Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 197. Hasrat menggebu


__ADS_3

Setelah mendengar cerita dari cucunya mengenai Ciara yang hendak menggugat cerai Libra, kini Nadira memutuskan untuk menemui Ciara dan bertanya secara langsung padanya. Kebetulan kali ini Ciara juga sudah tiba di rumahnya, sehingga Nadira dapat bertemu dengan putrinya itu. Ya Nadira ingin tahu apa alasan Ciara bercerai dengan Libra, sebab sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja dan hampir tak pernah ada keributan antara mereka.


Melihat mamanya datang, Ciara langsung tersenyum dan mempersilahkan Nadira untuk masuk ke dalam rumah bersamanya. Keduanya pun terduduk di sofa dengan minuman yang sudah disediakan, lalu Ciara tampak menatap wajah Nadira sambil memberi sinyal bahwa ia penasaran apa niat Nadira datang ke rumahnya. Nadira sontak tersenyum, menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah Ciara saat ini.


"Mama kesini cuma mau bicara sama kamu sayang, udah lama juga kan kita gak ngobrol bareng kayak gini. Suami kamu ada di rumah gak?" ucap Nadira sambil celingak-celinguk.


"Umm, gak ada tuh ma. Emangnya mama mau ngobrol soal apa sih?" ucap Ciara keheranan.


"Baguslah, jadi kita bisa bicara berdua. Soalnya mama mau tanya satu hal ke kamu, ini penting banget loh Ciara!" ucap Nadira.


Ciara mengernyitkan dahinya, "Hah? Soal apa tuh, ma?" tanyanya penasaran.


Perlahan Nadira mengambil nafas dan coba menenangkan diri sebelum mulai bertanya kepada putrinya itu, ia raih dua tangan Ciara dan digenggam dengan erat sembari mengusapnya lembut. Ciara makin penasaran kali ini, apalagi kelakuan Nadira seperti orang yang sedang membutuhkan sesuatu jawaban pasti darinya.


"Tadi Cyra datang ke rumah mama sewaktu dia pulang sekolah, dia cerita banyak ke mama soal kamu dan Libra. Mama kasihan banget lihatnya, dia sampai menangis dan merengek ke mama supaya mama bisa bantu dia," ucap Nadira.


"Eee jadi Cyra sekarang ada di rumah mama? Pantas aja dia belum pulang juga," ucap Ciara terkejut.


Nadira menganggukkan wajahnya, benar memang kalau saat ini Cyra masih berada di rumahnya karena Nadira yang meminta. Ciara pun merasa lega kali ini, setidaknya Cyra putrinya dalam kondisi aman ketika ada di rumah Nadira. Meski begitu, Ciara masih begitu penasaran dengan apa yang hendak dikatakan mamanya itu padanya.


"Iya Cyra ada di rumah mama, dan tadi dia datang sambil tunjukin wajah sedihnya. Mama juga gak nyangka Cyra bisa sampai seperti itu," ucap Nadira.


"Ma, sebenarnya Cyra cerita apa ke mama? Kok dia bisa sampai nangis begitu?" tanya Ciara.


"Cyra katanya gak sengaja dengar pembicaraan kamu dan Libra sewaktu kalian bertengkar, dia bilang ke mama kalau kamu mau gugat cerai Libra waktu itu," jelas Nadira.


Deg


Ciara tersentak dan sampai membulatkan mata ketika mendengar ucapan mamanya, kini kabar mengenai perceraiannya dengan Libra sudah sampai ke telinga Nadira. Setelah sebelumnya Tiara lah yang menemui Ciara dan membahas soal itu, kini giliran Nadira yang bertanya hal sama kepadanya dan membuat Ciara semakin bingung.


"Apa itu semua benar Ciara? Kamu mau gugat cerai suami kamu?" tanya Nadira penasaran.


Ciara mengangguk perlahan, "Benar ma, aku emang sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Aku mau pisah dari mas Libra, semuanya sudah aku putuskan dengan bulat ma!" jawabnya tegas.


"Jadi itu semua benar sayang? Tapi, apa alasannya? Kenapa kamu sampai ngelakuin ini?" Nadira semakin dibuat penasaran kali ini.


"Hiks hiks...."


Bukannya menjawab, Ciara justru menangis terisak dan mengeluarkan air mata dalam jumlah yang cukup banyak. Sontak Nadira terkejut, lalu memeluk erat tubuh putrinya dan mengusapnya dengan lembut sebagai upaya untuk menenangkan Ciara agar tidak terus bersedih seperti itu.


__ADS_1



Sementara itu, Cyra yang ditinggal sendirian di rumah neneknya kini masih terduduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia berusaha untuk tenang kali ini, karena sebelumnya Nadira sudah berjanji akan membantunya. Ia pun duduk bersandar dan bersantai disana, meski sebenarnya di dalam hatinya ia masih merasa cemas dan juga khawatir.


Ting nong ting nong...


Tak lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi dari arah luar yang membuat Cyra terkejut. Rasanya ia malas sekali untuk keluar mengecek siapa yang datang, itu sebabnya Cyra berteriak memanggil pelayan yang bekerja disana. Ya akan tetapi, pelayan itu sepertinya tidak mendengar suara teriakan dari Cyra yang padahal sudah sangat keras.


"Bik, bibik! Bik itu ada yang datang bik, dibukain dong!" teriak Cyra dengan lantang.


Cyra pun sangat kesal karena pelayan disana tak kunjung mendengar suaranya, apalagi bunyi bel di luar sana terus terdengar dan mengganggu kenyamanan dirinya. Berulang kali Cyra terus memanggil pelayan itu, tapi tetap saja tak ada jawaban dari si pelayan sampai Cyra harus bangkit dari sofa kali ini dengan wajah kesal.


"Ish, si bibik kemana sih? Gak dengar apa ya kalo aku panggil-panggil dia? Huft, mana berisik banget lagi tuh orang di luar. Siapa sih ya yang datang?" gumam Cyra merasa bingung.


Akhirnya mau tidak mau, Cyra terpaksa pergi ke luar untuk mengecek siapa orang yang datang karena tidak tahan lagi dengan suara bel tersebut. Namun belum sempat ia membuka pintu, seseorang di luar sana sudah lebih dulu masuk dan membuatnya terkejut. Cyra terbelalak lebar, jantungnya nyaris berhenti berdetak karena kemunculan pria itu.


"Eh eh, kamu siapa? Main masuk rumah orang sembarangan, gak sopan banget sih! Tunggu dong sampe aku bukain pintu," sentak Cyra.


"Ck, kelamaan sih. Lagian emang masalahnya dimana kalau saya langsung masuk ke rumah ini, kamu gak suka?" tanya si pria sembari mendekatkan wajahnya kepada Cyra.


"Dih, songong banget sih kamu! Kamu mau apa ke rumah nenek aku?" kesal Cyra.


Pria itu tampak mengernyitkan dahinya, ia bingung saat mendengar Cyra menyebut bahwa rumah ini adalah rumah neneknya. Sedetik kemudian ia terkekeh, kali ini giliran Cyra lah yang merasa heran melihat pria itu bersikap aneh. Padahal, Cyra tidak sedang memberikan lelucon atau mengajak pria itu untuk bercanda sekarang ini.


"Oh ya? Masa sih mama saya punya cucu aneh kayak kamu?" ucap si pria tampak tak percaya.


Deg


Betapa syoknya Cyra mendengar apa yang dikatakan pria itu saat ini, ia tak mengerti mengapa pria di hadapannya itu berkata jika rumah itu adalah milik mamanya. Selama ini Cyra mengetahui kalau neneknya memang memiliki satu orang anak dari suami barunya, yakni Davin. Namun, Cyra tak menyangka kalau orang itu adalah anak dari Nadira.


"Maksudnya? Ka-kamu...." Cyra menunjuk wajah pria itu sambil memandangi tubuhnya dari atas sampai bawah.


"Apa, hm? Kamu mau bilang apa tentang saya?" tanya si pria menyela dan bergerak semakin mendekat ke arah gadis itu.


"Eee kamu anaknya oma Nadira, ya?" Cyra berusaha menguatkan diri, walau saat ini ia sangat gugup ketika pria itu terus saja mendekatinya.


"Kalau iya, kenapa?" ucap si pria.


Cyra menelan salivanya dengan susah payah, wajahnya saat ini hanya berselisih beberapa senti dari wajah si pria. Ia terus memalingkan wajah ke arah lain untuk menghindar dari tatapan si pria, rasanya ia benar-benar gugup dan detak jantungnya juga bergerak semakin kencang.


"Eh, den Faiz. Udah pulang ya den?" tiba-tiba saja, bik Vita selaku pelayan di rumah itu muncul dan langsung menyapa si pria.

__ADS_1




Libra kini pergi bersama sahabat lamanya yang tadi ia temui di cafe, mereka tiba di salah satu hotel mewah yang ada di kota untuk menginap dan saling berbagi cerita. Apalagi, Libra belum bisa tenang saat ini karena hatinya masih terasa gundah. Bercerita di cafe saja tidak cukup baginya, itu sebabnya Libra mengajak sahabatnya pergi ke hotel kali ini.


Aline sendiri tidak menolak saat Libra membawanya ke sebuah hotel, bahkan Aline terus saja memeluk serta mengusap perlahan bagian tubuh pria itu. Niat Aline sebenarnya hanya ingin menghibur Libra kali ini, meski ia sudah curiga kalau ada sesuatu yang ingin dilakukan Libra padanya disana. Apalagi, sepasang pria dan wanita pergi ke hotel berdua tanpa ikatan adalah suatu hal yang tidak benar.


Mereka pun sama-sama menuju kamar yang sudah dipesan oleh Libra, pria itu tersenyum ke arah Aline dan merapatkan tubuh mereka. Lalu tanpa menunggu lama, Libra segera membuka pintu dan mengajak Aline masuk kesana. Saat itu juga Libra menutup dan mengunci pintu, tanpa melepaskan tubuh Aline dari cengkraman tangannya.


"Aline, kamu wangi banget sih. Dari dulu wangi tubuh kamu gak pernah berubah," ucap Libra sembari mengendus leher jenjang wanita itu.


Aline hanya bisa memejamkan mata ketika gerakan Libra semakin intens di tubuhnya, Libra terus mengendus dan bahkan mengecupi bagian lehernya tanpa ada yang terlewat. Libra juga meninggalkan jejak merah disana yang cukup banyak, membuat Aline merasakan sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan itu.


"Eengghh..." tanpa sadar Aline melenguh, suara laknat itu akhirnya keluar juga dari mulutnya.


Libra menyeringai di sela-sela aktivitasnya, ia terus menelusuri leher mulus sahabat lamanya itu dengan lidah serta mulutnya. Kedua tangannya juga menahan tubuh Aline saat ini agar tidak ambruk, perlahan Libra membawa Aline mendekati ranjang yang ada disana. Kini ciumannya beralih ke wajah wanita itu, yang kemudian diakhiri dengan cumbuan panas penuh kenikmatan.


Cukup lama bibir mereka saling bertaut, dan Libra juga telah berhasil menindih tubuh Aline di atas ranjang. Hawa panas mulai terasa, keringat bahkan sudah membasahi dahi keduanya akibat permainan liar itu. Meski semua baru awal, namun kelihaian Libra sudah membuat tubuh Aline menggelinjang tak karuan akibat kenikmatan yang diberikan.


"Aku udah gak tahan lagi, boleh kan?" Libra melepas tautan bibirnya, menatap wajah Aline dan meminta izin darinya untuk melakukan lebih.


Aline terdiam selama beberapa saat, ia menggelengkan wajahnya seolah ragu untuk melakukan itu bersama suami dari orang lain. Apalagi, Aline sadar kalau dirinya juga merupakan seorang wanita. Tentu adalah sebuah tindakan yang salah baginya, apabila ia menjadi selingkuhan dari Libra yang merupakan suami wanita lain.


"Tahan Libra, jangan terburu-buru! Malam masih panjang, kita nikmati dulu malam indah ini. Kamu mau cerita kan? Ayo aku dengerin curhatan kamu, dalam posisi begini juga gak masalah kok!" ucap Aline sambil tersenyum.


"Kenapa, Lin? Kamu gak mau melakukan itu sama aku?" tanya Libra tampak kecewa.


"Bukan begitu, aku cuma takut dianggap sebagai perusak rumah tangga orang. Kamu itu kan udah punya istri Libra," jawab Aline.


"Kamu gak perlu takut, aku sama istri aku akan segera bercerai. Jadi, kita bisa menghabiskan malam ini dengan bercinta!" ucap Libra.


Deg


Aline tersentak, ada perasaan senang di dalam hatinya ketika mendengar kata-kata itu. Sedangkan Libra juga makin membara, gairah di tubuhnya terus bergejolak seolah tidak tahan ingin memasuki tubuh Aline yang sangat menarik. Kembali Libra mengecup bibir mungil wanita itu, tak hanya sekali melainkan berkali-kali dan membuat Aline mulai tergoda.


"Kali ini kamu mau kan, hm?" Libra mengulang pertanyaannya tadi untuk memastikan.


"Umm.... ya, aku mau." dengan ragu, Aline mengangguk mengiyakan ajakan pria tersebut.


Tanpa basa-basi lagi, Libra langsung menyerang tubuh Aline dengan berbagai cumbuan dan kecupan yang penuh kenikmatan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2