
Keesokan harinya, Cyra keluar kamar dengan baju seragam yang sudah rapih dan dikenakan di tubuhnya seolah bersiap untuk segera berangkat menuju sekolahnya. Gadis itu berjalan cepat menuruni tangga, menghampiri mama papanya yang sudah berada di meja makan lalu tak lupa menyapa mereka dan juga kedua adiknya yang memang sudah lebih dulu ada disana bersama orangtuanya.
Libra sampai geleng-geleng kepala melihat penampilan putrinya saat ini, ya itu karena Cyra sudah semakin besar dan terlihat sangat cantik. Libra pun tak merasa bahwa waktu bergerak sangat cepat, padahal dahulu Cyra itu masih kecil dan bahkan baru dilahirkan. Libra tampak terus tersenyum memandangi wajah putrinya, yang membuat Cyra seketika heran dan turut menatap ke arah papanya untuk memastikan apa yang terjadi.
"Ih papa kenapa sih? Kok aku nya dilihatin terus kayak gitu, ada yang salah ya sama penampilan aku sekarang?" tanya Cyra terheran-heran.
"Ahaha, enggak kok sayang. Papa cuma kaget aja lihat kamu yang sekarang, udah jauh beda banget dibanding Cyra yang dulu masih kecil dan manja. Sekarang kamu udah gede, terus makin cantik sama udah pintar dandan lagi!" ucap Libra memujinya.
"Papa bisa aja deh, aku jadi malu tahu!" ucap Cyra yang langsung tersipu dibuatnya.
Semua disana kompak tertawa melihat ekspresi Cyra saat ini, memang Cyra bisa dibilang sangat menggemaskan dan tak kalah dari kedua adik kembarnya itu. Ya sebagai informasi, Cyra memang sudah memiliki dua adik kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka bernama Adelia dan Adelio, tentu jika dipanggil Adel maka keduanya akan menoleh secara bersamaan.
"Oh ya Cyra, hari ini papa yang antar kamu langsung ke sekolah ya? Jadi, kamu gak perlu nunggu jemputan dari Askha karena papa udah bilang sama dia buat gausah kesini," ucap Libra.
"Oke pa! Tapi, terus Lia sama Lio gimana pa?" tanya Cyra penasaran.
"Ya sekalian aja papa antar juga bareng kamu, atau kalau gak keburu nanti biar papa suruh pak Yudha buat antar mereka," jawab Libra.
"Iya deh pa," Cyra mengangguk saja.
Lalu, mereka pun sama-sama menikmati santap pagi yang sudah disediakan oleh Ciara itu dengan sangat lahap. Terutama Adelia dan juga Adelio, karena mereka sangat menyukai masakan mamanya yang dapat dibilang begitu enak. Ciara sendiri sampai kewalahan, karena setiap hari kedua anak kembarnya itu terus saja meminta nambah.
Mereka tak hanya asyik menikmati sarapan, bahkan sesekali ada juga canda tawa diantara mereka sekeluarga yang membuat suasana makin seru. Ciara dan Libra tampak begitu bahagia dengan apa yang ada saat ini, rumah mereka yang tadinya sepi kini berubah menjadi sangat ramai dengan kehadiran tiga anak mereka itu.
Sebelumnya Ciara telah memberitahu pada Libra perihal Cyra yang bertemu dengan Davin, tak lupa Ciara juga meminta pada suaminya itu untuk melarang Cyra berdekatan dengan Davin. Ciara tampak sangat khawatir dengan keselamatan putrinya itu, apalagi ia tahu Davin adalah pria yang mesum dan sering sekali berbuat aneh.
Itulah alasan mengapa Libra ingin mengantar Cyra secara langsung ke sekolahnya, agar ia dapat menasehati gadis itu dan membuat Cyra mau menurut padanya. Dari dulu sampai sekarang, hanya Libra yang didengar oleh Cyra tanpa perlu banyak bicara atau harus berdebat cukup lama dengan putrinya tersebut.
Setelah selesai sarapan, Libra langsung mengajak Cyra untuk berangkat ke sekolah. Cyra pun menurut saja, ia beranjak dari kursi dan tak lupa mencium punggung tangan mamanya serta berpamitan pada wanita itu. Cyra juga mengecup pipi kedua adiknya, sebelum melangkah pergi bersama Libra menuju mobil yang terparkir di luar.
•
•
Di dalam mobil, Libra sesekali melirik ke arah putrinya yang tengah asyik bermain ponsel sambil tersenyum lebar itu. Libra menggeleng perlahan dengan sikap sang gadis, niatnya untuk mengobrol dengan Cyra pun terhalang lantaran gadis itu malah asyik sendiri dengan ponselnya sampai mengabaikan keberadaan Libra di sebelahnya.
Libra yang memiliki tingkat kesabaran tipis, sontak meraih ponsel itu dari tangan Cyra dan menyimpannya di tempat tersembunyi. Cyra pun merasa terkejut dengan tindakan papanya itu, ia langsung menoleh ke arah Libra dan tampak bingung serta bertanya-tanya mengapa Libra harus mengambil ponselnya itu.
"Papa, kenapa papa ambil ponsel aku? Emangnya salah ya kalau aku main ponsel disini? Kan mumpung masih belum di sekolah pa, jadi aku masih bebas main ponsel," protes Cyra.
"Sssttt, kamu dengerin dulu papa mau bicara sama kamu! Papa gak suka kalau kamu main hp pas ada papa di dekat papa, itu sama aja kamu gak anggap papa sayang. Udah sekarang kamu diam, terus dengerin papa!" tegas Libra.
"Hah? Papa mau ngomong apa sih sama aku?" tanya Cyra penasaran.
"Kata mama, kemarin kamu ketemu sama laki-laki yang namanya om Davin ya? Terus kamu senang banget bisa dekat sama dia?" ujar Libra serius.
Deg
Cyra langsung terdiam saat itu juga, ia memalingkan wajahnya ke arah lain dan kesulitan untuk bisa menjawab pertanyaan papanya. Cyra khawatir kali ini Libra akan memarahinya karena hal itu, padahal rasanya tak salah jika ia memang berkenalan dengan seseorang yang sudah baik padanya dan mau menolongnya disaat ia butuh bantuan.
"Umm, aku biasa aja kok pa gak senang-senang banget. Lagian om Davin itu cuma nolongin aku, dia gak ada niat jahat sama aku," ucap Cyra lirih.
"Ya sama aja sayang, lain kali kalau ketemu dia lagi kamu langsung lari okay! Kamu jangan pernah mau dekat atau percaya sama orang yang baru kamu kenal, itu bahaya tahu!" tegur Libra.
"Iya pa iya, aku paham kok. Papa kan udah sering banget bilang begitu ke aku," ucap Cyra.
"Yaudah bagus, ingat juga kamu itu masih SMP gak boleh pacaran! Dekat sama cowok juga harus tahu batasan, paham?" ucap Libra.
Cyra mengangguk pasrah, "Paham papa, aku paham semuanya kok!" ucapnya.
Libra tersenyum senang mendengar ucapan putrinya, kini ia usap puncak kepala Cyra dengan lembut sambil masih fokus pada kemudinya. Namun, Ciara justru merengut kesal dan merasa jengkel pada sikap papanya itu. Cyra merasa Libra terlalu berlebihan dalam melarangnya, sampai ia tidak boleh berdekatan dengan seorang pria.
__ADS_1
"Loh kok kamu malah cemberut gitu? Marah nih sama papa, hm?" tanya Libra kebingungan.
Cyra terkejut dibuatnya, "Eh enggak kok pa, aku gak marah. Mana bisa aku marah sama papa aku sendiri?" jawabnya berbohong.
Libra sebenarnya tak percaya dengan pengakuan Cyra barusan, tetapi ia memilih diam saja dan tak melanjutkan perbincangan itu. Libra ingin membiarkan Cyra berpikir selama beberapa saat, karena ia tahu Cyra saat ini sedang berusaha menahan emosi setelah terlibat perdebatan dengan dirinya tadi mengenai sosok Davin.
"Maafin papa sayang, papa cuma gak mau kamu jadi korban kemesuman om Davin seperti mama kamu dulu!" batin Libra.
•
•
Sementara itu, Askha baru tiba di sekolahnya dengan mobil miliknya yang ia dapat dari Nadira sebagai hadiah ulang tahunnya. Askha pun turun dari mobil mewah miliknya, lalu berjalan sembari merapihkan rambutnya. Ia lepas kacamata yang ia kenakan, membuat banyak perempuan terpikat oleh pesona yang ia pancarkan pagi ini di tempat itu.
Tak lama kemudian, Askha langsung disambut oleh Laura alias kekasihnya yang cantik jelita dan juga satu angkatan dengannya. Gadis itu tak sendiri, ada dua temannya yang lain disana dan ikut menyapa Askha dengan lembut. Tentu saja Askha merasa senang, karena hari masih pagi dan ia sudah disambut dengan kecantikan sang kekasih.
"Sayang, temenin aku yuk! Aku sekalian mau bicara sama kamu, kamu mau kan ikut sama aku?" ucap Laura yang kini sudah mendekat dan mencengkram lengan Askha dengan kuat.
"Hmm, mau gak ya?" Askha sengaja ingin menggoda kekasihnya itu, karena Laura terlihat menggemaskan ketika sedang cemberut atau kesal.
"Ish, serius sayang!" cibir Laura.
"Hahaha, iya iya aku mau kok. Tapi, nanti aku lihat tugas matematika dari pak Heri ya? Aku belum sempat ngerjain semalam," pinta Askha.
Laura tersenyum dan mengangkat jarinya membentuk huruf 'o' pertanda ia setuju dengan syarat yang diajukan kekasihnya itu, ya memang Askha sering sekali meminta contekan darinya setiap kali pria itu kelupaan mengerjakan tugas. Bukan tanpa alasan Askha melupakan itu, karena semalam ia benar-benar sibuk mengurus Cyra.
"Yaudah, ayo kita pergi sekarang! Eh tapi bentar, kita ini emangnya mau kemana sayang? Terus kamu juga mau obrolin apa, hm?" ucap Askha penasaran.
"Ada deh, nanti kamu juga tahu. Makanya ayo kamu ikut aja sama aku!" ucap Laura.
"Terus teman-teman kamu ini gimana dong? Kasihan lah mereka ditinggal kayak gitu, nanti mereka ninggalin kamu juga loh!" ucap Askha.
"Gapapa mereka ngerti kok, udah ayo ah!" paksa Laura.
Mau tidak mau, Askha pun terpaksa mengikuti ajakan gadisnya karena Laura memang tidak bisa ditolak jika sudah menginginkan sesuatu. Meski bingung, tetapi Askha juga tak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan kekasihnya. Lagipula, nantinya Askha akan mendapat imbalan berupa contekan dari gadis itu.
Akan tetapi, tanpa sengaja mereka malah berpapasan dengan Daiva yang berjalan dari arah berlawanan. Sontak Daiva menghalangi langkah sepasang kekasih itu, membuat Laura merasa jengkel dan menatap tajam ke arah Daiva. Sedangkan Askha sendiri hanya diam, ia rupanya tak mengerti apa mau Daiva saat ini.
"Daiva, ngapain sih lu cegat jalan gue? Minggir deh gue mau lewat, jangan berdiri di depan situ!" ucap Askha dengan ketus.
Daiva tersenyum dibuatnya, "Alah alah, orang pacaran mah emang seru banget ya? Masih pagi aja udah gandengan kayak gitu, mau kemana sih emang buru-buru amat?" ucapnya menggoda.
"Cukup ya Daiva, awas lu ah jangan bikin gue marah deh!" sentak Askha.
"Bentar kak, gue cuma mau tanya sama lu. Kira-kira pacaran itu bisa bebas bikin anak juga gak sih, hm?" ucap Daiva tanpa beban sedikitpun.
Baik Askha maupun Laura kompak terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Daiva tadi, mereka tak menyangka Daiva bisa berpikir seperti itu dan menanyakan langsung kepada mereka tanpa rasa bersalah atau malu.
•
•
"Cyra!"
Suara panggilan dari seorang pria berhasil membuat langkah kaki Cyra terhenti, gadis itu terkejut lalu menoleh ke asal suara untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya. Begitu menoleh, Cyra malah menemukan sosok Amar berdiri di depannya dan tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan seolah menyapanya di pagi hari yang cerah ini.
Tentu saja Cyra membalas sapaan pria itu dan juga senyuman manisnya, ya karena Cyra bukan gadis sombong serta ia juga paling tidak enak hati. Apalagi, Amar masih merupakan saudaranya walau tidak ada hubungan darah dengannya. Amar hanya dirawat dan dibesarkan oleh Galen, alias paman Cyra yang juga papa dari Askha itu.
"Eh Amar, ngapain kamu manggil Cyra kayak gitu? Ada perlu?" tanya Cyra dengan wajah bingung.
Amar malah menggeleng dengan cepat, hal itu sontak membuat Cyra kebingungan dan makin penasaran apa maksud Amar memanggilnya. Tak biasanya ada orang yang menyapanya, tetapi tidak memiliki urusan apapun. Cyra yang memang agak sedikit lemot, langsung menunduk untuk coba berpikir apakah maksud dari Amar saat ini.
__ADS_1
"Aku gak ada perlu apa-apa kok sama kamu, aku cuma mau sapa kamu aja sebagai saudara. Gak salah dong kalau aku sapa kamu sekarang? Biar dapat pahala juga," ucap Amar sambil tersenyum.
"Ahaha, oh iya ya benar juga. Kalo gitu berarti sekarang aku boleh pergi dong ya?" ucap Cyra.
Amar mengernyitkan dahinya, "Loh kok langsung mau pergi sih Cyra? Kita kan baru ketemu, apa kamu gak mau ngobrol dulu sama aku?" ucapnya.
"Hm, ngobrol apa?" tanya Cyra penasaran.
Bukannya menjawab, Amar justru diam karena ia juga bingung dan tak tahu harus mengobrol soal apa dengan Cyra saat ini. Sebenarnya Amar hanya ingin memiliki waktu berdua dengan Cyra, sebab ia amat menyukai setiap kali berdekatan dengan gadis itu. Ya tentu saja karena kecantikannya, memang Cyra sangat berbeda dibanding gadis-gadis lainnya.
"Tuh kamu malah diam, heran deh aku sama kamu. Katanya tadi ngajak ngobrol, giliran ditanya mau ngobrol apa malah diem," ucap Cyra keheranan.
"Eh ma-maaf Cyra, aku juga bingung sih mau ngomong apa sama kamu! Gimana kalau kita ke kantin aja sekarang? Aku ajak kamu makan sama minum disana, setuju gak?" usul Amar.
"Duh, kalau itu aku gak bisa Mar! Aku tadi udah sarapan di rumah, jadi masih kenyang nih. Terus aku juga belum ngerasa haus," ucap Cyra menolak.
Amar hanya bisa menunduk lesu karena lagi-lagi Cyra menolak tawaran darinya, padahal pria itu sudah sangat berharap bahwa Cyra mau menerima ajakannya. Namun, sepertinya sulit sekali bagi Amar untuk bisa mendekati Cyra. Ya semua ini karena Cyra baru saja diberi nasehat oleh papanya, yang mana Libra meminta Cyra untuk menjaga jarak dari lelaki.
"Maaf ya Amar, aku kayaknya mau ke kelas aja! Kamu juga mending masuk kelas sana, lagian bentar lagi bel bunyi tuh!" ucap Cyra.
"Eee i-i-iya Cyra...."
Akhirnya Cyra memutuskan pergi lebih dulu meninggalkan Amar begitu saja tanpa rasa kasihan sedikitpun, Cyra pergi menaiki tangga dan menuju kelasnya karena merasa bahwa sebentar lagi bel masuk akan berbunyi di sekolahnya.
•
•
Bruuukkk
Cyra yang melangkah sambil bermain ponsel tak sengaja menabrak tubuh seseorang di depannya sampai terjatuh ke lantai, gadis itu merintih lalu memegangi kakinya yang sakit karena agak terkilir tadi sewaktu jatuh. Beruntung Cyra tidak terlalu mengalami luka parah, ya karena tabrakan yang tadi terjadi pun hanya sebuah tabrakan kecil.
Namun, Cyra merasa heran ketika mendengar suara seorang lelaki yang menanyakan kondisinya dari jarak dekat. Cyra sontak menoleh karena penasaran, ia ingin memastikan siapa orang yang tadi ia tabrak dan mengapa suaranya seperti tak asing. Begitu ia mendongak ke asal suara, matanya langsung terbuka lebar seolah tak percaya.
"Kamu gapapa?" tanya si pria yang tidak lain tidak bukan adalah Davin.
Cyra terdiam saja sambil terus menatap ke arah Davin, ia tak menyangka bisa kembali bertemu dengan pria itu di sekolahnya. Cyra pun tak mengerti apa yang dilakukan Davin disana, apalagi tampilan pria itu seperti seorang guru. Cyra tak bisa berhenti memandangi tubuh lelaki itu, ia berpikir keras untuk menebak siapa sebenarnya Davin tersebut.
"Om Davin, kok om bisa ada di sekolah aku?" Cyra benar-benar kebingungan, sampai ia mengabaikan kondisi kakinya yang masih sakit.
Davin tersenyum dibuatnya, lalu mengulurkan tangan ke arah gadis itu bermaksud membantunya. Cyra dengan senang hati menerima uluran tangan tersebut, karena ia memang membutuhkan bantuan untuk bisa bangkit. Beruntung Cyra masih dapat berdiri kali ini, ya walau agak tertatih akibat terjatuh karena tabrakan dengan Davin tadi.
"Kamu ada yang luka gak, Cyra? Kalau ada, yuk saya antar ke UKS biar diobatin!" ucap Davin cemas.
Cyra menggeleng perlahan, "Aku gapapa om, aku cuma penasaran aja kenapa om bisa ada disini? Jawab dong om, jangan bikin aku kepo!" ucapnya.
"Hahaha, kamu ternyata kepo banget ya jadi anak? Saya ini guru loh disini, udah puas kan?" jawab Davin dengan santai.
"Apa??" Cyra terkejut bukan main mendengarnya.
Pengakuan Davin mengenai siapa identitasnya itu membuat Cyra amat terkejut, gadis itu tak percaya kalau ternyata Davin adalah seorang guru di sekolahnya. Tadinya Cyra mengira Davin hanya sekedar mampir atau malah sengaja ingin menemuinya, tapi semua dugaan itu salah karena Davin ada disana karena bekerja sebagai guru.
"Kamu kenapa kaget gitu Cyra? Gak percaya ya kalau saya guru disini, hm?" tanya Davin sambil terkekeh.
"Bu-bukan gitu om, aku kaget aja dengarnya. Sejak kapan om Davin jadi guru disini, kok aku baru lihat ya?" ucap Cyra terheran-heran.
"Duduk aja yuk, biar bicaranya makin enak! Kaki kamu juga kan masih sakit," ajak Davin.
Cyra mengangguk setuju, dengan bantuan Davin kini gadis itu melangkah menuju tempat duduk yang ada disana dan terduduk dengan perlahan. Mereka berdua duduk berdampingan saat ini, saling menatap wajah satu sama lain dan disertai senyum yang merekah. Cyra masih benar-benar bingung, ia butuh penjelasan segera dari pria itu terkait mengapa Davin bisa menjadi guru di sekolahnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...