Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 105. Pengakuan


__ADS_3

Ciara dan Libra telah sampai kembali di negara asal mereka, keduanya tampak memasuki apartemen tempat tinggal mereka sembari membawa barang bawaan mereka. Kini Ciara juga terlihat masih merengut kesal, sepertinya wanita itu memang belum bisa melupakan kejadian sebelumnya dimana Libra lebih akrab dengan wanita lain. Sungguh Ciara tak terima, ia marah sekaligus cemburu karena tak ingin suaminya berdekatan dengan Gita meski wanita itu adalah rekan kerjanya.


Sedari tadi Libra terus berusaha membujuk Ciara, bahkan sepanjang perjalanan menuju ke Indonesia wanita itu masih saja tidak mau berbicara dengan Libra dan terus mengabaikannya tanpa perduli bahwa Libra adalah suaminya. Bagi Ciara, rasa sakitnya itu sudah teramat sangat dan ia tak akan mungkin bisa melupakan keramahan serta kedekatan Libra dengan Gita seperti saat dirinya lihat secara langsung.


Disaat mereka hendak menaiki lift, tanpa sengaja keduanya justru berpapasan dengan Seno yang baru saja keluar dari lift tersebut. Sontak mereka reflek menghentikan langkahnya, mengurungkan niat untuk masuk ke dalam lift itu karena Seno menyapa Ciara serta Libra secara bergantian. Ya jelas Libra masih mengenal betul siapa lelaki di hadapannya itu, karena dulu dia lah yang selalu menjadi pengganggu di dalam hubungan mereka.


"Wah halo Ciara! Halo juga om!" sapa Seno dengan lembut disertai senyuman hangatnya, membuat Libra makin panas dingin.


Ciara membalas sapaan lelaki itu, juga ikut tersenyum menatapnya dengan maksud untuk membalas perbuatan Libra saat di hotel kemarin yang seolah sengaja ingin membuatnya cemburu. Meski Ciara tak akan mungkin berpaling dari Libra, tetapi untuk saat ini melakukan itu adalah cara yang paling baik menurutnya agar membuat Libra kapok.


"Kamu abis darimana, kok bawa koper segala kayak gitu? Pantas aja belakangan ini aku gak ngeliat kamu lagi disini, ternyata kamu emang abis pergi jauh ya?" tanya Seno penasaran.


"Iya kak, aku abis liburan tadinya. Ya cuma liburan aku agak kacau gitu, jadinya aku mutusin buat pulang sekarang sebelum waktunya," jawab Ciara.


"Oh begitu toh, omong-omong kenapa kamu bisa sama om Libra? Apa kalian ini pergi liburan bareng, berdua aja gitu?" Seno kembali mengajukan pertanyaan yang seharusnya tak ia tanyakan.


"Eee kita...."


"Haha, itu benar Seno. Saya dan cara baru pulang dari liburan nikmat kami berdua, iya kan sayang?" tiba-tiba Libra menyela, lalu merangkul pundak Ciara seolah hendak menunjukkan bahwa Ciara telah resmi menjadi miliknya di hadapan Seno.


Seno tersenyum geli dibuatnya, "Kalian sekarang gak tahu malu lagi ya? Umbar kemesraan di tempat umum kayak gini, banyak orang lagi!" cibirnya.


"Memangnya kenapa, Seno? Kami ini sudah resmi menikah, camkan itu!" ujar Libra.


Seketika Seno terkejut bukan main mendengar pengakuan yang dilontarkan oleh Libra, mulutnya terbuka lebar sekaligus kedua bola matanya yang terbelalak seolah hendak copot. Seno benar-benar tak percaya dengan itu semua, ia pun coba memastikan kebenaran dari perkataan Libra tadi kepada Ciara secara langsung.


"Apa maksudnya, beneran kalian berdua sudah menikah? Kok aku bisa gak tahu sama sekali sih?" kaget Seno tampak syok.


"Ya begitulah Seno, kami ini sudah sah sekarang. Kenapa, kamu kaget ya dengarnya? Sedih atau kecewa karena tahu Ciara udah ada yang punya?" ledek Libra.


Seno mengalihkan tatapannya ke arah Ciara, lalu bertanya mengenai kepastian ucapan Libra tadi.


"Ciara, benar kamu sudah menikah? Kenapa kamu gak ada bilang ke aku? Lalu apa alasan kamu menikah dengan orang tua ini?" tanya Seno.


Libra mengepalkan tangannya terbawa emosi akibat ucapan Seno barusan, pria itu ingin sekali rasanya memukul wajah Seno dengan tangannya secara langsung sampai membuat Seno pingsan disana. Namun, kekesalannya mendadak hilang ketika Ciara tiba-tiba menyingkirkan tangannya dari pundak wanita itu lalu bergerak maju mendekati Seno.


"Umm, mungkin. Aku juga gak tahu dia suami aku atau bukan," jawaban Ciara itu membuat ambigu, Seno justru bertambah bingung dengan perkataan Ciara itu.


"Hah? Ma-maksud kamu??" tanya Seno keheranan.


"Maaf ya kak, aku mau permisi dulu!" bukannya menjawab dan menjelaskan, Ciara justru pamit pada Seno dan melangkah begitu saja.


"Loh loh, Ciara kamu mau kemana? Tungguin aku dong!" Libra reflek berteriak dan berusaha mengejar Ciara sembari membawa kopernya, tetapi lagi-lagi Seno menghalanginya.


Libra yang kesal pun tampak mendorong kasar tubuh pria itu agar tidak menghalangi jalannya, ia sedang bingung saat ini memikirkan cara untuk bisa membujuk istrinya dan tentu ia tak ada waktu meladeni bocah seperti Seno. Jika ia sedang tidak sibuk, mungkin saja ia sudah melawan Seno atau bahkan melumpuhkannya saat itu juga.


"Mau apa sih kamu, ha? Belum puas dengar jawaban saya tadi? Ciara itu istri saya, dan kamu sebaiknya jangan dekati dia lagi atau coba-coba mau goda Ciara!" ucap Libra dengan tegas.


Seno menggeleng pelan, "Om pasti bohong kan? Ciara gak mungkin udah jadi istri om, ini semua paling cuma tipu daya om aja!" ucapnya.

__ADS_1


"Hahaha, segitunya ya kamu tergila-gila dengan istri saya? Ciara itu sudah saya nikahi secara sah, dan nama kami juga sudah tercatat di pengadilan agama. Kalau kamu tidak percaya, silahkan cek saja sendiri disana!" ucap Libra.


"Saya tidak percaya dengan kata-kata om itu!" sentak Seno sembari memberikan tatapan tajamnya.


"Terserah."


Libra tak mau terlalu memusingkan hal itu, baginya yang terpenting sekarang adalah Ciara dan bagaimana cara untuk membuat wanita itu mau memaafkannya kembali. Akhirnya Libra memilih melanjutkan langkahnya berusaha mengejar Ciara yang sudah menaiki lift lebih dulu, namun suara Seno berhasil membuat langkah Libra terhenti.


"Tapi meskipun perkataan om itu benar, saya tetap tidak akan menyerah. Saya akan terus perjuangkan cinta saya ke Ciara, dan saya akan buktikan kalau Ciara itu lebih pantas bersama saya! Hati-hati om, karena nantinya Ciara akan saya rebut dari om!" ucap Seno tanpa ragu sedikitpun.


Libra semakin tersulut emosinya, dua tangan pria itu sudah terkepal kuat seolah hendak berbalik dan memukul wajah Seno dengan brutal. Ia tak terima dengan perkataan Seno barusan, yang seolah telah merendahkan dirinya dan ingin bersaing dengannya. Padahal Libra sudah mengatakan Ciara adalah istrinya, tetapi Seno seolah tak perduli dan malah berbalik berkata seperti tadi.


"Saya permisi om, sampai bertemu lagi! Semangat ya om bujukin Ciara nya, soalnya dia kelihatan gak nyaman sama om! Mungkin, dia nanti akan berpaling ke saya!" ujar Seno dengan seringai tipisnya.


Setelah mengatakan itu, tanpa merasa bersalah Seno pun pergi dengan santainya meninggalkan apartemen tersebut. Libra yang emosi hanya bisa meluapkan kekesalannya dengan berteriak keras seraya memukul angin, tapi tentu ia tak akan semudah itu melepaskan Ciara dari tangannya.




Disisi lain, Leon baru saja kembali dari dinasnya di luar kota selama beberapa hari. Kini pria itu turun dari mobil yang ia tumpangi, lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya dengan membawa sejumlah barang miliknya. Ia terlihat sangat senang, karena sebentar lagi ia akan dapat bertemu kembali dengan istri serta anaknya yang sudah lama tak ia jumpai.


Begitu memasuki rumah, ia langsung disambut oleh Nindi yang sepertinya sudah menunggu sejak lama. Leon pun tersenyum puas melihatnya, senang sekali karena kepulangannya itu disambut oleh sang istri tercinta dengan senyuman manis juga suaranya yang lembut. Bahkan Nindi juga sangat hormat padanya, terlihat dari cara wanita itu yang mencium tangan serta membantu Leon membawa barang miliknya menuju sofa di ruang tamu.


Mereka berdua pun duduk berdampingan di sofa, tak lupa Nindi juga telah menyediakan air minum untuk suaminya itu dan beberapa cemilan. Tentu saja Leon tampak sangat senang, pria itu langsung menenggak habis minuman tersebut sampai tak bersisa. Nindi yang melihatnya tersenyum saja, tingkah Leon memang terkadang berhasil membuat dirinya merasa bahagia seperti sekarang.


"Loh loh, kamu kenapa sayang? Suaminya pulang kok malah cemberut kayak gitu, ada apa?" tanya Leon dengan wajah heran.


Nindi tersadar dari lamunannya, lalu spontan menoleh ke arah suaminya dan tersenyum tipis. Ia berusaha meyakinkan lelaki itu agar tidak curiga dan mengetahui bahwa dirinya tengah menyembunyikan sesuatu, karena jujur untuk saat ini Nindi masih belum bisa menceritakan semuanya.


"Ah aku gapapa kok, ini kamu mendingan istirahat aja disini mas! Aku mau ke belakang dulu ya, kebelet nih sayang!" ucap Nindi sembari beranjak dari sofa dan beralasan.


"Okay, tapi kamu serius gak ada apa-apa sayang? Kalau emang kamu punya masalah, cerita aja sama aku gausah disembunyiin begitu!" ucap Leon.


Nindi mengangguk perlahan, "Iya bener mas, aku gak ada masalah atau apalah itu kok. Kamu bisa percaya sama aku, lagian tadi tuh aku diam karena aku nahan pipis bukan maksud aku mau cuekin kamu," ucapnya berbohong.


"Oh yaudah, kamu pipis aja dulu sana! Nanti aku nyusul ke kamar ya sayang?" ucap Leon.


"Iya mas."


Setelahnya, Nindi pun melangkah meninggalkan suaminya disana dengan perasaan lega karena Leon tak menaruh curiga padanya. Namun meski begitu, Leon tetap saja terus mengawasi Nindi dan memandangi punggung wanita itu. Leon merasa ada sesuatu yang tengah disembunyikan Nindi darinya, dan ia harus tahu soal itu.


"Nah tuh tuh, papa udah pulang! Halo papa!!" tiba-tiba, Leon dikejutkan dengan suara Rifka yang muncul bersama Daiva di gendongannya.


Sontak Leon menoleh dan tersenyum menatap putrinya, ia cubit gemas dua pipi Daiva untuk melepas rasa rindunya terhadap bayi berusia 2 tahun lebih itu. Meski hanya beberapa hari, namun rasa rindu Leon pada Daiva sudah memuncak sejak kemarin. Untunglah kini Leon telah kembali, sehingga ia bisa bermain lagi dengannya.


"Eh anak papa yang cantik, duh makin cantik aja sih kamu sayang! Sini sini papa gendong, mmhhh wanginya!" Leon langsung mengambil alih Daiva dari tangan Rifka, menggendongnya lembut sembari mengecupi pipinya.


"Ahaha, dia kayaknya kangen banget sama kamu Leon!" ujar Rifka.

__ADS_1


"Iya Rifka, aku aja juga kangen sama Daiva. Dari kemarin kan aku terus bayangin dia, syukur deh dia baik-baik aja!" ucap Leon tersenyum lebar.


Rifka manggut-manggut saja, ia ikut bahagia melihat pria yang pernah dicintainya itu bahagia. Meski, ada sedikit rasa sakit yang masih melukai hatinya ketika ia mengingat kejadian di masa lalu antara dirinya dengan pria itu.


"Oh ya, kamu kira-kira tahu gak Nindi kenapa? Soalnya dia itu beda banget dari biasanya, dia kayak lagi sembunyiin sesuatu gitu," tanya Leon.


"Hah??" Rifka sampai tersentak dibuatnya.




Keesokan harinya, Nindi kembali mendatangi tempat dimana ia bertemu dengan Rama tempo hari. Wanita itu terlihat begitu cantik mengenakan gaun berwarna kuning miliknya sesuai pesanan si pria sebelumnya, Nindi pun terduduk di kursi yang tersedia sembari celingak-celinguk mencari keberadaan Rama di sekitar sana.


Tak lama kemudian, ia dikejutkan dengan kemunculan sebuah bunga di depan matanya yang pastinya membuat wanita itu benar-benar terkejut tak menyangka. Ia menoleh ke samping, dan spontan ia bangkit dari duduknya lalu melebarkan senyum ketika menyadari Rama telah datang kesana menemuinya dengan membawa bunga.


"Hai Nindi! Aku senang banget kamu mau turutin kemauan aku, kamu cantik banget pakai gaun ini Nindi!" ucap Rama memujinya.


Nindi tersenyum seraya menundukkan wajahnya, ia benar-benar tersipu dan kedua pipinya kini bersemu merah akibat pujian yang dilontarkan oleh Rama barusan. Rama pun bergerak semakin mendekat, satu tangannya bergerak menyentuh wajah Nindi dan mengusapnya lembut. Memberi sentuhan yang membuat sang empu merasa gelisah, sampai jantungnya berdetak sangat kencang.


"Duduk lagi yuk!" ajak Rama yang diangguki oleh Nindi dan terduduk disana.


"Umm, ini bunga buat kamu Nindi! Aku sengaja bawa bunga ini, karena sesuai sama kecantikan kamu!" ucap Rama sambil tersenyum lebar.


"Bisa aja kamu Ram," lirih Nindi.


Mau tidak mau, Nindi pun mengambil bunga tersebut dari tangan Rama dan menghirupnya. Wangi dari bunga itu berhasil membuat Nindi merasa tenang dan nyaman, seketika perasaan gelisahnya hilang lalu berganti dengan ekspresi senang sampai melebarkan senyumnya.


"Nindi, aku boleh ngomong sesuatu yang penting gak sama kamu? Ini mungkin sangat sensitif, dan bisa bikin kamu gak enak hati," ucap Rama.


Nindi terkejut mendengarnya, "Maksud kamu? Ngomong apa?" tanyanya terheran-heran.


Perlahan Rama meraih kedua tangan Nindi dan menggenggamnya erat, ia menatap wajah wanita itu dengan serius sembari memejamkan mata berusaha untuk menguatkan dirinya. Nindi benar-benar penasaran, menunggu pria itu mengatakan padanya apa yang disembunyikan olehnya.


"A-aku ini yang sebenarnya...." Rama menggantung ucapannya, entah kenapa ia merasa belum siap untuk mengakui semuanya pada Nindi.


"Sebenarnya apa?" tanya Nindi penasaran.


"Eee sebelumnya aku minta maaf sama kamu, Nindi! Aku terpaksa melakukan semua itu, aku benar-benar hilang kendali saat itu dan aku gak bisa tahan diri aku sendiri!" ujar Rama.


"Kamu itu bicara apa sih, Ram? Memangnya apa yang kamu lakuin, ha?" heran Nindi.


"Aku orang yang udah perkosa kamu waktu itu, Nindi."


Deg


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2