
Cyra kini pergi ke luar menemui neneknya yang sedang terduduk di sofa sambil menonton tv, ya tentu niat Cyra adalah untuk meminta uang dari Nadira agar ia bisa menonton konser bersama Daiva nantinya. Akan tetapi, ia tak menduga kalau ternyata Faiz pun juga berada disana kali ini. Cyra tampak ragu dan tidak yakin kalau rencananya akan berhasil, sebab pamannya itu pasti akan menghalanginya.
Cyra pun memutuskan berdiam sejenak di dekat tangga sembari berpikir keras dan menepuk-nepuk jidatnya, ia ingin semua rencananya berhasil karena ia begitu menginginkan menonton konser itu. Namun, hingga kini Cyra masih belum tahu apa kiranya yang akan ia katakan kepada neneknya nanti. Cyra khawatir Nadira akan menaruh curiga padanya, apalagi ia meminta uang dalam jumlah banyak.
Disaat gadis itu sedang asyik berpikir, tiba-tiba saja Nadira menyadari keberadaannya dan langsung menegurnya. Sontak Cyra terkejut ketika mendengar suara dari neneknya yang kini menyapa dan menatap ke arahnya, padahal sedari tadi ia tak bersuara sama sekali. Cyra pun tak tahu harus berbuat apa, ia malah semakin gelagapan ketika Nadira menyapanya lalu tersenyum menatapnya.
"Cyra, kamu ngapain disitu? Ayo sini sayang, nonton nih sama oma!" ucap Nadira.
Gadis itu tampak semakin bingung dan hanya bisa berdiam diri di tempatnya, ia masih coba berpikir keras apa kiranya yang akan ia katakan nanti kepada Nadira jikalau neneknya itu menanyakan tentang keperluannya. Pasalnya, entah mengapa Cyra menjadi ragu untuk meminta uang pada Nadira setelah ia melihat Faiz juga ada disana.
"Heh gantungan kunci! Sini kamu! Gak dengar itu perintah nenek kamu, ha?" Faiz pun ikut menegur keponakannya, dengan sebutan khusus untuk gadis itu yang ia buat sendiri.
"Ish Faiz, kamu apa-apaan sih? Kenapa coba kamu panggil Cyra gantungan kunci?" tegur Nadira.
"Hehe, iseng aja ma. Abisnya dia pendek banget sih, cocok tuh dijadiin gantungan kunci biar gak ngerepotin," kekeh Faiz.
Sontak Nadira menjitak kepala putranya itu yang membuat Faiz mengaduh sakit, lalu ia kembali menatap wajah Cyra yang kini akhirnya mau bergerak mendekat ke arahnya. Nadira pun tersenyum lebar, dengan senang hati ia menyambut Cyra cucu kesayangannya itu dengan sebuah pelukan hangat yang terasa nyaman bagi Cyra.
"Duh duh, cucu oma ini kenapa sih? Kamu lagi ada masalah ya di sekolah, hm?" tanya Nadira.
Cyra menggeleng dengan wajah merengut, seketika Nadira makin penasaran mengapa cucunya itu bertingkah seperti orang yang sedang kebingungan. Perlahan Nadira mengusap wajahnya, serta membelai rambut gadis itu sambil terus tersenyum dan berusaha menenangkan Cyra.
"Terus kamu kenapa dong sayang? Bilang aja sama oma sini, gausah malu walau ada om Faiz ya!" ucap Nadira dengan lembut.
"Tapi oma, aku maunya bicara berdua aja sama oma. Aku takut om Faiz nanti gangguin kita lagi, dia itu kan kepo banget orangnya terus nyebelin lagi," ucap Cyra.
"Eh sembarangan aja kamu kalo ngomong, aku gak nyebelin ya justru kamu tuh yang nyebelin!" sentak Faiz.
"Hus, udah udah! Faiz, kamu ke ruang depan aja ya sayang? Ini Cyra kayaknya ada yang mau serius diobrolin sama mama deh, gapapa kan?" ucap Nadira menengahi.
Faiz menghela nafasnya, "Huft, iya deh gapapa ma. Dasar gantungan kunci cengeng!" cibirnya.
Cyra tak menanggapi kata-kata dari pamannya itu, ia justru tetap memasang wajah merengut yang seolah menandakan kalau dirinya tengah sedih saat ini. Kini Nadira menarik tubuh Cyra, lalu membawanya ke dalam pangkuan dan berulang kali menciumi tubuhnya yang mungil itu.
"Nah om Faiz kan udah gak ada, kamu cerita aja ya sama oma sayang!" ucap Nadira.
__ADS_1
"Iya oma, aku sebenarnya cuma mau minta uang sama oma sekarang? Oma gak keberatan kan?" ucap Cyra yang kini tersenyum manja.
"Hah??" Nadira terperangah dibuatnya, ia tak menyangka cucunya sudah pandai meminta uang padanya dengan cara seperti itu.
Bukannya kesal atau marah, Nadira justru mencubit pipi Cyra berulang kali sambil mengecupi wajahnya karena merasa gemas dengan ekspresi yang ditunjukkan gadis itu. Sedangkan Cyra sendiri tampak sedikit cemas, ia khawatir neneknya itu akan memarahinya atau bahkan tidak ingin memberikan uang kepadanya.
"Hadeh hadeh, ada-ada aja sih kamu Cyra! Oma kira kamu mau apa loh, ternyata cuma mau minta uang. Ya jelas lah oma pasti bakal kasih kalau itu, kamu mau minta berapa emangnya? Terus buat apa, hm?" ucap Nadira.
"Eee sedikit kok oma, lima belas juta aja. Itu tuh buat aku nonton konser sama kak Daiva," jawab Cyra.
"Apa? Lima belas juta??" kali ini Nadira benar-benar terkejut, permintaan Cyra sungguh di luar nalarnya dan membuat ia tidak bisa berbicara lagi.
•
•
Disisi lain, Ciara serta Libra dibuat terkejut saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman rumah itu dan membunyikan klakson yang cukup keras. Sontak mereka kompak menoleh ke arah mobil tersebut dengan wajah penasaran, dan ternyata Davin lah yang turun dari dalam mobil itu sambil tersenyum memandang mereka berdua.
Baik Ciara maupun Libra, keduanya kini sama-sama kebingungan dan tak tahu apa maksud atau tujuan Davin datang kesana malam-malam begini. Padahal, selama ini Davin tak pernah lagi mengunjungi rumah Ciara semenjak pernikahan wanita itu dengan Libra belasan tahun lalu. Akan tetapi, kini Davin muncul kembali dan membuat jantung Ciara berdebar kencang seolah mengkhawatirkan sesuatu.
Ciara tersentak mendengarnya, "Bicara apa sih kamu, mas? Aku juga gak tahu kenapa om Davin tiba-tiba datang kesini!" ucapnya mengelak.
"Ck, kamu pikir aku bakal percaya gitu aja sama kamu? Enggak Ciara, apalagi setelah kamu begitu gigih mah versi dari aku. Aku yakin banget penyebabnya ya ini!" ucap Libra.
"Terserah kamu mas, aku capek debat sama kamu!" kesal Ciara.
Ciara pun memalingkan wajahnya, lalu kini Davin sudah berada di dekatnya dan tak lupa menyapa wanita itu dengan ramah. Davin memang senang melakukan itu, karena dari dulu hingga sekarang perasaannya tak berubah dan ia masih sangat mencintai Ciara yang cantik itu.
"Halo Ciara, selamat malam sayang!" entah sengaja atau tidak, Davin malah menambahkan kata sayang di belakang kalimatnya itu.
Ciara yang mendengar itu sontak panik, ia tak menyangka Davin berani melakukan itu di hadapan Libra saat ini. Meski Libra sudah bukan menjadi suaminya lagi, tapi tetap saja Ciara tak mau lelaki itu salah paham dan mengira jika dirinya sudah kembali berhubungan dengan Davin semenjak bercerai dari Libra beberapa waktu lalu.
"Apa-apaan sih om? Ada apa om datang kesini, ha?" tegur Ciara.
"Tenang dong sayang, aku kesini mau bantuin kamu loh! Tadi aku lihat laki-laki hidung belang ini lagi mau menuju kesini, makanya aku ikutin aja dia. Aku gak mau kalau dia sampai menyakiti kamu lagi Ciara sayang," ucap Davin sambil tersenyum.
__ADS_1
Ciara menggeleng dibuatnya, "Cukup ya om, tolong jangan bikin masalah disini! Aku gak mau semuanya jadi makin rumit!" ucapnya dengan tegas.
"Loh kamu kenapa sih sayang? Aku kan belain kamu loh disini, aku yakin laki-laki ini pasti akan maksa masuk buat ketemu sama anak-anak kamu. Nah, makanya aku mau bantu kamu," ucap Davin.
"Aku gak butuh bantuan om, jangan ikut campur ke dalam urusan keluarga aku ya om!" sentak Ciara.
Davin menghela nafasnya, perkataan Ciara seolah menyadarkan bahwa dirinya memang bukan siapa-siapa dari wanita itu. Akan tetapi, Davin tetap lah Davin dan tidak akan berubah apapun yang terjadi. Ya Davin tak mungkin menyerah sampai disitu, sebab ia tahu kalau kesempatannya untuk bisa memiliki Ciara sangat besar kali ini.
"Hahaha, hahaha..." tiba-tiba saja, Libra tertawa tanpa alasan yang jelas dan membuat Ciara sungguh heran.
"Ciara Ciara, kamu pinter banget sih main sandiwara di depan aku? Kamu pasti sok-sokan ketus dan gak suka kayak gitu sama om Davin, karena ada aku disini kan. Udah lah Ciara, kamu gak perlu akting kayak gitu segala!" cibir Libra.
"Apa sih mas? Kamu itu jangan bicara yang aneh-aneh deh ya, aku tuh bukan kamu yang suka selingkuh!" ucap Ciara mengelak.
"Sejak kapan aku selingkuh Ciara? Aku itu gak pernah selingkuh dari kamu, kejadian di hotel malam itu cuma salah paham. Aku sama Aline gak ada niatan buat ngelakuin itu, tapi kamu selalu nuduh aku yang enggak-enggak dan kekeuh mau cerai sama aku. Pasti kamu sengaja kan lakuin semua itu? Supaya kamu bisa cerai dari aku dan leluasa dekat sama om Davin," ucap Libra.
Plaaakk
Tamparan keras mendarat di pipi pria itu, Ciara sangat emosi karena tuduhan tak mendasar yang diberikan Libra kepadanya. Tentu saja ia tak terima dengan semua itu, karena pada dasarnya Libra lah yang berkhianat darinya dengan membawa seorang perempuan ke dalam hotel.
"Kamu itu benar-benar keterlaluan, mas! Bisa-bisanya kamu malah tuduh aku kayak gitu, padahal jelas-jelas kamu yang selingkuh di belakang aku!" ucap Ciara.
"Aku gak selingkuh, harus berapa kali sih aku bilang kalau aku gak pernah selingkuh!" tegas Libra.
"Terus perempuan yang ada sama kamu di hotel itu siapa mas, ha? Apa logis seorang pria yang sudah beristri, berduaan dengan wanita lain yang bukan siapa-siapanya. Itu sama aja kamu udah selingkuh di belakang aku, mas!" ucap Ciara.
"Itu aku khilaf Ciara, aku beneran gak punya niat buat selingkuh dari kamu. Keadaan yang memaksa aku untuk melakukan itu," elak Libra.
Plaaakk
Lagi-lagi Ciara kembali menampar wajah mantan suaminya itu untuk melampiaskan kekesalannya, Libra tidak bisa berbuat apa-apa kali ini karena tak mungkin ia membalas perbuatan Ciara. Apalagi, disana juga ada sosok Davin yang terus memberikan tatapan tajamnya ke arah Libra seolah pertanda kalau Davin juga amat membencinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1