kepada Galen, namun Nindi berpikir apakah hanya Galen yang tahu mengenai itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2