
Ciara tampak sangat panik saat berada dalam perjalanan menuju tempat Davin, jujur saja Ciara begitu mencemaskan kondisi kakaknya yang saat ini sedang berada disana. Tentu Ciara tak ingin jika nantinya terjadi sesuatu yang buruk pada sang kakak, apalagi ia tahu kalau di tempat itu ada banyak sekali anak buah pamannya yang berjaga-jaga.
Libra yang duduk di sampingnya sambil menyetir pun berusaha menenangkan serta menguatkan Ciara, ia tak ingin gadis itu terlalu cemas karena kondisi Galen yang belum diketahui hingga kini. Ya sedari tadi memang Ciara berusaha menghubungi nomor kakaknya, tetapi tidak berhasil karena ponsel Galen sepertinya tidak diaktifkan untuk menghindari gangguan dari luar sana.
"Hey, kamu tenang ya Ciara! Aku yakin kok kalau Galen pasti gak akan kenapa-napa, percaya deh sama aku!" ucap Libra lirih.
Gadis itu menoleh dengan tatapan lemasnya, "Gak tahu deh om, rasanya aku cemas banget sama kak Galen. Aku takut kak Galen diapa-apain sama om Davin, karena aku tahu om Davin itu orangnya jahat dan licik banget!" ucapnya.
"Iya aku tahu perasaan kamu kayak gimana, tapi untuk saat ini kamu harus tenang supaya kamu bisa bantu kakak kamu! Sekarang ini kita kemana lagi? Kanan atau kiri?" ucap Libra.
"Kiri om," jawab Ciara singkat.
Libra tersenyum dan mengarahkan mobilnya sesuai petunjuk Ciara, ia sesekali juga terus memandangi wajah Ciara sembari mengelus tangannya. Entah mengapa belakangan ini Libra merasa jika dirinya sudah mulai menaruh perhatian pada sosok gadis itu, sebagai seorang paman tentunya Libra tidak ingin keponakannya itu terus berlarut dalam kesedihan karena memikirkan kakaknya.
"Udah ya kamu jangan sedih lagi! Kamu itu jelek loh kalau sedih begitu, gak sedih aja jelek apalagi sedih kayak gini. Yang ada kamu makin tambah jelek deh," ledek Libra.
"Ish, om gak lucu tau! Aku lagi gak mau diajak bercanda!" kesal Ciara.
"Ayolah Ciara, aku gak suka loh lihat kamu cemberut terus begitu! Senyum lah minimal, biar aku bisa tenang nyetirnya nih!" pinta Libra.
"Om gausah banyak mau deh, nyetir aja yang bener dan tambah kecepatannya! Kita harus cepat-cepat sampai di tempat itu, aku gak mau kak Galen kenapa-napa disana!" ucap Ciara.
"Iya iya, bawel banget sih kamu! Ini kan juga udah cepat, kalau ditambah lagi nanti malah kita berdua bisa masuk rumah sakit," ucap Libra.
"Haish, yaudah buruan ah!" kesal Ciara.
"Hadeh, susah ya bicara sama cewek kayak kamu? Untung aja aku punya banyak stok sabar ini," ucap Libra.
Ciara melirik sekilas dengan wajah kesalnya, namun ia memilih diam karena tak ingin berdebat dengan pamannya itu untuk saat ini. Ya Ciara lebih mengkhawatirkan kondisi sang kakak yang belum tahu bagaimana, maka dari itu ia terus berharap pada kebaikan kakaknya agar tidak terjadi apapun.
•
__ADS_1
•
Bugghhh
Galen berhasil meninju wajah pamannya yang dianggap telah menipunya itu, ia benar-benar sangat kesal dan tidak bisa lagi menahan emosinya. Sontak Davin tersungkur di bawah dan memandang wajah Galen dengan rahang yang berdarah, sedangkan Galen kembali mendekatinya seolah bersiap melayangkan pukulan selanjutnya.
"Om, kasih tau aku sekarang dimana Ciara!" sentak Galen sembari menarik kaus pamannya.
Dor!
Tiba-tiba saja, suara tembakan terdengar di telinganya yang membuat Galen reflek menoleh untuk mencari asal suara. Betapa terkejutnya ia ketika melihat cukup banyak pasukan bersenjata di belakangnya yang susah mengepung dirinya, dan saat itu juga Davin pun tersenyum menyeringai.
"Bagaimana Galen? Masih mau kamu main-main dengan saya? Kamu lihat kan ada berapa pasukan yang saya punya? Mereka bisa habisi kamu kapanpun mereka mau," ujar Davin.
"Kurang ajar! Dasar pengecut!" geram Galen yang hendak memukul wajah pamannya kembali.
"Berhenti! Sekali saja kamu berani memukul dia, maka nyawa kamu akan melayang di tangan kami!" teriak Surya dari belakang.
Tampak Surya dan anak buahnya melangkah lebih dekat ke arah Galen sembari terus menodongkan senjata mereka, tentunya Galen mengurungkan niatnya untuk memukul Davin karena ia masih ingin selamat demi bisa menolong adiknya. Sedangkan Davin terlihat menyeringai setelah mengetahui ketakutan di wajah Galen.
"Hey, kamu dengar kan yang dibilang dia? Lepasin saya jika kamu ingin selamat! Jangan main-main dengan kami, Galen!" ujar Davin.
Bruuukkk
Galen langsung saja mendorong tubuh Davin hingga kembali tersungkur, ia tak sedikitpun merasa takut meski ia sudah dikepung oleh sekumpulan anak buah pamannya itu. Dan saat anak buah Surya hendak melayangkan tembakan, tangan Davin terangkat menahannya dan tak memberi izin.
"Tahan! Jangan lakukan itu! Dia masih kita butuhkan, jadi kalian tidak boleh sembarangan menembak dia!" ucap Davin lantang.
"Apa maksud om? Memangnya om butuh saya untuk apa?" tanya Galen penasaran.
"Hahaha, tentunya untuk membuat Ciara kembali kesini menyerahkan dirinya," jawab Davin santai disertai tawa jahatnya.
__ADS_1
Galen benar-benar terkejut mendengar itu, ia kini tahu bahwa semuanya hanyalah tipu daya Davin dan ia telah masuk ke dalam perangkap pria itu. Galen pun sungguh bingung harus melakukan apa, tak mungkin juga ia bisa menghadapi puluhan anak buah pamannya itu, terlebih mereka bersenjata.
"Sial! Saya tertipu, saya harus bisa lepas dari sini supaya Ciara tidak kembali dan malah menjadi tawanan om Davin! Tapi, bagaimana caranya?" gumam Galen dalam hati.
•
•
Sementara itu, Terry dengan mobilnya sampai di lokasi tempat ia menyelamatkan Ciara sebelumnya. Pria itu langsung turun dari mobil dan berniat membalas dendam, tetapi ia terkejut ketika melihat kerumunan orang bersenjata ada di depannya dan seperti tengah mengerubungi sesuatu.
Terry pun memantau sejenak dari jarak yang agak jauh, kemudian ia juga melihat sebuah mobil terparkir di dekatnya dan ia merasa pernah melihat mobil itu sebelum ini. Namun, Terry masih belum tahu siapa pemilik mobil tersebut dan apa yang terjadi di depan sana.
"Ada apa ya? Kenapa jadi banyak banget orang disitu dan mereka pada pegang senjata? Perasaan tadi sewaktu saya kesini, mereka semua cuma pakai tangan kosong," gumam Terry keheranan.
Disaat ia kembali memandangi mobil yang terparkir di dekatnya, ia baru teringat kalau ia sering melihat mobil seperti itu dikenakan oleh Galen. Tentu saja Terry ingat betul, sebab Galen sering datang ke sekolah dengan mobil tersebut. Akan tetapi, ia masih bingung mengapa bisa mobil itu ada disana.
"Ah iya benar, itu mobil pak Galen alias kakaknya Ciara. Tapi, kenapa ya dia disini? Ada urusan apa coba? Ciara kan sudah selamat sampai di rumah," ucap Terry berpikir keras.
Dor!
Tanpa diduga, suara tembakan terdengar memekakkan telinganya. Terry langsung panik, ia khawatir kalau Galen ada disana dan terkena tembakan tersebut. Sontak pria itu bergegas menghampiri kerumunan disana untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Hey kalian!" teriaknya dengan lantang yang membuat pasukan itu menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Siapa kamu?" tanya salah seorang dari mereka yang terlihat kebingungan.
"Saya dari pihak kepolisian, saya mendengar suara tembakan dari area sini tadi. Dan ternyata benar, kalian semua lah pelakunya. Serahkan senjata itu pada saya, karena kalian tidak berhak memegangnya!" jawab Terry berbohong.
"Cih, jangan banyak bicara kamu! Kamu pikir kita akan percaya begitu saja? Mana buktinya kalau kamu bagian dari kepolisian?" tegas pasukan itu.
"Eee..." Terry dibuat bingung sendiri oleh kebohongan yang tadi ia katakan, kini ia pun tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...