Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 110. Rindu


__ADS_3

"Sekali lagi saya minta maaf ya, pak? Saya tidak bisa melanjutkan kerjasama kita ini."


Galen menelan saliva nya dan kesulitan untuk mengatur nafasnya kali ini, perkataan yang diucapkan salah seorang kliennya barusan itu membuat Galen benar-benar bingung.


"Ah ya, tidak apa-apa pak."


"Kalau begitu saya permisi," Galen mengangguk saja dan memberi jalan bagi si klien untuk pergi.


Kini Galen tampak mengerutkan keningnya, ia benar-benar pusing dengan semua masalah yang terjadi di kantornya saat ini. Satu persatu masalah terus berdatangan menimpanya, mulai dari para klien yang mendadak mundur dan juga salah satu investor terbesar di perusahaan yang membatalkan kerjasama diantara mereka.


Leon yang berdiri di sebelahnya pun ikut merasa kasihan pada bosnya itu, ia tahu betul kesedihan yang dirasakan oleh Galen saat ini setelah berbagai masalah yang menimpanya. Ia juga menaruh curiga pada semua masalah yang terjadi, pasalnya masalah itu datang secara berurutan.


"Pak, saya jadi curiga deh. Apa mungkin ada pihak yang mau menghancurkan perusahaan kita ini?" bisik Leon.


Perkataan Leon barusan turut membuat Galen berpikir demikian, namun ia masih belum tahu siapakah orang dibalik mundurnya para klien yang sebelumnya bekerjasama dengan mereka itu. Tapi siapapun itu, pastinya Galen akan mencarinya dan memberi pelajaran kepada orang itu.


"Sepertinya memang begitu, ini gak mungkin sebuah kebetulan. Belakangan banyak klien kita yang memutus hubungan, pasti ada permainan dibalik semua ini," ujar Galen.


"Tapi, kira-kira siapa ya orang itu pak?" tanya Leon yang membuat Galen menatap tajam ke arahnya.


"Ini yang jadi tugas kamu, kamu harus bisa temukan pelakunya dan usut tuntas semuanya! Kalau kita terus diam, yang ada kita akan semakin hancur!" titah Galen.


Leon mengangguk dengan tegas, "Baik pak!" ucapnya seraya menegakkan tubuhnya.


Baru saja mereka hendak pergi, tiba-tiba tanpa diduga mereka justru berpapasan dengan seorang lelaki yang tidak lain adalah Nico. Galen pun langsung menunjukkan ekspresi tidak sukanya saat melihat pria itu, pasalnya ia tahu jika Nico adalah mantan terindah yang pernah dimiliki Tiara dan ia tak mau mereka bersatu kembali.


"Hahaha, kita ketemu lagi pak Galen. Apa kabar? Anak dan istri anda bagaimana kondisinya, baik-baik saja kan?" ucap Nico dengan nada meledek.


Galen sungguh malas sekali meladeni ucapan pria itu, ia menggaruk-garuk hidungnya dan sangat ingin pergi dari sana dengan segera. Namun, entah kenapa tiba-tiba ia berpikir jika pelaku dibalik semua masalah yang menimpanya adalah Nico. Mengingat, Nico memang selalu mencari gara-gara dengannya.


"Anda mau apa? Jangan harap anda bisa dekati istri dan anak saya lagi, karena saya tidak akan memberikan anda ruang untuk melakukan itu!" ucap Galen dengan tegas.


"Oh baiklah, saya juga tidak pernah berharap untuk itu. Istri anda lah yang selalu mencari-cari saya, bukan sebaliknya," ujar Nico.


Galen mulai tersulut emosi saat ini, satu tangannya sudah mengepal kuat disertai tubuhnya yang bergetar akibat menahan emosi. Jika saja bukan karena Leon yang menghalanginya, maka pasti Galen sudah meninju wajah menyebalkan Nico itu dan memberi pelajaran padanya.


"Sudah pak, ayo kita pergi dari sini! Tidak ada gunanya kita meladeni dia," bujuk Leon.


Meski awalnya ia menolak ajakan Leon, tapi pada akhirnya Galen memutuskan untuk pergi dari sana dan melangkah meninggalkan Nico. Sepanjang perjalanan, ia pun terus memikirkan mengenai Nico dan menaruh curiga padanya mengingat pria itu memiliki ambisi untuk dapat memiliki Tiara.


Melihat bosnya melamun seperti itu, Leon pun menatap bingung ke arahnya seolah penasaran. Leon tahu jika ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Galen saat ini dan mengganggu pikirannya, untuk itu Leon mencoba bertanya pada Galen dengan harapan pria itu mau membagi pikiran dengannya saat ini.


"Pak, ada apa? Kenapa bapak terlihat cemas seperti itu?" tanya Leon dengan wajah bingung.


"Saya curiga, apa mungkin ya Nico dalang dari semua ini? Dia itu kan jelas banget membenci saya, bisa aja kan dia yang melakukan semua ini ke perusahaan kita?" ujar Galen.


"Eee bisa jadi sih pak, semua itu masih mungkin terjadi. Tapi sekarang kan kita belum punya bukti, jadi kita gak bisa menuduh sembarangan," ucap Leon.


"Ya, kamu benar. Untuk itu kamu harus selidiki semuanya dan laporkan ke saya bila sudah berhasil mendapatkan jawabannya!" titah Galen.


"Baik pak!" ucap Leon dengan lantang.


Lalu, mereka pun pergi dari sana menggunakan mobil dan berniat kembali ke kantor.

__ADS_1




Begitu tiba di kantornya, Galen dikejutkan dengan keberadaan Jessica yang entah darimana asalnya saat ini sudah berada di depan sana seperti tengah menunggunya. Galen pun panik, pasalnya kini ia sedang bersama Leon dan ia tidak mau Leon atau karyawan yang lainnya ikut mengetahui mengenai hubungannya dengan Jessica.


Galen langsung meminta Leon untuk masuk ke dalam kantor, Leon menurut saja walau ada sedikit rasa heran di dalam hatinya. Sedangkan Galen sendiri kini bergerak menemui Jessica disana, ia tampak menggeram kesal seraya mengepalkan tangannya begitu mendekati wanita itu.


Langsung saja Galen menarik tubuh Jessica menjauh dari lingkungan kantornya, ia tak mau ada satupun karyawannya yang melihat mereka saat ini dan menaruh curiga. Jessica tak sempat protes, sebab Galen sudah lebih dulu menariknya dan membawanya ke dekat pemancuran. Galen pun mengajak Jessica duduk, agar mereka bisa leluasa berbicara disana.


"Ada apa sih, hm? Kenapa kamu datang ke kantor saya sekarang coba? Saya kan sudah bilang, saya pasti tanggung jawab sama bayi kamu. Tapi, kamu gak perlu menampakkan diri kamu di kantor saya kayak begini!" sentak Galen.


Jessica tersenyum dibuatnya, "Kenapa mas? Kamu takut ya orang-orang pada tahu kalau kamu selingkuh, iya?" ujarnya santai.


"Jes, please! Untuk kali ini aja kamu ngertiin saya, tolong kamu jangan pernah datang lagi ke kantor saya kalau tidak ada keperluan! Saya gak mau ada orang yang curiga nantinya," ucap Galen.


"Yaudah, makanya kamu cepat-cepat dong nikahin aku mas! Aku rela kok jadi yang kedua, asal anak ini bisa mendapatkan sosok ayah!" pinta Jessica.


"Apa? Kamu gila ya Jessica? Saya gak pernah bilang kalau saya mau menikahi kamu, saya cuma akan bertanggung jawab dengan membiayai kehidupan bayi kamu itu. Lagipula, kamu kan juga masih punya pacar!" ucap Galen terkejut.


Jessica mendadak murung dan memalingkan wajahnya, "Justru itu mas, pacar aku baru aja mutusin aku karena kejadian waktu itu. Dia gak mau lagi jadi pacar aku," ucapnya.


"Hah serius? Tapi kan, saya udah jelaskan semua ke dia waktu itu," ujar Galen.


"Iya mas, tetap aja Bagas gak mau pacaran lagi sama aku. Makanya, sekarang aku minta kamu buat nikahin aku mas!" ucap Jessica memelas.


Deg


Galen sampai terdiam mendengar permintaan Jessica barusan, tidak mungkin ia akan menikahi wanita itu disaat ia sudah memiliki seorang istri dan juga anak. Ia tak mau menyakiti hati Tiara, ataupun meninggalkan Tiara serta Askha. Bagaimanapun, Galen sangat mencintai Tiara dan ia tidak mau Tiara pergi dari hidupnya.


Galen menoleh, lalu terbelalak lebar melihat istrinya sudah berdiri disana dan tengah memandang ke arahnya dengan ekspresi terkejut. Galen sungguh tak menyangka, ia tak tahu kalau istrinya itu akan datang dan mendengar semua percakapan diantara dirinya dengan Jessica tadi.


"Mas, apa benar kamu sudah menghamili wanita ini? Kamu tega berkhianat dari aku, mas?" tanya Tiara tampak syok.


"Sa-sayang, kamu—"


Tiara menggelengkan wajahnya, tangis air mata sudah tumpah membasahi kedua pipinya saat ini. Ia tak mau lagi mendengarkan perkataan suaminya, semua sudah jelas dan Tiara mendengar sendiri pengakuan dari Jessica yang meminta tanggung jawab dari suaminya itu. Tiara kecewa, sangat kecewa pada Galen dan mungkin membencinya.


"Aku benci sama kamu mas, kamu jahat!" Tiara mengumpat kasar melampiaskan emosinya.


Galen berusaha menenangkan istrinya itu, tetapi terlambat karena Tiara sudah lebih dulu berlari pergi dari sana dengan kondisi menangis. Galen pun tampak panik, ia coba mengejar Tiara dan tak memperdulikan Jessica yang masih berusaha menahannya untuk tetap disana.




"Tiara, tunggu Tiara! Dengerin penjelasan aku dulu, kamu cuma salah paham sayang!" Galen berteriak dari belakang sana, berusaha membuat Tiara mau berhenti dan mendengarkannya.


Namun Tiara bukan wanita bodoh, ia tahu semua yang diperbuat Galen dan ia tak akan mungkin bisa memaafkan kelakuan suaminya itu. Tiara terus berlari meninggalkan Galen tanpa perduli dengan pria itu yang mengejarnya, Tiara sudah sangat hancur saat ini. Niatnya datang ke kantor adalah ingin memberikan makan siang untuk Galen, tetapi ia malah dihadapkan pada kenyataan yang pahit. Suaminya itu malah menghamili wanita lain.


Galen benar-benar bingung saat ini, tak ada yang bisa ia lakukan selain terus berlari dan berteriak mencoba menahan istrinya itu. Kini Tiara telah semakin menjauh, namun Galen terkejut saat melihat sebuah mobil melaju dari arah berlawanan dan hendak mendekati Tiara. Pria itu pun mempercepat langkahnya, berusaha memberitahu Tiara untuk menghindar dari mobil tersebut.


"Tiara, awas Tiara! Kamu berhenti dulu!" teriakan Galen itu diabaikan oleh Tiara yang memang sudah sangat emosi.

__ADS_1


Akibatnya, Tiara tak menyadari keberadaan mobil itu dan terus saja menyeberang jalan. Suara klakson akhirnya membuat wanita itu tersadar, ia menoleh dan terkejut melihat sebuah mobil sedang melaju dengan kencang ke arahnya. Tiara berusaha menghindar, tapi lebih dulu Galen berhasil mendorongnya hingga terjatuh ke ujung jalan.


Braakkk


Tiara terkejut mendengar suara itu, ia menoleh lalu melihat suaminya tergeletak di tengah jalan setelah tertabrak mobil tadi. Matanya terbelalak lebar, sedangkan mobil itu malah menambah kecepatan dan pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab.


Wanita itu terlihat panik, ia bangkit dari posisinya dan berlari cepat menghampiri tubuh suaminya yang tergeletak dipenuhi darah. Ia berhasil mendekat dan dibuat histeris melihat kondisi suaminya itu, apalagi sekarang Galen terlihat begitu lemas dengan wajah yang berdarah-darah akibat benturan tadi.


"Mas, mas bertahan mas! Aku bakal bawa kamu ke rumah sakit, kamu tahan sebentar ya!" ucap Tiara panik.


Galen menggeleng perlahan disertai senyuman, ia meraih satu tangan Tiara dan menggenggamnya. Tiara spontan mengeluarkan air mata, tak percaya dengan apa yang ia saksikan saat ini. Suami yang ia cintai, sekarang sedang menderita setelah tadi menyelamatkan dirinya.


"A-aku minta maaf sayang, aku nyesel udah ngelakuin semua ini. Aku cinta sama kamu, Tiara! Aku titip putra kita, ya?" lirih Galen.


"Enggak mas, kamu bicara apa sih? Kamu harus kuat, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" paksa Tiara.


"Ka-kamu mau kan maafin aku? A-aku aku..." Galen tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tubuhnya sudah terasa sangat sakit.


"Iya iya mas, aku maafin kamu kok. Kamu harus bertahan sekarang, aku cari bantuan dulu ya?" ucap Tiara sangat cemas.


Wanita itu terus melihat ke sekeliling dan berteriak minta tolong, sedangkan Galen terbatuk-batuk dan merasa tidak kuat lagi. Tak lama kemudian, pria itu tak sadarkan diri dan melepaskan genggamannya pada telapak tangan Tiara.


"Hah? Mas, bangun mas! Mas Galen!!!"




Disisi lain, Ciara terlihat sedang melamun seorang diri di pinggir kolam renang. Ia menatap genangan air di hadapannya dengan tatapan kosong, segala kenangan indah diantara dirinya dan Libra terus terbayang di dalam pikirannya. Ciara merindukan suaminya itu, tapi ia tak tahu apakah Libra juga merindukannya atau tidak.


"Ciara!" tiba-tiba saja, Seno datang dan menemui wanita itu dengan senyum manisnya.


Ciara menoleh, membalas senyum pria itu sekilas dan memberi gestur agar Seno duduk di sampingnya saat ini. Tentu saja Seno menurut, pria itu kini telah berada di sebelah Ciara dan terus memandang ke arahnya. Seno paham betul apa yang dirasakan wanita itu, sebab ia melihat kondisi Ciara yang begitu menyedihkan.


"Kamu lagi mikirin apa Ciara? Kangen ya pasti sama suami kamu itu? Kalau iya, kamu temuin aja dia dulu!" ucap Seno.


"Iya sih kak, aku kangen banget sama om Libra. Aku juga mau ketemu dia," ucap Ciara lirih.


"Oh yaudah, ayo aku antar kamu sekarang ketemu sama suami kamu itu! Biarpun aku cinta sama kamu, tapi aku juga gak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga kamu!" ajak Seno.


"Hah? Gak sekarang juga kak, aku masih belum siap. Aku khawatir om Libra masih kesal karena hasil tes waktu itu," ucap Ciara.


Seno tersenyum seraya menggeser posisi duduknya lebih mendekati wanita itu, ia meraih satu tangan Ciara dan coba meyakini bahwa Libra sekarang pasti juga sama rindunya dengan wanita itu. Apalagi Libra sangat mencintai Ciara, pastinya sekarang pria itu juga kebingungan mencari dimana Ciara.


Namun, entah mengapa Ciara masih tetap ragu. Wanita itu berpikir jika Libra pasti tak perduli dengan dirinya karena ia tidak bisa hamil, bahkan bisa saja Libra sekarang malah asyik dengan wanita lain yang sebelumnya memang sering membuatnya cemburu. Ciara memang merindukan suaminya, tetapi untuk bertemu dengannya saat ini sungguh Ciara tak yakin dan ia benar-benar ragu.


"Aku tetap gak mau, kak." Ciara menarik paksa tangannya dari genggaman pria itu, membuat Seno sedikit kaget lalu menatapnya heran.


"Kenapa Ciara, bukannya kamu rindu sama suami kamu itu? Rindu itu tidak bisa diobati selain dengan bertemu, ayolah Ciara jangan sakiti diri kamu sendiri hanya karena gengsi!" ucap Seno memaksa.


"Ini bukan urusan kak Seno ya, jadi aku harap kamu gausah paksa-paksa aku begitu! Oh atau, kamu gak suka ya aku lama-lama ada disini?" ketus Ciara.


Seno terdiam, sepertinya ia sudah melakukan kesalahan dengan memaksa Ciara untuk menemui Libra. Kini Ciara tampak emosi dan salah paham padanya, sungguh Seno menyesal telah membuat wanita yang dicintainya itu kecewa. Seno pun berusaha meyakinkan Ciara, lalu meminta maaf pada wanita itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2