Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 167. Jarang ada waktu


__ADS_3

Akhirnya Cyra bersiap untuk pulang ke rumah dan pergi dari UKS tempatnya berada saat ini, karena hari pun sudah sore dan Cyra tidak bisa terus ada di tempat itu. Lagipula, Askha juga sudah muncul di dekatnya dan hendak mengantarnya pulang. Namun, entah mengapa rasanya Cyra masih merasa pusing pada bagian kepala dan sedikit menggigil akibat guyuran air dari Celo sewaktu ia ada di toilet.


Askha tampak membantu Cyra bangkit dari tempat tidurnya, sejujurnya ia merasa kasihan pada Cyra saat gadis itu sakit seperti ini. Ya walau sikap Cyra terkadang menyebalkan, tetapi bagaimanapun Cyra itu juga adalah saudaranya. Askha tentu tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Cyra, apalagi saat ini ia melihat Cyra begitu lemas dan wajahnya terlihat begitu pucat serta menggigil.


"Cyra, lu tuh sebenarnya kenapa sih? Kok bisa sampe kedinginan kayak gini terus masuk UKS? Lo sakit apa gimana?" tanya Askha penasaran.


Cyra menggeleng perlahan, "Enggak kak, tadi aku niatnya cuma pengen biar gak ikut satu mata pelajaran. Eh aku malah bablas sampai pulang sekolah gara-gara ketiduran," jawabnya bohong.


"Tapi lu beneran sakit loh Cyra, ini aja muka lu bisa sampe pucet kayak gini. Terus itu daritadi lu menggigil sama lemas banget," ucap Askha.


"Umm...."


Cyra terlihat bingung saat hendak menjawab pertanyaan dari Askha yang meragukannya, Cyra tak mau Askha tahu kalau ia sampai masuk UKS karena kelakuan Celo yang menyiram dirinya. Cyra khawatir Askha akan berbuat hal yang tidak-tidak kepada Celo nantinya, apalagi pria itu memang selalu ingin membela Cyra dalam kondisi apapun.


"Lu jujur deh sama gue Cyra, lu itu kenapa! Gue disini ditugasin sama bokap nyokap lu buat jagain lu, kalau lu sampai sakit begini pasti nanti gue yang disalahin. Ayolah Cyra, kasih tahu gue!" ucap Askha cemas.


Cyra malah menggeleng dan terus menutup mulutnya, ia tidak mau menceritakan apa yang terjadi pada dirinya saat ini kepada Askha. Hal itu tentu saja memancing kesabaran Askha, ya kini Askha mendekat lalu memeluk sepupunya itu dari samping dengan erat. Cyra terkejut, namun tak dapat menghindar dari pelukan Askha yang tiba-tiba itu.


"Jadi lu gak mau jujur nih sama gue? Pengennya gue dimarahin terus ya sama bokap nyokap lu, hm?" geram Askha.


"Eh enggak gitu kak, aku udah bilang jujur kok ke kamu. Kamu aja yang gak percaya sama aku, padahal aku emang gak kenapa-napa loh. Lihat aja nih, aku udah segar bugar kok!" ucap Cyra.


"Apanya segar bugar? Lu aja pucet begini, gue tuh cemas sama lu Cyra!" ucap Askha tegas.


"Iya kak, aku tahu kamu perhatian banget sama aku. Tapi, beneran deh kali ini aku gapapa. Udah yuk kita pulang aja sekarang!" ucap Cyra sambil tersenyum.


Askha terdiam sejenak memandangi wajah gadis di sampingnya itu, ia eratkan pelukan sebelum mulai bangkit dan memapah tubuh Cyra yang lemas. Meski Cyra mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, namun Askha tetap tidak bisa tenang karena ia yakin kondisi Cyra saat ini sedang memburuk dan gadis itu perlu dibawa ke dokter segera.


"Lu tuh gak boleh sakit Cyra, bentar lagi kan acara pesta ulang tahun lu. Lu pasti pengen kan datang di acara lu sendiri?" ucap Askha.


"Iyalah kak, masa gak pengen? Lagian aku beneran gapapa loh," ucap Cyra.


"Hm, terserah deh." Askha menggeleng dan memalingkan wajahnya sambil melangkah bersama Cyra di sebelahnya.


Sementara Cyra hanya terkekeh melihat ekspresi kakak sepupunya itu, sesekali ia juga menggoda pria itu dengan mencolek wajahnya.




Ciara pulang ke rumah bertepatan dengan kedatangan Libra yang juga baru sampai disana, ya keduanya bertemu lalu saling bertatapan sambil tersenyum lebar. Tak lupa Ciara mencium tangan suaminya itu, ya hubungan mereka termasuk masih harmonis untuk kalangan rumah tangga yang sudah berjalan selama belasan tahun itu.


Meski Libra lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah belakangan ini, dengan alasan pekerjaan dan banyak pasien yang harus ia bantu. Namun, itu semua tak membuat hubungan mereka runtuh karena keduanya saling percaya. Ciara juga tak mempermasalahkan itu, sebab ia tahu Libra tengah berjuang untuk menghidupi keluarganya.


"Eh mas, pas banget ya kita ketemu disini. Kamu tumben udah pulang, emangnya pasien kamu gak banyak?" ucap Ciara.


Libra tersenyum dibuatnya, "Iya sayang, aku udah selesai kok prakteknya. Aku sekali-kali kan juga mau kumpul di rumah bareng kamu dan anak-anak, udah lama juga kan aku gak begitu?" ucapnya.

__ADS_1


"Ahaha, tapi kayaknya Cyra belum pulang deh. Soalnya aku gak lihat ada mobilnya Askha disini," ucap Ciara.


"Oh iya ya, yaudah gapapa kan masih ada Lia sama Lio di dalam. Kumpul sama mereka juga asyik banget kok, apalagi Lia yang lucu itu dan bikin aku gemas setiap kali lihat dia. Udah yuk sayang kita masuk bareng-bareng!" ucap Libra.


"Yuk!" Ciara mengangguk setuju.


Lalu, sepasang suami-istri itu sama-sama melangkah menuju ke dalam rumah itu dengan bergandengan tangan. Ciara juga membenamkan wajahnya pada bahu sang suami, ia tampak begitu senang karena akhirnya ia dapat bersama suaminya yang begitu ia cintai dan sayangi.


Disaat mereka sedang asyik berjalan, tiba-tiba sebuah mobil muncul disana dan membunyikan klakson yang membuat mereka terkejut. Sontak baik Libra maupun Ciara kompak berhenti melangkah, mereka menoleh lalu tersenyum lebar. Ya mereka tahu siapa pemilik mobil itu, karena mereka sudah hafal dengan mobil yang saat ini ada disana.


Benar saja dugaan Ciara dan juga Libra, terbukti saat ini Cyra turun dari mobil itu bersama Askha yang setia mengantarnya. Tentu saja Libra sangat senang, sebab ia dapat bertemu Cyra dan berbincang lagi dengannya seperti pagi tadi. Libra memang jarang sekali melakukan itu, sehingga ia khawatir Cyra akan merasa kekurangan kasih sayang darinya.


"Papa, mama!" Cyra reflek berlari menghampiri orangtuanya dan mencium tangan mereka.


Askha pun melakukan hal yang sama, meski ia terlihat khawatir jika Libra atau Ciara mengetahui kondisi Cyra yang tengah lemas. Askha tak tahu harus menjawab apa nantinya, karena ia sendiri juga belum tahu apa yang terjadi pada Cyra. Hingga kini saja, Cyra juga enggan untuk berbicara padanya mengenai kejadian yang menimpanya.


"Papa kok tumben udah ada di rumah jam segini? Biasanya juga masih di kantor atau baru mau berangkat, apa sekarang juga papa pengen pergi lagi nanti?" tanya Cyra terheran-heran.


"Hahaha, enggak kok sayang. Papa beneran udah pulang ini, soalnya papa pengen punya waktu bareng sama anak-anak papa!" jawab Libra sambil tersenyum dan mendekap erat tubuh putrinya itu.


Cyra sontak merasa nyaman dalam dekapan papanya, karena inilah yang ia inginkan sejak lama dan jarang sekali ia dapatkan. Libra memang mampu memberinya banyak fasilitas mewah, tetapi pria itu tidak pernah memberikan waktunya untuk Cyra. Beruntung, Cyra masih memiliki Askha yang bisa menggantikan posisi Libra di dekatnya.


"Papa sayang banget sama kamu, maafin papa ya kalau papa jarang ada buat kamu!" ucap Libra seraya mengusap puncak kepala Cyra disana.


Hal itu membuat wajah Cyra bersemu merah, lalu ia mengeratkan pelukannya pada sang ayah seolah menikmati itu semua. Ciara serta Askha hanya diam memandangi mereka, keduanya sama-sama senang melihat keakraban antara ayah dan anak itu.




Seketika Tiara terkejut dan menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang lalu menemukan Galen yang berdiri di dekatnya dan menatap ke arahnya. Tiara pun tampak bingung melihat keberadaan Galen disana, apalagi pria itu seolah hendak menyampaikan sesuatu yang penting padanya saat ini.


"Ada apa lagi mas? Kalau kamu cuma mau bilang pengen ketemu Askha, maaf keputusan aku masih tetap sama! Aku gak akan izinin kamu ketemu sama Askha lagi, mas!" ucap Tiara ketus.


"Kenapa sih Tiara? Kenapa kamu jutek banget tiap kali ketemu aku? Aku ini masih papanya Askha loh, kamu gak boleh begini dong sama aku!" ucap Galen.


Tiara mengernyitkan dahinya, "Kamu emang papanya Askha, tapi apa pernah kamu bertanggung jawab sama dia? Enggak kan mas? Kamu malah asyik-asyikan sama selingkuhan kamu itu, terus urus anaknya dia!" ucapnya kesal.


"Itu semua masa lalu Tiara, aku harap kamu gak bahas itu lagi! Sekarang aku cuma mau ketemu Askha, masa gak boleh sih?" ucap Galen.


Tak ada jawaban dari Tiara saat ini, wanita itu hanya diam sembari memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan. Tiara tidak akan pernah mengizinkan Galen untuk menemui Askha, karena ia khawatir jika Askha akan lebih menyayangi Galen dibanding dirinya. Selain itu, Tiara juga khawatir Galen akan mengambil alih Askha darinya.


Dikala keduanya tengah berdebat, tanpa diduga Adrian yang merupakan pemilik perusahaan itu muncul dan menghampiri mereka. Adrian merasa heran melihat kedekatan Galen serta Tiara, pasalnya pria itu belum mengetahui apa-apa mengenai hubungan Galen dan Tiara sebelumnya. Sehingga, Adrian mengira mereka hanya partner kerja.


"Pak Galen, Tiara, kalian kenapa pada berdiri disini? Kalau mau ngobrol itu enaknya di kantin sih, bisa sambil makan atau minum tuh. Disini mah kan gak enak dong, pegel berdiri terus!" ucap Adrian.


Baik Tiara maupun Galen kompak terkejut, mereka tak menyangka Adrian akan datang kesana lalu memergoki mereka. Ya Tiara tampak cemas jika Adrian sampai mengetahui bahwa dirinya dan Galen dulu adalah pasangan suami-istri, hanya saja saat ini mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa setelah Galen berselingkuh dengan wanita lain.

__ADS_1


"Umm, kami gak lagi ngobrol apa-apa kok pak. Tadi itu pak Galen cuma menyapa saya, beliau bilang kalau ke saya untuk hati-hati," ucap Tiara.


"Ohh, waw perhatian sekali ya anda pak Galen! Saya baru kali ini melihat karyawan yang saling memberi perhatian seperti ini, saya salut sama anda pak Galen!" ucap Adrian memujinya.


"I-i-iya pak Adrian, itu memang sering saya lakukan di setiap perusahaan yang saya kerjakan. Ya supaya saya lebih dekat dengan para karyawan disini aja sih pak," ucap Galen tampak gugup.


"Ya ya ya, saya paham kok maksud kamu. Kalo gitu Tiara, kamu bareng aja sama saya yuk!" ucap Adrian.


Deg


Galen sampai melongok lebar mendengar ucapan Adrian barusan, ia syok berat ketika tahu Adrian mengajak Tiara pulang bersamanya. Entah mengapa ada rasa tidak senang di hati Galen saat ini, apalagi Adrian secara terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan Tiara di hadapan lelaki itu.


"Saya jadi penasaran, sedekat apa sih pak Adrian sama Tiara ini? Pak Adrian kok bisa sampai ajak Tiara buat pulang bareng?" batin Galen.




Disisi lain, Askha datang ke sebuah bar yang ada di kota bersama sang kekasih tercinta, yakni Laura. Mereka memang sudah berjanji untuk pergi bersama-sama malam ini, namun Askha tak mengira kalau Laura akan mengajaknya ke tempat itu. Ya selama ini mereka tidak pernah datang kesana, sebab Askha tak ingin merusak gadisnya itu.


Kini malah Laura sendiri yang membawanya ke dalam bar tersebut, lalu mengajaknya duduk di tempat yang tersedia. Laura tampak tersenyum lebar memandang wajah kekasihnya, membuat Askha merasa gugup dan sedikit grogi. Askha bingung harus melakukan apa, karena ia tidak pernah datang kesana bersama Laura sebelumnya.


"Sayang, kamu kenapa diam aja sih? Mau aku pesenin minuman apa nih, hm? Atau kamu mau coba minuman kesukaan aku?" tanya Laura.


Askha terkejut mendengarnya, "Maksud kamu? Berarti selama ini kamu udah sering datang ke tempat ini, sama siapa sayang? Kenapa kamu gak pernah bilang ke aku?" ucapnya.


"Ahaha, ya ampun kamu posesif banget sih sayang! Aku itu kesini sama teman-teman aku kok, mereka juga yang pertama kali ajak aku," ucap Laura.


"Tetap aja aku gak suka ya sayang kalau kamu kesini bukan sama aku, ini kan tempat gak benar. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, jadi kamu kalau mau kesini ya ajak aku aja!" ucap Askha.


"Iya iya, yaudah sekarang kamu mau pesan apa? Jangan marah-marah dulu ah!" ucap Laura.


"Okay, aku ngikut kamu aja. Tapi aku mau tanya deh sama kamu sayang, kenapa sih kamu ajak aku kesini sekarang?" ucap Askha.


"Eee...."


Bukannya menjawab, Laura justru mengalihkan pembicaraan dengan memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat. Ya Laura pun mengatakan pesanannya pada pelayan tersebut, sehingga Askha merasa diabaikan. Barulah setelah itu, Laura kembali menatap ke arah kekasihnya dan meraih satu tangan pria itu untuk digenggam serta dikecup.


"Laura, kamu itu sebenarnya lagi kenapa sih? Gak biasanya loh kamu bersikap kayak gini, apa yang terjadi sama kamu sayang?" tanya Askha keheranan.


Laura pun tampak malu-malu menjawabnya, ia malah tersenyum dan menunduk untuk menutupi wajah merahnya. Askha sontak semakin tergoda dengan gadis itu, tanpa diduga Askha mendekat dan merangkul Laura disana. Lalu, dengan cepat Askha menarik dagu Laura sembari menatapnya dari jarak yang sangat dekat.


"Kamu tahu kan Laura, selama ini aku udah tahan diri buat gak merusak kamu. Tapi, kenapa sekarang malah kamu yang begini sama aku? Kamu juga ajak aku ke tempat kayak gini, terus pake segala godain aku lagi," ucap Askha kebingungan.


"Ma-maaf sayang, aku cuma mau jadi pacar yang baik buat kamu! Soalnya kata teman aku, aku ini harus ubah sikap aku supaya kamu gak berpaling ke lain hati," ucap Laura lirih.


"Hah??" Askha terkejut bukan main dan sampai melongok lebar mendengar ucapan gadis itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2