Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 210. Pacar?


__ADS_3

Faiz masih terus menatap wajah Davin yang kini berdiri tepat di dekatnya, ia juga tak melepaskan pelukannya dari Cyra yang tengah menangis karena teringat pada orangtuanya itu. Faiz masih belum paham apa yang terjadi kali ini, karena Davin tiba-tiba muncul dan berteriak seperti itu. Faiz pun sungguh heran, namun Davin tak kunjung berbicara atau membuka mulutnya sama sekali disana.


Cyra sendiri belum mengetahui keberadaan gurunya di sebelahnya saat ini, ia bahkan tak sadar kalau sedari tadi ia berada dalam pelukan Faiz dan terus menangis deras. Pikirannya benar-benar kacau kali ini, sebab Cyra sangat tidak ingin jika kedua orangtuanya berpisah. Pastinya Cyra akan menjadi sosok gadis yang menderita, karena ia tidak bisa mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya.


"Ada apa? Kenapa anda berteriak seperti itu? Apa kami melakukan kesalahan disini, atau kami mengganggu anda?" tanya Faiz dengan santai.


"Ck, harusnya saya yang menanyakan itu pada anda. Mau apa anda di sekolah ini? Kenapa Cyra bisa menangis begitu, ha? Apa yang sudah anda lakukan kepada Cyra?" sentak Davin.


"Tidak ada kok, dia cuma lagi sedih aja. Lagipula, apa urusan anda menanyakan itu?" ucap Faiz.


Davin terdiam, ia bingung harus berbicara apa kepada Faiz untuk bisa merebut Cyra dari pelukan pria itu. Davin sungguh tak suka melihat ada orang lain yang memeluk gadisnya, apalagi mereka terlihat sangat dekat dan Cyra tampak begitu nyama berada dalam pelukan pria tersebut.


"Saya gurunya disini, saya berhak melindungi Cyra kalau ada yang berani menyakitinya. Apa yang sudah anda perbuat sampai Cyra menangis seperti itu, ha?" ucap Davin dengan tegas.


"Itu bukan urusan anda," ketus Faiz.


Davin semakin jengkel dibuatnya, apa yang dilakukan Faiz saat ini sungguh memancing emosi Davin dan ingin segera menarik Cyra dari sana. Rasanya Davin benar-benar tak terima, karena ia tak mau ada lelaki lain yang menyentuh Cyra. Terlebih, Davin belum tahu siapa lelaki itu dan apa statusnya dengan Cyra.


"Sebaiknya anda pergi, biarkan saya menenangkan Cyra disini!" usir Faiz.


Davin menggeleng, "Seharusnya anda saja yang pergi dari sini, karena anda tidak pantas berada di tempat ini! Biarkan Cyra saya yang urus, saya ini sudah dekat dengan Cyra lebih lama daripada anda," ucapnya kekeuh.


"Haha, itu gak akan terjadi. Saya gak bakal mau melepaskan Cyra saat ini," ucap Faiz yang malah semakin mendekat erat gadis itu.


Akhirnya Cyra sadar bahwa dirinya tengah diperebutkan oleh kedua lelaki itu, ia pun mendongak dan menyeka air matanya. Ia terkejut saat menyadari kalau saat ini ia berada dalam pelukan pamannya, ia juga bertambah kaget ketika melihat ada sosok Davin di dekatnya.


"Pak Davin, ini ada apa ya? Kenapa bapak marah-marah begitu sama pacar saya?" tanya Cyra sambil menatap wajah gurunya.


Deg

__ADS_1


Betapa syoknya Davin mendengar apa yang diucapkan Cyra barusan, ia sungguh syok ketika mengetahui lelaki yang memeluk Cyra adalah kekasih dari gadis itu. Tak hanya Davin, bahkan Faiz sendiri merasa terkejut saat Cyra mengakui dirinya sebagai kekasihnya. Padahal, jelas status mereka saat ini adalah paman dan keponakan.


"Apa? Pacar kamu Cyra??" Davin tampak syok.


Cyra mengangguk pelan, "Iya pak, kenalin dia pacar aku namanya Faiz! Bapak ada masalah apa ya sama dia? Kenapa tadi sampai marah-marah begitu?" ucapnya dengan wajah polos.


"Eee enggak kok, saya cuma kaget tadi waktu lihat kamu nangis. Saya kira orang ini yang jahatin kamu," ucap Davin gugup.


"Bukan lah pak, justru dia yang baik mau tenangin saya. Lagian mana mungkin juga dia jahatin saya? Kami ini kan saling mencintai," ucap Cyra sambil tersenyum lebar.


Perasaan Davin makin tak karuan setelah mendengar kata-kata yang dilontarkan gadis itu, ia merasa sakit hati dan tidak suka ketika Cyra berdekatan dengan lelaki lain. Tapi apa boleh buat, Davin juga tak mungkin bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri hanyalah seorang guru disana.




Faiz sejujurnya kasihan pada Cyra yang tiba-tiba menangis tadi, meski ia tak tahu apa penyebab Cyra seperti itu. Namun sebagai paman yang baik, maka Faiz tetap berusaha menghibur Cyra apapun yang terjadi padanya. Apalagi, ia telah diminta oleh Nadira untuk menjemput sekaligus menjaga gadis itu.


"Cyra, kamu ada apa sih? Kok tadi kamu tiba-tiba nangis kayak gitu, hm? Apa karena kata-kata aku ya yang nyakitin hati kamu? Kalo gitu aku minta maaf, tapi kamu jangan nangis terus ya!" ucap Faiz.


Cyra menggeleng pelan, "Gak kok, om gak salah. Udah ya aku lagi pengen diem dulu?" ucapnya lirih.


"Eh eh, bentar dulu dong Cyra! Aku juga masih pengen tanya satu hal sama kamu, kenapa tadi kamu ngaku kalau aku ini pacar kamu di depan guru kamu itu? Emangnya gak bahaya tuh kayak gitu?" ucap Faiz dengan wajah penasaran.


Cyra menghela nafasnya sejenak, ia kembali menatap wajah Faiz yang duduk di sebelahnya dan terlihat bingung saat hendak memberikan jawaban. Jujur saja tadi Cyra spontan mengatakan hal itu kepada Davin, karena ia tidak tahu lagi harus menjawab apa untuk membuat Davin mau menurut dan pergi darinya.


"Ya aku tuh ngasal aja tadi, abisnya aku kesel banget sama guru aku yang satu itu. Dia selalu aja deketin aku, padahal aku udah minta dia buat menjauh," ucap Cyra menjelaskan alasannya.


"Ohh, mungkin aja tuh guru suka sama kamu. Wajar sih namanya guru udah tua, dia lagi puber kedua kali," sarkas Faiz.

__ADS_1


"Ish, gak lucu tau om! Aku itu risih banget dideketin terus sama dia dari dulu, semoga aja setelah tau kalau aku punya pacar dia gak akan deketin aku lagi!" ucap Cyra.


"Ya ya ya..." Faiz manggut-manggut saja kali ini.


Tak lama kemudian, Faiz menghentikan mobilnya dan membuat Cyra merasa terkejut. Pasalnya, mereka masih belum sampai di depan rumah Nadira. Cyra pun tampak penasaran, ia khawatir pamannya itu akan melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan nantinya.


"Om, kok berhenti disini? Om mau ngapain sih?" tanya Cyra terheran-heran.


Faiz tersenyum dibuatnya, "Makan, aku mau ajak kamu makan. Katanya kita pacaran kan, masa gak makan bareng sih?" jawabnya santai.


"Hah??" Cyra menganga tak percaya.


"Ahaha, bercanda kok Cyra. Kamu jangan tegang gitu kali! Aku cuma pengen makan disini, laper soalnya. Kamu temenin sebentar ya?" ucap Faiz.


"Temenin aja nih om? Aku gak ditraktir sekalian gitu?" tanya Cyra.


"Umm..." Faiz sengaja pura-pura berpikir seperti itu untuk menggoda gadisnya.


"Ah yaudah deh, gapapa walau cuma nemenin. Aku juga gak ngarep ditraktir sama om kok, aku tau lah om kan pengangguran yang gak punya banyak uang," ucap Cyra mencibirnya.


"Heh! Sembarangan aja kalo ngomong, aku punya uang ya! Lagian aku bisa kok traktir kamu doang mah, udah ayo turun!" kesal Faiz.


Cyra langsung tersenyum mendengar kata-kata pamannya itu, strateginya berhasil untuk membuat Faiz marah dan akhirnya mau mentraktirnya makan kali ini. Cyra tentu tak menolak jika Faiz ingin mentraktirnya makan, karena saat ini ia juga merasa lapar setelah menangis selama beberapa menit tadi.


Akhirnya mereka berdua sama-sama turun dari mobil, lalu masuk ke dalam restoran di depan sana tanpa banyak berbicara. Cyra tersenyum senang saat memasuki area restoran, kini keduanya pun terduduk di kursi yang tersedia dan saling berhadapan. Faiz menawarkan Cyra untuk memesan apa yang dia mau, tanpa ragu tentu saja Cyra segera mengatakan pesanannya kepada si pelayan disana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2