
Nadira ikut terkekeh mendengarnya, lalu mereka berdua pun sama-sama melangkah memasuki rumah itu setelah Nadira mengajak keponakan dari mantan suaminya dulu itu masuk bersamanya. Ya Arka merupakan keponakan Albert, suami Nadira yang sudah meninggal. Dahulu Nadira pernah satu kali dibawa oleh Albert ke rumah sepupunya, dan tentu sepupu yang dimaksud ialah ayah Arka.
Kini mereka tiba di ruang tamu, tak lupa Nadira turut mengenalkan Arka kepada Gavin yang kebetulan ada disana tengah menikmati kopinya. Setelah saling berkenalan, mereka semua berbincang ria disana sambil menikmati suguhan yang disediakan bik Vita sebelumnya. Arka sangat senang berada disana, meski ia tampak celingak-celinguk seolah mencari keberadaan seseorang di sekitar sana.
"Kamu cari siapa Arka? Matanya itu loh gak bisa diam ngeliat kesana-kemari," tanya Nadira menegurnya.
"Eh eee hehe aku lagi cari Ciara, tante. Udah lama aku gak lihat dia, dulu itu dia dibawa sama tante ke rumah kan waktu dia masih TK ya tante? Pasti dia sekarang udah berubah banget," ucap Arka.
"Oh jelas, Ciara sekarang udah dewasa. Paling sebentar lagi juga dia pulang, kamu tunggu aja dulu ya!" ucap Nadira.
"Ya tante," singkat Arka.
Baru saja diomongi, orang yang mereka tunggu pun sudah datang dan masuk ke dalam rumah itu. Ya tentu saja dialah Ciara, gadis itu melangkah masuk begitu saja tanpa mengetahui bahwa di dalam sana sedang ada tamu yang tak lain ialah Arka. Sontak ketiganya terkejut, begitu pula dengan Ciara yang reflek menghentikan langkahnya begitu melihat ada seseorang tengah duduk bersama orangtuanya.
"Nah, itu dia Ciara udah pulang. Yuk sini sayang!" ucap Nadira menunjuk ke arah putrinya.
"Apa? Jadi, cewek itu Ciara tante?" Arka benar-benar terkejut, karena ternyata perempuan yang tadi ia tolong di jalan adalah Ciara alias sepupunya.
Ciara pun menghampiri mereka, ia menatap heran ke arah Arka dan seolah tak percaya. Arka juga langsung berdiri menatapnya, mereka saling tersenyum memandang satu sama lain dan masih belum bisa percaya dengan apa yang terjadi. Sedangkan Nadira serta Gavin hanya terdiam menyaksikan kedua anak muda itu.
"Kamu kok bisa ada disini? Ngapain coba kamu di rumah mama aku? Emangnya kamu siapa?" tanya Ciara dengan tegas kepada Arka.
"Loh loh loh, ini kalian jadi udah saling kenal?" sela Nadira yang merasa bingung.
"Iya tante, jadi tadi sebelum kesini aku sempat ketemu sama dia di jalan sewaktu lagi ditodong orang. Terus aku datang dan tolong dia, tapi aku gak nyangka kalau dia ini Ciara anak tante," jelas Arka.
"Oalah, begitu toh? Pantas aja kalian kelihatan saling kenal gitu tadi," kekeh Nadira.
"Ma, emang cowok ini siapa sih? Kok mama biarin orang asing masuk ke rumah kita? Apa mama gak takut kalau dia punya niat jahat?" ujar Ciara.
"Heh dijaga tuh mulut, kalo ngomong sembarangan aja! Gue ini keponakannya tante Nadira, bukan orang jahat! Lagian gue kan tadi udah baik nolongin lu sama pacar lu itu, masih aja lu curiga sama gue!" ucap Arka terlihat kesal.
"Ih jadi kamu ponakan mama? Ah masa sih? Kok aku baru tahu mama punya keponakan?" heran Ciara.
"Sebenarnya dulu kalian sudah pernah bertemu sayang, bahkan kalian cukup dekat kok. Tapi, mungkin kamu lupa soal itu. Ya karena waktu itu usia kamu masih sekitar lima tahun," ucap Nadira.
Ciara terbelalak, wajar saja ia tak mengingat apa-apa dari Arkana saat ini karena terakhir mereka bertemu adalah belasan tahun yang lalu. Namun, biar bagaimanapun Ciara tetap menerima kenyataan jika Arka adalah sepupunya. Lagipula, Arka juga ialah pria yang baik karena dia sudah menolongnya dari cegatan anak buah Davin yang ingin membunuh Libra ketika mereka berada di jalan tadi.
•
•
__ADS_1
"Mmpphh akh oomm.."
Jeritan serta rintihan gadis itu terus menggema di sudut kamar, Ciara tidak dapat lagi menahan rasa nikmat dari permainan jari serta lidah yang dilakukan Libra di bawah sana. Bahkan, Libra berhasil membuat Ciara pelepasan berkali-kali meski tanpa melakukan pemasukan. Tubuh Ciara pun terlihat sangat lemas dan berkeringat, ia terbaring di atas ranjang dengan kondisi di luar hujan deras.
"Sayang, kok kamu udah lemas aja sih? Gimana nanti kalau punya aku masuk ke anu kamu, hm?" goda Libra.
"Mmhhh om, aku udah gak kuat. Mungkin aku nyerah deh, aku capek!" ucap Ciara terengah-engah.
"Ahaha, it's okay sayang. Aku juga gak akan paksa kamu buat main lagi," kekeh Libra.
Libra pun tersenyum dan berbaring di sebelah tubuh gadis itu, ia usap wajah sang kekasih dengan lembut sembari mengecupnya berulang kali dan menyeka keringat yang ada disana. Ciara kini membenamkan wajahnya di dada bidang sang paman, jujur dia pun juga menikmati setiap sentuhan yang diberikan Libra padanya, seperti tadi contohnya.
Ya saat ini mereka berada di apartemen Libra, sebelumnya pria itu sengaja mengajak Ciara kesana karena dia sudah tidak tahan lagi ingin melakukan sesuatu yang nikmat kepada Ciara. Sebagai seorang kekasih sekaligus ponakan yang baik, tentu Ciara tidak menolak karena memang dia akui kalau dia pun juga menikmati semua itu.
"Om, kita begini terus tuh dosa gak sih? Aku takut kena karma deh, apalagi kalau sampai mama atau papa tahu. Secara kita kan belum nikah om, apa harus kita terus begini?" tanya Ciara tiba-tiba.
Libra mengernyit penuh heran, "Kamu kenapa jadi tanya soal itu sih? Udah tenang aja, kamu gak perlu mikirin itu ya sayang!" jawabnya santai.
"Tapi om—"
"Sssttt, udah cukup! Jangan panggil aku om lagi! Apa kita orang di luar sana kalau dengar nanti? Dikiranya aku pedofil lagi," sela Libra.
"Hehe, kan om itu emang om aku. Terus om mau dipanggil apa coba?" ucap Ciara.
"Yeu itu mah maunya om, aku gak mau ah!" ucap Ciara menolak dan memalingkan wajahnya.
Namun, dengan cepat Libra kembali menarik wajah Ciara dan menahannya agar tidak bisa bergerak kemana-mana. Ciara sontak merengut, tapi kemudian Libra mengecup bibirnya sekilas dan menatap tajam ke arahnya. Akhirnya gadis itu mendengus kesal, menelan saliva nya dan terpaksa mau mengikuti permintaan sang paman.
"Okay, aku bakal turutin kemauan om deh. Lepas dulu tapi wajah aku, sakit tau!" ucap Ciara.
"Yaudah, sekarang kamu coba dong panggil sayang ke aku! Kalau kamu berhasil, nanti aku kasih hadiah lagi buat kamu," ucap Libra.
"Bener ya om?" tanya Ciara memastikan.
Libra mengangguk pasti, "Iya sayang, udah buruan panggil aku sayang!" ucapnya memaksa.
"Huft, yaudah deh iya. Kamu tuh banyak maunya ya sayang," ucap Ciara dengan lembut sembari mencubit hidung kekasihnya.
Sontak Libra mengasuh kesakitan, namun ia tetap merasa bangga lantaran Ciara mau menyebutnya dengan kata sayang. Rasanya ia ingin terus mengulang perkataan tersebut, dan meminta Ciara memanggilnya kembali. Karena gemas, akhirnya Libra menarik tubuh Ciara dan memeluknya erat sambil terus menciumi seluruh wajah kekasihnya itu.
•
__ADS_1
•
Keesokan malamnya, Libra membawa gadisnya ke sebuah restoran mewah yang sudah ia booking spesial untuk acara makan malam mereka kali ini. Libra pun menatap serius ke arah Ciara yang duduk di sampingnya, Ciara memang tampak lebih cantik dari biasanya karena kini gadis itu mengenakan gaun berwarna biru dengan pundak terbuka sesuai permintaan dari Libra sebelumnya.
Begitu mereka sampai, Libra langsung mengajak Ciara turun dari mobil seraya meraih tangannya. Ciara tersenyum dibuatnya, lalu mengangguk setuju dan sama-sama turun ke luar. Libra terus menggandeng tangan Ciara, seolah tak ingin melepasnya karena khawatir ada pria lain yang mengambil. Ciara juga tak menolak, justru gadis itu merasa bangga memiliki kekasih seperti Libra.
"Sayang, gimana? Kamu suka gak sama restoran ini? Kalau enggak, aku masih bisa bawa kamu ke resto yang lainnya," tanya Libra.
"Jangan om! Sayang-sayang dong duit om nanti, udah kita disini aja ya?" ucap Ciara.
"Tuh kan kamu kebiasaan, masih aja panggil aku om. Aku perasaan udah bilang deh sama kamu, jangan pernah panggil aku om lagi atau aku bakal hukum kamu!" ucap Libra dengan tegas.
"Eh iya salah, maksud aku sayang. Kita makan disini aja ya sayang?" ucap Ciara tersenyum lebar.
"Nah gitu dong, awas loh ya kalau kamu masih panggil aku om! Aku beneran bakal hukum kamu dengan berat loh," ucap Libra mengancam.
"Iya ish, kamu tuh galak banget sih jadi pacar! Aku kan tadi cuma lupa aja sayang," ucap Ciara merengut.
"Hahaha..." Libra tertawa gemas melihatnya, lalu mencubit pipi gadisnya itu dengan lembut.
Disaat mereka berdua hendak melangkah menuju restoran, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kemunculan Leon serta Nindi disana. Tentu saja Libra mengurungkan niatnya, begitu juga Ciara yang auto fokus menatap ke arah Leon dan Nindi yang sepertinya juga ingin dinner berdua seperti mereka. Jujur saja Ciara terkejut, karena kali ini Leok dan Nindi benar-benar terlihat romantis.
"Wah Nindi, kamu udah jadian ya sama pak Leon?" tanya Ciara menegur iparnya itu.
"Eh Ciara, kok kamu bisa ada disini juga? Aku gak nyangka loh kalau kita bisa ketemu di restoran ini, kalian pasti lagi ngedate ya?" ucap Nindi terkejut.
"Ah iya nih Nindi, aku sama Ciara emang niatnya mau ngedate disini puas-puasin waktu berdua. Kalian sendiri juga begitu kan?" ucap Libra menyela dengan tangan merangkul pundak gadisnya.
"Enggak kok, aku mah cuma pengen makan malam biasa aja sama kak Leon. Lagian kita kan bukan pacaran seperti om Libra sama Ciara," elak Nindi.
"Udah lah Nindi, kamu akui aja sih kalau kamu pacaran sama pak Leon! Aku tahu kok, kalian pasti udah jadian. Gak mungkin aja kalian bisa dekat tanpa ada hubungan pasti," ucap Ciara meledek.
"Beneran gak ada Ciara, kamu tanya aja nih sama kak Leon kalo gak percaya!" ucap Nindi tegas.
Ciara sontak menatap ke arah Leon, dan saat itu juga Leon keheranan karena tak tahu harus menjawab apa kepada Ciara. Akhirnya Leon tak ada pilihan lain, ia terpaksa mengikuti permintaan Nindi dan mengatakan pada Ciara kalau diantara mereka saat ini tidak ada hubungan apa-apa.
"Iya betul non Ciara, saya sama Nindi gak ada hubungan apa-apa kok. Kami cuma sebatas teman yang saling menaruh perhatian," ucap Leon.
Deg
Nindi tersentak, apa yang diucapkan Leon barusan berhasil membuat matanya terbelalak lebar.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...