Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 145. Meledak


__ADS_3

Tiara yang merasa tidak enak dengan Salma, akhirnya memilih pamit dan tidak jadi melanjutkan makan siang bersama Adrian di restoran itu. Tiara sadar akan statusnya saat ini, dan tentu Tiara tak mungkin duduk satu meja bersama mereka berdua. Apalagi, sikap Salma tadi seolah menunjukkan bahwa wanita itu sangat tidak menyukai dirinya.


Tiara pun mengambil tas miliknya yang tertinggal di atas kursi, dengan tegasnya ia mengatakan pada Adrian serta Salma bahwa ia akan pergi saat ini. Hingga kini Tiara masih tak mengerti, mengapa orang-orang yang memiliki jabatan tinggi dan kekayaan bisa bersikap sombong seperti itu. Padahal, semua yang mereka miliki juga hanya sementara dan barang titipan Tuhan.


Dengan berat hati Adrian mengiyakan ucapan Tiara, meski sebenarnya Adrian masih ingin meneruskan makan siangnya itu bersama Tiara. Entah mengapa Adrian lebih nyaman berada di dekat Tiara, dibanding Salma yang merupakan kekasihnya. Sepertinya Adrian juga telah mulai menyukai wanita itu, tetapi ia masih belum menyadarinya saja.


Disaat hendak melangkah keluar, Tiara tanpa sengaja berpapasan dengan Libra yang tampaknya baru tiba di restoran itu. Sontak saja Tiara terkejut dan spontan menghentikan langkahnya, ia tak menyangka akan bertemu Libra disana. Begitu juga dengan Libra, pria itu tersenyum dan menyapa iparnya dengan lembut sebelum bersiap menyampaikan kabar yang mengerikan itu.


"Eh Libra, kamu kok bisa ada di restoran dekat kantor aku sih? Oh atau kamu mau makan siang juga ya disini?" tanya Tiara penasaran.


"Haha, sebenarnya enggak sih Tiara. Saya itu kesini memang sengaja mau temuin kamu, soalnya tadi pas saya ke kantor kamu katanya kamu lagi istirahat makan siang disini," jelas Libra.


Tiara manggut-manggut paham, namun ia masih bingung mengapa Libra mengatakan ingin menemui dirinya. Padahal, selama ini mereka saja jarang bertemu kecuali ada acara keluarga atau Libra yang mampir ke rumah bersama Ciara sang istri. Tiara pun mengernyitkan keningnya, seolah bertanya apa keperluan Libra ingin menemuinya.


"Ada apa sih Libra, kok kamu sampai rela jauh-jauh datang kesini buat temuin aku? Ada sesuatu yang penting ya, atau apa?" tanya Tiara amat penasaran.


Libra tampak celingak-celinguk menatap sekitar, kemudian dengan cekatan ia menarik tangan Tiara dan mengajaknya ke tempat yang agak sepi. Wanita itu menurut saja mengikuti langkah Libra, meski dia agak bingung apa sebenarnya yang hendak dibicarakan oleh Libra saat ini. Ya keduanya terus melangkah, sampai akhirnya Libra berhenti ketika mereka tiba di parkiran resto.


"Nah, disini kayaknya aman. Kita bicara disini aja ya Tiara?" ucap Libra.


Libra mencoba tenang sebelum bicara dengan Tiara saat ini, ia berusaha membuat Tiara agar tidak terkejut nantinya jika mendengar kabar itu. Libra tentu tak mau Tiara sampai panik setelah mengetahui bahwa ada bom di dalam mobilnya, apalagi Libra sendiri juga belum tahu dimanakah bom itu berada.


"Sebenarnya ada apa sih Libra? Kamu kok kayak tegang banget begitu, emangnya apa yang mau kamu sampaikan ke aku?" tanya Tiara bingung.


"Saya dapat info dari Ciara tadi, dia bilang kalau katanya ada bom di mobil kamu. Makanya saya diminta datang kesini buat susulin kamu, Ciara khawatir kalau kamu kenapa-napa karena bom itu!" jawab Libra.


"Apa? Bom??" Tiara benar-benar syok dengan apa yang disampaikan Libra barusan.


"Benar Tiara, sekarang dimana mobil kamu? Kita harus coba cari letak bom itu, sebelum nantinya akan membahayakan kamu!" ucap Libra.


Deg


Seketika Tiara teringat kalau saat ini mobilnya sedang dibawa oleh Syahrul alias supir yang mengantarnya tadi, sontak Tiara merasa panik dan mencemaskan kondisi Syahrul sekarang. Tiara sungguh khawatir jika bom itu akan meledak ketika Syahrul tengah membawanya, maka pasti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada pria itu.


"Kenapa kamu diam Tiara? Dimana mobil kamu sekarang? Ini gawat banget loh!" heran Libra.


"Eee mobil aku udah dibawa pulang sama pak Syahrul, tapi aku juga gak tahu dia sekarang dimana dan selamat atau enggak," jawab Tiara.


Libra tersentak mendengar pengakuan Tiara, ia kini bingung harus melakukan apa demi bisa menyelamatkan Syahrul. Ia sendiri juga tak tahu kemana Syahrul membawa mobil itu saat ini, sehingga Libra hanya bisa berdiam diri sembari mengusap rambutnya.


Drrrtt drrrtt


Tiba-tiba saja, ponsel milik Libra berdering dan membuat pria itu reflek mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Libra menatap ke arah layar, lalu mendapati nama istrinya disana. Tanpa berpikir panjang, Libra segera mengangkat telpon itu karena ia juga hendak memberi kabar mengenai mobil Tiara yang dibawa oleh Syahrul.


📞"Ya halo sayang! Ini aku baru ketemu sama Tiara, tapi katanya mobil yang dia pakai udah dibawa pulang sama pak Syahrul," ucap Libra di telpon.


📞"Iya aku tahu mas, barusan mama ditelpon sama kepolisian, katanya ada korban dari mobil meledak di sekitar jalan ceri raya. Dan korban itu pak Syahrul, alias supirnya kak Tiara," ucap Ciara terisak.


Saat itu juga Libra langsung terkejut dan menganga lebar, ia tak menyangka secepat ini bom di mobil Tiara meledak dan mengakibatkan nyawa Syahrul harus hilang karena ledakan bom tersebut.

__ADS_1


•


•


Selepas memberitahu Libra mengenai info yang didapat oleh mamanya tadi, Ciara kini kembali menemui Nadira yang duduk di sofa sambil terisak. Ciara benar-benar terharu dengan apa yang dialami Nadira saat ini, ia tahu kalau mamanya pasti sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Syahrul yang sampai membuat pria itu meregang nyawa.


Ciara pun berusaha menghibur Nadira saat ini, karena bagaimanapun semua yang terjadi bukanlah kesalahan Nadira. Ciara tak mau jika Nadira terus menyalahkan dirinya sendiri, apalagi sampai bersedih seperti itu. Kini Ciara menatap wajah mamanya, perlahan menyentuhnya lalu memeluk tubuh Nadira sembari mengusapnya lembut.


"Ma, udah ya mama jangan salahin diri mama sendiri! Mama juga gak boleh sedih kayak gini, aku lihatnya jadi ikutan sedih tahu!" ucap Ciara lirih.


Nadira menoleh ke arahnya, terlihat jelas air mata menggenang di pipinya akibat tangisan yang terus ia lakukan sedari tadi. Ciara tentu merasa amat sedih, wanita itu tidak ingin jika Nadira terus-menerus menangis seperti itu. Namun, Ciara juga bingung harus melakukan apa untuk membuat mamanya itu terhibur dan berhenti menangis saat ini.


"Iya sayang, mama cuma sedih sekaligus gak nyangka aja ini bakal terjadi. Padahal, Syahrul itu kan salah satu pengawal senior yang ada di rumah ini sayang," ucap Nadira.


"Sabar ya ma, mungkin ini emang udah takdir Tuhan! Kita kan gak bisa berbuat apa-apa," ucap Ciara.


Nadira mengangguk paham, lalu perlahan Ciara mulai mengeratkan pelukannya pada sang mama sambil terus membujuk Nadira untuk tenang. Meski begitu, Nadira juga masih kesulitan untuk bisa melupakan semuanya. Kepergian ini terlalu cepat, apalagi setelah sebelumnya Nadira juga bersedih karena kepergian Nindi adik dari Tiara.


"Oh ya, terus tadi kata polisi apa ma? Jenazah pak Syahrul mau langsung dibawa ke rumah sakit atau gimana?" tanya Ciara penasaran.


"Ya sayang, nanti kamu ikut mama ya? Kita ke rumah sakit bareng-bareng!" pinta Nadira.


"Iya ma, pasti aku bakal temenin mama dong. Aku juga kan pengen lihat pak Syahrul untuk yang terakhir kalinya. Tapi ma, mama udah kabarin pihak keluarga pak Syahrul?" ucap Ciara.


"Tadi mama sudah perintahkan Liam untuk melakukan itu, kamu tenang aja!" ucap Nadira.


"Ohh, yaudah kalo gitu aku mau siap-siap dulu ya ma?" ucap Ciara pamit yang kemudian diangguki oleh mamanya.


"Ma, siapa yang telpon?" tanya Ciara yang kembali mendekati mamanya itu.


Nadira menggeleng perlahan, "Mama juga gak tahu, ini nomor asing yang gak ada di kontak mama. Coba deh mama angkat dulu," ucapnya.


"Iya ma, tapi di loud speaker ya!" pinta Ciara.


Nadira mengangguk dan mulai mengangkat telpon dari nomor yang tidak dikenal itu, ya tentu saja ia menyetel ke dalam mode loud speaker agar Ciara dapat mendengarnya.


📞"Halo! Ini siapa ya? Kenapa anda telpon saya?" tanya Nadira dengan ketus.


📞"Hahaha, apa kabar bu Nadira yang cantik? Saya yakin anda pasti sedang cemas sekarang setelah meninggalnya salah satu anak buah ibu itu kan? Selamat ya bu, tapi ini baru awal dari segelintir rencana yang sudah saya sediakan! Bersiap sedia saja bu, karena selanjutnya akan ada yang lebih seru dari sekedar teror kecil ini!" ucap seseorang di dalam telpon yang terdengar seperti lelaki.


Seketika Nadira dan juga Ciara sama-sama terkejut mendengar ucapan si penelpon asing tersebut, mereka tak mengerti apa maksud si penelpon mengatakan itu dan rencana apa yang sedang dibuat oleh orang itu untuk mereka.


📞"Hey! Kamu ini siapa sebenarnya? Rencana apa yang kamu maksud itu, ha?" tanya Nadira tegas.


📞"Anda tunggu saja sampai waktunya nanti tiba, anda pasti akan tahu apa yang sedang saya rencanakan!" ucap si pria.


📞"Tolong jangan permainkan saya ya! Kamu jawab pertahanan saya sekarang juga!" sentak Nadira.


Ciara berusaha menenangkan mamanya itu agar tidak terbawa emosi, Ciara juga memijat serta mengusap lembut punggung Nadira saat ini. Meski Ciara sendiri juga penasaran siapa orang yang ada di telpon itu, tetapi Ciara pun tidak ingin mamanya sampai emosi karena ucapan aneh si penelpon.

__ADS_1


📞"Sampai sini saja dulu ya, ibu Nadira yang cantik? Nantikan kejutan selanjutnya dari saya, selamat siang!" ucap si penelpon.


📞"A-apa maksud kamu? Hey, tunggu!"


Tut Tut Tut


Telpon lebih dulu dimatikan oleh si penelpon, sehingga Nadira yang panik belum sempat mendapatkan jawaban apa-apa dari penelpon itu. Nadira sangat yakin jika orang menghubunginya tadi adalah orang yang sama dengan pelaku penebar ancaman beberapa waktu lalu, namun ia masih heran siapa sebenarnya orang itu.


"Siapa sih orang itu tadi? Apa coba yang dia maksud?" gumam Nadira terheran-heran.


"Aku juga gak tahu ma, tapi mungkin kak Galen tahu. Soalnya dia aja bisa lebih dulu tahu soal bom yang ada di mobil kak Tiara," ucap Ciara.


Nadira spontan menatap wajah putrinya, ada benarnya juga apa yang diucapkan Ciara tadi mengenai Galen.


•


•


Disisi lain, Galen masih tampak cemas dan begitu mengkhawatirkan kondisi Tiara saat ini. Ya sebelumnya Galen memang mendapat info dari Farrel mengenai pemasangan bom yang dilakukan oleh anak buah Bagas pada mobil milik Tiara, tentu saja hal itu membuat Galen amat khawatir dan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Tiara.


Pria itu terus memandangi layar ponselnya, menanti kabar dari Ciara sang adik untuk mengetahui kondisi mantan istrinya yang sedang dalam bahaya. Meski saat ini diantara Galen dan Tiara sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, namun Galen tetap akan sangat merasa sedih bila nantinya sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada wanita itu.


Kini Galen tengah terduduk di kursi rodanya tepat pada halaman depan rumahnya, pria itu masih bingung sekaligus penasaran memikirkan kondisi mantan istrinya. Galen terus saja berharap Ciara untuk segera menelponnya dan memberi kabar mengenai Tiara, namun nyatanya hingga kini Ciara tak kunjung melakukan itu padanya.


"Ciara kemana sih? Gak tahu apa dia kalau saya lagi nungguin kabar dari dia sekarang? Saya cemas banget sama Tiara, saya gak mau terjadi sesuatu yang buruk sama dia!" gumam Galen tampak kesal.


"Mas Galen!" tiba-tiba saja, Galen terkejut saat ada suara perempuan yang memanggil namanya.


Galen langsung menoleh ke arah belakang tempat suara itu berasal, ia menatap heran ketika melihat Jessica berada disana. Apalagi, kini Jessica melangkah makin dekat ke arahnya disertai senyum melingkar pada kedua pipinya. Galen berusaha menenangkan dirinya, ia tak mau Jessica sampai tahu kalau saat ini ia tengah memikirkan Tiara.


"Mas, kita berangkat sekarang aja yuk!" Jessica langsung mengajak Galen pergi dan membuat pria itu terbelalak bingung.


"Berangkat? Memangnya kita mau kemana Jessica?" tanya Galen keheranan.


"Ish, tuh kan kamu pelupa! Kamu gak ingat apa kalau tadi aku mau minta antar kamu checkup ke dokter? Ini tuh jadwal cek kandungan aku mas, kamu mau kan temenin aku?" jawab Jessica.


"Oh iya ya, maaf aku lupa karena tadi aku lagi mikirin masalah kerjaan! Ya pasti aku mau temenin kamu Jessica, tapi aku ke kamar dulu ya?" ucap Galen.


"Ya mas, ayo aku antar!" ucap Jessica.


Galen menurut saja saat Jessica mendorong kursi rodanya dan membawa lelaki itu ke dalam kamar tempatnya beristirahat, namun sepanjang jalan lagi-lagi Galen masih saja memikirkan sosok Tiara dan terus berdoa untuk kebaikan wanita itu. Biar bagaimanapun, hingga kini Galen masih sangat mencintai Tiara dan belum bisa melupakannya.


"Mas, kapan sih kamu mau nikahin aku secara resmi? Kita tinggal bareng udah hampir sebulan loh, tapi status kita masih belum jelas. Kalau nanti orang-orang pada curiga gimana mas? Aku gak mau ya kita digrebek," ucap Jessica.


Deg


Galen terkejut dan semakin bingung mendengar perkataan aneh Jessica barusan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2