
Waktu semakin berlalu, namun Libra tak kunjung hadir di pesta ulang tahun Cyra saat ini yang sudah akan berlangsung sebentar lagi. Cyra pun tampak kecewa dan menangis terisak, ia tak menyangka papanya akan kembali mengkhianati dirinya. Janji yang diucapkan Libra sebelum ini seolah tak berarti, karena kini pria itu malah tidak terlihat sama sekali di dalam pesta yang sudah ia susun itu.
Ciara bersama Askha dan Daiva terus berupaya menenangkan gadis itu, mereka tidak mau jika Cyra merasa sedih dan merusak acaranya sendiri. Bagaimanapun, acara itu harus tetap berlangsung meski tidak ada Libra disana. Akan tetapi, tampak Cyra tak mau memulai acaranya dan enggan untuk meniup lilin atau memotong kue karena sampai sekarang papanya belum juga datang kesana.
Tak ada yang bisa dilakukan Ciara saat ini selain memeluk putrinya, sebab ia sendiri juga tidak tahu kemana perginya Libra malam ini. Padahal, sore tadi Libra sudah berkata padanya kalau dia hanya akan pergi sebentar. Ciara pun tampak kasihan pada putrinya saat ini, apalagi Cyra sebelumnya begitu antusias untuk menyambut hari ulang tahunnya yang ke empat belas bersama papa tersayangnya.
Disaat Cyra tengah bersedih, Tiara pun muncul bersama Galen menghampiri gadis itu. Keduanya terlihat bingung ketika melihat Cyra tampak bersedih di dalam pelukan Ciara, padahal seharusnya malam ini gadis itu merasa bahagia. Namun, sekarang Cyra justru tampak sangat bersedih dan kecewa karena ketidakhadiran papanya disana.
"Cyra, selamat ulang tahun ya cantik! Kamu kenapa sedih begini, hm? Acaranya belum dimulai?" ucap Tiara menegur gadis itu.
Cyra hanya diam dan sesenggukan, sehingga Galen yang ada di depannya semakin merasa bingung. Galen tak senang melihat keponakannya itu bersedih dan menangis, apalagi malam ini adalah malam ulang tahun Cyra yang seharusnya membahagiakan bagi gadis itu. Akan tetapi, saat ini Cyra malah menangis dan belum jelas apa alasannya.
"Sayang, ponakan om yang cantik." Galen mendekat dan menarik dagu gadis itu dengan lembut.
Kali ini Cyra beralih menatap pamannya yang berdiri tepat di hadapannya, air mata terlihat memenuhi wajahnya yang membuat Galen begitu cemas. Spontan Galen menyeka air mata di wajah gadis itu, ia memang tidak bisa melihat keluarganya bersedih sampai menangis seperti itu. Namun, tetap saja Cyra masih merasa kecewa saat ini.
"Kamu kenapa sayang? Hari ulang tahun kok malah sedih begini sih? Apa kamu dijahatin sama Askha, hm?" tanya Galen disertai senyum tipisnya.
Cyra menggeleng, "Bukan om, aku lagi kecewa sama papa karena papa gak datang kesini," jawabnya.
"Iya tuh pa, Cyra nangis bukan karena aku kok. Malahan daritadi aku udah coba buat hibur Cyra supaya gak nangis lagi, ya tapi dia ini susah dihibur," sahut Askha.
Galen manggut-manggut paham, ia mengerti mengapa Cyra begitu bersedih saat ini. Galen pun dahulu juga pernah seperti itu, karena masa kecilnya tidak seindah anak-anak lain yang memiliki orang tua lengkap. Kini Galen memberi kode pada Ciara supaya ia bisa berbicara dengan Cyra, akhirnya Ciara melepas pelukannya dan membiarkan sang kakak untuk mencoba menghibur Cyra.
"Cyra cantik, kamu jangan sedih lagi ya! Ini kan malam ulang tahun kamu, kasihan tuh teman-teman kamu yang udah pada datang. Kalau kamu sedih terus, kapan pestanya mau dimulai?" ucap Galen.
"Aku gak mau lanjutin pesta ini om, aku pengen pergi cari papa!" ucap Cyra.
"Hah?" Galen melongok dan terkejut bukan main mendengar ucapan gadis itu barusan.
Lalu setelahnya, Cyra melepaskan diri dari genggaman Galen dan berlari ke luar rumah dengan isak tangisnya.
"Loh loh, Cyra tunggu Cyra!!"
•
•
Bruuukkk
Davin melempar tubuh Libra dengan kasarnya sampai terjatuh membentur meja dan merusaknya, bahkan botol-botol dan gelas-gelas yang ada disana ikut hancur dibuatnya. Davin benar-benar emosi saat ini, ia tak terima dengan sikap Libra yang berani sekali berkhianat di belakang Ciara dan mengatakan kalau dirinya sudah bosan dengan Ciara.
Davin pun kembali menghampirinya, ia berjongkok di hadapan Libra dan menarik rambutnya hingga pria itu mendongak ke arahnya. Wajah Libra sudah tak beraturan lagi, terdapat banyak sekali luka beserta darah yang diberikan oleh Davin. Tak cukup sampai disitu, tampaknya Davin masih ingin memberi pelajaran lagi kepada Libra.
Orang-orang disana hanya bisa memperhatikan perkelahian antara kedua pria tersebut, mereka tak dapat melakukan apapun karena sudah takut begitu melihat amarah yang meluap di tubuh Davin saat menghajar Libra tadi. Para penjaga yang ada disana juga tak mampu berbuat apa-apa, mereka terlalu takut untuk menghalangi niat Davin saat ini.
"Hey Libra, kamu dengar saya ya! Kalau kamu sudah gak sanggup untuk jaga Ciara dan anak-anak kamu, kenapa gak kamu tinggalin aja mereka? Biar saya yang menggantikan tugas kamu itu," ucap Davin.
Libra menyeringai, "Hahaha, jangan mimpi kamu Davin! Ciara itu gak akan pernah mau terima kamu, apalagi setelah apa yang kamu lakukan ke dia dulu. Sekarang Ciara udah sah jadi milik saya, dan kamu gak mungkin bisa rebut dia dari saya!" ujarnya.
"Bisa-bisanya kamu bilang Ciara itu milik kamu, tapi kamu malah berkhianat di belakang dia. Dimana otak kamu Libra, ha?" geram Davin.
__ADS_1
"Kamu gausah ikut campur ke dalam masalah rumah tangga saya, lebih baik kamu pergi dan jangan pernah kembali! Kamu itu bukan siapa-siapa disini, Davin!" sentak Libra.
"Saya akan terus ikut campur, selama itu menyangkut Ciara. Saya mencintai Ciara, dan saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dia!" ucap Davin dengan tegas.
Bugghhh
Lagi-lagi Davin kembali menghajar wajah Libra sampai mengeluarkan darah, ia bangkit dan mengambil sebuah botol yang sudah pecah dengan ujung tajam. Davin mendekati Libra, sepertinya Davin hendak menusuk Libra menggunakan ujung botol tersebut. Untungnya, dua penjaga yang sedari tadi menonton memberanikan diri bergerak maju dan menahan niat Davin.
"Berhenti pak, cukup! Tolong jangan buat keributan disini, apalagi kalau bapak sampai membunuh orang ini! Itu semua bisa merusak nama tempat ini pak, mohon dimengerti!" ucap sang penjaga.
"Aaarrrgghhh lepaskan saya! Kalian gak tahu apa masalahnya, jadi lebih baik kalian jangan ikut campur! Biarkan saya menghabisi orang ini, karena dia sudah berselingkuh di belakang istrinya!" ucap Davin begitu emosi.
"Kami mengerti pak, tapi sebaiknya masalah ini diselesaikan di luar. Kami tidak mau nama tempat ini jadi jelek karena ulah bapak, apalagi sudah banyak barang kami yang rusak," ucap penjaga itu.
"Okay, yasudah lepaskan saya! Saya gak akan lanjutkan keributan ini," ucap Davin mengalah.
Akhirnya dua penjaga itu mengambil botol di tangan Davin dan mengamankannya, mereka juga melepaskan Davin serta membiarkan pria itu pergi. Namun, Davin sepertinya masih belum puas untuk berbicara dengan Libra. Kini Davin malah kembali mendekatinya, lalu memperingati Libra untuk yang kesekian kalinya.
"Libra, sekali lagi saya minta ke kamu untuk jaga Ciara dengan baik! Jika sampai dia terluka, maka saya pastikan kamu akan habis di tangan saya!" ucap Davin mengancam.
Libra malah tersenyum dan sama sekali tidak takut dengan ancaman Davin, membuat Davin semakin geram dan kesal padanya.
•
•
"Cyra! Cyra berhenti Cyra, tunggu mama!" Ciara masih terus berteriak dan berusaha mengejar putrinya yang berlari keluar dari rumah.
Namun, Cyra tak mau mendengar teriakan mamanya dan tetap berlari sekuat tenaga. Tangisnya semakin menjadi-jadi saat ini, ia kecewa karena papanya telah berbohong padanya dan tidak datang ke acara yang penting baginya. Cyra benar-benar frustasi, rasanya gadis itu ingin sekali mengakhiri hidupnya yang ia anggap tidak berguna.
"Cyra, mama mohon berhenti sayang! Kamu jangan pergi nak, mama gak mau kamu kenapa-napa!" ucap Ciara dengan keras.
Iya Cyra, kamu berhenti dulu Cyra! Kita bisa cari papa kamu bareng-bareng, jangan kayak gini dong sayang! Ayolah Cyra, dengerin kami ya!" ucap Tiara yang juga tak kalah panik.
Tak mungkin Cyra mau menurut begitu saja, ia tetap berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Akan tetapi, tiba-tiba saja kakinya terasa sakit dan tidak sanggup untuk terus berjalan. Sepertinya itu akibat dari alas kaki yang dikenakannya, sehingga Cyra memutuskan berhenti dan memegangi kakinya yang terasa sakit itu.
"Awhh, kenapa sakit sih? Aku kan jadi gak bisa lanjut jalan kalo gini," rintih Cyra.
Disaat Cyra tengah berjongkok sambil memegangi kakinya, tiba-tiba saja terdengar suara klakson panjang dari arah depannya. Cyra sontak terkejut, lalu reflek menatap ke asal suara dan terbelalak lebar ketika melihat sebuah mobil melaju dengan kencang mendekatinya. Tentu saja Cyra panik, apalagi kakinya saat ini tidak bisa digerakkan.
Tin tin tin
Mobil itu semakin mendekat, dan Cyra masih tetap berada disana dengan wajah ketakutan. Lampu sorot mobil tersebut membuatnya semakin bingung, ia mencoba menghalangi pandangannya dengan menggunakan tangannya. Cyra juga berusaha bangkit dan menghindar, tetapi kakinya malah terasa semakin saat ini.
"Aakkhh sakit banget!!" rintihnya saat merasakan sakit yang amat sangat pada kakinya.
"CYRA AWAS!!!"
Tiiiinnnn
"Aaaaaaaa...."
__ADS_1
Ciara, Tiara dan juga Galen kompak terkejut ketika melihat mobil di depan sana melaju begitu kencang ke arah Cyra. Mereka sangat cemas, bahkan Galen berusaha berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan Cyra dari mobil itu. Akan tetapi, mereka terlambat dan membuat Ciara begitu syok serta tak sanggup melihat.
"CYRA!!!" Galen berteriak, merasa cemas dengan keselamatan ponakannya itu.
Sementara mobil yang tadi langsung melaju pergi dengan begitu cepat meninggalkan tempat itu, sehingga membuat Galen makin kesal dan ingin mengejar mobil tersebut. Namun, Galen paham kalau ada yang lebih penting dari itu. Ya Galen harus menyelamatkan keponakannya, karena ia begitu cemas dengan kondisi Cyra saat ini.
"Hah Cyra??" Tiara tak sengaja melihat Cyra yang sudah dalam gendongan seorang lelaki, tetapi ia mengernyitkan dahi seolah tak percaya.
Kini Cyra memang berhasil diselamatkan oleh seseorang yang datang dan langsung menggendong tubuhnya, beruntung bagi Cyra karena masih ada orang baik yang bisa menolongnya dari bahaya seperti tadi. Cyra pun perlahan membuka matanya, lalu tampak syok ketika menyadari dirinya berada dalam gendongan seorang pria.
"Kamu?" Cyra mengucap lirih, nafasnya masih tersengal dan tidak bisa dinetralkan begitu saja.
"Ya Cyra, syukurlah kamu selamat! Hampir aja aku terlambat tadi tolong kamu dari mobil itu," ucap si pria disertai senyum manisnya.
Akhirnya Ciara dapat bernafas lega setelah melihat putrinya selamat dari maut, ia bersama Galen dan Tiara sontak menghampiri Cyra di sebrang sana. Mereka masih tak percaya dengan apa yang terjadi, karena Cyra diselamatkan oleh Amar yang merupakan anak dari Jessica alias selingkuhan Galen saat masih menikah dengan Tiara.
"Cyra, Cyra sayang!" Ciara langsung berteriak dan menghampiri putrinya disana, ia tampak begitu khawatir sampai tangisan muncul di wajahnya.
Seketika Amar segera menurunkan tubuh Cyra dengan berhati-hati, tampak Cyra masih kesulitan berdiri tegak mengingat kakinya yang sakit. Ciara pun membantu Cyra dengan merangkulnya, mengusap wajah gadis itu dan terlihat begitu cemas. Untung saja Cyra tidak tertabrak tadi, karena Amar dapat datang tepat waktu menolongnya.
"Cyra, kamu gapapa kan sayang? Mama khawatir banget sama kamu, lain kali kamu jangan begitu ya nak!" ucap Ciara.
"Iya ma, aku minta maaf!" ucap Cyra lirih.
Ciara pun memeluk erat tubuh putrinya di hadapan banyak orang, ia begitu senang dan lega karena Cyra kali ini dapat diselamatkan. Galen juga langsung menghampiri Amar disana, lalu mengucapkan terimakasih pada putranya itu. Sedangkan Tiara justru tampak tidak menyukai hal itu, dengan jengkel Tiara membuang muka sembari mendengus kesal.
•
•
Keesokan paginya, Ciara tengah berkumpul di meja makan bersama anak-anaknya dan bersiap menikmati sarapan. Perasaan Ciara masih begitu cemas saat ini, pasalnya hingga kini Libra belum juga pulang ke rumah. Berulang kali Ciara mencoba menghubungi nomor suaminya, tetapi tidak aktif dan membuatnya semakin cemas.
Namun, di hadapan Cyra beserta Adelia dan Adelio sikapnya pun harus biasa-biasa saja. Ya Ciara tak mau mereka bertiga ikut khawatir sama seperti dirinya, tapi tentu saja Cyra dapat menebak bahwa mamanya sedang cemas saat ini. Cyra sendiri pun juga belum bisa tenang, mengingat papanya yang entah ada dimana sekarang.
"Ma, mama pasti lagi mikirin papa ya? Sama nih, aku juga dari semalam gak bisa lepas dari bayangan papa. Aku cemas banget sama papa, ma!" ucap Cyra.
"Eee kamu gausah cemas ya sayang, paling papa kamu lagi ada banyak kerjaan jadinya dia harus lembur semalam!" ucap Ciara.
Ting nong ting nong...
Tiba-tiba saja, bel rumah berbunyi dan menandakan ada tamu yang hadir. Sontak Ciara reflek menatap ke arah pintu, lalu berpikir apakah mungkin yang datang itu adalah suaminya. Ciara pun meminta izin pada anak-anaknya untuk mengecek ke depan, setelahnya Ciara langsung bangkit dari tempat duduk dan melihat siapa yang datang.
Ceklek
Begitu ia membuka pintu, matanya langsung terbelalak lebar dan Ciara tampak syok bukan main ketika melihat Libra ada disana. Akan tetapi, kondisi Libra sangat buruk dan benar-benar memprihatinkan dengan luka di sekujur wajahnya. Ciara sontak panik, terlebih Libra tiba-tiba ambruk di tubuhnya dan nyaris terjatuh ke lantai.
"Eengghh Ciara...." pria itu melenguh sembari berpegangan kuat pada tubuh istrinya.
"Mas, kamu kenapa mas? Kenapa kamu bisa kayak gini? Sadar mas, dengerin aku!" Ciara berusaha menyadarkan suaminya yang masih dalam pengaruh alkohol itu.
Namun, tak lama kemudian Libra justru terpejam dan tidur di dalam pelukan istrinya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...