
Semakin lama berada di bar itu, Askha dan Laura tampak makin mesra dan menikmati minuman yang mereka pesan bersama-sama itu. Askha bahkan sudah mulai sedikit kehilangan kesadarannya akibat minuman yang ia minum, begitu juga dengan Laura yang terus saja menempel di tubuh kekasihnya. Sesekali gadis itu meracau, membuat tubuh Askha makin terasa panas dan celananya amat sesak.
Askha pun kembali menenggak gelasnya, lalu mengeratkan rangkulan pada Laura dan menciumi wajahnya. Laura yang diperlakukan seperti itu sontak menjerit, tubuhnya bereaksi karena alkohol serta ciuman dari Askha yang semakin liar. Tak hanya wajah, lehernya juga menjadi incaran Askha untuk dikecup serta hisap sampai meninggalkan bekas merah yang membuat Laura meremang.
Belum pernah mereka melakukan hal ini sebelumnya, bahkan pegangan tangan saja mereka juga jarang sekali. Askha tak menyangka akan memiliki momen seperti ini, setelah sejak lama ia menantikan hal itu. Tangan-tangan Askha juga bergerak semakin liar, menyentuh serta mengusap setiap inci bagian tubuh kekasihnya yang sangat ingin ia miliki seutuhnya sedari lama.
"Sayang, aku gak tahan nih kalau begini terus. Kamu mau kan ngelakuin itu sama aku sekarang? Kita sewa kamar yuk, lagian udah malam juga nih!" bisik Askha di telinga gadisnya.
Mendengar itu, sontak Laura merasa terkejut dan menatap tajam wajah Askha seolah tak percaya. Niat Laura sebelumnya hanya ingin menggoda Askha agar pria itu tak berpaling ke lain hati, tetapi sepertinya ia telah salah langkah karena Askha malah terpancing dan ingin melakukan lebih dengannya saat ini.
"Eee Askha sayang, jangan gitu dong! Aku belum siap buat ngelakuin yang begituan, aku takut! Kamu ngerti kan sayang?" ucap Laura.
"Gapapa sayang, kita gak akan ngelakuin sampai yang suami-istri lakukan kok. Aku cuma mau lihat tubuh indah kamu ini, terus cicipi semuanya. Aku janji gak akan masukin kamu!" ucap Askha.
"Ta-tapi sayang, aku gak yakin kamu bisa tahan diri. Apalagi, kita sekarang dalam kondisi mabuk. Jangan dulu ya sayang, aku belum siap!" bujuk Laura.
"Terus buat apa kamu ajak aku kesini, hm? Pokoknya kamu harus tanggung jawab, karena kamu udah bikin aku tegang begini! Aku mau tubuh kamu Laura sayang, kamu gak bisa nolak aku!" ucap Askha.
"Sayang, aku mohon jangan sekarang! Aku janji akan berikan tubuh aku ke kamu, tapi nanti!" ucap Laura.
Laura begitu ketakutan dengan apa yang dikatakan Askha tadi, apalagi Askha semakin erat memeluknya dan mengendus lehernya. Aroma alkohol tercium di hidung gadis itu, sepertinya Askha sudah hilang kendali dan tidak mau mendengarkannya. Askha bahkan tak berhenti menciuminya, sehingga sudah banyak bekas merah di lehernya.
"Mmhhh, sayang udah stop! Aku gak mau kamu kelewat batas nanti, please sayang!" rengek Laura.
__ADS_1
"Gak akan sayang, aku pasti tahu batasan kok. Aku cuma mau menikmati tubuh kamu, gak lebih. Percaya deh sama aku sayang!" ucap Askha sambil terus menghisap leher dan telinga gadisnya.
"Eengghh..." Laura melenguh dibuatnya, kelakuan Askha sudah tak bisa ditahan lagi karena pria itu telah terpengaruh oleh alkohol.
"Askha, ahh!" pekik Laura dengan keras.
Askha semakin menggila, ia menggendong tubuh gadisnya dan membawa Laura menuju kamar vip yang ada di tempat tersebut. Askha sudah tidak bisa menahan diri lagi, tampaknya ia ingin menikmati tubuh Laura secara paksa malam ini. Meski Laura menolaknya, namun Askha tak akan mungkin melepaskan Laura saat semuanya sudah seperti ini.
"Aku mau kamu Laura, aku pastikan malam ini kamu akan puas dan tidak kecewa dengan apa yang aku lakukan nanti!" gumam Askha.
•
•
Bukan seperti tahun lalu, dimana Cyra harus merasa kecewa karena papanya tidak bisa hadir di acara yang berharga baginya. Kali ini Cyra ingin mereka semua ada di pestanya, sebab momen ini adalah momen yang paling membahagiakan di hidupnya. Tentu saja Cyra tak mau dikecewakan kembali, karena ia sudah kenyang dengan itu.
"Ma, mama bisa datang kan di acara ulang tahun aku lusa? Mama gak bakal kecewakan aku kan?" tanya Cyra pada mamanya.
Ciara tersenyum mendengarnya, "Pasti dong sayang, mama gak mungkin ngecewain princess mama yang satu ini!" jawabnya sambil mengusap puncak kepala putrinya itu.
Cyra amat senang mendengar ucapan mamanya, setidaknya ia mendapat kepastian dari sang mama dan tidak perlu merasa khawatir. Lalu, Cyra pun beralih menatap papanya yang ada juga di dekatnya untuk giliran bertanya padanya. Ya wajah Cyra langsung cemberut saat ini, karena ia ingat sekali tahun lalu papanya tidak bisa hadir.
"Pa, kalau papa bisa datang gak nanti? Aku gak mau loh ya papa bohongin aku lagi, terus papa malah lebih mentingin pasien papa dibanding aku anak papa sendiri," ucap Cyra merengut.
__ADS_1
"Kamu kok bicara begitu sih sayang? Papa pasti datang kok, pegang deh kata-kata papa!" jawab Libra sambil tersenyum.
"Okay, aku percaya sama papa. Tapi, awas ya kalau papa gak datang lagi! Aku bakal ngambek selamanya sama papa, dan aku gak akan mau maafin papa nanti!" ucap Cyra mengancam.
Libra sampai terkejut mendengar ucapan putrinya, ia langsung mendekat dan menggenggam dua telapak tangan Cyra saat ini. Libra juga menangkup wajah gadis itu, mencoba meyakinkan Cyra kalau kali ini ia tidak akan mangkir dari pesta ulang tahun Cyra. Bagi Libra, tak ada yang lebih penting dibanding kebahagiaan putri tercintanya itu.
"Dengerin papa ya sayang, papa gak akan kecewakan kamu dan papa pasti bakal datang ke pesta ulang tahun kamu nanti!" ucap Libra.
Cyra manggut-manggut mengerti, kemudian ia memeluk papanya dengan erat dan menyalurkan semua kasih sayang yang terpendam selama ini. Cyra amat menyayangi papanya, ia tidak mau berjauhan dengan Libra sampai kapanpun. Apalagi, Libra memang jarang sekali memiliki waktu untuk dirinya dan lebih mementingkan pekerjaannya.
"Papa minta maaf, kalau selama ini papa emang jarang ada waktu buat kamu! Pasti kamu sedih kan sayang? Mulai sekarang, papa janji akan lebih meluangkan waktu buat kamu!" ucap Libra.
"Hah? Kata siapa aku sedih? Enggak kok, biasa aja. Aku gak pernah bilang sedih ya," elak Cyra.
"Masa sih? Terus kenapa tadi kamu cemberut gitu sama papa, hm? Ngaku aja kali, papa tahu kok kalau kamu sedih tiap hari!" goda Libra.
"Papa ih, nyebelin dasar!" kesal Cyra.
Libra terkekeh dibuatnya, begitupun dengan Ciara yang menyaksikan momen hangat antara ayah dan anak itu. Ciara senang melihat kebersamaan putrinya dengan sang suami disana, karena selama ini Libra hampir selalu tidak memiliki waktu luang seperti sekarang untuk putrinya itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1