
Besoknya, Bella mendatangi taman tempat dimana ia bisa menenangkan diri dan melupakan Libra yang selalu saja mengganggu hatinya. Meski sulit, namun Bella harus terus belajar demi bisa membiasakan dirinya tanpa Libra di sisinya. Bella pun terduduk di kursi kosong yang tersedia disana, menyandarkan punggungnya sembari mendongakkan kepala untuk bersantai menenangkan diri.
Gadis itu terus mengingat momen mesra yang ia alami bersama Libra dulu, semuanya terasa begitu menyulitkan bagi Bella karena kini ia harus mulai terbiasa dengan kesendiriannya. Baru saja ia berusaha tenang, akan tetapi melihat banyaknya pasangan kekasih disana justru membuat Bella kembali merasa sedih dan teringat pada sosok Libra yang merupakan mantan kekasihnya.
"Aih, kayaknya gue salah tempat deh datang kesini. Banyak banget orang pacaran, mana mesra semua lagi. Yang ada gue bisa iri lihat mereka disini," gumam Bella dalam hati.
Akhirnya gadis itu memutuskan memejamkan mata, mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha melupakan semua yang terjadi. Jujur Bella menyesal telah berkhianat dari Libra yang sangat ia cintai, jika saja semua akan berakhir seperti ini tentunya Bella tidak mungkin berselingkuh hanya demi mencapai kepuasan sesaat yang malah menyebabkan hidupnya hancur berkeping-keping seperti ini.
"Permisi!" tiba-tiba saja, suara berat terdengar di telinganya dan membuat gadis itu terkejut.
Sontak Bella membuka matanya, ia bertambah kaget ketika menyadari Davin lah yang ada di depannya saat ini. Pria itu terlihat tersenyum ke arahnya dan menatapnya hangat, Bella langsung beranjak dari tempat duduknya menemui pria itu dan membalas senyumnya. Meski ada sedikit rasa heran di dalam hati Bella, pasalnya ini seperti bukan sebuah kebetulan saat mereka bertemu kembali.
"Loh Davin, kok kamu bisa ada disini? Eee apa kamu mau ketemu seseorang ya? Kebetulan banget kita bisa ketemu lagi," ucap Bella.
"Ya betul, tadinya saya ada janji disini dengan teman saya. Tapi, saya gak tahu kenapa tiba-tiba dia batalin gitu aja pertemuan itu. Ya akhirnya saya milih buat pulang deh, eh tapi saya gak sengaja malah lihat kamu ada disini," jelas Davin.
"Oh begitu," singkat Bella.
"Kamu sendiri gimana? Kesini sama siapa atau mau ketemu siapa?" tanya Davin balik.
"Eee sa-saya..."
Davin tersenyum dan melangkah ke dekat gadis itu, ia memberanikan diri menaruh tangan di pundak Bella lalu mengusapnya perlahan. Bella diam saja, rasanya dia seperti terhipnotis oleh sikap lembut Davin yang memang sengaja ingin mengambil perhatiannya. Bella tak sadar jika apa yang dilakukan Davin saat ini hanya untuk mencari muka.
Pria itu juga semakin berani, dua tangannya bergerak mengelus wajah Bella sembari menyeka air mata yang menetes dari sana. Bella pun tersadar, ia kini memalingkan wajahnya sehingga Davin terpaksa menurunkan tangannya karena tahu jika Bella sudah mulai merasa tidak nyaman. Tentu Davin tidak ingin semua rencananya gagal, maka dari itu dia memilih menahan diri sampai Bella benar-benar percaya padanya dan bisa membantunya.
"Maafkan saya kalau saya lancang, tapi saya paling tidak bisa melihat perempuan menangis. Itu sebabnya tadi saya usap air mata kamu, karena wanita seperti kamu tidak pantas menangisi pria yang sudah menyakiti kamu!" ucap Davin pelan.
Bella mengangguk dengan mata berkaca-kaca, "Ah ya gapapa, justru saya mau bilang terimakasih karena kamu sudah perduli sama saya. Dan ya saya kesini emang sendiri kok," ucapnya.
"Oh okay, kamu pasti masih belum bisa melupakan mantan kamu itu ya?" ucap Davin menebaknya.
__ADS_1
"Eee ya seperti itulah, bagaimana mungkin saya bisa mudah melupakan seseorang yang sudah ada di hidup saya lumayan lama? It's something hard for me to do, Libra itu adalah laki-laki yang sangat saya cintai!" ucap Bella diiringi tetesan air mata.
"Saya paham kok, sekarang lebih baik kamu kembali duduk dan biar saya temani kamu disini! Apa boleh?" ucap Davin.
Tentunya Bella mengangguk, entah mengapa ia sudah mulai merasa nyaman berada bersama pria itu saat ini. Keduanya pun terduduk di kursi dan saling bersebelahan, Bella berusaha menghapus air mata dari wajahnya dengan menggunakan tisu yang ia bawa. Sedangkan Davin terdiam lebih dulu mengamati gadis itu dengan senyum penuh arti.
•
•
Saat ini Ciara tengah bersekolah seperti biasa, dan ia pun bersama kedua sahabatnya berniat pergi ke perpustakaan untuk mengisi waktu kosong mereka disaat tidak ada guru yang datang. Memang ini adalah kebiasaan Ciara, tetapi tentunya bukan merupakan sebuah kebiasaan bagi Cleo dan Anin yang lebih suka datang ke kantin atau tempat lain.
Namun, untuk kali ini kedua gadis itu terpaksa menuruti kemauan Ciara dan pergi ke perpustakaan karena tidak ada pilihan lain. Mereka pun masuk kesana bersama-sama, lalu memilih buku yang ingin mereka baca dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Suasana disana masih lumayan sepi, sebab ini memang belum memasuki waktu istirahat.
"Ci, kenapa sih lu suka banget baca buku di perpus kayak gini? Gak ada yang lain apa gitu yang lebih asyik sedikit?" tanya Cleo heran.
Ciara tersenyum berusaha menahan tawanya, "Aku emang hobi baca buku, Cleo. Kalian sendiri emang gak suka ya datang ke perpus? Padahal disini enak tau," jawabnya santai.
"Bener tuh, gue juga sama!" sahut Anin.
Ciara menggeleng-geleng pelan dibuatnya, ia pun berusaha fokus pada buku yang diambilnya tadi dan mulai membacanya secara perlahan. Begitu pula dengan Anin serta Cleo, keduanya tampak membuka buku mereka masing-masing dan membacanya meski tidak mengerti apa isinya. Ya kedua gadis itu memang mengambil buku secara asal, tanpa melihat isi depannya terlebih dahulu saat tadi.
"Duh, gue kok kepengen pipis ya? Apa gara-gara AC nya kedinginan kali?" keluh Anin.
"Sama sih gue juga, kita ke toilet dulu yuk! Sekalian lah kita bisa alasan sama Ciara buat kabur dari sini," ucap Cleo memberi ide.
"Bener juga lu, yaudah biar gue bicara sama Ciara dulu!" ucap Anin tersenyum.
Anin pun mendekati Ciara yang masih fokus membaca bukunya, ya tempat duduk disana memang cukup berjauhan satu sama lainnya meski tidak ada penghalang. Itu dirancang agar para murid yang masuk kesana bisa lebih fokus membaca, bukan kumpul-kumpul dan malah membicarakan orang lain seperti ibu-ibu komplek.
"Ci, Ciara!" Anin memanggil Ciara dengan teriakan pelannya, tentu karena di perpustakaan siapapun tidak boleh berisik termasuk mereka.
__ADS_1
Akhirnya Ciara menoleh karena penasaran, "Ya kenapa?" tanyanya heran.
"Gue sama Cleo ke toilet dulu, ya? Lu disini aja, nanti kita bakal balik lagi kok. Soalnya gue kebelet banget nih gara-gara AC nya kedinginan," jawab Anin.
"Oh oke, tapi jangan lama-lama ya! Aku agak takut sih kalo sendirian disini," ucap Ciara.
"Sip!" Anin mengacungkan jempolnya, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke luar bersama Cleo meninggalkan Ciara disana.
Ciara pun coba bersikap tenang dan kembali melanjutkan membaca bukunya, tetapi tanpa diduga suara deheman berat berhasil membuat gadis itu terkejut bukan main. Ciara bahkan sampai menjerit kecil saat menoleh dan melihat Terry di sampingnya, padahal sebelum ini ia tidak mengetahui jika ada orang lain di dalam perpustakaan itu selain dirinya.
"Ehem Ciara, ini saya loh bukan setan. Kenapa kamu mesti ketakutan gitu?" ujar Terry.
"Umm, ma-maaf pak. Abisnya bapak ngagetin saya aja sih, tadi perasaan gak ada siapa-siapa deh disini. Kok tiba-tiba bisa ada bapak?" ucap Ciara keheranan.
"Itu dia, ajaib kan saya?" sarkas Terry.
Ciara mengerucutkan bibirnya menatap ke arah Terry, sesaat kemudian Terry tertawa kecil dan ikut duduk di samping gadis itu. Sengaja Terry menggeser kursi agar bisa lebih dekat dengan Ciara, dan tidak ada protes dari Ciara karena dia memang terlalu polos untuk mengetahui niat atau alasan seseorang pria mendekatinya.
"Enggak lah bercanda, saya emang daritadi udah ada disini. Tuh tepatnya saya duduk di belakang, saya juga lihat kamu sama teman-teman kamu kok. Tapi, saya baru samperin kamu begitu mereka pergi tinggalin kamu," jelas Terry.
"Ohh," Ciara hanya ber-oh ria dan kembali menatap bukunya serta mengabaikan pria itu.
Terry pun menghembuskan nafas melalui mulutnya, dapat dirasa kalau dirinya amat jengkel dengan sikap dingin Ciara padanya. Sungguh Terry bingung harus melakukan apa lagi dalam upaya mendekati dan mendapatkan hati Ciara, karena sudah hampir berbagai macam cara ia gunakan, tetapi Ciara belum luluh juga dan amat sulit menaklukkannya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...Dapet pap dari Ciara ya guys, love you♥️...
__ADS_1