Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 233. Anak kita


__ADS_3

Cyra yang hendak kabur dari rumah malah berhasil dicegat oleh Libra yang kebetulan masih ada di dalam rumah itu, sontak Cyra terpaksa berhenti melangkah sejenak dan menatap ke arah papanya dengan wajah tak suka. Saat Cyra memilih untuk kembali melangkah melewati papanya, tanpa diduga Libra justru berhasil mencekal lengan gadis itu dan menahan pergerakan Cyra agar tetap berada disana.


"Pa, lepasin! A-aku mau ketemu sama om Faiz, ada yang pengen aku bicarain sama dia. Aku mohon pa, sebentar aja kok!" rengek Cyra.


"Papa juga mau bicara sama kamu sayang, ikut papa dulu baru abis itu papa bolehin kamu ketemu sama om Faiz!" ucap Libra dengan tegas yang membuat Cyra begitu ketakutan.


"I-i-iya pa..."


Dengan gugup akhirnya Cyra mengikuti saja permintaan papanya itu karena tak ingin membuat sang papa merasa kesal, kini mereka pun sama-sama pergi ke tempat yang lebih sepi untuk berbincang berdua. Meski Cyra belum tahu apa yang hendak dibicarakan papanya, namun ia tetap merasa was-was kali ini dan cukup cemas.


"Pa, papa mau ngomong apa sih sama aku? Udah disini aja jangan jauh-jauh, gak bakal ada yang dengar juga!" ucap Cyra.


Libra menuruti kemauan putrinya itu, ia lepaskan cengkraman tangannya dan fokus menatap wajah Cyra sembari menghela nafasnya. Sebagai seorang ayah, Libra hanya ingin tahu mengenai kehidupan putrinya di luar sana. Pasalnya, Ciara baru saja menjelaskan padanya kalau wanita itu menemukan obat anti hamil di dalam tas sang gadis.


"Ada yang mau papa tanyakan sama kamu Cyra, tapi papa harap kamu jawab dengan jujur!" ucap Libra.


Cyra mengangguk perlahan, "Iya pa, aku pasti jujur kok. Emangnya papa mau tanya apa sih? Aku jadi penasaran deh," ucapnya keheranan.


"Hm, ini agak menyangkut masalah pribadi kamu sih sayang," ucap Libra singkat.


Mendengar itu, entah kenapa pikiran Cyra langsung mengarah ke hal-hal yang tidak enak dan membuat hatinya merasa was-was. Ia khawatir jika papanya hendak menanyakan kehidupan pribadinya saat ini, meski ia juga masih menebak-nebak apa kiranya yang akan ditanyakan oleh papanya itu.


"Masalah pribadi aku? Ada apa sih, pa? Aku punya salah lagi ya sama papa atau mama?" tanya Cyra tampak begitu penasaran.


"Bukan, ini soal lain Cyra. Jadi, mama kamu itu gak sengaja nemuin sesuatu obat di dalam tas kamu sewaktu kamu hilang malam-malam. Setelah papa cek, ternyata itu obat anti hamil. Apa kamu yang mengkonsumsi itu sayang?" ucap Libra.


Deg


Betapa terkejutnya Cyra ketika papanya bertanya seperti itu kepadanya, ia reflek menggeleng dan mengelak dari tuduhan sang papa. Tentu saja memang bukan ia pemilik dari obat tersebut, bahkan ia saja tidak tahu menahu mengenai obat anti hamil yang dimaksud papanya. Cyra pun sangat bingung, karena ia tak merasa memiliki obat apapun itu.

__ADS_1


"Bu-bukan aku pa, aku aja gak tahu kalau ada obat kayak gitu. Papa ngaco deh ih, lagian buat apa juga aku minum obat begituan? Aku ini kan belum punya pacar," ucap Cyra mengelak.


"Ini kamu lagi jujur kan sama papa, sayang? Ingat loh, papa gak suka dibohongin!" ucap Libra.


"Huft, beneran lah pa. Aku jujur kok emang itu bukan punya aku, kalau papa gak percaya ya terserah papa aja deh! Papa itu kan papa aku ya, harusnya papa tau dong sifat anaknya kayak apa. Mana mungkin aku minum obat anti hamil?" ucap Cyra dengan tegas.


Libra terdiam bingung, ia mengusap kasar wajahnya karena tidak tahu lagi harus berbicara apa kepada putrinya itu.




Sementara itu, Galen berhasil membawa Tiara ke rumah sakit untuk dapat segera diperiksa karena kondisinya yang tiba-tiba tak sadarkan diri saat bersamanya di taman tadi. Galen sungguh khawatir, pasalnya ia tak mau Askha menyalahkannya jika sampai terjadi sesuatu pada Tiara. Apalagi, tadi ialah orang terakhir yang bersama wanita itu.


Galen terus berharap-harap cemas, ia melangkah kesana-kemari dan tidak bisa diam. Pikirannya begitu kacau saat ini, sebab ia mencemaskan kondisi Tiara di dalam sana.


Tapi tak butuh waktu lama, sang dokter muncul dari dalam ruangan itu dan melangkah menemui Galen yang tampak begitu cemas. Sontak Galen buru-buru menanyakan kondisi mantan istrinya pada dokter itu, ya karena Galen tidak bisa tenang jika ia belum mendapat kabar mengenai Tiara.


Dokter itu malah tersenyum kali ini, "Anda tidak perlu khawatir, justru saya kesini mau mengucapkan selamat kepada bapak!" jawabnya santai.


"Hah? Maksud dokter apa ya? Jangan main-main dok, kondisi istri saya itu pingsan loh tadi dok! Dia kenapa, dia sakit apa? Jawab saya dok!" ucap Galen terlihat cemas dan panik.


"Iya pak, selamat ya! Istri anda itu sedang hamil sekarang, dia mengandung anak bapak. Jadi, bapak gak perlu khawatir!" jelas sang dokter.


"A-apa??" Galen tersentak mendengarnya.


Ya Galen sungguh tak percaya jika semua ini akan terjadi, Tiara tengah mengandung anaknya dan itu bisa saja menjadi sebuah masalah baru nantinya. Ia bingung dan tak bisa berkata-kata saat ini, sejujurnya ia senang karena dengan begitu maka Tiara bisa ia dapatkan kembali. Namun, ia juga tak mau membuat Tiara semakin menderita.


"Eee dok, apa saya sudah boleh menemui istri saya?" tanya Galen pada dokter itu.

__ADS_1


"Oh ya, silahkan pak! Istri anda juga sudah siuman, sekali lagi saya ucapkan selamat ya untuk anda dan istri!" ucap sang dokter.


"Iya dok, terimakasih." Galen tersenyum dan mengangguk singkat.


Dokter itu pun juga pamit dari sana untuk kembali ke ruangannya, tentu saja Galen bergerak cepat menemui Tiara yang ada di dalam kamar rawat tersebut. Galen sungguh bingung, ia tak tahu apa reaksi Tiara nanti jika mendengar kabar bahwa dirinya tengah mengandung anaknya. Pasti Tiara akan sangat syok, bisa saja wanita itu malah histeris dan tidak mau berbicara dengannya.


"Tiara!" lirih Galen, pria itu memanggil sang mantan yang terbaring di depan sana dan perlahan mendekat ke arahnya.


"Mas, ini aku dimana? Kenapa aku bisa ada disini coba? Apa yang terjadi sama aku, mas?" tanya Tiara langsung tampak keheranan dan begitu bingung, ia terus menatap ke sekelilingnya.


"Ka-kamu tadi pingsan Tiara, itu makanya aku bawa kamu kesini," jawab Galen gugup.


"Hah pingsan?" Tiara terkejut dan berniat bangkit dari tempat duduknya, tapi kemudian ia kembali merasa sakit pada bagian kepalanya.


"Awhh akhh!" wanita itu pun meringis menahan sakit, ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi padanya.


"Eh eh, jangan maksa dulu Tiara! Kalau kamu masih pusing, udah istirahat aja! Nanti kondisi kamu malah bisa makin bahaya loh, kasihan juga anak kita Tiara!" ucap Galen menenangkan wanita itu.


Tiara sontak mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu apa, mas? Askha kenapa?" tanyanya kebingungan.


Galen terdiam sesaat, ia reflek menggeleng perlahan dan memegangi mulutnya yang tadi baru saja mengatakan hal itu. Sedangkan Tiara tampak terus menatap ke arahnya seolah meminta jawaban, tentunya Tiara sangat penasaran apa maksud dari Galen mengatakan itu padanya.


"Bu-bukan Askha, sayang. Maksud aku tuh anak yang ada di dalam kandungan kamu sekarang," ucap Galen menjelaskan secara perlahan.


Deg


Mendengar itu, Tiara semakin syok dan tentu tak percaya dengan kata-kata sang mantan suami.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2