Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 106. Mandul


__ADS_3

Keesokan harinya, Nindi kembali mendatangi tempat dimana ia bertemu dengan Rama tempo hari. Wanita itu terlihat begitu cantik mengenakan gaun berwarna kuning miliknya sesuai pesanan si pria sebelumnya, Nindi pun terduduk di kursi yang tersedia sembari celingak-celinguk mencari keberadaan Rama di sekitar sana.


Tak lama kemudian, ia dikejutkan dengan kemunculan sebuah bunga di depan matanya yang pastinya membuat wanita itu benar-benar terkejut tak menyangka. Ia menoleh ke samping, dan spontan ia bangkit dari duduknya lalu melebarkan senyum ketika menyadari Rama telah datang kesana menemuinya dengan membawa bunga.


"Hai Nindi! Aku senang banget kamu mau turutin kemauan aku, kamu cantik banget pakai gaun ini Nindi!" ucap Rama memujinya.


Nindi tersenyum seraya menundukkan wajahnya, ia benar-benar tersipu dan kedua pipinya kini bersemu merah akibat pujian yang dilontarkan oleh Rama barusan. Rama pun bergerak semakin mendekat, satu tangannya bergerak menyentuh wajah Nindi dan mengusapnya lembut. Memberi sentuhan yang membuat sang empu merasa gelisah, sampai jantungnya berdetak sangat kencang.


"Duduk lagi yuk!" ajak Rama yang diangguki oleh Nindi dan terduduk disana.


"Umm, ini bunga buat kamu Nindi! Aku sengaja bawa bunga ini, karena sesuai sama kecantikan kamu!" ucap Rama sambil tersenyum lebar.


"Bisa aja kamu Ram," lirih Nindi.


Mau tidak mau, Nindi pun mengambil bunga tersebut dari tangan Rama dan menghirupnya. Wangi dari bunga itu berhasil membuat Nindi merasa tenang dan nyaman, seketika perasaan gelisahnya hilang lalu berganti dengan ekspresi senang sampai melebarkan senyumnya.


"Nindi, aku boleh ngomong sesuatu yang penting gak sama kamu? Ini mungkin sangat sensitif, dan bisa bikin kamu gak enak hati," ucap Rama.


Nindi terkejut mendengarnya, "Maksud kamu? Ngomong apa?" tanyanya terheran-heran.


Perlahan Rama meraih kedua tangan Nindi dan menggenggamnya erat, ia menatap wajah wanita itu dengan serius sembari memejamkan mata berusaha untuk menguatkan dirinya. Nindi benar-benar penasaran, menunggu pria itu mengatakan padanya apa yang disembunyikan olehnya.


"A-aku ini yang sebenarnya...." Rama menggantung ucapannya, entah kenapa ia merasa belum siap untuk mengakui semuanya pada Nindi.


"Sebenarnya apa?" tanya Nindi penasaran.


"Eee sebelumnya aku minta maaf sama kamu, Nindi! Aku terpaksa melakukan semua itu, aku benar-benar hilang kendali saat itu dan aku gak bisa tahan diri aku sendiri!" ujar Rama.


"Kamu itu bicara apa sih, Ram? Memangnya apa yang kamu lakuin, ha?" heran Nindi.


"Aku orang yang udah perkosa kamu waktu itu, Nindi."


Deg


Betapa kagetnya Nindi ketika mendengar sambungan ucapan dari Rama barusan, ia sampai menganga lebar seolah tak percaya jika Rama adalah orang yang sudah merenggut kesuciannya. Nindi sontak menyingkirkan kedua tangan Rama, lalu bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah Rama seraya menggelengkan kepala.


"Maksudnya apa Rama? Kamu kenapa bilang kayak gitu, emangnya benar kamu yang udah ngelakuin itu?" tanya Nindi terheran-heran.


Rama sampai harus menundukkan wajahnya karena bingung bercampur sedih, sejujurnya ia belum siap menceritakan semua ini kepada Nindi karena ia takut wanita itu akan membencinya. Namun, Rama tak memiliki banyak waktu lagi dan ia harus berkata jujur kepada Nindi saat ini juga.


"I-i-iya Nindi, aku serius kali ini. Aku yang ambil perawan kamu waktu itu, semuanya aku lakukan karena aku cinta sama kamu. Aku mau kamu jadi milik aku seutuhnya," jawab Rama tanpa ragu.


Plaaakk


Satu tamparan keras mendarat di pipi Rama, pria itu bahkan sampai terkejut dan terdorong kuat akibat tamparan Nindi barusan.




Hari demi hari berganti, kini Libra yang telah kembali berdinas di rumah sakit turut membawa Ciara ke tempat dinas sesuai janjinya malam tadi kepada wanita itu. Mereka berniat mengecek kondisi kesehatan Ciara, mengingat sudah beberapa Minggu ini Ciara terus mengeluh karena belum kunjung diberikan keturunan alias bayi di dalam rahimnya.


Meski awalnya Ciara menolak karena takut, tapi akhirnya wanita itu tetap mengikuti arahan Libra untuk melakukan tes disana. Jujur Ciara sangat khawatir, ia tak mau jika nantinya hasil dari tes tersebut berbuah negatif bagi dirinya. Apalagi kalau ia dinyatakan tidak bisa hamil, maka tentu ia akan merasa sangat bersalah sebagai seorang istri.

__ADS_1


Keduanya memang telah berbaikan sejak lama, ya walau Libra membutuhkan waktu yang lumayan juga untuk bisa membuat Ciara memaafkannya dari kesalahannya saat honeymoon kala itu. Karena cintanya yang begitu besar pada Libra, akhirnya Ciara memutuskan memberi kesempatan lelaki itu satu kali lagi untuk tidak mendekati wanita lain.


Kini mereka sudah berada di ruang medis, dan tes pun sudah dilakukan oleh dokter spesialis kandungan tadi. Mereka diminta untuk duduk sembari menunggu dokter memberitahu hasil dari tes tersebut, tampak Ciara terus gugup dan panik menantikan hasil tes itu. Ia berharap-harap cemas, sekaligus berdoa pada yang maha kuasa.


Libra yang mengetahui kecemasan istrinya, sontak mendekap dan mengusapnya perlahan. Ia coba menenangkan Ciara, sambil berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Meski sebenarnya, Libra sendiri juga khawatir kalau hasilnya nanti tidak sesuai dengan harapan mereka.


"Bagaimana dok, kami sudah bisa mengetahui hasilnya sekarang kan? Tolong beritahu kami dok, kami sudah tidak sabar!" ucap Libra.


"Baiklah, dokter Libra. Hasilnya sekarang sudah ada di tangan saya, kita bisa lihat ini sama-sama dan apakah kondisi tubuh kalian berdua baik-baik saja atau ada sesuatu masalah," ucap dokter Syifa.


Libra mengangguk perlahan, begitupun dengan Ciara yang tampak sangat penasaran. Jantung keduanya berdetak lebih kencang dibanding biasanya, terlebih saat dokter Syifa memberikan surat hasil tes medis tersebut kepada Libra. Memegangnya saja sudah membuat tangan Libra gemetar, ia tak bisa membayangkan bagaimana saat ia membuka dan membaca isi surat tersebut nantinya.


"Silahkan dibuka, dokter Libra! Itu kan privasi kalian, saya tidak mau dianggap tidak sopan jika ikut campur!" ucap dokter Syifa.


"Tapi kan, anda juga pasti sudah tahu," ujar Libra.


"Benar juga sih, saya memang tahu. Ya kan ini biar tegang gitu, jadi kalian aja yang buka terus baca sama-sama deh isinya!" sarkas dokter Syifa.


"Okay."


Perlahan Libra membuka surat tersebut, matanya sempat terpejam sejenak sebelum kemudian ia melihat isi surat yang ada di tangannya itu bersama dengan Ciara. Seketika mereka langsung syok begtiu membacanya, Libra sampai terbelalak lalu menganga seolah tak percaya jika di dalam surat itu menyatakan bahwa Ciara tidak bisa mengandung.


"Hah? Ini apa-apaan sih, dokter Syifa? Hasil tesnya kenapa kayak begini?" tanya Libra geram.


"Eee tenang dulu dokter Libra! Itu semua memang sesuai tes yang saya lakukan tadi, tidak ada rekayasa atau apa-apa kok. Mana berani saya melakukan itu coba?" gugup dokter Syifa.


"Gak, gak mungkin! Istri saya gak mungkin hamil dok, ini semua palsu! Dokter jangan begini dong, harusnya dokter support saya!" kesal Libra.


Ciara terisak, lalu beranjak dari kursinya dan keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apapun. Libra menoleh dengan panik, mengejar istrinya itu dan berlari meninggalkan dokter Syifa disana sambil berteriak memanggil nama Ciara.




"Mas, aku hamil."


Galen tersentak mendengar perkataan Jessica itu, matanya membulat lebar tak percaya jika wanita di hadapannya itu tengah mengandung anaknya. Spontan ia bangkit dari posisinya, menatap tajam wajah Jessica sambil menggeleng cepat. Galen yakin selama ini ia selalu bermain aman dan tidak pernah menembakkan laharnya ke dalam Jessica.


Tentu saja Galen tidak mempercayai ucapan Jessica, ia justru menganggap wanita itu sedang main-main dengannya. Tak mungkin Jessica hamil karena dirinya, sebab ia selalu mengenakan alat pengaman ketika bermain mencari kepuasan bersama wanita itu. Meski pernah ia bermain tanpa pengaman, tapi itupun sudah lama dan ia juga mengeluarkannya di luar.


"Ka-kamu gila ya Jes? Kok bisa kamu hamil? Emang kamu main sama siapa aja selain aku, ha?" tanya Galen dengan ekspresi kagetnya.


Jessica yang marah, langsung berdiri dan menampar wajah Galen dengan keras. Ia tak terima dengan ucapan yang dilontarkan pria itu barusan, menurutnya Galen sama saja telah merendahkan harga dirinya.


"Kamu pikir aku perempuan apaan Galen? Aku selama ini cuma main sama kamu, kan aku udah ada kontrak. Jangan kira aku orang yang suka main belakang kayak kamu ya, Galen!" sentak Jessica.


"Maksud kamu apa? Gausah mengalihkan topik ke hal yang lain ya!" geram Galen.


"Loh kenapa, memang benar kan kamu main di belakang istri kamu? Dengar ya Galen, aku bisa aja loh bongkar semua kebusukan kamu ini di depan istri kamu! Aku udah punya bukti perselingkuhan kita selama ini, jadi dengan mudah aku akan kasih tahu itu ke istri kamu nantinya!" ancam Jessica.


"Kurang ajar! Kamu ini mau main-main dengan saya, iya? Hati-hati saja Jessica, kamu bisa saya lenyapkan jika itu terjadi!" ujar Galen.


"Oh tenang saja Galen, kamu gak perlu panik kayak gitu! Aku juga gak akan sebarin perselingkuhan kita ke istri kamu kok, asalkan kamu mau nurut dan tanggung jawab sama bayi ini!" ucap Jessica.

__ADS_1


"Enggak, itu bukan bayi saya! Selama ini saya selalu main aman, saya gak pernah keluar di dalam kamu!" tegas Galen.


"Hey sayang, aman menurut kamu itu belum tentu aman beneran loh! Bisa aja kan ada kebocoran atau apa gitu, makanya aku bisa sampai hamil kayak sekarang?" ucap Jessica.


"Cu-cukup Jessica! Saya gak mau tahu apapun itu tentang kehamilan kamu, karena itu bukan anak saya!" ucap Galen.


"Ohh, jadi kamu gak mau tanggung jawab ya mas? Okay gapapa, tapi jangan salahkan aku kalau istri kamu akan mengetahui semua kelakuan kamu di belakang dia!" ucap Jessica.


Deg


Galen kembali dibuat terkejut, ia mengepalkan tangannya mencoba menahan emosi yang hendak mencuat di dalam dirinya. Saat Jessica mengancam seperti tadi, maka Galen tidak mungkin bisa berbuat apa-apa dan harus pasrah menuruti setiap kemauan wanita itu.


"Tunggu Jessica! Kamu jangan macam-macam, biarkan semua ini menjadi rahasia kita berdua saja!" pinta Galen.


Jessica tersenyum lebar kali ini, "Nah, kamu takut juga kan sayang? Gitu dong, kamu emang harus nurut sama aku mas!" ucapnya manja.


"Diam kamu! Sekarang katakan saja apa yang kamu mau, saya akan turuti asalkan kamu jaga rahasia dan gugurkan kandungan itu!" ucap Galen.


"Apa mas? Menggugurkan anak kita ini? Aku gak mau, ini anak kita mas. Masa kamu tega sih gugurin anak kamu sendiri, darah daging kamu sendiri?" ucap Jessica menolak.


"Ah saya gak perduli! Pokoknya kamu gugurin kandungan itu, dan saya akan memberikan semua yang kamu inginkan Jessica!" ucap Galen.


Jessica kembali menggelengkan kepalanya, ia tetap kekeuh tidak ingin menggugurkan bayi di dalam kandungannya itu dan dengan tegas menolak kemauan Galen. Bagi Jessica, bayi itu adalah sumber uang untuknya dan tak mungkin ia akan kehilangan bayi itu selamanya.




Libra akhirnya berhasil mengejar Ciara, ia cekal lengan wanita itu dari belakang dan membuat sang empu tidak bisa melanjutkan langkahnya. Libra menarik tubuh Ciara, memutarnya seraya menangkup wajah wanita itu dan menyeka air mata yang mengalir disana. Libra benar-benar sedih, ia tak kuat melihat istrinya menangis seperti itu.


Ciara memang merasa kesal dan kecewa dengan hasil tes tersebut, ia tak mengira jika hasilnya akan sesuai dengan ketakutan yang sedari tadi ia rasakan di dalam pikirannya. Ciara sangat sedih kali ini, karena bagaimanapun ia amat mengharapkan kehadiran seorang anak di hidupnya. Pastinya Ciara juga tak mau akan kehilangan orang tercintanya, hanya karena ia tidak bisa memberikan keturunan.


"Sayang, kamu jangan kayak gini dong! Kamu harus tenangin diri kamu, aku gak mau ada yang tahu mengenai masalah kita ini! Aku yakin pasti ada jalan keluarnya sayang, kamu pasti bisa hamil!" ucap Libra membujuk wanita itu.


Ciara menggeleng terisak, "Gimana lagi, om? Ini semua udah nyata, aku gak bisa hamil. Aku mandul om! Aku ini cuma istri yang gak berguna, aku gak pantas jadi istri om!" ucapnya.


"Hey hey, kamu jangan bicara begitu sayang! Semua itu gak bener, aku bahagia kok punya istri kayak kamu! Kamu itu sangat berguna buat aku, dan aku cinta sama kamu!" ucap Libra.


"Enggak om, lepasin aku! Aku ini wanita payah, gak berguna! Gimana bisa aku nyenengin kamu, kalau hamil aja aku gak bisa? Tujuan seseorang menikah itu untuk memiliki keturunan om, lantas gimana kalau aku aja sekarang mandul?" ucap Ciara.


"Itu bukan suatu masalah besar, Ciara. A-aku akan buktikan ke kamu, kalau aku ini setia sama kamu!" bujuk Libra.


Ciara langsung menyingkirkan tangan Libra dari tubuhnya, menatap wajah pria itu dengan serius sembari memperlihatkan betapa sedihnya ia setelah mengetahui bahwa dirinya tidak bisa mengandung. Kini Ciara mendorong tubuh Libra menjauh darinya, ia juga berkata kalau dirinya sedang tak ingin diganggu oleh Libra.


Akhirnya Ciara memutuskan pergi dari sana meninggalkan suaminya, ia melangkah dengan isak tangis yang terus mengaliri pipinya. Meski Ciara tak tahu akan kemana, tetapi ia merasa bahwa saat ini yang ia perlukan hanyalah kesendirian dan ketenangan. Ciara pun menghilang dari pandangan Libra, membuat lelaki itu terlihat panik lalu berniat kembali mengejarnya keluar.


Namun, lengannya tiba-tiba ditahan dari belakang oleh seseorang yang entah siapa. Libra sontak terkejut, apalagi saat ia menoleh dan menemukan sosok Gita tengah berdiri di belakangnya sembari memegang tangannya. Gita tampak tersenyum ke arah pria itu, kemudian menanyakan apa yang terjadi padanya dan juga Ciara.


"Libra, sebentar dulu! Aku penasaran deh, itu Ciara kenapa lari-lari sambil nangis kayak gitu? Kalian ada masalah lagi, ya?" ujar Gita.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2