
Beberapa bulan kemudian...
Setelah menunggu waktu cukup lama, kini tibalah saatnya hari dimana Ciara akan mengadakan acara kelulusan di sekolahnya. Ya Ciara yang cantik itu sudah menyelesaikan ujiannya dan akan segera diberi anugerah kelulusan, gadis itu berhasil lulus dari sekolahnya dengan nilai tertinggi dari semua murid satu angkatannya. Bahkan, ia mendapat nilai sempurna pada mata pelajaran matematika.
Saat namanya disebut oleh kepala sekolah, sorak sorai pun terdengar disertai tepukan tangan. Ciara sangat bangga ketika dirinya naik ke atas panggung dan berdiri di hadapan banyak orang, ia tersenyum menghampiri kepala sekolah lalu mengambil sertifikat kelulusannya. Ia berfoto sejenak disana dan tak lupa berpidato, tentunya kedua orang tua serta kakaknya amat bangga pada kesuksesan gadis itu. Termasuk juga Libra, kekasih yang ia cintai.
Kini gadis itu telah resmi lulus, dan ia pun turun dari panggung untuk menemui keluarganya. Tanpa banyak bicara, Ciara segera memeluk Nadira dengan erat dan meluapkan kebahagiaannya. Ia benar-benar bahagia saat ini, dan tak ada yang dapat mengalahkan rasa bahagianya itu. Ciara juga berganti memeluk ayah serta kakaknya, meski Gavin bukanlah sosok ayah kandung dirinya. Namun, Ciara telah menganggap Gavin sebagai ayahnya.
"Ciara, selamat ya atas kelulusan kamu! Aku bangga banget sama kamu, selain cantik ternyata kamu juga pintar ya!" ucap Libra memuji kekasihnya.
Ciara tersenyum dibuatnya, ia pun beralih menatap sang paman dan mendekat ke arahnya. Galen serta yang lainnya membiarkan saja gadis itu bergerak menghampiri Libra, menurut mereka inilah saat yang tepat bagi Ciara untuk lebih dekat menjalin hubungan dengan Libra. Ya setelah menunggu lama, pastinya Libra tidak ingin lagi kehilangan kesempatan untuk bisa memiliki Ciara seutuhnya.
"Iya sayang, makasih banyak atas pujiannya. Aku bisa kayak gini itu gak lepas dari peran yang lainnya, terutama support dari kamu juga sayang. Kamu kan yang selalu nemenin aku waktu belajar," ucap Ciara.
"Ahaha, tetap aja semuanya berkat kerja keras dan usaha kamu sendiri sayang. Kamu itu memang wanita cerdas, aku bangga sama kamu!" ucap Libra.
"Udah ah gausah berlebihan gitu, aku ini cuma wanita biasa tau. Kalau om dan yang lain terus puji aku, nanti aku jadi besar kepala loh. Lagian hidup aku belum selesai sampai disini aja," ucap Ciara.
"Benar itu Ciara, kakak harap kamu bisa terus lanjut sampai menjadi sarjana nantinya!" sahut Galen.
Ciara tersenyum menatap sang kakak, sebab itulah memang yang menjadi cita-citanya selama ini dan akan berusaha ia raih. Libra juga sudah berjanji pada Ciara sebelumnya, bahwa dia akan setia menunggu sampai gadis itu menjadi sarjana nantinya. Ya sebelum itu terwujud, tentunya Ciara belum ingin menikah baik dengan Libra atau siapapun itu.
"Ciara!" tiba-tiba saja, seseorang datang mendekat dan menyapa gadis itu dengan lembut.
Sontak Ciara menolehkan kepalanya ke asal suara, ia melihat dan menemukan sosok Terry yang merupakan gurunya di sekolah itu. Kini Terry berdiri tepat di hadapannya, menatap serius ke arah gadis itu sambil tersenyum lebar. Tak lama kemudian, pria itu menyodorkan tangannya sembari memberi selamat kepada Ciara atas kelulusannya.
"Selamat ya Ciara, saya bangga dengan kamu karena kamu berhasil lulus dari sekolah ini sebagai murid paling pandai! Saya juga merasa bangga, karena saya pernah mengajari kamu!" ucap Terry.
Ciara pun mengangkat tangannya meraih telapak tangan pria itu, "Makasih ya pak, aku begini juga gak lepas dari peran bapak!" ucapnya pelan.
Keduanya saling bertatapan dan bersalaman, Terry merasa senang lantaran ia dapat bersentuhan langsung dengan gadis yang selama ini ia cintai meski tak dapat ia miliki. Rasanya Terry juga ingin memeluk gadis itu, akan tetapi ia tak mungkin bisa melakukan itu di hadapan banyak keluarganya. Akhirnya, Terry mengalah dan hanya menawarkan jabat tangan dengan Ciara kali ini.
•
•
Malam di hari kelulusan Ciara, pihak keluarga telah memutuskan untuk mengadakan pesta perayaan lulusnya Ciara itu di rumah Nadira. Ya semua teman serta saudara gadis itu pun diundang kali ini, karena Nadira berniat ingin membuat putrinya merasa bahagia setelah apa yang berhasil dia capai. Bahkan beberapa teman-teman masa kecilnya juga turut datang kesana untuk mengucapkan selamat, begitu pula dengan Libra yang merupakan kekasihnya.
Namun, Libra dibuat terkejut dengan kehadiran Bella sang mantan yang ada di tempat itu. Tentu saja Libra tahu apa niat busuk Bella kali ini, sehingga ia memilih menghampiri wanita itu sebelum semuanya terlambat dan acara pesta Ciara gagal terlaksana. Libra langsung menemui Bella sesaat setelah wanita itu turun dari taksinya, Libra bahkan menarik tangan Bella menjauh dari rumah kakaknya karena ia tak ingin Bella merusak semua acara yang ada.
"Libra, kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu tarik-tarik aku kayak gini coba? Aku tuh cuma pengen kasih selamat ke Ciara, biar gimanapun dia juga udah aku anggap keponakan aku sendiri loh," protes Bella.
Libra berhenti dan menatap wanita itu dengan tajam, "Diam kamu Bella! Aku tahu maksud kamu yang sebenarnya datang kesini, pasti kamu mau jadi pengacau kan di acara pesta Ciara ini! Ngaku aja deh kamu!" ucapnya membentak.
"Ish, lepasin aku Libra! Sakit tau! Kamu lagian kenapa mikirnya begitu sih? Aku gak pernah ya ada niatan buat jadi pengacau, justru Ciara yang udah mengacaukan hubungan kita!" tegas Bella.
__ADS_1
"Gausah dibahas lagi Bella, hubungan kita berakhir itu bukan karena Ciara. Tapi, karena kesalahan kamu sendiri. Andai saja kamu tidak selingkuh di belakang aku, mungkin sekarang cincin yang melingkar di jari Ciara itu ada di kamu Bella!" ujar Libra.
Deg
Bella tersentak, memang benar yang dikatakan Libra bahwa penyebab putusnya hubungan mereka adalah dirinya. Bella terlalu sulit menahan gairah yang terus mencuat, sampai-sampai ia rela bersetubuh dengan laki-laki lain demi menuntaskan gairahnya itu. Saat itu juga Bella menangis, ia benar-benar menyesal karena sudah melakukan kesalahan yang amat besar sampai kehilangan kekasih yang ia cintai.
"Buat apa kamu menangis, hm? Aku gak akan pernah kasihan sama kamu, ayo mending kamu ikut aja sama aku!" ucap Libra tegas.
Bella hanya bisa pasrah kali ini, ia terima kemanapun Libra akan membawanya. Pria itu pun membawa Bella masuk ke dalam mobilnya, dan bergegas pergi dari sana dengan kecepatan tinggi. Sejujurnya Libra masih ingin disana menemani Ciara, tetapi ia harus melakukan semua ini demi bisa menyelamatkan acara yang diadakan kakaknya itu.
"Libra, kamu sebenarnya mau bawa aku kemana?" tanya Bella penasaran.
"Ke suatu tempat, dimana kamu bisa tenangin diri kamu dari amarah yang gak jelas. Aku gak mau aja, wanita yang pernah aku cintai ini sekarang jadi dipenuhi oleh dendam," jawab Libra.
"Ta-tapi, aku gak dendam sama siapa-siapa kok. Kamu salah menilai aku," elak Bella.
"Sudahlah, kamu diam dan nurut aja sama aku!" sentak Libra.
Bella mengangguk pasrah, lalu mulai menebak-nebak kemana kiranya Libra akan membawanya saat ini. Dan kemudian, mobil yang mereka tumpangi itu berhenti di depan sebuah bar yang dahulu biasa mereka datangi. Bella terkejut tentu, ia menatap ke arah Libra seolah bertanya-tanya mengapa pria itu membawanya kesana disaat mereka sudah putus.
"Ini maksudnya apa Libra? Kenapa kamu bawa aku kesini, ha?" tanya Bella dengan bingung.
"Cuma di tempat ini dulu aku bisa bikin kamu tertawa bahagia, jadi mungkin aja semua itu bisa aku lakukan kembali sekarang," jawab Libra.
"Okay, ayo kita masuk dan minum-minum di dalam!" ajak Bella.
•
•
Keesokan paginya, Libra terbangun dan terkejut saat ia menyadari bahwa kini ia berada di sebuah kamar yang asing dan entah dimana. Libra sungguh tak mengenali tempat itu, bahkan rasanya ia belum pernah datang kesana. Pria itu terus mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, namun entah kenapa rasanya sulit sekali.
Libra memegangi kepalanya dan meringis menahan sakit, ia sibak selimut dari tubuhnya lalu terkejut karena saat ini ia hanya mengenakan celana boxer tanpa apa-apa lagi. Kembali ia menatap sekeliling, dan seingatnya malam tadi ia datang ke bar bersama Bella. Akan tetapi, ia heran mengapa saat ini ia malah berada di kamar seorang diri.
"Aaarrrgghhh, kenapa saya bisa ada di kamar ini sih? Apa coba yang terjadi semalam?" gumam Libra berusaha terus mengingat kejadian semalam.
Ceklek
Tiba-tiba saja, terdengar suara pintu terbuka dari arah kamar mandi. Sontak saja Libra menoleh karena terkejut, ia syok melihat Bella keluar dari sana dengan memakai bathrobe berwarna abu-abu. Libra pun terheran-heran, ia bingung apa yang terjadi sehingga mereka bisa berada di kamar yang sama saat ini dan dalam kondisi aneh.
"Bella, ka-kamu juga ada disini? Ini ada apa sih? Kenapa kita malah di kamar ini?" tanya Libra.
Bella tersenyum dan melangkah menghampiri Libra disana, ia terduduk di pinggir ranjang tepat di dekat pria itu. "Loh kamu lupa ya? Semalam kan kamu mabuk dan akhirnya kita ngelakuin itu," jawabnya dengan santai.
"Apa? Kamu jangan ngada-ngada deh Bella, gak mungkin aku ngelakuin itu sama kamu! Emangnya kamu pikir aku ini laki-laki apaan?" kesal Libra.
__ADS_1
"Kamu gak percaya? Semalam itu kamu mabuk loh, wajar kalau kamu gak sadar sih," ujar Bella.
"Mabuk? Haha, semalam aja aku cuma minum es lemon. Gimana bisa aku mabuk coba? Ini pasti ulah kamu kan Bella? Kamu jebak aku?" ucap Libra.
Bella menggeleng sambil terkekeh, "Buat apa aku jebak kamu? Emang bener kok kamu mabuk, terus kamu langsung berubah jadi bringas dan ajakin aku ke kamar. Kalau kamu gak percaya, silahkan tanya sama semua petugas di bar ini!" ucapnya.
Libra terdiam seraya memalingkan wajahnya, ia bingung haruskah ia percaya pada perkataan Bella atau tidak. Jujur saja Libra sangat tidak mempercayai ucapan itu, tetapi ia pun juga tak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam pada mereka. Kini Libra bangkit, mencoba untuk pergi dari sana karena ia benar-benar bingung.
"Kamu mau kemana sih Libra? Udah kamu disini aja, aku masih nyaman tahu ada di dekat kamu! Lagian apa kamu gak ingat kalau semalam itu kamu keenakan sama goyangan aku?" ujar Bella.
"Bel, cukup ya! Aku gak akan pernah percaya sama kamu, jadi tolong kamu biarin aku pergi!" ucap Libra.
Bella tidak bisa melakukan apa-apa lagi saat ini, ia hanya membiarkan Libra beranjak dari ranjang dan memakai pakaiannya semula. Setelah itu, Libra pun pergi dengan perasaan kesal karena ia tak tahu apa yang terjadi semalam. Pria itu terus mengacak-acak rambutnya, berusaha mengingat kembali peristiwa semalam walau rasanya sangat sulit.
"Kena kamu Libra, ini semua baru permulaan dari kehancuran hubungan kamu dan Ciara!" gumam Bella dalam hatinya.
•
•
Disisi lain, Gavin baru saja selesai menebus Davin keluar dari penjara. Meski butuh waktu yang cukup lama, tetapi Davin merasa bahagia karena akhirnya ia dapat kembali menghirup udara bebas. Kini Davin pun tampak merentangkan kedua tangannya dan menatap langit disertai senyuman lebarnya, sedangkan Gavin hanya memperhatikan dari dekat.
Sejujurnya Gavin tidak ingin melakukan itu, tapi desakan dari Davin yang terus saja mengingatkan dirinya mengenai pesan dari sang ayah membuat Gavin tak berkutik. Gavin pun terpaksa menyuruh pengacaranya untuk membebaskan Davin dari penjara, dengan catatan Davin harus berjanji padanya kalau dia tidak akan mengganggu Ciara ataupun Libra lagi.
"Haaahhh lega banget, akhirnya gue bisa balik hirup udara segar! Berbulan-bulan di penjara rasanya tuh gak enak, bang. Kalau lu gak percaya, silahkan aja lu cobain sendiri sana!" ucap Davin penuh bahagia.
Gavin tersenyum seraya melangkah ke dekat adiknya, "Vin, syukurlah kalau kamu udah tahu rasanya di penjara itu kayak gimana. Sekarang aku minta ke kamu, tolong berubah dan stop ganggu Ciara! Biarkan dia bahagia dengan pilihannya, kamu gak boleh paksa dia lagi!" ucapnya tegas.
"Lu tenang aja bang, itu semua gak akan terjadi kok. Gue udah buang jauh-jauh semua kenangan gue sama Ciara, jadi lu gak perlu panik!" ucap Davin.
"Baguslah, aku harap kamu bisa memegang kata-kata kamu. Yasudah, ayo sekarang aku antar kamu ke apartemen! Atau mungkin kamu mau pulang ke rumah?" ujar Gavin.
Davin menggeleng pelan, "Tidak usah, kak. Gue bisa pulang sendiri, lu mending balik aja sana terus balik ke tempat istri lu!" ucapnya menolak.
"Yakin kamu bisa sendiri?" tanya Gavin curiga.
"Iya kak, gue tinggal cari taksi. Lu kan udah kasih gue uang tadi buat biaya hidup, jadi lu gausah khawatir tentang gue!" jawab Davin mantap.
"Ya okay, kalo gitu aku pergi duluan. Ingat ya Vin, kamu harus pegang kata-kata kamu!" ucap Gavin.
Davin menganggukkan kepalanya, kemudian Gavin pun pergi dari sana dengan mobilnya meninggalkan sang adik begitu saja. Meski sebenarnya Gavin masih belum bisa percaya seratus persen pada adiknya itu, namun ia berharap kalau Davin tidak akan lagi melukai Ciara atau mengganggunya. Jika sampai itu terjadi, maka Gavin tidak akan pernah memaafkan Davin dan ia sendiri lah yang akan memberi hukuman kepada Davin nantinya.
"Davin!!" tiba-tiba saja, suara seorang wanita terdengar di telinganya dan membuat Davin terkejut bukan main.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...