
Ciara menemui Galen yang tengah sibuk mengurus dua bayi kembar miliknya di dalam kamar, Ciara pun merasa kasihan pada kakaknya itu karena harus repot-repot menimang dan merawat anak yang bukan merupakan darah dagingnya. Namun, tampak Galen sungguh ikhlas merawat mereka berdua karena pria itu telah menganggap kedua bayi Jessica itu seperti anak kandungnya sendiri.
Ciara merasa salut dengan ketulusan hati kakaknya, tidak sembarang orang tentu yang bisa melakukan hal seperti apa yang dilakukan Galen saat ini. Apalagi, tindakan Jessica dulu yang tidak dapat dimaafkan karena telah menipunya. Inilah dia sosok Galen, jika dia telah bertekad melakukan sesuatu maka pantang baginya untuk mundur dan dia akan selalu merawat serta membesarkan bayi-bayi itu.
"Kak, mereka namanya siapa? Dilihat-lihat mereka ganteng juga ya, agak mirip lah sama kakak walau sedikit!" ucap Ciara dengan lembut.
"Ahaha, bisa aja kamu ya bikin kakak senang! Mereka ini namanya Amar dan Amir, emang mereka pasti tampan karena mereka kan laki-laki yang udah terpancar aura ketampanannya," ucap Galen.
"Betul kak, kalo gitu semangat ya ngurus mereka! Gak boleh ngeluh loh kak!" ucap Ciara.
Galen mengangguk paham dengan apa yang diucapkan adiknya barusan, karena memang Galen ingin terus merawat dan membesarkan kedua bayi miliknya sampai mereka tumbuh dewasa lalu menjadi dua orang pria yang sholeh. Meski tanpa hadirnya sosok ibu, namun Galen yakin kalau kedua anaknya pasti bisa melewati segala rintangan hidup.
"Oh ya, kakak kenapa gak sewa baby sitter aja sih buat bantu urus Amar sama Amir?" tanya Ciara terheran-heran.
"Sudah Ciara, tapi ya itu bayarannya gak ada yang cocok. Kamu kan tahu kalau sekarang kakak ini udah bukan Galen yang dulu lagi, mana punya kakak uang sebanyak itu?" jawab Galen.
"Loh, kakak kasihan banget dong! Yaudah, biar nanti aku bantu bicara sama mama ya?" ucap Ciara.
"Hah??" Galen terbelalak dibuatnya.
Perkataan Ciara barusan tentunya bukan main-main, ia memang ingin membantu Galen dalam mengurus Amar dan juga Amir disana. Ciara merasa kasihan pada sang kakak saat ini yang harus mengurus dua orang bayi sekaligus sendirian, pastinya pria itu akan sangat kerepotan dan membutuhkan bantuan dari setidaknya satu orang baby sitter ternama.
"Ka-kamu gausah ngada-ngada deh Ciara, kakak gak mau ya dianggap nyusahin mama lagi nanti! Kakak ini juga bisa hidup mandiri, kamu gak perlu lah minta bantuan mama buat kakak!" ucap Galen menolak.
"Gapapa kak, ini semua demi Amar sama Amir!" ucap Ciara kekeuh.
Galen tak tahu lagi harus berbicara apa pada Ciara untuk menolaknya, sebab Ciara terus saja memaksa dan mengatakan kalau dia tetap akan menemui mamanya dan berbicara pada sang mama terkait bantuan untuk Galen. Kali ini Galen tak mampu berbuat apa-apa, adiknya itu memang sangat keras kepala dan sulit untuk dibantah.
"Udah kakak gausah protes, aku bakal urus semuanya sama mama sampai nanti kakak dapat baby sitter yang bagus!" ucap Ciara.
"Makasih loh Ciara, kakak gak tahu lagi deh harus bicara gimana sama kamu!" ucap Galen.
"Hehe, yaudah kakak cukup terima aja bantuan dari aku nantinya!" kekeh Ciara.
"Terserah deh, tapi awas loh kamu jangan bilang ke mama kalau kakak yang minta bantuan itu! Kan kamu tadi yang nawarin sendiri, kakak gak mau ya kena omel sama mama lagi!" ucap Galen mengingatkan adiknya.
Ciara manggut-manggut paham, "Siap kak, aku ngerti kok tenang aja!" ucapnya dengan tegas.
•
•
Nadira, Gavin dan juga Keenan tengah terlibat perbincangan serius di ruang tamu rumah milik Galen itu. Mereka bertiga sepertinya hendak mencari tahu alasan mengapa Galen masih mau menolong mereka dan memberitahu mengenai adanya bom yang dipasang oleh Bagas pada rumah Gavin sebelumnya, bahkan Galen sampai nyaris ikut terluka dan bisa saja terbunuh kemarin.
Nadira pun mencurigai jika ini semua hanyalah karangan dari Galen yang sengaja ingin dianggap sebagai pahlawan, karena sesuatu yang tidak mungkin jika Galen dapat dengan mudah mengetahui perihal bom tersebut. Satu-satunya ide yang paling mendekati adalah, Galen bersekutu dengan Bagas untuk menghabisi mereka tetapi berkhianat di detik-detik akhir.
"Aku yakin deh mas, ini semua pasti ulahnya Galen juga! Dia dendam sama aku karena aku udah usir dia dan cabut semua aset dia, makanya dia ajak Bagas kerjasama buat habisin kita!" tebak Nadira.
"Saya rasa itu tidak mungkin deh bu, mustahil rasanya kalau den Galen seperti itu," sela Keenan.
__ADS_1
"Kenapa kamu bela dia, Keenan? Asal kamu tahu ya, dia itu tidak sebaik yang kamu kira! Kelakuan dia sama buruknya dengan ibunya dulu, sama-sama suka menyakiti hati perempuan dan tidak mau bertanggung jawab!" ucap Nadira kesal.
"Saya tahu bu, tapi gak setiap saat juga kan Galen bertindak jahat. Saya yakin, Galen tidak mungkin berkhianat dari keluarga ibu!" ucap Keenan.
Nadira yang kesal hanya bisa menghela nafasnya, kemudian berpaling dan terlihat tidak suka ketika ada yang membela Galen di depannya. Meski begitu, Nadira juga mencoba bersikap netral dengan tidak terus membenci Galen. Wanita itu berusaha menggunakan akal sehatnya, dan ia pun akhirnya setuju dengan pemikiran cerdas sang asisten.
"Benar apa yang dibilang Keenan, sayang. Kamu gak bisa menyalahkan Galen atas apa yang tidak dia perbuat loh, biarpun begitu Galen juga bagian dari keluarga kita!" ucap Gavin.
"Iya mas, aku kan cuma nebak tadi. Gak ada salahnya kan kalau aku tebak begitu?" ucap Nadira.
Gavin tersenyum saja sembari merangkul pundak istrinya, ia tak mau membuat Nadira merasa jengkel atau terjadi keributan diantara mereka. Ya lagipula ini hanya sebuah masalah kecil, dimana Nadira masih begitu membenci Galen dan mengira kalau Galen bekerjasama dengan Bagas untuk bisa menghancurkan mereka kemarin.
"Mama!" ketiganya dibuat terkejut ketika tiba-tiba Ciara muncul dan memanggil mamanya itu.
Sontak Nadira merasa heran mengapa Ciara tampak tersenyum lebar dan terus memandang ke arahnya, bahkan kini Ciara terduduk di sebelahnya sambil senyum-senyum menatap wajahnya seolah hendak meminta sesuatu. Nadira sungguh tak mengerti apa yang terjadi pada Ciara, tak biasanya Ciara bersikap manja seperti anak kecil di depannya.
"Ciara, kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu coba? Kamu lagi kepengen apa? Bilang aja kali sama mama langsung!" ucap Nadira.
"Umm, beneran nih ma aku disuruh bilang langsung? Mama jangan marah loh ya, mama harus nurut sama apa yang aku minta nanti!" ucap Ciara.
Nadira mengernyitkan dahinya, "Emang kamu mau minta apa sih sayang?" tanyanya penasaran.
"Begini ma, tadi aku lihat kak Galen lagi kesusahan banget rawat dua anak kembarnya. Mama tolong bantu kak Galen buat sewa baby sitter ya!" jelas Ciara dengan wajah memohon.
"Hah??" Nadira melongok lebar disertai mulut terbuka, permintaan putrinya itu benar-benar membuatnya syok.
•
•
Begitu masuk ke dalam, Nadira cukup syok ketika melihat Galen tengah kesulitan menenangkan dua bayinya di depan sana. Amar sudah berada di gendongan pria itu, satu botol susu juga telah dia berikan kepada Amar. Namun, Galen terlihat cukup kesulitan untuk memberikan susu yang lain kepada Amir dan tidak bisa menenangkannya.
Wajar saja bila Galen kesulitan melakukan itu, apalagi selama ini Galen tidak memiliki kemampuan untuk merawat bayi. Apalagi, sekarang pria itu harus mengurus dua orang bayi sekaligus yang merupakan putra dari Jessica. Ada rasa kasihan di dalam diri Nadira saat ini, tetapi ia bingung bagaimana cara supaya ia bisa membantu pria tersebut.
"Galen!" kini wanita itu bergerak memanggil si pria yang tengah sibuk mengurus kedua putranya, ia berdiri menghampirinya lalu berhenti tepat di sebelahnya.
Galen yang melihat kehadiran mamanya disana cukup terkejut, ia tak menyangka Nadira akan datang ke kamarnya dan menemuinya saat ini. Galen yakin jika ini semua adalah perbuatan Ciara, karena tadi Ciara mengatakan ingin berbicara pada mamanya. Galen pun tak tahu harus berbuat apa, ia khawatir Nadira justru akan memarahinya nanti.
"Eh mama, ada apa ma? Maaf, aku lagi kerepotan nih ngurus Amar sama Amir!" ucap Galen sambil tersenyum.
"Iya, mama tahu kok. Mama kesini karena diminta sama Ciara, katanya kamu perlu bantuan buat ngurus dua anak kembar kamu ini. Apa kamu mau disewakan baby sitter?" ucap Nadira.
"Waduh, pasti ini kerjaan Ciara deh! Maaf ya ma, padahal aku udah bilang ke Ciara tadi kalau gak perlu ngerepotin mama!" ucap Galen gugup.
Nadira tersenyum lebar, "Gak masalah, kalau emang kamu perlu bantuan mama ya tinggal bilang aja! Mama ini kan punya hutang budi sama kamu, setelah kamu selamatin mama dan juga Ciara dari bom kemarin," ucapnya.
"Ah itu mah bukan apa-apa ma, lebih banyak pengorbanan dari mama buat aku kok. Aku kemarin itu cuma gak mau mama dan yang lainnya kenapa-napa," ucap Galen.
"Yasudah, intinya kamu mau apa enggak disewain baby sitter?" tanya Nadira lagi.
__ADS_1
"Eee sebenarnya mau sih ma, tapi—"
"Kalo gitu nanti mama hubungi tempatnya, biar kamu bisa segera ada yang bantu." Nadira langsung menyela dan membuat Galen terkejut.
Tak ada yang bisa dilakukan Galen saat ini, selain berterima kasih dan mencium tangan mamanya itu karena telah mau membantunya. Sungguh Galen masih tak percaya ini bisa terjadi, sebab yang ia tahu Nadira amat membencinya. Namun, sekarang ini wanita itu justru mau membantunya menyewa dua baby sitter untuk membantu merawat dua putranya.
"Sini biar Amir sama mama, kamu fokus aja kasih susu buat Amar!" pinta Nadira.
"Serius ma? Apa gak ngerepotin mama?" tanya Galen tampak ragu.
"Enggak, udah sini mumpung mama lagi free!" ucap Nadira.
Akhirnya Nadira pun menggendong Amir dan memberikan susu untuknya, Nadira terlihat cukup bahagia meski ia tahu anak yang digendongnya saat ini adalah anak dari seorang pelakor.
•
•
Sementara itu, Libra mendatangi makam dari Gita yang merupakan sahabatnya dulu dan harus meninggal karena ulah dokter Syifa. Libra pun tampak cukup sedih begitu tiba disana, ia berlutut dan memegang batu nisan tersebut. Niat Libra datang kesana adalah untuk memberitahu pada Gita, bahwa saat ini Syifa pun telah tiada.
Libra berharap dengan begitu, maka Gita dapat tenang di alam sana dan tidak lagi merasa dendam atas perbuatan Syifa. Meski Libra menyesalkan semua kejadian ini, karena seharusnya Syifa tidak memilih meninggal sebelum dia menebus semua kesalahan yang dia lakukan. Namun, Libra sendiri tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah hal itu.
"Gita, maafkan saya ya! Harusnya saya bisa menahan Syifa untuk tidak menghabisi dirinya sendiri, karena dia masih harus bertanggung jawab atas semua yang dia perbuat! Tapi, nyatanya saya malah gak bisa apa-apa," ucap Libra.
Libra kembali mengingat segala kenangan yang pernah ia lakukan bersama Gita dulu semasa hidupnya, ia merasa semua ini berjalan begitu cepat dan ia masih belum percaya kalau Gita akan pergi meninggalkannya secepat ini. Jika saja dulu ia bisa mencegah Syifa, maka mungkin sampai sekarang Gita masih berada di dekatnya.
"Kamu yang tenang ya Gita, saya disini akan selalu kirimkan doa untuk kamu!" ucap Libra lirih.
Setelah selesai, Libra pun bangkit dan berniat pergi dari makam itu karena dirasa cukup untuk hari ini dan ia juga tidak bisa berlama-lama disana. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat tiba-tiba ia berpapasan dengan sosok Davin. Libra tampak heran melihatnya, ia belum mengerti apa niat Davin turut datang ke pemakaman kali ini.
"Eh om Davin, lagi ngapain om disini? Apa ada kerabat atau saudara om Davin juga yang dimakamin disini?" tanya Libra penasaran.
"Hm, tepatnya mantan kekasih saya. Saya memang selalu datang kesini untuk mendoakan dia, supaya saya bisa lebih lega dan tenang. Kamu sendiri lagi apa disini, ha?" ucap Davin singkat.
"Saya abis dari makam teman, om. Omong-omong om Davin apa kabar? Kemana aja sih om? Lama loh kita gak ketemu," ucap Libra.
"Gausah basa-basi, saya tahu kamu gak mungkin suka ketemu sama saya. Saya ini kan saingan kamu dulu buat dapetin Ciara, ya sayang aja saya kalah lewat jalur orang dalam," ucap Davin mencibir.
"Ahaha, gak pernah lah saya anggap om ini musuh. Kita kan saudara om," ucap Libra terkekeh.
"Yaudah, kamu mending pulang sana! Jagain Ciara dengan baik dan jangan sampai dia terluka! Kamu ingat kan pesan saya itu?" ucap Davin.
"Siap om, akan selalu saya ingat di dalam kepala saya!" ucap Libra dengan tegas.
Davin manggut-manggut senang, barulah kini pria itu melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Libra yang masih ada disana. Davin memang sudah bertekad di dalam hidupnya, bahwa ia tidak akan lagi mengganggu hubungan Ciara. Namun, entah mengapa hingga kini Davin masih belum bisa melupakan Ciara seutuhnya.
"Kalau Libra menyakiti kamu walau sedikit, saya pasti akan merebut kamu dari lelaki itu Ciara! Pasti!" batin Davin.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...