Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 36. Tidak cukup


__ADS_3

Galen seorang diri tampak tengah menunggu kedatangan anak buahnya yang ia tugaskan untuk menarik uang dari bank miliknya, cukup lama ia menunggu disana dan belum ada kabar dari anak buahnya itu. Galen pun sangat gusar, ia tidak bisa diam begitu saja mengingat saat ini adiknya yang sangat ia sayangi sedang diculik dan disekap oleh pamannya sendiri di sebuah tempat aneh.


Akhirnya setelah berjam-jam menunggu disana sambil terus bolak-balik melihat ponsel, salah seorang anak buahnya pun datang kesana dengan mobil yang dia kenakan. Tampak seseorang itu turun dari mobil dengan menenteng dua buah koper besar berisi uang sejumlah lima milyar yang baru saja dia tarik dari bank, meski sudah malam tetapi karena ada hal mendesak Galen tetap memaksa pihak bank untuk bisa memberikan uang padanya tadi.


"Bos, saya sudah berhasil membawa uangnya. Tapi, ini semua hanya berjumlah satu milyar, bos. Saya sudah usahakan meminta lebih pada pihak bank, tetapi mereka tidak bisa," ucap Rony.


"Aaarrrgghhh gimana sih kamu?! Masa handle yang kayak gitu aja gak bisa? Terus kalau nanti penculik itu gak mau terima uangnya gimana? Nasib adik saya dipertaruhkan disini, Rony! Kamu mikir gak sih, ha?!" geram Galen.


"Ma-maaf bos, tapi memang dari pihak banknya sendiri tidak bisa memberikan uang sebanyak itu, bos. Saya gak tahu harus gimana?" ucap Rony.


"Ah yasudah, biar coba saya hubungi penculiknya dulu dan bilang kalau uangnya kurang. Semoga saja dia mau mengerti dan melepaskan adik saya!" ucap Galen seraya mengambil ponselnya.


"Eh tunggu bos! Lebih baik bos jangan kasih tahu ke penculiknya kalau jumlah uang ini kurang, lagipun dia pasti gak mungkin menghitung semuanya kan?" ucap Rony memberi usul.


"Oh iya, benar juga kamu. Tumben otak kamu encer, Ron!" puji Galen.


"Hehe.." Rony tersenyum lebar sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sudahlah, kamu jangan ketawa kayak gitu! Sini kopernya biar saya yang bawa!" pinta Galen.


"Baik bos!" Rony menyerahkan dua koper itu kepada Galen dan berdiri di sebelahnya.


"Eee bos, apa bos yakin mau datang kesana sendiri? Gak mau saya dan yang lainnya temenin gitu bos? Nanti kalau bos diapa-apain sama mereka gimana?" tanya Rony khawatir.


"Kamu gausah mikirin soal itu, tenang saja karena saya tidak akan kenapa-napa! Saya pasti kembali bersama Ciara, sekarang kamu boleh pergi dan jaga istri saya di rumah!" ujar Galen.

__ADS_1


"I-i-iya bos," Rony mengangguk saja mengikuti perintah bosnya, ia pun berbalik dan kembali menuju mobilnya.


Rony pun pergi dari tempat itu meninggalkan bosnya seorang diri, kini tampak Galen terdiam menatap dua koper berisi uang tersebut dengan pandangan ragu. Entah mengapa Galen tak yakin jika omongan Davin dapat dipercaya, ia khawatir kalau nantinya pamannya itu malah mengerjainya.


"Ah sudahlah, saya gak perlu mikirin itu. Yang terpenting sekarang saya harus segera sampai disana dan selamatkan Ciara!" gumam Galen.


Tanpa berpikir panjang lagi, Galen segera membawa dua koper itu ke dalam mobilnya. Lalu, pria itu bergegas melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa lebih cepat sampai di lokasi yang sudah ditentukan oleh Davin. Meskipun hingga kini Galen masih belum yakin pamannya itu mau melepaskan Ciara, sebab ia tahu kalau Davin adalah orang yang licik.




Disisi lain, Libra yang panik setelah mendengar kabar dari Tiara mengenai kondisi Ciara pun bergegas pulang ke rumah untuk memastikan semua kabar tersebut apakah benar atau tidak. Selain itu, Libra juga hendak mengatakan pada Nadira maupun Gavin kalau saat ini Galen sedang berjuang menyelamatkan Ciara seorang diri.


Bukan Libra tidak berani membantu Galen, tetapi pria itu hanya tak ingin membuat kakaknya khawatir jika ia tidak memberi kabar terlebih dahulu. Akhirnya pria itu langsung turun dari mobil begitu sampai di rumah, ia bergerak cepat memasuki rumah sang kakak dan terlihat sangat panik. Bahkan Libra sampai lupa mengucap salam karena sangking cemasnya pada kondisi sang keponakan.


Sontak Nadira yang tengah menonton tv bersama suaminya pun terkejut mendengar suara tiba-tiba dari mulut Libra, keduanya kompak menoleh lalu kaget saat melihat Libra sudah ada di dekat mereka saat ini. Nadira pun bangkit dari duduknya, lalu mendekati Libra dan terlihat kebingungan.


"Hah? Kamu kenapa sih Libra? Apanya yang gawat? Kamu gak kenapa-napa kan tadi?" tanya Nadira.


Libra mendadak ragu untuk mengatakan apa yang ia ingin sampaikan tadi, ya pria itu seolah tak sanggup melihat reaksi kakaknya jika tahu kalau saat ini Ciara sedang diculik. Pastinya Nadira akan sangat panik dan bersedih, maka dari itu Libra berpikir sejenak karena ia tidak mau membuat kakaknya itu bersedih.


"Kamu itu kenapa sih, Libra? Kalau kamu lagi ada masalah, duduk dulu yuk cerita sama mbak! Biar mbak nanti bantu dengerin," ucap Nadira.


"Iya Libra, kayaknya kamu kecapekan deh itu. Mending duduk dulu, terus minta dibuatin minum sama bibik di dapur!" sahut Gavin.

__ADS_1


"Nah iya tuh, mau kan?" ucap Nadira lagi.


"Eee a-aku..." Libra benar-benar gugup, ia tak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini.


"Om?" namun, sesuatu yang tidak ia duga terjadi. Tiba-tiba saja suara Ciara seolah muncul di gendang telinganya, ia sempat ragu karena tak mungkin Ciara bisa ada di rumah itu.


"Om Libra!" lagi-lagi suara itu terdengar, Libra pun menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ia saat menyaksikan Ciara tengah berjalan mendekatinya dengan tampilan yang begitu cantik.


"Ci-Ciara??" lirih Libra dengan tatapan syok.


"Eh Ciara, udah selesai mandinya sayang? Kalo gitu sini yuk kita makan malam sama-sama!" ucap Nadira menyela.


Ciara pun tersenyum dan menghampiri mamanya, sedangkan Libra masih terkejut tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bagaimana bisa Ciara ada di rumah itu, padahal tadi ia baru saja mendapat info dari Tiara kalau gadis itu sedang diculik. Libra pun terus memandangi tubuh Ciara dari atas sampai bawah untuk memastikan itu benar Ciara.


"Ih om, ngapain sih ngeliatin aku terus? Awas naksir loh! Kata orang, jatuh cinta itu tumbuh dari mata ke hati. Barusan om lihatin aku kayak gitu pake mata kan?" protes Ciara.


"Hah? Apaan sih kamu? Saya cuma heran aja, kamu kok bisa ada disini sih?" ujar Libra gugup.


"Loh emangnya kenapa om? Aku gak boleh ya ada di rumah mama aku sendiri?" tanya Ciara heran.


"Bu-bukan begitu, tapi tadi katanya kamu diculik. Terus kenapa kamu bisa ada disini?" ucap Libra.


"Hah??" Nadira sontak terkejut mendengar perkataan Libra barusan, mulutnya menganga lebar seraya memandang wajah putrinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2