
Keesokan paginya, Ciara terbangun dan merasakan berat di tubuhnya saat ia hendak bergerak. Gadis itu akhirnya sadar bahwa ada lengan kekar yang memeluk pinggang rampingnya saat ini, dan ketika ia menoleh betapa kagetnya ia begitu melihat Libra ada di sebelahnya dan tengah tertidur pulas disertai dengkuran pelan. Sungguh Ciara tak mengerti, bagaimana bisa pamannya tiba-tiba ada disana.
Ciara mencoba bangkit, namun tangan Libra justru semakin kuat mendekapnya sehingga ia tidak bisa bergerak banyak. Akhirnya Ciara memutuskan menyadarkan pamannya itu agar terbangun, ia menepuk-nepuk wajah Libra menggunakan tangannya sambil bersuara meminta bangun. Namun, Libra seolah tak mendengar dan malah semakin keras mendengkur serta memeluk Ciara.
"Ihhh om ayo bangun, dah pagi ini! Cepetan bangun om, jangan tidur terus kayak kebo!" sentak Ciara yang mulai merasa jengkel.
"Mmhhh iya iya.." akhirnya ada suara balasan dari Libra, tapi nyatanya pria itu masih terpejam.
"Ish jangan iya iya aja, ayo bangun! Aku mau mandi om, nanti takut telat sekolah. Lepasin aku ah!" ucap Ciara berusaha melepaskan diri.
"Sebentar sayang, om masih mau peluk kamu! Lagian ini om udah bangun kok," ucap Libra yang tampaknya malah merasa nyaman saat memeluk tubuh ponakannya itu.
"Bangun darimana? Mata om aja masih merem begitu, serius ah om! Tuh udah jam lima tau, cepetan bangun!" kesal Ciara.
"Ini udah bangun sayang," ujar Libra.
"Haish, apanya yang bangun? Buka dulu matanya om, baru dibilang bangun!" ucap Ciara.
"Nih dia yang udah bangun," jawab Libra sembari menunjuk bagian bawahnya.
Seketika Ciara menganga lebar saat mengetahui apa yang dimaksud pamannya, sontak saja ia langsung mengeluarkan tenaga ekstra dan berhasil menendang tubuh Libra sampai terjatuh dari atas ranjang. Ciara tampak mengerucutkan bibirnya, menatap sang paman yang tengah meringis menahan sakit akibat tendangan gadis itu barusan.
Bruuukkk
"Aduh! Awhh kamu apa-apaan sih Ciara? Masa om kamu sendiri ditendang kayak gitu sih? Apa kamu gak punya perasaan, hm?" protes Libra.
"Bodoamat! Suruh siapa om pagi-pagi udah mesum begitu? Sana ah balik ke kamar om, aku mau mandi! Lagian kenapa om bisa tiba-tiba ada di kamar aku sih?" ujar Ciara.
Libra terkekeh dan bangkit serta kembali menghampiri Ciara yang masih terduduk di ranjangnya, ia menarik wajah gadis itu lalu mencuri kecupan di bibirnya yang tidak dapat dihindari oleh Ciara. Setelahnya, Libra pun mengusap sensual bibir sang gadis seolah menunjukkan ketertarikan yang amat sangat pada bibir merah muda itu.
__ADS_1
"Ini yang bikin om itu suka sama kamu, rasa bibir kamu selalu manis dan enak buat dicium. Mau yang lebih hot gak?" ucap Libra sensual.
Ciara menggeleng dan menyingkirkan paksa tangan pamannya dari bibirnya, ia lalu beranjak dari tempat tidur berusaha agar sang paman tidak lagi menggodanya seperti tadi. Jujur sebenarnya Ciara senang mendapatkan kecupan dari pamannya, tetapi jika dibiarkan terus maka lambat laun Ciara mungkin bisa lebih sulit untuk menghindar dari Libra yang notabene adalah pamannya.
"Udah cukup om, lagian aku tuh belum mandi tau. Sana deh om keluar dari kamar aku, abis ini aku mau mandi terus siap-siap berangkat sekolah!" ucap Ciara mengusir pamannya.
"Umm, yaudah iya om turun sama kamu. Makasih ya atas kecupan paginya tadi?" ujar Libra sembari mengusap lembut wajah ponakannya itu.
Ciara memalingkan wajah berusaha menghindar dari elusan sang paman, meski jujur ia menikmati itu. Setelahnya, Libra pun melangkah keluar dari kamar tersebut membiarkan Ciara membersihkan diri serta bersiap-siap pergi ke sekolah. Ciara pun menghela nafas lega, masih pagi saja ia sudah harus dihadapkan pada situasi seperti tadi. Sungguh Ciara tak tahu apakah ia bisa kuat menghadapi ini semua atau tidak.
"Huft, ayo Ciara jangan terpancing! Om Libra itu paman kamu, gak seharusnya kamu tergoda sama dia!" gumam gadis itu.
•
•
Disisi lain, Nindi baru selesai berdandan dan sudah siap untuk berangkat ke sekolahnya. Ia bersama dengan Rifka pun melangkah keluar dari rumah, ya Rifka memang selalu menemani Nindi serta membantu adik dari sahabatnya itu untuk mengurus urusan rumah atau hidupnya. Tentu semua itu Rifka lakukan atas permintaan Tiara, karena sejak menikah Tiara sudah tidak lagi tinggal disana.
"Eh pak Leon, sejak kapan bapak ada disini? Kok gak ketuk pintu sih kalau mau datang?" tegur Rifka.
Leon tersenyum sembari melangkah ke dekat dua wanita itu, "Iya mbak, saya memang niat kesini buat jemput Nindi. Saya sengaja gak mau ketuk pintu, karena khawatir ganggu," ucapnya menjelaskan.
"Oalah, tuh Nin kamu udah dijemput sama pak Leon! Kamu pasti senang kan? Lumayan loh bisa irit ongkos," bisik Rifka di telinga Nindi.
"Eee tapi aku lebih suka naik ojek sih kak, biarpun bayar tapi nyaman aja gitu. Daripada aku harus bareng sama pak Leon, rasanya gak enak kalau aku ngerepotin dia terus," ucap Nindi lirih.
"Ah Nindi, kamu kok bilang begitu sih? Emang pak Leon merasa direpotin? Enggak kan pak?" ujar Rifka.
"Jelas enggak, saya itu emang niat mau nganter kamu Nindi. Please, kamu mau ya berangkat ke sekolah dengan saya!" sahut Leon.
__ADS_1
Nindi terdiam, ia menatap wajah Rifka yang memberi kode padanya agar mau menerima tawaran Leon barusan. Namun, Nindi merasa masih kecewa pada pria itu atas kejadian kala itu. Sehingga Nindi tetap kekeuh menolak dan tidak ingin diantar oleh Leon, baginya dekat dengan Leon itu adalah suatu hal yang mustahil.
"Gak bisa pak, aku mau naik ojek aja. Kak Rifka udah pesenin ojek buat aku kan?" ucap Nindi seolah buru-buru ingin menghindari Leon.
"Ya belum Nin, soalnya kan ada pak Leon. Gak enak tau kalau kamu tolak dia," ucap Rifka.
"Udah gapapa kak, pesan aja sekarang ojek buat aku! Nanti aku bisa telat loh, emang mau kak Rifka disalahin sama kak Tiara?" ucap Nindi.
"I-i-iya deh, ini gue pesenin ojeknya buat lu ya?" ucap Rifka mengalah dan akhirnya mengambil ponsel miliknya untuk memesan ojek online.
Kini Nindi tampak menghela nafas singkat, kemudian ia berniat pergi dari sana karena merasa tidak nyaman saat berada di dekat Leon. Akan tetapi, Leon reflek mencekal lengan gadis itu seolah menahan dia agar tetap bersamanya. Leon pun meminta maaf pada Nindi sembari berlutut di hadapannya dengan memegang kedua tangannya.
"Nindi, saya mohon sama kamu tolong maafkan saya! Saya berjanji tidak akan pernah mengecewakan kamu lagi, dan saya juga akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu!" ucap Leon dengan tulus.
"Apaan sih pak? Gausah kayak gini deh, lepasin aku!" ujar Nindi berusaha berontak.
Leon menggeleng, "Enggak Nindi, saya gak akan lepasin kamu sebelum kamu mau maafkan saya. Sekarang saya mohon sama kamu, beri saya kesempatan sekali lagi!" ucapnya tegas.
"Udah lah Nindi, kamu gak kasihan apa tuh sama pak Leon? Mending kamu maafin aja dia, ya walau aku gak tahu apa kesalahan pak Leon!" ucap Rifka.
"Eee a-aku..."
Nindi terlihat sangat kebingungan kali ini, di satu sisi ia merasa kasihan pada Leon dan tidak ingin melihat pria itu bertindak sampai seperti ini. Tetapi, disisi lain pula Nindi masih amat kecewa lantaran Leon sudah seringkali mengingkari janjinya dan membuat ia sadar kalau dirinya memang tidak pantas untuk sosok lelaki seperti Leon.
"Bagaimana Nindi, apa kamu mau memaafkan saya" tanya Leon sekali lagi.
Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Nindi memutuskan untuk memaafkan pria itu dan tidak lagi mempermasalahkan kejadian waktu itu. Nindi pun menganggukkan kepalanya dan berkata kalau dirinya sudah memaafkan Leon, sontak Leon langsung merasa bahagia dan spontan memeluk gadis itu di hadapan Rifka.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...