Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 141. Sama-sama selingkuh


__ADS_3

Tiara berhasil menyusul bosnya ke luar kantor dan berhenti saat tiba di dekat mobil pria itu, ya Adrian juga tampak berbalik menatap ke arah Tiara sejenak sebelum menghela nafas singkat. Adrian masih belum melupakan kejadian di lift tadi, entah kenapa rasanya jantung pria itu berdetak lebih kencang saat ia bersentuhan dengan Tiara tadi. Untungnya Adrian juga sempat tersadar sebelum para karyawannya berpikiran yang tidak-tidak, walau ia harus membuat Tiara terjatuh dan mungkin saja terluka.


"Pak, jangan buru-buru dong jalannya! Saya gak kuat tahu kejar bapak kayak tadi," keluh Tiara disertai nafas yang terengah-engah.


Adrian malah memalingkan wajahnya dan bertingkah seolah tak perduli, meski sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam pria itu amat mengkhawatirkan kondisi Tiara. Apalagi, ia merasa terlalu kasar pada wanita itu saat ia menghempas tubuhnya sampai terjatuh ke lantai dan pergi meninggalkannya begitu saja.


Tiara tentu semakin geram dibuatnya, sikap Adrian yang cuek seperti itu sangat berbeda dengan saat pria itu ada di depan ruangannya tadi. Kini Tiara pun merengut kecewa, ia merasa jika Adrian memang memiliki dua sikap yang berbeda. Namun, Tiara sendiri juga tidak bisa mengharapkan kepedulian dari Adrian yang memang adalah bosnya itu.


"Sudah, ayo masuk ke mobil! Kalau kelamaan disini kita bisa terlambat," seru Adrian.


Tiara manggut-manggut saja, ia lalu melangkah menuju pintu belakang mobil dan hendak membukanya sesuai perintah sang bos. Akan tetapi, Adrian tiba-tiba mencekal lengannya dan membuat wanita itu merasa terkejut. Ya Tiara tak mengerti apa kesalahannya saat ini, karena ia hanya ingin mengikuti perintah dari Adrian tadi.


"A-ada apa ya pak? Ini saya kan mau masuk ke mobil sesuai perintah bapak tadi, kok bapak malah tahan saya?" tanya Tiara terheran-heran.


"Sssttt, emangnya kamu kira saya ini supir kamu apa? Seenaknya aja duduk di belakang!" ujar Adrian.


Tiara melongok dibuatnya, "Loh, terus saya duduk dimana dong ini pak?" tanyanya penasaran.


"Di bagasi."


Jawaban spontan dari Adrian itu membuat Tiara terperangah tak percaya, kemudian ia terlihat cemberut karena merasa dikerjai oleh bosnya. Namun, Adrian langsung meralat kata-katanya dan mengatakan kalau dia hanya bercanda.


"Ya enggak lah, kamu di depan aja sama saya! Emang kamu mau duduk di bagasi?" ujar Adrian.


"Hehe, gak mau lah pak. Beneran ini nih saya boleh duduk di depan, bapak gak keberatan duduk sama saya?" ucap Tiara.


"Iya gapapa, daripada saya dianggap jadi supir kamu nantinya," ucap Adrian singkat.


Tiara terkekeh mendengar ucapan bosnya itu, lalu mereka pun sama-sama masuk ke dalam mobil dan terduduk berdua di kursi depan. Tiara sama sekali tak menyangka jika bosnya itu akan mengizinkan ia duduk bersamanya, padahal tadinya ia mengira Adrian adalah orang yang sombong dan tidak sudi jika duduk dengannya di depan seperti itu.


"Pak, kita mau meeting dimana sih?" tanya Tiara sembari menatap sang bos.


Adrian terdiam saja dan tidak menjawab pertanyaan sekretarisnya, ia menyalakan mesin mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area kantor. Tiara pun kembali merengut sembari merapihkan rambutnya, wanita itu mencoba sabar walau saat ini dia sangat jengkel dengan sikap sang bos yang berubah-ubah tak menentu itu.


"Kita ini meeting di restoran sekalian makan, puas kamu? Tapi, nanti kamu bayar makanannya sendiri jangan ngarep saya traktir!" ucap Adrian.


"Hah? Kok gitu sih pak?" kaget Tiara.


"Iyalah, kenapa? Gak suka?" Adrian melirik ke arahnya dengan tatapan sinis.


"Eee suka kok pak, suka."




Singkat cerita, Tiara dan bosnya itu telah sampai di salah satu restoran tempat dimana mereka akan menemui calon klien yang akan bekerjasama dengan perusahaan pria itu. Tanpa basa-basi lagi, keduanya langsung saja turun dari mobil dan lalu masuk ke dalam restoran itu secara bersama-sama karena sang klien sudah menunggu disana.


Tiara pun tampak sangat gugup saat ini, sebab ini merupakan momen kali pertamanya ia mengikuti meeting penting bersama seorang bos. Tiara begitu gemetar dan jantungnya terus berdetak kencang sedari tadi, ia benar-benar tak tahu harus bagaimana untuk bisa menenangkan dirinya. Sedangkan Adrian terdiam saja di sampingnya, seolah tidak perduli dengan apa yang tengah dirasakan Tiara.

__ADS_1


Kini mereka sampai di meja yang sudah ditempati oleh seorang pria yang merupakan klien dari Adrian, langsung saja Adrian menyapa pria itu disertai senyuman lebar. Tiara yang memang masih gugup belum berani menatap ke depan, ya wajahnya terus tertunduk dengan kedua tangan yang ia satukan di tubuh bagian depannya.


"Eh pak Adrian, selamat datang pak!" klien itu berbalas menyapanya dan bersalaman dengan Adrian disana.


Lalu, klien itu terkejut ketika menoleh ke sebelah kiri Adrian dan menemukan sosok Tiara disana. Ya tiba-tiba saja ia terdiam seolah mengenali siapa Tiara, sedangkan Adrian sendiri tampak sadar jika kliennya tengah kebingungan. Akhirnya Adrian memilih mengenalkan Tiara kepada pria itu, ya karena ini kali pertama Tiara datang kesana.


"Ah iya pak Bagas, wanita ini sekretaris saya yang baru. Kenalkan, namanya Tiara!" ucap Adrian.


Deg


Tiara langsung terkejut ketika mendengar Adrian menyebut nama bekas di dekatnya, ia mendongak dan begitu syok saat menyadari bahwa benar saja Bagas yang dimaksud Adrian adalah orang yang sama dengan pria yang telah merusak rumah tangganya. Tak hanya Tiara, bahkan Bagas juga masih tampak tidak percaya dengan itu.


"Tiara, ayo kenalan dong sama klien saya ini! Kamu jangan bikin saya malu ya di depan dia, keluarkan senyum kamu!" bisik Adrian di telinga Tiara.


Tiara mengangguk lemah, "I-i-iya pak.."


Perlahan Tiara maju mendekati Bagas dan mengulurkan tangannya, sambil menyebut nama Tiara pun bersalaman dengan Bagas disana walau tidak lama. Ya setelah itu, mereka bertiga kembali terduduk dan mulai berbincang-bincang. Meski, hingga kini Tiara masih belum bisa tenang karena yang ada di depannya adalah orang jahat.


"Nah, ini dia proposal yang sudah kami buat. Saya harap bapak dapat menyetujuinya dan mau kembali melanjutkan kerjasama ini dengan kami, silahkan dibaca pak!" ucap Adrian menyerahkan berkas itu kepada Bagas.


Dengan senang hati Bagas mengambilnya, lalu membuka isi berkas tersebut dan membacanya. Namun, Tiara masih terus saja menunduk bingung sambil berusaha menghindari tatapan langsung dengan orang yang sangat ia benci itu. Adrian yang berada di sebelahnya pun ikut kebingungan, pria itu tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Tiara.


"Ini Tiara kenapa sih? Perasaan daritadi dia nunduk mulu, apa dia kenal ya sama pak Bagas?" gumam Adrian dalam hati.


"Duh, ini aku harus gimana ya? Malas banget rasanya ketemu sama orang itu lagi, mana dia ternyata klien pak Adrian. Bisa-bisa aku bakal sering ketemu sama dia dong nih," batin Tiara.


"Ehem!" tiba-tiba saja, Adrian berdehem yang membuat Tiara terkejut lalu menoleh ke arahnya.


"Ikut saya yuk!" Adrian langsung meraih lengan Tiara dan menariknya menuju tempat yang agak jauh dari Bagas, ya tentu Adrian telah pamit terlebih dulu.




Kini Adrian membawa Tiara keluar dari resto untuk bisa bicara berdua dengannya, ia lepaskan tangan wanita itu dan menatap tajam ke arahnya. Tiara tentu amat bingung dibuatnya, wanita itu tak mengerti mengapa Adrian membawanya kesana. Ya padahal Tiara merasa kalau sedari tadi dia tidak melakukan kesalahan apapun itu.


"Pak, sebenarnya bapak kenapa sih? Kok saya ditarik keluar kayak gini, emang saya ada salah apa coba?" tanya Tiara dengan wajah penasaran.


Adrian menghela nafas sejenak seraya mengusap dagunya, ia juga bingung harus memulai darimana ucapannya saat ini. Adrian memang bingung mengapa Tiara bersikap seperti tadi di hadapan Bagas, namun Adrian sendiri juga tak tahu harus berbicara bagaimana agar Tiara tidak tersinggung dan mau jujur kepadanya.


"Tadi saya lihat waktu kamu di dalam, kamu kelihatan takut gitu sama pak Bagas. Apa kamu ada kenal sama dia, atau malah punya masalah yang saya gak tahu?" tanya Adrian pada intinya.


Tiara pun tersentak kaget dengan ucapan yang dilontarkan Adrian padanya barusan, ia kini bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Adrian. Ya jika ia jujur mengenai siapa Bagas, maka mungkin saja Adrian akan membatalkan kontrak kerjasama yang sudah dia lakukan dengan perusahaan Bagas itu karena kebusukan Bagas.


"Jawab saya Tiara, saya ingin tahu semuanya!" pinta Adrian dengan tegas dan lantang.


"Hah? I-i-iya pak, nanti saya jelaskan semua kok ke bapak. Sekarang kita balik aja dulu ya ke dalam? Gak enak loh sama pak Bagas nunggu sendirian disana, kasihan dia!" ucap Tiara tergagap.


"Jangan alihkan pembicaraan, Tiara! Saya minta kamu jelaskan semuanya, jawab dengan jelas dan benar!" tegas Adrian.

__ADS_1


"Pak, saya kan udah bilang tadi. Saya bakal jelasin semua ke bapak kok, tapi nanti dan bukan sekarang. Bapak ngerti kan posisi kita gimana? Masa bapak mau biarin klien bapak nunggu sendirian disana, apa bapak gak kasihan?" ucap Tiara kekeuh.


Adrian terdiam saat itu juga, benar apa yang dikatakan Tiara bahwa mereka tidak mungkin terus membiarkan Bagas sendirian disana. Adrian kini tampak semakin bingung, ia penasaran dengan apa yang disembunyikan Tiara saat ini. Namun, ia juga tidak mau jika Bagas sampai kesal karena ditinggal cukup lama oleh mereka.


"Baiklah, ayo kita kembali kesana! Tapi ingat, kamu hutang penjelasan sama saya!" ucap Adrian.


Tiara mengangguk saja tanpa berkata apapun, lalu Adrian berjalan lebih dulu meninggalkan Tiara disana dengan langkah tergesa. sontak Tiara bergegas mengejar pria itu, karena ia tidak ingin membuat bosnya kecewa. Meski, sekarang ini Tiara juga masih bingung harus bagaimana menghadapi sikap Adrian nantinya.


Keduanya kembali menuju meja tempat Bagas berada, lalu terlihat Bagas yang masih setia terduduk disana sambil membaca proposal yang diberikan Adrian tadi. Lagi-lagi Tiara tampak gugup ketika bertatapan dengan Bagas, wanita itu seolah bingung harus berkata apa dan akhirnya lebih memilih diam karena khawatir salah bicara.


Bagas terus menatap ke arah Tiara dengan penuh kecurigaan, pria itu khawatir jika Tiara sudah menceritakan semuanya kepada Adrian saat ini. Jika sampai itu terjadi, maka kesempatan Bagas untuk bekerjasama dengan perusahaan milik Adrian akan semakin menipis. Namun, Bagas tetap berusaha yakin kalau rencananya akan berhasil.


"Awas saja kamu Tiara! Saya akan beri kamu pelajaran, kalau sampai kamu buka mulut di hadapan Adrian!" batin Bagas.




Ciara tiba di rumah mamanya bersama sang suami yang selalu setia menemaninya, ya mereka kembali kesana karena waktu praktek Libra telah usai dan dokter Syifa pun tidak bisa untuk dikunjungi lagi setelah kejadian sebelumnya. Meski Libra belum puas berbicara dengan Syifa, tetapi saat ini pria itu juga tidak bisa melawan perintah polisi.


Setibanya disana, Ciara dan juga Libra langsung disambut oleh Nadira yang tengah asyik bermain bersama Askha di halaman rumahnya. Tentu saja Ciara tampak gemas dengan keponakannya itu, tanpa basa-basi ia pun mendekat dan mencubit kedua pipi pria kecil itu karena tidak tahan dengan kegemasan yang ditunjukkannya.


Libra serta Nadira geleng-geleng saja dibuatnya, mereka merasa wajar dengan sikap Ciara yang seperti itu karena memang Ciara dikenal sangat senang setiap kali bertemu dengan anak kecil. Meskipun, kadang kali tindakan Ciara terlalu berlebihan akibat rasa gemasnya yang tidak terkontrol saat melihat anak-anak.


"Nah Libra, gimana hari pertama kamu buka tempat praktek itu? Banyak gak yang datang buat periksa kesana?" tanya Nadira pada menantunya.


Libra tersenyum dibuatnya, "Ya begitulah ma, awal kan gak mesti ramai. Lagian masa iya aku ngarepin orang-orang sakit biar aku untung? Jadi, sewajarnya aja lah ma," jawabnya santai.


"Hahaha, iya sih kamu benar Libra. Yaudah, mama doain aja semoga usaha kamu ini bisa berjalan terus ya dan lancar tanpa henti!" ucap Nadira.


"Aamiin, makasih ma."


Sementara Ciara sendiri masih asyik menggendong Askha disana sambil berjoget-joget kecil bermaksud menghibur keponakannya, ya lalu ia tampak melirik ke sekeliling seorang mencari seseorang dan membuat Nadira keheranan. Rupanya, Ciara bingung mengapa Tiara alias ibunda dari Askha tidak terlihat di sekitar sana.


"Oh ya ma, ini kak Tiara belum pulang apa gimana? Kok sepi sih rumahnya?" tanya Ciara penasaran.


"Eee iya sayang, Tiara kayaknya langsung mulai kerja deh. Makanya dia belum pulang sampai sekarang, tapi bagus dong kalau emang begitu. Jadi, Tiara udah punya kesibukan sekarang dan gak akan kepikiran sama Galen sialan itu!" jawab Nadira.


"Ma, mama jangan kayak gitu lah sama kak Galen! Dia itu kan juga anak mama, harusnya mama gak boleh benci sama kak Galen!" pinta Ciara.


"Hm, iya sayang iya. Kamu mah masih aja belain kakak kamu yang gak tahu diri itu, padahal dia jelas-jelas udah nyakitin Tiara loh. Mama kecewa sama dia!" ucap Nadira ketus.


"Sabar ma, mungkin aja waktu itu kak Galen khilaf kan!" ucap Ciara.


"Ya iya, dulu papa kamu juga alasannya begitu. Kan emang setiap lelaki yang selingkuh pasti selalu bilang kalau mereka cuma khilaf, emang pantas sih Galen jadi anaknya mas Albert dulu!" cibir Nadira.


Ciara terdiam saja mendengar kata-kata dari mamanya itu, ia paham kalau Nadira sedang emosi dan tidak baik jika ia melawannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2