
Di siang hari yang terik ini, semua orang tengah berkumpul untuk melaksanakan prosesi pemakaman jenazah Nindi yang dinyatakan meninggal karena tertabrak kereta api. Mereka semua tampak bersedih disana, isakan tangis terus terdengar memenuhi area pemakaman. Terlebih, sosok Tiara yang merupakan kakak kandung dari Nindi dan pastinya sangat merasa kehilangan setelah kepergian saudara satu-satunya itu.
Ciara dan juga Nadira yang ada di sebelahnya terus mencoba menenangkan wanita itu, mereka berusaha membuat Tiara tidak terus menangis terisak di atas kuburan Nindi karena bagaimanapun Tiara harus bisa belajar ikhlas. Namun, tidak mudah memang bagi Tiara untuk bisa mengikhlaskan kepergian adik satu-satunya itu. Hanya Nindi saudara yang ia miliki, dan sekarang Tiara harus kembali kehilangan sosok orang yang ia cintai.
Kesedihan juga tampak hadir di wajah Rifka yang kini tengah menggendong Daiva, ia tentu merasa amat kasihan pada sosok Daiva karena harus kehilangan ibunya di usia yang masih belia. Jika Rifka bisa memilih, maka Rifka akan menggantikan posisi Nindi saat ini dan rela berkorban agar wanita itu masih bisa hidup untuk mengurus Daiva yang membutuhkan kasih sayangnya.
Rifka sama sekali tak menyangka hal ini akan terjadi kepada Nindi, kepergian wanita itu begitu tragis dan sangat amat membuatnya merasa kasihan. Rifka sendiri langsung syok sebelumnya begitu mendengar kabar dari Leon mengenai Nindi yang meninggal secara tragis, awalnya Rifka bahkan sempat sulit mempercayai hal itu dan mengira bahwa semua itu hanyalah omong kosong.
"Tiara, yang sabar ya sayang! Kamu gak sendirian kok nak, ada mama sama yang lain juga disini. Kami semua akan selalu menemani kamu, jadi kamu jangan merasa sendiri ya!" bujuk Nadira.
Tiara masih fokus memandang kuburan adiknya, ia menggeleng-geleng perlahan disertai air mata yang membasahi kedua pipinya. Memang benar apa yang dikatakan Nadira tadi, kalau hidupnya tidak akan terasa sepi karena masih ada banyak orang yang menyayanginya. Tapi bagaimanapun, tetap saja Tiara akan merasa berbeda bila tidak ada Nindi di sisinya.
"Kak Tiara, aku juga sedih banget dengar kabar ini. Nindi itu udah aku anggap saudara juga loh, aku gak nyangka kalau Nindi akan pergi secepat ini tinggalin kita semua. Tapi, kak Tiara harus kuat ya dan ikhlasin semuanya!" ucap Ciara.
"Ciara benar, kamu boleh sedih tapi jangan sampai berlarut-larut ya Tiara! Kita doakan aja supaya Nindi tenang disana!" sahut Rifka.
Tiba-tiba saja Tiara terdiam dan tidak melakukan gerakan apapun, lalu ia bangkit dan berbalik menatap ke arah Rifka dengan tatapan tajam disertai tangan terkepal kuat. Melihat itu membuat Rifka merasa gugup plus ketakutan, belum pernah Rifka melihat sahabatnya semarah itu padanya seolah-olah hendak memukulnya.
"Ini semua gara-gara kamu, kenapa kamu gak jagain Nindi sih Rifka? Kamu bilang kamu mau terus jagain dia, tapi ini apa? Mana buktinya? Nindi meninggal aja kamu gak tahu kan Rifka!" sentak Tiara.
Deg
Betapa terkejutnya Rifka mendengar perkataan yang dilontarkan Tiara barusan, Rifka sangat ketakutan karena Tiara benar-benar emosi saat ini. Wanita itu hanya bisa menunduk lesu dan merasa bersalah atas semua ini, memang benar apa yang dikatakan Tiara kalau dirinya tidak bisa menjaga Nindi dengan baik selama ini.
"Tiara, udah cukup sayang! Kamu sabar dan jangan emosi begini ya, kasihan Nindi loh kalau lihat semuanya!" ucap Nadira mendekati menantunya.
"Iya kak, ini semua itu udah takdir Tuhan. Kak Tiara gak bisa menyalahkan kak Rifka dalam peristiwa ini, karena semuanya udah diatur sama yang di atas. Kakak sabar ya!" sahut Ciara.
Akhirnya Tiara berhasil ditenangkan oleh mereka berdua, meski wanita itu masih merasa emosi.
•
•
Sementara itu, Libra tengah menemani Leon yang juga masih bersedih di luar pemakaman. Sangking sedihnya, Leon bahkan tidak sanggup untuk mengantarkan jenazah istrinya secara langsung ke tempat persemayaman terakhirnya. Leon malah terus menangis disana saat ini, pria itu merasa sangat bersalah atas semua peristiwa yang menimpa istrinya itu.
Libra sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa membujuk rekannya itu, karena ia belum pernah merasakan kehilangan seperti yang dirasakan Leon saat ini. Libra juga tak mengharapkan hal itu terjadi padanya, karena pasti ia akan sama sedihnya seperti apa yang dialami Leon sekarang. Terlihat jelas bahwa Leon sangat mencintai Nindi sebenarnya, hanya saja Nindi yang selama ini tak pernah menganggap Leon sebagai suaminya.
"Leon, udah ya kamu harus bisa sabar dan jangan begini terus!" ucap Libra lirih.
"Gak bisa pak Libra, saya ini cinta banget sama Nindi dan semua yang terjadi sama dia sekarang benar-benar bikin saya merasa kehilangan. Jujur saya sedih banget pak!" ucap Leon terisak.
"Iya saya ngerti, tapi kamu juga gak baik sedih terus kayak gini! Kita pulang aja yuk, kasihan Daiva juga kan kalau ngeliat papanya sedih!" bujuk Libra.
Seketika Leon terbelalak dan spontan bangkit dari posisinya, pria itu memikirkan bagaimana kondisi Daiva saat ini karena sedari tadi ia terus saja berada disana dan melupakan Daiva tanpa tahu apa yang terjadi pada gadis itu sekarang. Sontak Leon bergegas pergi berniat mencari keberadaan Daiva, namun Libra lebih dulu menahannya.
__ADS_1
"Eh eh, kamu mau kemana sih Leon? Santai aja gausah buru-buru kayak gitu, kamu masih sedih dan belum pulih secara mental loh!" ucap Libra.
"Iya pak, tapi saya cemas sama Daiva. Saya harus temuin dia pak!" ucap Leon.
"Kamu tenang aja Leon, sekarang Daiva aman sama Rifka kok! Kamu tenangin aja diri kamu dulu, atau kamu mau datangin makam Nindi sekarang? Kamu kan belum ngecek kesana," ucap Libra.
"Entah pak, rasanya saya belum siap terima semua ini. Sa-saya gak nyangka Nindi akan pergi secepat ini pak," ucap Leon gugup.
"Leon, kamu—"
Baru saja Libra hendak berbicara dan coba menguatkan Leon, tiba-tiba saja suara teriakan lantang terdengar dari arah berlawan dan membuat kedua pria itu terkejut bukan main. Libra serta Leon menoleh ke asal suara secara bersama-sama, disana lah tampak sosok Galen yang datang dengan Jessica menghampiri mereka.
"Leon!" ya pria yang merupakan mantan bosnya itu, langsung memanggil namanya dan bergerak mendekat.
Kini Galen serta Jessica telah berdiri tepat di hadapan kedua pria itu, Galen tampak menatap tajam ke arah Leon disertai dua tangan terkepal kuat seolah menahan emosinya. Dari ekspresi yang ditunjukkan Galen saat ini, Leon tahu kalau mantan bosnya itu pasti akan marah padanya atas kejadian yang menimpa Nindi.
"Heh Leon! Kamu tuh emang gak bisa dipercaya ya? Jagain Nindi aja gak becus, gara-gara kamu sekarang Tiara pasti sedih karena kehilangan adiknya!" sentak Galen dengan emosi.
•
•
Perlahan-lahan akhirnya Tiara mau bangkit seperti semula dan tidak lagi menangis di depan kuburan sang adik, Nadira serta Ciara lah yang berhasil membuat Tiara merasa lebih baik walau masih ada sedikit rasa sedih di dalam hatinya. Tiara sadar kalau semua ini adalah takdir, dan ia tidak bisa menyalahkan orang lain dalam hal ini.
Mereka semua pun pergi keluar dari area pemakaman, menuju tempat parkir dimana Leon dan Libra berada. Ya mereka masih belum mengetahui keberadaan Galen yang juga ada disana, pastinya Nadira akan semakin emosi jika melihat kembali sosok putranya itu. Namun, entah apakah Tiara juga akan emosi atau justru senang nantinya.
"Ah gapapa kok Tiara, aku paham sama apa yang kamu rasain sekarang ini. Aku juga minta maaf karena aku gagal jagain adik kamu dengan baik, maafin aku ya Tiara!" ucap Rifka.
"Enggak Rifka, itu bukan salah kamu. Ciara benar, semua ini udah takdir untuk aku dan Nindi. Justru kamu udah baik selama ini ke kami," ucap Tiara.
Tanpa diduga, Tiara mendekat ke arah Rifka dan memeluk erat sahabatnya itu. Sontak Ciara yang tengah menggendong Daiva langsung tersenyum begitu melihatnya, Ciara senang karena Tiara akhirnya bisa berbaikan kembali dengan Rifka. Ya kedua wanita itu adalah sahabat sejati yang sudah lama bersama, jadi tidak elok rasanya jika mereka bertengkar karena masalah Nindi.
"Sekali lagi maafin aku ya Rifka, aku benar-benar nyesel udah bicara kayak gitu tadi!" ucap Tiara.
"Sama-sama Tiara, aku juga minta maaf ya sama kamu!" ucap Rifka.
Disaat mereka sedang asyik berbincang ria dan melupakan kesedihan yang ada, tiba-tiba saja mereka mendengar suara teriakan seorang pria yang seperti mirip dengan Galen. Sontak saja keempat wanita itu langsung mencoba mencari tahu dimana suara tersebut berasal, sampai akhirnya Ciara lah yang lebih dulu melihat keberadaan kakaknya.
"Kak Galen??" lirih Ciara dengan tatapan menjurus ke arah pria itu berada, membuat yang lainnya pun ikut melihat kesana.
"Hah? Benar ternyata anak itu yang datang, mau apa lagi sih dia?" geram Nadira.
"Sabar dong ma! Mungkin kak Galen kesini mau ikut berbelasungkawa atas kepergian Nindi," ucap Ciara menenangkan mamanya.
Tiara pun melepaskan pelukannya dari Rifka ketika menyadari adanya sosok Galen di luar sana, tanpa banyak berpikir wanita itu langsung bergerak cepat menghampiri mantan suaminya disana. Tentu Ciara serta yang lain kompak terkejut, mereka bingung harus bagaimana dan khawatir jika Tiara akan kembali bertengkar dengan Galen disana.
__ADS_1
"Duh, gimana ini ma? Kalau sampai kak Tiara sama kak Galen ribut lagi, pasti kejadiannya bakal makin rumit. Ini kan di pemakaman Nindi, kasihan dong Nindi nanti!" ucap Ciara panik.
"Eee udah kamu tenang dulu, ayo kita susulin Tiara aja ya! Kamu bawa Daiva yang bener, jangan sampai kenapa-napa!" ucap Nadira.
"Iya ma." Ciara mengangguk paham.
Setelah berdiskusi sejenak, ketiganya kompak berlari mengejar Tiara ke luar dari pemakaman itu. Ciara sendiri cukup kesulitan melangkahkan kakinya, ya karena ia tengah menggendong Daiva dan harus memastikan Daiva dalam keadaan baik-baik saja. Ciara tentu tidak mau disalahkan, jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Daiva.
"Ih ribet amat sih!" keluh Ciara.
•
•
"Mas Galen!" Tiara langsung menyapa mantan suaminya itu dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan si pria.
Sontak Galen terkejut dengan kemunculan Tiara, ia mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu dan ekspresinya langsung berubah setelah melihat langsung keberadaan Tiara disana. Niat Galen datang kesana adalah untuk menghibur Tiara dan memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja, tetapi emosinya malah tak tertahankan dan ia justru menyalahkan Leon atas semua yang terjadi.
Kini Galen beralih mendekati mantan istrinya dengan bantuan Jessica, sesuatu hal yang menyebalkan tentunya bagi Tiara karena harus bertemu kembali dengan dua orang yang sudah menyakitinya dan membuat hidupnya menderita. Apalagi, saat ini emosinya sedang tidak stabil setelah ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang adik tercinta.
"Tiara, aku senang bisa ketemu kamu lagi. Tapi, aku juga sedih karena kita bertemu dalam keadaan seperti ini. Aku turut berdukacita ya atas meninggalnya Nindi!" ucap Galen lirih.
Tiara justru memandang tak suka ke arah mantan suaminya itu, ia seperti masih kesal dan tidak ingin bertemu dengan lelaki itu saat ini. Meski Galen memang hanya berniat untuk berbelasungkawa padanya atas kepergian Nindi, tapi tetap saja Tiara tak semudah itu melupakan apa yang sudah Galen lakukan kepadanya selama ini.
"Ngapain kamu datang kesini, mas? Kamu bilang kamu mau pergi selamanya dari kehidupan aku dan juga Askha, tapi ini apa?" geram Tiara.
"Tiara, kamu jangan emosi dulu ya! Aku itu kesini dalam rangka menghadiri acara pemakaman Nindi, gimanapun Nindi itu kan juga udah aku anggap seperti adik aku sendiri," ucap Galen lirih.
"Okay, kalo gitu sekarang kamu pergi dan gausah terlalu lama ada disini. Aku gak mau makam adik aku yang suci ini jadi ternoda dengan kehadiran kamu dan wanita murahan itu! Jadi, sebaiknya kamu bawa dia pergi dari sini!" ucap Tiara dengan sinis.
"Eee kamu gak perlu khawatir Tiara, aku dan Jessica akan pergi kok sebentar lagi. Tapi, tolong izinin aku buat lihat makam Nindi dulu!" pinta Galen.
"Mau apa kamu ke makam Nindi? Aku yakin, dia juga gak mau ketemu sama kamu!" ketus Tiara.
"Ayolah Tiara, aku cuma pengen doain Nindi kok supaya dia tenang disana! Kamu jangan sangkut pautkan masalah kita dengan Nindi dong, lagian aku gak ada niatan buruk kok!" bujuk Galen.
"Hah? Dia gak butuh doa dari orang jahat seperti kamu, mas. Lebih baik kalian pergi, sebelum aku minta orang buat usir kalian!" sentak Tiara.
Galen terdiam saat itu juga ketika mendengar ucapan dari Tiara yang begitu menyakitkan di dalam hatinya, Galen benar-benar merasa dihina oleh Tiara di depan banyak orang dan membuatnya hanya bisa memalingkan wajah. Semua yang dikatakan Tiara itu benar adanya, dan tidak mungkin Galen emosi apalagi menghardik mantan istrinya itu.
"Mas, mending kita pergi aja yuk! Kayaknya kehadiran kita disini gak dihargai deh, malahan kita dihina terus daritadi," bisik Jessica di telinga Galen.
Tanpa menjawab, Galen hanya mengangguk perlahan seolah menyetujui saran dari Jessica. Ya lalu mereka berdua pun pergi dari sana begitu saja tanpa berpamitan sama sekali, sepertinya Galen sangat kecewa dengan sikap yang ditunjukkan Tiara tadi dan merasa Tiara telah benar-benar melupakan dirinya yang dulu adalah suaminya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...