Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 69. Sayang kan?


__ADS_3

Rifka yang hendak membereskan kamar Nindi, langsung masuk ke dalam ruangan tempat tidur gadis itu kali ini. Ia tampak senyum-senyum sendiri melihat kondisi kamar yang sudah sangat rapih itu, rupanya Nindi memang anak yang rajin karena tidak meninggalkan kamarnya begitu saja tanpa merapihkan nya. Rifka pun mengambil bantal serta guling dari atas kasur untuk dijemur, ia letakkan sejenak alat bersih-bersih nya di lantai.


Namun, disaat Rifka hendak pergi menjemur bantal dan guling tersebut, tanpa disengaja ia menemukan sebuah alat tes kehamilan yang tergeletak di atas meja dekat lampu. Sontak Rifka pun dibuat terbelalak tak percaya ketika melihatnya, ia memilih mengurungkan niatnya dan beralih mendekat ke arah meja tersebut untuk memastikan apakah yang ia lihat itu benar atau hanya sekedar khayalan.


Dan ketika Rifka berada tepat di depan meja, rupanya apa yang dilihatnya tadi memang benar kalau benda tersebut adalah sebuah testpack. Ia pun mengambil benda itu dari atas meja, lagi-lagi ia dibuat kaget saat mengetahui testpack tersebut sudah digunakan dan hasilnya positif. Tentu saja Rifka tak percaya dengan itu, bagaimana bisa testpack dengan hasil positif itu bisa berada di kamar Nindi dan siapakah pemiliknya.


"Haaahhh?? Hamil? I-ini punya siapa ya? Apa Nindi? Enggak enggak, tapi gak mungkin kalau ini punya Nindi. Masa iya Nindi hamil? Sama siapa coba? Pak Leon?" gumam Rifka terus berpikir keras.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba saja, dirinya dikejutkan dengan sebuah ketukan pintu dari arah luar. Karena penasaran, Rifka memutuskan pergi ke depan untuk memeriksa siapa yang datang sembari membawa testpack tadi di tangannya. Tanpa berpikir panjang, Rifka langsung membukakan pintu dan ternyata yang ada disana adalah Tiara bersama suaminya, yakni Galen. Sontak Rifka pun tersenyum menyambut kehadiran sahabat dari kecilnya itu, tak lupa juga ia mempersilahkan sepasang suami-istri itu untuk masuk ke dalam.


"Eh Tiara, Galen, yuk yuk masuk kita bicara di dalam aja!" ucap Rifka melebarkan pintu.


Tiara dan Galen tersenyum saja dibuatnya, mereka pun masuk ke dalam bersama-sama lalu duduk di sofa ruang tamu. Rifka pun bergegas menyiapkan minuman, yang langsung ia sediakan untuk kedua sohibnya itu. Sebenarnya Tiara merupakan pemilik rumah itu, tapi karena dia sudah menikah maka Tiara menitipkan rumah sekaligus adiknya kepada Rifka disana untuk dijaga.


"Nah, silahkan tuh diminum! Kalian pasti haus kan abis panas-panasan? Makanya gue sediain minum yang dingin dan seger," ucap Rifka terkekeh.


"Hahaha, makasih ya Rifka! Eh ya, ini Nindi kemana ya?" ucap Tiara terheran-heran.


"Ohh, iya itu Nindi tadi pamit katanya mau kerja kelompok. Dia diantar kok sama pak Leon, jadinya aman deh," jawab Rifka.


"Leon? Sudah sedekat itu ya hubungan mereka? Kok sampai Nindi minta diantar sama dia?" sela Galen.


"Eee ya gue sih gak tahu ya Galen, tapi dari yang gue lihat kayaknya mereka saling suka deh. Atau mungkin aja mereka udah pacaran," ucap Rifka.


"Hah pacaran? Kok Nindi gak ada bilang apa-apa sama aku?" kaget Tiara.


"Ih gak tahu Tiara, gue kan cuma nebak aja. Oh ya satu lagi, gue nemu sesuatu tau di kamar Nindi tadi pas gue mau beberes," ucap Rifka.


Tiara pun penasaran dibuatnya, "Apaan tuh?" tanyanya pada sahabatnya.


Rifka langsung menunjukkan testpack yang ia bawa tadi ke hadapan Tiara serta Galen, seketika mereka pun terkejut bukan main melihatnya. Apalagi dengan hasil testpack tersebut yang menunjukkan kehamilan, tentunya tidak ada yang percaya jika itu ditemukan di kamar Nindi. Sontak Tiara langsung mengambil alat tes itu dari tangan sahabatnya dan menatap tak percaya, ia masih yakin kalau itu bukan milik adik tersayangnya.


"Itu gue temuin barusan di atas meja belajar si Nindi, gue juga gak tahu itu punya siapa," jelas Rifka.


"Lo jangan ngada-ngada deh Rifka, gak mungkin ini ada di kamar di Nindi! Masa iya adik gue itu hamil? Dia kan masih SMP, lu mah sembarangan aja kalo ngomong!" sentak Tiara.


"Tiara, gue kan gak ada bilang itu punya adek lu. Barangkali aja cuma keselip atau kebawa gitu, terus ditaruh deh di kamarnya," ucap Rifka.


Galen langsung menyela dan merangkul istrinya untuk menenangkan, "Iya sayang, kamu tenang ya! Kita nanti tanyakan aja ke Nindi langsung begitu dia pulang, okay?" ucapnya.


"Tapi mas, kalau ini emang ditemui di kamar Nindi ya berarti ini punya Nindi dong. Buat apa coba dia nyimpen barang orang lain di kamarnya? Apalagi barang kayak gini," ucap Tiara.


"Ya benar sih, tapi kita kan gak bisa menduga-duga kayak gini. Lebih baik kita tanya ke dia aja nanti," saran Galen.


Tiara menganggukkan kepalanya menyetujui usulan sang suami, namun kini ia tidak bisa tenang sebelum mengetahui siapa pemilik testpack tersebut. Dan jika benar itu adalah milik adiknya, maka dapat dipastikan kalau Tiara akan merasa sangat kecewa pada Nindi. Pasalnya sejak kecil ia selalu merawat gadis itu, ia tak menyangka kalau adiknya bisa hamil di luar nikah.




TIN TIN...


Tiba-tiba, lamunannya terhenti ketika mendengar suara klakson mobil dari sampingnya. Ciara pun menoleh untuk memastikan siapa yang datang, tapi rupanya itu adalah Terry dan bukan pamannya. Sontak Ciara kembali cemberut dibuatnya, gadis itu padahal sudah berharap kalau suara klakson tadi adalah milik pamannya.

__ADS_1


"Ciara!" ya Terry pun turun dari mobilnya dan menghampiri Ciara disana.


"Ya pak, kenapa?" tanya Ciara ketus.


"Kamu kok masih disini? Apa kamu belum dijemput?" ucap Terry keheranan.


Ciara menggeleng saja sebagai jawaban, malas rasanya ia meladeni Terry yang memberikan pertanyaan tidak penting. Padahal Ciara yakin kalau Terry sendiri sudah mengetahui jawabannya, tetapi pria itu malah bertanya padanya dan membuat Ciara bertambah kesal. Lalu, tampak Terry terus mendekatinya hingga berakhir duduk di dekatnya.


"Kalo gitu kamu mau gak bareng sama saya aja? Daripada kamu nunggu lama disini tanpa kepastian, lebih baik kamu pulang sama saya!" tawar Terry.


"Eee gak dulu deh pak, saya mau tungguin om saya aja sampai datang," ucap Ciara menolak.


"Ah kamu jadi dijemput sama paman kamu? Ya kalau begitu sih saya gak bisa maksa, mungkin lain kali kita bisa barengan lagi," ucap Terry pasrah.


"Enggak pak, lain kali juga aku maunya cuma sama om Libra," ucap Ciara dengan polosnya.


Deg!


Tentu saja perkataan itu amat menyakiti hati Terry, tetapi Ciara memang sengaja mengatakannya agar Terry tidak semakin mendekatinya dan berharap cintanya seperti yang terjadi pada Seno. Ciara tidak ingin dianggap memberi harapan palsu pada lelaki itu, karena ia sudah kapok ketika saat itu Seno menyatakan cinta padanya secara langsung.


"Oh okay, saya permisi ya Ciara? Kamu nanti istirahat ya begitu sampai di rumah!" ucap Terry pamit.


"Iya."


Terry pun kembali ke mobilnya dan melaju pergi dari tempat itu meninggalkan Ciara seorang diri, ya Ciara masih setia menunggu disana sampai pamannya datang. Meski Ciara tak tahu apakah Libra akan datang menjemputnya kesana atau tidak, namun ia yakin pasti pamannya akan datang karena ia tahu pamannya itu juga menyayangi dirinya.


Disaat ia tengah asyik menunggu, tanpa diduga seseorang pria datang menghampirinya dan menyapanya dengan lembut seraya melambaikan tangan ke arahnya. Ciara pun terkejut, lalu menoleh dan spontan membulatkan matanya ketika melihat sosok Davin sudah berdiri tepat di dekatnya. Gadis itu langsung beranjak dari tempat duduknya, menatap Davin dengan penuh ketakutan.


"Halo Ciara sayang! Apa kabar? Duh, kamu tambah cantik aja sih! Om ternyata gak salah datang kesini, karena kamu memang masih ada dan om bisa berduaan deh sama kamu," ucap Davin menyeringai.


"Kamu nanya om mau apa? Ya jelas Ciara, om mau kamu!" jawab Davin sambil tertawa puas.


"Om, jangan macam-macam deh!" ujar Ciara.


"Sssttt, hey kamu tenang aja sayang! Om gak akan macam-macam kok sama kamu, om cuma pengen kamu ada di sisi om terus!" pinta Davin.


"Enggak om, aku gak bisa. Aku benci sama om, karena om udah hancurin hidup aku!" sentak Ciara.


"Oh ya? Lalu apa bedanya sama si Libra itu, sayang? Bukannya dia juga melakukan hal yang sama, hm?" ujar Davin disertai senyum seringai.


Ciara terkejut, ia heran mengapa Davin bisa tahu kalau Libra beberapa kali memang menciumnya seperti yang dilakukan Davin dahulu. Namun, ia berusaha tetap tenang agar tak membuat Davin semakin yakin kalau dugaannya itu benar. Ciara tentu tak ingin Davin percaya diri, apalagi sebenarnya memang perlakuan Libra saat ini lebih lembut jika dibandingkan dengan Davin kala itu.


"Om salah besar bilang begitu! Karena om Libra itu gak pernah paksa aku buat lakuin apa yang dia mau, gak seperti om dulu!" sentak Ciara.


"Om gak percaya sama kamu, Ciara. Sekarang lebih baik kamu ikut sama om, daripada kamu terus disini nungguin orang yang gak perduli sama kamu!" ucap Davin tersenyum lebar.


"Maksud om apa? Kata siapa om Libra gak perduli sama aku?" tanya Ciara.


"Kamu tahu sayang? Libra sekarang lagi asyik-asyikan berduaan sama pacarnya di rumah, dia udah lupain kamu Ciara!" jawab Davin.


Ciara menggeleng tak percaya, "Enggak, gak mungkin om Libra kayak gitu!" ucapnya tegas.


"Om serius sayang, memang itu yang lagi Libra lakukan sekarang. Makanya kamu mendingan sama om deh, jangan perduliin si Libra yang gak jelas itu!" ucap Davin.


Ciara terdiam saat itu juga, ia berpikir keras apakah mungkin kalau saat ini Libra memang sedang bersama kekasihnya. Tapi, entah kenapa Ciara ragu dan tidak bisa mempercayai ucapan Davin karena ia tahu Davin adalah tukang bohong. Dan sesaat kemudian, tiba-tiba saja seseorang datang menyela lalu menyangkal ucapan Davin tadi dengan tegas.

__ADS_1


"Jangan Ciara!" ya suara itu berasal dari mulut Libra, paman Ciara yang baru datang dan tak sengaja melihat Ciara tengah bersama Davin disana.


Tentu saja baik Ciara maupun Davin sama-sama menoleh ke asal suara, mereka syok tak menyangka jika Libra bisa datang kesana menemui Ciara. Tampak Libra terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah gadis itu, senyum sumringah langsung timbul di wajah Ciara karena sedari tadi ia begitu mencemaskan pamannya itu.


"Ciara, kamu sama aku aja ya! Jangan sama si orang jahat ini!" ucap Libra sembari merangkul keponakannya yang cantik itu.


"I-i-iya om, aku senang banget om akhirnya datang! Aku juga gak mau kali bareng sama om Davin, kan aku pengennya cuma sama om Libra," ucap Ciara sambil tersenyum dan membenamkan wajahnya pada bahu sang paman.


Davin menggeram kesal melihat pemandangan itu, "Kurang ajar! Berani sekali kamu menyentuh gadisku itu, Libra! Lepaskan dia dan biarkan dia pergi bersama saya!" ucapnya tegas.


Libra menggeleng dan terus merapatkan tubuhnya dengan Ciara, "Itu tidak akan terjadi Davin, saya akan melindungi Ciara dari orang seperti kamu!" ucapnya tak kalah berani.


"Om, aku takut!" Ciara tampak ketakutan dan terus memegangi tangan kekar pamannya.


"Iya iya, kamu tenang aja aku ada disini buat kamu! Aku bakal terus lindungi kamu seperti permintaan mama dan papa kamu!" ucap Libra.


"Cih omong kosong!" umpat Davin pelan.


Namun, tentu Libra masih dapat mendengar apa yang diucapkan Davin barusan. Libra sangat tak terima dengan apa yang Davin katakan, ia langsung bergerak maju mendekati pria itu disertai satu tangan terkepal. Akan tetapi, Ciara langsung menghalangi niat Libra karena tak ingin terjadi keributan disana antara kedua pamannya itu.


"Om, udah om cukup! Kita pulang aja yuk, gausah ladenin dia!" ucap Ciara membujuknya.


"Tapi Ciara, sekali-sekali orang kayak dia harus diberi paham! Supaya dia gak bicara seenaknya, dan juga berhenti buat deketin kamu! Aku gak terima, apalagi dia udah sering nyakitin kamu!" geram Libra.


"Om, please! Om nurut ya sama aku? Om sayang kan sama aku?" pinta Ciara.


Deg!




Disisi lain, Leon yang tengah mengantar Nindi kini telah tiba di lokasi tempat gadis itu akan melaksanakan kerja kelompok bersama temannya. Leon pun menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah sahabat gadis itu, ia melirik ke arahnya dan tersenyum seraya mengusap lembut rambut panjang Nindi yang terurai dan menambah kecantikannya.


Namun, terlihat jelas kesedihan terpampang di wajah gadis itu saat ini. Ya Nindi masih belum bisa melupakan semua yang terjadi padanya, ia merasa tak pantas berada di dekat Leon setelah apa yang ia alami. Bahkan kini ia merasa semakin kotor dengan kehadiran sosok bayi di rahimnya, tetapi ia berpikir belum saatnya untuk menceritakan itu pada Leon.


"Nin, kita sudah sampai nih. Benar kan ini rumah sahabat kamu itu?" ucap Leon.


Nindi yang sedang melamun pun tersadar saat Leon berbicara seperti itu, "Ah iya pak, bener kok ini rumahnya. Makasih ya bapak udah mau anterin aku sampai kesini?" ucapnya gugup.


"Sama-sama, kalo gitu mau saya antar sampai ke luar atau disini aja nih?" tanya Leon.


"Eee sampe sini aja deh pak, tapi sebelum itu aku mau ada sesuatu yang ditanyakan ke bapak deh," ucap Nindi.


"Oh ya? Apa itu Nindi?" Leon terlihat penasaran.


Nindi sempat terdiam sejenak dan berpikir dengan keras sebelum mengajukan pertanyaan itu kepada Leon, jujur dirinya ragu tetapi ia merasa kalau ini harus ia lakukan untuk mencari tahu seperti apa reaksi Leon nantinya.


"Kira-kira kalau semisal aku hamil, apa kamu masih mau deketin aku kayak gini?" tanya Nindi dengan tatapan seriusnya.


Seketika Leon membelalakkan matanya lebar-lebar mendengar pertanyaan yang diajukan gadis itu padanya, jantung pria itu bahkan sampai berhenti berdetak karena tak menyangka dengan pertanyaan tersebut. Sedangkan Nindi tampak serius menatap wajah pria itu, seolah menantikan jawaban darinya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2