Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 202. Aneh banget


__ADS_3

Cyra masih terdiam melamun, pikirannya mengarah kemana-mana ketika Davin terus mengulurkan tangan ke arahnya dan meminta Cyra untuk mau menerima bantuannya. Davin tahu kalau Cyra masih ragu padanya, namun ia tetap berusaha meyakinkan Cyra kalau ia adalah orang yang baik. Namun, tampak jelas Cyra belum bisa percaya pada Davin semenjak ucapan mamanya beberapa waktu lalu.


Faiz sendiri masih terus memantau mereka dari posisinya berdiri saat ini, ia merasa heran dan penasaran mengenai siapa lelaki yang ada di dekat Cyra itu. Tadinya ia sempat mengira bahwa laki-laki itu adalah kekasih dari Cyra, tapi rasanya tak mungkin Cyra memiliki kekasih setua itu. Faiz pun menepis pikirannya, ia memilih diam saja dan coba mencari tahu secara langsung dari Cyra nantinya.


"Kamu kenapa Cyra, masih takut ya sama saya? Saya cuma mau bantu kamu kok, oke deh saya minta maaf soal kejadian kemarin! Kamu mau kan beri saya kesempatan sekali lagi?" bujuk Davin.


Cyra menggeleng, "Enggak pak, saya bisa sendiri. Lebih baik pak Davin masuk aja ke dalam, saya gak mau ada yang salah paham kalau ngeliat bapak disini sama saya! Tolong pak, kali ini aja bapak nurut sama saya!" ucapnya.


"Ck, okay saya akan pergi nanti. Tapi, sekarang kamu terima bantuan saya dulu Cyra! Kaki dan tangan kamu luka kan itu?" ucap Davin.


Cyra tetap kekeuh pada pendiriannya, ia tak mau menerima bantuan dari Davin dan malah berpaling ke arah lain. Disaat Davin hendak memaksa untuk membantu gadis itu, tiba-tiba saja Faiz yang sedari tadi hanya diam kini malah menepis telapak tangan Davin dengan kasar. Sontak hal itu membuat Davin terkejut, ia jengkel dan menatap tajam wajah Faiz.


"Jangan sentuh dia! Anda ini sudah tua, tapi kelakuan kok masih kayak anak kecil? Kalau dia gak mau dibantu, ya jangan maksa!" ujar Faiz.


Davin tersentak, ia baru melihat sosok pria tersebut di sekolahnya dan ia begitu penasaran siapa orang yang tiba-tiba muncul saat ini. Apalagi, Faiz dengan berani mendorong tubuhnya dan berkata padanya dengan nada keras. Davin pun tak semudah itu menurut pada ucapan Faiz, apalagi niatnya saat ini hanya ingin menolong Cyra yang terjatuh.


"Siapa anda? Saya baru lihat anda sekarang, apa hubungan anda dengan Cyra?" tanya Davin dengan wajah bingung.


"Haha, siapapun saya itu enggak penting. Intinya saya lebih berhak buat bantu Cyra dibanding anda, jadi biar saya yang tolong Cyra sekarang. Anda lebih baik pergi sekarang!" ucap Faiz dengan ketus.


Davin menyeringai, "Cyra, siapa sih laki-laki ini? Kenapa dia mau bantuin kamu?" tanyanya pada Cyra.


"Hadeh, segitu penasarannya ya anda sama identitas saya? Sudahlah, anda tidak perlu tau siapa saya!" Faiz lebih dulu menyela dan terlihat kesal.


Kini Faiz pun mendekati Cyra dan berjongkok di samping gadis itu, ia berniat membantu Cyra dengan cara melihat kondisi tangan serta kaki ponakannya tersebut yang terluka. Cyra pun terlihat gugup dan tak menyangka jika pamannya itu akan mendekat saat ini, apalagi langsung meraih tangannya yang terluka dan mengusapnya lembut.


"Ini gapapa kok, cuma baret dikit. Aku bantu ke UKS ya?" ucap Faiz dengan lembut.


"Hah??" Cyra menganga lebar, ia tak mengerti mengapa Faiz bersikap seperti itu padanya. Namun kemudian, terlihat Faiz memberi kode melalui matanya agar Cyra dapat mengerti.


"Ah i-i-iya om, tolong bantu aku ya! Soalnya kaki aku sakit nih," ucap Cyra dengan manja.


Tanpa basa-basi lagi, Faiz pun membantu Cyra bangkit dan membawa gadis itu pergi dengan cara memapahnya melewati Davin.




Tak tak tak...


Palu sudah diketuk sebanyak tiga kali oleh hakim, putusan pun telah dibuat yang menandakan bahwa diantara Ciara dan Libra sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi saat ini. Ya mereka kini telah resmi bercerai, sidang berjalan lebih cepat setelah Libra menyetujui gugatan yang diajukan istrinya dan tidak memberi bandingan atau apalah itu.


Sebagai bentuk perhatiannya pada sang istri, Libra kini mendekati wanita itu yang tengah menangis dalam pelukan Nadira. Jujur Libra agak ragu untuk melakukan itu, namun ia terpaksa menghampiri Ciara karena sebenarnya ia masih menyayangi wanita itu. Hanya saja, entah kenapa ia tidak bisa menuntaskan gairahnya kepada Ciara lagi.


"Ciara!" perlahan Libra menyebut nama mantan istrinya itu, ia pun juga berdiri tepat di sebelah Ciara dan memandangi wajahnya dengan lesu.


Sontak Ciara melepaskan pelukannya dari sang mama, ia menoleh ke arah Libra dan tampak terkejut dibuatnya. Ia bingung apa alasan Libra mendekat kali ini, padahal diantara mereka sudah sepakat akan bercerai. Namun karena tidak ingin memiliki musuh, maka Ciara terpaksa meladeni Libra saat ini mengingat pria itu adalah ayah dari anak-anaknya.


"Ada apa mas? Kamu gak mau bilang kalau kamu menyesal dengan keputusan kamu kan?" tanya Ciara dengan wajah sembab dipenuhi air mata.


Libra menggeleng, "Enggak, bukan itu Ciara. Aku kesini mau minta maaf sama kamu, aku seharusnya memang gak menyakiti wanita sebaik kamu! Maafkan aku, aku mohon!" ucapnya lirih.


"Hm, kamu gausah khawatir mas! Aku udah maafin semua kesalahan kamu kok," singkat Ciara.


"Syukurlah, aku lega dengannya. Aku harap walau kita sudah berpisah, kita masih bisa berhubungan baik seperti dulu. Toh anak-anak kita kan juga belum tahu soal ini, berarti aku masih dibolehin kan buat ketemu sama mereka?" ucap Libra.

__ADS_1


"Kamu tenang aja mas, kalau emang kamu perduli dan mau ketemu mereka ya kamu datang aja ke rumah aku!" ucap Ciara.


Libra tersenyum senang dan merasa lega mendengar ucapan Ciara barusan, setidaknya ia masih bisa bertemu dengan anak-anaknya meski mereka telah berpisah. Kini Libra beralih menatap wajah Nadira, rasanya ia begitu takut ketika berhadapan langsung dengan ibu mertua sekaligus kakak angkatnya itu.


"Ma, a-aku...."


"Iya Libra, kamu gak perlu bicara lagi sekarang. Aku sangat kecewa sama kamu, aku kira kamu itu laki-laki yang cocok untuk Ciara. Tapi, nyatanya kamu sama aja kayak Galen!" sela Nadira.


Deg


Ucapan tegas Nadira itu membuat Libra terkejut bukan main, sepertinya Nadira memang sangat kesal dan begitu emosi karena kelakuan buruk yang dilakukan Libra terhadap putrinya. Wajar saja memang Nadira sampai semarah itu, karena sebelumnya Nadira telah mempercayakan Ciara kepada Libra, tetapi justru dikecewakan olehnya.


"Ayo Ciara, sudah cukup bicaranya! Mulai sekarang kamu tinggal di rumah mama aja ya, bawa sekalian anak-anak kamu itu!" ucap Nadira.


"Ma, jangan ma! Ciara biar tinggal di rumah aku aja, nanti aku yang akan pergi kok. Kalau Ciara ajak anak-anak ke rumah mama, nanti yang ada mereka bisa curiga," ucap Libra menyela.


"Benar ma, kayaknya aku bakal tetap tinggal di rumah," sahut Ciara.


"Yaudah, mama ngikut aja." Nadira menyetujuinya.


Akhirnya Nadira membawa putrinya itu keluar dari ruang persidangan, ya karena semua proses pun telah selesai kali ini.




Sepulang sekolah, Cyra dan Rachel keluar bersama dari kelas mereka untuk segera menuju parkiran di bawah sana. Tapi tanpa diduga, Davin justru muncul tepat di hadapan mereka dan membuat kedua gadis itu sangat terkejut. Terutama Cyra, ya karena pasti Davin datang kesana memang untuk menemui dirinya dan kembali mengganggu hidupnya.


Davin memang pantang menyerah, ia akan terus berusaha untuk bisa kembali mendekati gadis itu saat ini. Meski Cyra terus saja menolak dan mencoba menjauh darinya, namun tak membuat semangat Davin pudar untuk mendekatinya. Apalagi, Cyra merupakan anak dari wanita yang ia cintai sejak lama, yakni Ciara.


Cyra pun melirik ke arah Rachel dengan bimbang, ia sejujurnya malas sekali meladeni Davin, apalagi ikut bersama pria itu. Namun, Cyra juga tidak enak apabila menolak ajakan Davin di hadapan Rachel yang merupakan sahabatnya. Tentu saja, sudah pasti Rachel akan mengajukan banyak pertanyaan kepadanya nanti.


"Iya pak, saya masih ada waktu kok. Eee Rachel, aku ikut pak Davin dulu ya?" ucap Cyra.


"Santai aja Cyra, kalo gitu gue duluan ya! Pak Davin, permisi!" Rachel pun bergerak pergi dari sana, setelah mendapat izin dari Cyra dan juga Davin.


Barulah kini Davin bisa lebih leluasa mendekat ke arah Cyra, bahkan tanpa ragu Davin juga meraih satu tangan Cyra dan mengajaknya pergi bersama. Cyra tak menolak kali ini, sebab ada banyak siswa yang bisa saja melihat gerakan mereka. Kini Cyra pasrah saja ketika Davin membawanya ke ruangan pria itu, meski ada rasa takut di dalam dirinya.


"Kamu tenang aja Cyra, saya gak akan sakiti kamu kok! Saya cuma mau bicara ke kamu, jadi kamu gausah takut ya!" ucap Davin sambil tersenyum.


Cyra mengangguk paham, dengan ragu ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu bersama Davin yang menggandeng tangannya. Pintu pun ditutup dengan cepat, ya tentu Davin tak ingin ada orang lain yang melihat mereka disana. Setelah itu, Davin mempersilahkan Cyra untuk duduk di kursi yang tersedia agar bisa berbincang dengannya.


Tanpa mereka sadari, kejadian itu rupanya diketahui oleh Carlo yang tak sengaja melewati depan ruang pribadi Davin. Tentu saja Carlo tampak terkejut, ia heran mengapa Davin membawa Cyra masuk ke dalam sana secara diam-diam. Kecurigaan pun timbul di dalam dirinya, Carlo akhirnya memutuskan untuk terus memperhatikan dari jauh.


"Mereka mau apa ya disana? Gue jadi kepo," gumam Carlo lirih.


Sementara itu, Cyra di dalam sana sudah memejamkan mata dan menghela nafasnya sembari mengusap dada. Cyra berusaha menenangkan diri, karena saat ini ia ada di dalam ruangan berdua dengan pria yang telah melecehkan mamanya. Meski Cyra masih ragu, tapi tetap saja Cyra harus terus waspada dengan pria itu.


"Kamu itu kenapa sih Cyra? Akhir-akhir ini kok kamu kayak menjauh gitu dari saya, apa saya ada salah sama kamu?" tanya Davin tampak penasaran.


Deg


Cyra terlihat bingung saat ditanya seperti itu oleh Davin, pasalnya ia tak tahu harus mengatakan apa kepada pria itu.


__ADS_1



Askha kini tengah bersama Laura alias kekasihnya, ya mereka juga masih berada di lingkungan sekolah dan baru hendak pulang ke rumah. Askha saat ini masih begitu penasaran, sebab ia tak tahu kemana mamanya pergi. Askha sungguh mencemaskan kondisi mamanya, apalagi sudah dua hari mamanya itu tak kunjung pulang ke rumah.


Laura sebagai sang kekasih, tentu saja ikut merasa sedih dengan kejadian yang menimpa Askha. Apalagi, Askha hanya memiliki ibunya dan saat ini justru ibunya itu tidak pulang dan tak memberi kabar sama sekali. Kini Askha berusaha mencari tahu dimana mamanya, meski ia tak tahu harus mulai mencari darimana sekarang.


"Sayang, kamu yang sabar ya! Aku bakal bantu kamu terus kok buat cari mama kamu," ucap Laura coba menenangkan kekasihnya itu.


Askha tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih, ia kecup pipi gadis itu sambil merapatkan tubuh keduanya sampai tidak ada jarak. Askha merasa lebih tenang kali ini, dengan hadirnya sosok Laura yang ada di dekatnya. Setidaknya Askha tidak sendiri disana, karena ada sosok Laura yang menemaninya saat ini.


"Makasih ya sayang, aku bangga banget punya pacar kayak kamu! Aku gak bisa bayangin deh kalau gak ada kamu sekarang, pasti aku udah bingung banget harus gimana," ucap Askha.


"Sama-sama sayang, itu emang udah tugas aku buat selalu nemenin kamu. Lagian aku juga gak tega dong lihat pacar aku yang ganteng ini sendirian, aku pasti bakal selalu ada di dekat kamu sayang!" ucap Laura dengan manja.


Perlakuan Laura kepada Askha saat ini sungguh membuat pria itu merasa senang, Askha tak menyangka bisa memiliki kekasih seperti Laura yang tidak hanya cantik tapi juga setia. Bahkan, disaat susah seperti ini Laura masih mau menemaninya untuk mencari mamanya yang hilang entah kemana. Askha pun sangat bersyukur, ia sampai tak berhenti mengecupi wajah serta puncak kepala gadisnya.


"Ehem ehem!" tiba-tiba saja, deheman itu mengejutkan keduanya.


"Daiva??" Askha reflek menatap ke asal suara, memang terdapat sosok Daiva yang berdiri disana dan tengah memandang ke arahnya.


"Cie cie, makin nempel aja nih kak? Aku jadi iri deh sama kalian," goda Daiva.


Askha menggeleng pelan sambil menghembuskan nafasnya, ia tak perduli dengan keberadaan Daiva disana dan tetap mendekap erat Laura kali ini. Justru Askha ingin supaya Daiva tahu kalau hubungan antaranya dan Laura memang sangat dekat, apalagi berulang kali Daiva terus saja menggoda mereka dengan berbagai kalimat tidak benarnya.


"Buat apa kamu iri Daiva? Kamu juga kan udah punya cowok, si Amir anak SMP itu kan?" ucap Askha sambil tersenyum.


"Eee itu gausah dibahas deh kak, lagian aku juga gak tahu status aku sama dia tuh gimana. Wajar lah dia kan masih labil jadi begitu deh, ya makanya aku ngerasa iri sama kalian," ucap Daiva.


"Haha, yaudah sih kamu cari aja cowok lain sana! Carinya yang seumuran dong, atau paling enggak tuh lebih tua dari kamu lah!" usul Askha.


"Betul tuh, aku rasa cewek kayak kamu gak akan susah buat cari cowok. Kamu itu kan cantik banget loh Daiva, ya walau masih kalah sama aku. Benar kan sayang?" sahut Laura.


"Pasti dong sayang," Askha menyetujuinya.


"Yeh ini sebenarnya kalian mau muji aku atau menghina aku sih? Pake segala dibandingin sama Laura lagi," protes Daiva.


Askha dan Laura kompak tertawa dibuatnya, sedangkan Daiva tentu saja merasa jengkel dan mengerucutkan bibirnya. Baru saja ia dibuat senang, namun justru dijatuhkan dengan begitu kuat oleh Askha maupun Laura. Meski begitu, Daiva memahami kalau semua itu hanyalah sekedar candaan dan bukan suatu hal yang serius.


Cup!


Saat itu juga Daiva terkejut bukan main, karena tiba-tiba saja Askha mengecup bibir mungil Laura tepat di hadapannya. Daiva bahkan sampai menutupi mulutnya, ia tak menyangka Askha seliar itu dan berani mengecup bibir kekasihnya di hadapan saudaranya sendiri. Padahal, tadinya Daiva mengira Askha adalah sosok pria yang polos.


"Ish, mulai deh bikin nambah iri. Seenaknya aja cium bibir kayak gitu di depan aku, kan aku jadi makin penasaran rasa ciuman itu kayak gimana. Aku kepengen juga tau," ucap Daiva.


"Oh pengen ya? Minta aja sana sama Amir, dia pasti gak akan nolak kok!" ucap Askha sambil terkekeh.


"Ck, mana mungkin dia mau kak? Orang bocahnya aja polos kayak gitu, paling juga yang ada nanti dia malah diem aja!" ucap Daiva.


"Ahaha, yaudah gausah mikirin soal ciuman dulu deh! Kamu harus tau, kalau mama aku udah gak pulang dua hari nih. Aku gak tahu mama kemana, jadi kamu bisa kan bantu aku buat cari mama?" ucap Askha mengalihkan topik.


Daiva terkejut dibuatnya, "Apa? Tante Tiara hilang kak?" ujarnya sangat tidak percaya.


Askha hanya bisa mengangguk lesu, karena jujur ia begitu sedih dengan kepergian mamanya yang entah ada dimana saat ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2