
Kriiingg Kriiingg...
Alarm terus berbunyi berupaya menyadarkan sang empu di sebelahnya yang masih tertidur pulas, ya berulang kali sudah alarm itu berbunyi, namun hingga kini Ciara belum juga terbangun dari tidurnya. Kemudian, suara ketukan pintu menyusul terdengar seraya memanggil nama gadis itu. Tampaknya Ciara begitu pulas tertidur, sampai tak bisa mendengar berisiknya suara alarm yang bersahutan dengan ketukan pintu serta panggilan dari luar sana.
Akhirnya pintu kamarnya terbuka, Libra yang sedari tadi sudah lelah mengetuk dan memanggil-manggil nama ponakannya pun memilih masuk begitu saja karena tak ada pilihan lain. Pria itu geleng-geleng kepala melihat Ciara yang masih tertidur memeluk geluk sambil tersenyum, ia tak mengerti apa yang sedang diimpikan oleh Ciara saat ini. Lalu, Libra mematikan jam weker di sebelahnya dan terduduk memandangi wajah Ciara yang begitu cantik.
"Ciara, bangun sayang! Ini udah jam delapan loh, katanya mau ikut jemput mama sama papa kamu!" seru Libra seraya mengusap lembut wajah serta rambut gadis itu.
Bukannya terbangun, Ciara justru menikmati sentuhan sang paman dan melebarkan senyumnya. Libra yang melihatnya pun menggeleng perlahan, lalu karena jengah ia mendekati wajahnya ke telinga gadis itu bermaksud membangunkannya. Akan tetapi, tiba-tiba saja gadis itu bergumam lirih yang membuat Libra terkejut dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Iya om, aku juga cinta sama om. I love you, om Libra!" begitulah kalimat yang diucapkan Ciara dalam tidurnya kali ini.
Libra tercengang, pergerakan wajahnya terhenti begitu saja tepat di depan wajah sang gadis. Tanpa disadari olehnya, Ciara justru membuka mata dan syok melihat wajah pamannya yang sudah berada sangat dekat dengannya. Sontak Ciara berteriak keras, membuat Libra ikut terkejut dan jatuh ke lantai dengan posisi duduk. Ciara pun bangkit dari tidurnya, menatap Libra dengan jantung berdebar-debar dan nafas yang terengah akibat terkejut tadi.
"Akh om! Ngapain om tadi dekat-dekat muka aku? Mau apa? Ini masih pagi loh om, jangan mesum deh!" sentak Ciara masih memegangi selimutnya.
"Aduh! Kamu apa-apaan sih Ciara? Ngagetin aku aja tau gak, sakit tau ini kebentur lantai keras banget! Kamu tuh kalau bangun, bisa pelan-pelan aja enggak sih?" kesal Libra.
"Maaf om, abisnya om sendiri mesum sih! Aku tuh ponakan om tau, sadar dong!" ujar Ciara.
"Heh! Siapa yang mesum coba? Aku tadi cuma pengen bangunin kamu, eh kamu udah keburu bangun duluan!" ucap Libra membela diri.
"Halah alasan aja om, maling mana ada yang mau ngaku!" cibir Ciara.
Tiba-tiba saja Ciara terdiam dengan wajah menunduk, ia tampak bersedih dan menyesali sesuatu. Libra pun mengernyitkan dahi melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat dari wajah gadis itu, sungguh Libra tak mengerti apa yang terjadi pada Ciara sebenarnya. Apalagi ucapan gadis itu tadi masih terngiang-ngiang di pikirannya, Libra tak menyangka kalau ternyata Ciara juga menyukai dirinya dan cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
"Ih kenapa tadi malah cuma mimpi? Padahal aku ngerasa itu kayak real banget loh, andai aja om Libra beneran tembak aku!" batin Ciara.
"Hey, kok malah jadi diam begitu? Mikirin apa sih kamu, hm?" tegur Libra.
"Eee gapapa, aku bingung aja kenapa om mesum banget? Udah ah aku mau mandi, sana om keluar!" ucap Ciara dengan ketus.
__ADS_1
"Yeh aku diusir nih? Jahat banget sih kamu!" ucap Libra protes.
"Terus om mau tetep disini? Mau ngintipin aku mandi, iya?" tanya Ciara.
Libra tersenyum sumringah mendengarnya, "Ya kalau boleh sih aku mah mau aja," ucapnya tanpa rasa takut.
"Ish, emang dasar om mesum!" kesal Ciara.
Libra terkekeh melihat ekspresi gadis itu, ia pun bangkit dan kembali mendekati Ciara bermaksud menggodanya. Wajah serta rambut gadis itu pun menjadi incarannya, ia usap dan cium berulang kali sampai membuat sang empu merasa risih. Akhirnya Libra mengalah, pria itu memutuskan keluar dari kamar Ciara dan menunggu di luar.
•
•
Saat berada di mobil, Libra berkali-kali melirik ke arah Ciara karena masih memikirkan perkataan gadis itu sebelumnya saat sedang tertidur. Ia yakin jika itu adalah sebuah ungkapan kejujuran, karena Ciara tidak sadar saat mengucapnya. Ingin sekali rasanya Libra menanyakan itu pada Ciara, namun entah mengapa ia tak memiliki keberanian.
Bahkan, Libra juga masih belum berani untuk menyatakan cintanya pada Ciara. Padahal hingga kini perasaannya tak berubah, ia masih sangat mencintai gadis itu dan ingin segera memilikinya. Mungkin Libra akan lebih berani nantinya, terutama setelah mendengar kata-kata yang diucapkan Ciara ketika tertidur tadi.
Libra terkekeh karena pertanyaan gadis itu, "Ya gak tahu nih Ciara, aku kayaknya terpesona sama kamu. Suruh siapa kamu bisa cantik banget kayak gitu? Kan aku jadi gak bisa berpaling dari kamu," ucapnya sembari mencolek gemas pipi Ciara.
"Ih om tukang gombal! Tapi om, aku tuh mau tanya deh sama om," ucap Ciara.
"Hm, tanya apa sayang?" Libra terlihat penasaran dan menantikan pertanyaan dari gadis itu.
"Om tuh beneran sayang atau cuma pura-pura aja sih sama aku?" tanya Ciara dengan gugup.
Libra tersentak mendengarnya, "Kenapa kamu tanya begitu? Kamu meragukan kalau aku sayang sama kamu, hm?" ujarnya.
"Ya iya, siapa tahu aja kan om bilang begitu cuma supaya om Davin marah?" ucap Ciara.
"Hahaha, itu aku bilangnya tulus dari hati loh Ciara. Aku emang sayang sama kamu, bahkan bukan cuma sayang tapi juga cinta. Nah kalau kamu sendiri, gimana?" ucap Libra.
__ADS_1
Deg!
Gadis itu terkejut mendengar ucapan Libra, ia bingung harus menjawab bagaimana pada pamannya itu saat ini. Ia ragu untuk mengatakan bahwa dirinya juga mencintai pria itu, bahkan ia amat menginginkan kejadian di mimpi semalam adalah kenyataan. Namun, semua itu tentu sulit mengingat Libra adalah pamannya.
"Kok diem? Malu ya jawabnya? Udah deh ngaku aja, kamu juga cinta kan sama aku!" goda Libra.
"Hah? Om kenapa bisa percaya diri banget kayak gitu sih? Kata siapa coba kalau aku cinta sama om? Dasar gak jelas!" elak Ciara.
Tiba-tiba saja, Libra menghentikan mobilnya dan fokus menatap Ciara dari dekat. Sontak gadis itu terkejut bukan main, siapa yang mengira jika pamannya akan berbuat senekat ini padanya. Satu tangan Ciara pun diraih dan digenggam oleh Libra, mata mereka saling bertatapan dalam jangka waktu lumayan lama dan jarak yang begitu dekat sampai hembusan nafas masing-masing terasa.
"Aku tahu, kamu juga merasakan perasaan yang sama seperti aku. Kamu cinta kan sama aku, Ciara? Tadi aku dengar sendiri waktu kamu tidur, kamu mengigau dan bilang kalau kamu jatuh cinta sama aku. Betul kan?" ucap Libra serius.
"A-apa? Emangnya aku ngigau kayak gitu ya om? Perasaan enggak deh, itu mah khayalan om aja kali!" ucap Ciara masih terus mengelak.
Libra tersenyum dan semakin mendekatkan diri pada gadis itu, ia tangkup wajah Ciara dengan dua tangannya dan membuat sang empu semakin berdebar-debar. Ciara tak habis pikir dengan semua ini, terlebih tanpa diduga Libra mengecup bibirnya walau hanya sekilas. Mata Ciara sampai membulat seketika dengan perlakuan sang paman, sedangkan Libra justru senang melakukannya.
"Aku tulus cinta sama kamu Ciara, mulai hari ini dan selamanya aku mau kamu jadi cintanya aku! Kita pacaran ya Ciara?" ucap Libra.
"Hah??"
"Om bicara apa sih? A-aku bingung..." Ciara berusaha memalingkan wajahnya, tetapi ditahan oleh dua tangan pria itu.
"Kamu gak perlu bingung, karena ini pernyataan bukan pertanyaan. Jadi, aku gak butuh jawaban kamu Ciara. Mulai hari ini, kamu resmi jadi pacar aku!" ucap Libra tegas.
Deg!
Entah seperti apa perasaan Ciara saat ini, bisa-bisanya semua yang ada di mimpinya semalam benar terjadi hari ini. Meskipun cara Libra menyatakan cinta tak seromantis di mimpinya, tapi tetap saja Ciara merasa senang karena memang inilah yang ia inginkan dan nanti-nantikan. Tanpa sadar, Ciara pun mengulum senyum dibuatnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1