Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 138. Hari pertama


__ADS_3

Beberapa hari berlalu sejak kepergian Nindi, dan kini Tiara tampak lebih membaik serta tidak lagi bersedih memikirkan adiknya yang telah tenang disana itu. Tiara bahkan sudah bersiap untuk mulai bekerja di hari pertamanya saat ini, ya sebelumnya Tiara memang telah mengajukan surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan di kota dan sekarang ada satu perusahaan yang memintanya datang untuk melakukan interview alias wawancara.


Tentu saja Tiara tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, meski hidupnya sempat hancur dan tak bersemangat sejak ditinggal adiknya. Biar bagaimanapun, Tiara harus tetap berjuang demi bisa membiayai kehidupan putranya dengan bekerja. Jika tidak, maka pasti Tiara akan terus-terusan merepotkan Nadira yang sudah terlalu banyak membantunya dan ia tidak mau hal itu terus terjadi.


Saat ia keluar dari kamar untuk menemui putranya di bawah sana, ia terkejut karena melihat keberadaan Davin disana bersama kedua mertuanya. Sontak wanita itu terdiam sejenak sambil berpikir, ia bingung apa yang sedang dilakukan Davin disana. Tapi karena rasa penasarannya yang mencuat, Tiara pun memilih mendekat dan bertanya secara langsung pada mereka.


"Pagi ma, pa! Om Davin!" sapa Tiara dengan lirih disertai senyuman lebarnya.


Seketika mereka bertiga menoleh ke arahnya, lalu tersenyum dan membalas sapaan yang diberikan Tiara tadi. Askha juga tampak bahagia melihat mamanya saat ini, karena sedari tadi Askha berada disana bersama nenek dan kakeknya.


"Pagi sayang, kamu udah siap-siapnya? Sarapan dulu yuk!" ucap Nadira.


"Ya Tiara, ada baiknya kalau kamu sarapan sebelum pergi ke kantor. Biar nanti pas interview kamu bisa semangat," sahut Gavin.


"Eee i-i-iya pa, ma. Makasih!" lirih Tiara.


Akhirnya Tiara ikut terduduk disana, ia juga mengambil alih Askha dari Nadira karena merasa rindu dengan putranya itu dan ingin bersamanya sebelum ia berangkat ke kantor. Sedangkan Davin masih terus menatapnya, seolah-olah pria itu tampak bingung dengan penampilan Tiara saat ini.


"Loh kak, mantu kamu kok disuruh kerja sih? Kenapa dia gak diam di rumah aja? Apa uang kamu udah habis buat biayai mereka?" tanya Davin.


"Sembarangan aja kalo ngomong! Uang mah ada banyak, tapi ini kan kemauan Tiara sendiri. Dia pengen hidup mandiri katanya," jawab Gavin.


Davin manggut-manggut paham, hal itu juga diiyakan oleh Tiara yang memang tidak ingin terus merepotkan kedua mertuanya itu. Askha adalah putranya, untuk itu harus Tiara sendiri lah yang membiayai kehidupan Askha. Sebenarnya jika Tiara mau, ia hanya perlu berdiam diri di rumah dan merebahkan tubuhnya dengan santai.


"Iya om, lagian kan malu lah kalau aku ngerepotin mama sama papa terus. Aku ini udah dewasa, aku harus bisa biayai hidup anak aku pakai uang hasil kerja keras aku sendiri," ucap Tiara.


"Ohh, memangnya kamu mau kerja di perusahaan apa?" tanya Davin penasaran.


"Eee belum kerja sih om, baru mau interview. Rencananya di PT Sasmita abadi," jawab Tiara dengan lirih.


Davin hanya menganggukkan kepalanya, karena jujur ia sendiri tak tahu dimana perusahaan itu berada dan siapa pemiliknya. Sebenarnya pertanyaan Davin tadi hanya basa-basi saja, sebab ia pasti tidak akan tahu meski Tiara menjawabnya.


"Oh ya Tiara, nanti mama izin bawa Askha pergi ya ke tempat prakteknya Libra? Soalnya ini hari pertama pembukaannya," ucap Nadira.


"Wah jadi Libra beneran mau buka praktek ya, ma? Bagus deh, tolong sampaikan permintaan maaf aku ke Libra dan Ciara ya ma karena aku gak bisa hadir sekarang!" ucap Tiara.


"Iya gapapa, mama yakin mereka juga paham. Kamu fokus aja sama interview kamu, mama doain semoga kamu keterima kerja!" ucap Nadira.


"Aamiin." mereka kompak mengaminkan ucapan Nadira barusan.




Singkat cerita, Tiara telah sampai di perusahaan tempat ia akan melakukan interview dan segera masuk ke area gedung tersebut. Tiara cukup berdebar-debar saat ini, ia memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam. Entah mengapa rasanya ia begitu tegang dan cemas, mungkin karena ini interview pertama kalinya sejak ia memutuskan menikah kala itu.


Saat berada di dalam, Tiara terlihat bingung harus melakukan apa dan pergi kemana. Akhirnya ia menemui sang resepsionis disana, lalu bertanya tentang interview yang akan ia lakukan. Tiara sungguh gugup, terutama setelah ia diminta pergi saja ke ruangan HRD karena sudah ditunggu sedari tadi oleh sang manager.


Perlahan Tiara melangkahkan kakinya ditemani oleh si resepsionis, sampai kemudian ia tiba di depan ruangan tersebut. Dengan gemetar Tiara mengetuk pintu, ya kini ia ditinggal sendiri karena resepsionis itu harus kembali bekerja. Tiara berharap-harap cemas saat ini, ia khawatir kalau manager yang akan ia temui adalah orang yang galak.


"Masuk!" suara teriakan itu terdengar di telinganya, membuat Tiara tersentak lalu membuka pintu dengan perlahan.

__ADS_1


Wanita itu melangkah dengan sopan, menutup pintu secara lembut dan lalu berjalan menghampiri sosok manager yang sedang terduduk di depan sana. Meski gugup, namun Tiara harus membiasakan diri agar tidak salah dalam menjawab nanti. Tiara juga tak ingin kehilangan kesempatan bekerja di perusahaan sebesar itu, karena pastinya ini adalah sebuah mimpi yang mungkin bisa tercapai.


"Duduk!" titah sang manager, yang tentu langsung dituruti oleh Tiara.


Kini Tiara terduduk tepat di hadapan manager itu, ia terus menundukkan wajahnya karena bingung harus memulai darimana. Apalagi, pria di depannya itu juga masih asyik memandang layar laptop dan seolah tak perduli padanya. Tapi kemudian, sang manager mulai menutup laptopnya dan beralih menatap ke arah Tiara.


"Jadi kamu yang namanya Tiara? Kamu mau melamar pekerjaan disini, iya kan?" tanya manager itu yang diangguki oleh Tiara.


"Be-betul pak, itu saya sendiri. Saya datang atas pemberitahuan dari email," jawab Tiara gugup.


"Baiklah, boleh saya minta kartu identitas kamu?" ucap si manager.


Tiara mengangguk dan lalu memberikan kartu identitas miliknya kepada sang manager, Tiara sungguh bingung mengapa pria itu meminta lagi data dirinya, padahal sebelum ini Tiara sudah memberikan semua sesuai syarat. Setelah mencatat sesuai di kertas, manager itu mengembalikan kartu milik Tiara dan tersenyum menatapnya.


"Sudah, kamu bisa keluar sekarang! Tunggu beberapa menit sampai bos besar datang, beliau lah yang akan melakukan wawancara dengan kamu!" ucap manager itu santai.


"Apa pak? Maksudnya, saya interview langsung sama bos besar?" ujar Tiara terkejut.


"Iya betul, kamu kan akan ditempatkan sebagai sekretaris bos besar disini. Jadi, beliau sendiri yang akan mewawancarai kamu," jelas manager itu.


"Hah? Sekretaris? Ta-tapi pak, saya kan ajukan lamaran untuk posisi admin," heran Tiara.


"Ya itu dia masalahnya, bos besar sedang butuh sosok sekretaris. Beliau mengatakan, kalau kamu adalah orang yang tepat untuk posisi itu," ucap sang manager sambil tersenyum.


Tiara terdiam saja tak berkutik, mulutnya terkatup serta matanya terbuka lebar seolah bingung dengan keadaan yang ada.




Ia pun mulai mencoba kursi miliknya sendiri disana dan memandang ke sekeliling ruang prakteknya, tempat tu sangat luas dan cukup untuk setidaknya menampung dua pasien sekaligus atau lebih. Ia bersandar pada kursinya, senyuman terus terukir di wajahnya seolah tidak sabar ingin segera membuka praktek itu dan menjadi dokter bahagia.


"Permisi dok!" tiba-tiba saja, seorang wanita yang ia tugaskan sebagai suster disana untuk membantunya masuk ke dalam dan menegurnya.


"Ah ya, ada apa Lina?" tanya Libra heran.


"Itu dok, di luar sudah ada keluarga dokter yang datang. Katanya mereka ingin memberi selamat, sekaligus menghadiri acara peresmian tempat ini secara langsung," jelas suster bernama Lina itu.


"Oh begitu, iya iya suruh aja mereka masuk kesini ya Lina!" titah Libra.


"Baik dok!" suster itu berbalik keluar dan menemui pihak keluarga Libra untuk meminta mereka semua masuk ke dalam sana.


Benar saja, akhirnya Nadira bersama Gavin dan juga Ciara muncul di hadapannya saat ini. Sontak Libra bergegas bangkit dari tempat duduknya, mendekat ke arah mereka bertiga lalu mencium tangan kedua mertuanya itu. Libra tak menyangka mereka akan datang, karena sebelumnya Libra telah meminta Ciara untuk berdiam di rumah saja.


"Selamat ya Libra, akhirnya impian kamu buat punya praktek sendiri terwujud! Mama ikut bahagia loh lihatnya!" ucap Nadira.


"Iya mbak, eh ma maksudnya. Makasih ya udah mau datang kesini buat aku!" ucap Libra gugup.


"Sama-sama Libra, ini maaf loh kami gak bisa kasih apa-apa buat kamu soalnya bingung juga mau kasih apa!" ucap Nadira terkekeh.


"Gapapa ma, dengan kehadiran mama sama papa disini aja udah bikin aku senang kok," ucap Libra.

__ADS_1


Ya Libra tentu sangat bahagia, di hari pertamanya membuka praktek bisa ada pihak keluarganya yang datang menemani. Meski awalnya Libra enggan membawa Ciara karena khawatir dengan kandungan wanita itu, tetapi ia senang melihat Ciara ada disana dan sepertinya keputusan awal yang ia buat adalah salah.


"Ohh, yang bikin senang cuma mama sama papa? Aku disini dicuekin ya mas, jahat banget sih kamu!" ucap Ciara menyela dengan wajah cemberut.


Libra tersenyum mendengarnya, ia gemas dengan tingkah Ciara saat ini yang begitu lucu. Tanpa banyak berpikir, Libra bergegas menghampiri istrinya itu dan merangkulnya sembari mencubit kedua pipi wanita itu karena gemas. Sedangkan Nadira serta Gavin tampak senyum-senyum saja, mereka senang dengan kemesraan yang ditunjukkan Libra saat ini.


"Duh duh duh, jangan ngambek gitu dong sayang! Iya aku juga senang kok karena kamu datang kesini, aku bahagia banget malah! Makasih ya cantik, aku beruntung banget punya istri secantik dan sebaik kamu!" ucap Libra sambil tersenyum.


"Ih kamu emang paling bisa ya kalau urusan godain aku, huh dasar!" cibir Ciara.


"Hahaha..." mereka kompak tertawa, kebahagiaan menghiasi ruangan itu yang sebentar lagi akan dipenuhi oleh para pasien dokter Libra.




Tiara yang sudah menunggu cukup lama, merasa bosan karena bos besar tidak kunjung datang juga sampai membuatnya kesal. Tiara terus menatap ke layar ponselnya untuk melihat jam, wanita itu heran sekaligus kesal dibuatnya. Sudah berulang kali Tiara mondar-mandir disana, tetapi orang yang ia tunggu masih juga belum datang menemuinya.


Karena kesal dan bosan, Tiara pun bangkit dari kursinya lalu hendak pergi dari kantor itu dan melupakan saja pekerjaan barunya. Namun, baru hendak melangkah tiba-tiba dirinya berpapasan dengan seorang pria tampan yang muncul dari arah berlawanan. Mereka nyaris bertabrakan, untungnya Tiara masih sempat mengerem tadi.


"Ma-maaf pak," ucap Tiara lirih sambil menunduk takut, tangannya juga ia letakkan di depan.


"Hm, lain kali hati-hati! Hampir aja baju saya kotor kesentuh sama kamu," ujar pria itu dengan nada jutek dan langsung pergi begitu saja.


Tiara sampai terbelalak mendengarnya, ia terus memandang ke arah punggung pria yang tadi nyaris ia tabrak itu dengan tatapan kesal. Ingin sekali rasanya Tiara memukul pria itu, ia juga tak menyangka jika ternyata ada orang sombong seperti si pria yang benar-benar menyebalkan.


"Sombong banget sih itu orang! Baru kerja disini aja udah belagu, gimana kalau dia jadi bos besar coba!" cibir Tiara.


Saat ia hendak meneruskan langkahnya, lagi-lagi ia dibuat terkejut saat sang manager yang sebelumnya sempat ia temui kembali ada di depannya. Tiara pun mengusap dadanya sembari menghela nafas, ia sangat terkejut karena sudah dua kali ia hampir bertabrakan dengan seorang pria.


"Tiara, kamu mau kemana? Kenapa kamu enggak masuk ke ruangan bos besar?" tanya sang manager.


"Ih gimana mau masuk, pak? Bos besarnya aja daritadi saya tungguin belum datang-datang, saya sampe pegel tahu pak duduk di depan situ! Mending saya pulang aja deh," jawab Tiara.


"Loh belum datang gimana? Itu yang tadi bicara sama kamu kan bos besar," ujar sang manager.


"Apa??" Tiara terkejut bukan main mendengarnya.


Tiara sungguh tak menyangka, kalau ternyata orang sombong yang tadi ia maki-maki adalah calon bosnya dan seorang pemimpin di perusahaan itu. Namun, Tiara benar-benar heran bagaimana bisa orang seperti itu menjadi pemimpin disana. Tiara pun tampak kebingungan, ia menggaruk kepalanya dan coba berpikir dengan keras.


"Kenapa Tiara, apa ada yang salah? Atau kamu mau mengundurkan diri dari lamaran kamu dan tidak jadi untuk bekerja disini?" tanya sang manager.


"Eee bukan begitu pak, saya kaget aja tadi. Saya gak nyangka kalau orang yang hampir saya tabrak tuh si bos besar, untung aja tadi saya gak sempat ribut sama dia pak," jawab Tiara gugup.


"Oalah, udah kamu tenang aja! Bos besar itu orangnya baik kok, ya walau dia sikapnya agak jutek dikit sih. Tapi, dia ramah kok!" ucap sang manager.


Tiara memalingkan wajahnya, "Bukan agak jutek lagi itu mah, tapi judes plus sombong! Gak kebayang deh gimana nanti kalau dia beneran jadi bos aku," ucapnya lirih yang tidak bisa didengar oleh manager itu.


Lalu, sang manager pun memerintahkan Tiara untuk pergi menemui bos besar di ruangannya. Dengan sangat malas, Tiara melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan itu sambil terus berdoa.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2