Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 153. Berhasil


__ADS_3

Libra bersama keluarganya yang baru tiba dari rumah sakit, dikejutkan dengan suara teriakan lantang dari arah luar yang membuatnya merasa heran sekaligus penasaran. Spontan mereka semua beranjak dari sofa dan ingin tahu siapa yang ada di luar sana itu, namun Libra menenangkan seluruh keluarganya itu dan meminta mereka untuk tetap berada disana serta tidak panik.


Ciara serta yang lain menurut saja, meski mereka masih merasa cemas karena sepertinya akan terjadi keributan di luar sana. Sedangkan Libra kini berjalan ke luar untuk mengecek situasi, ya pria itu tentunya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk di rumahnya. Apalagi, Ciara baru pulih dari proses melahirkan dan ada Cyra juga yang masih bayi dan membuat Libra cemas akan kondisi mereka.


Saat di luar, Libra melihat cukup banyak pasukan pria berbaju hitam dengan setelan jas dan celana panjang seperti mafia-mafia kelas kakap. Libra pun sangat terkejut, ia tak mengenal siapa mereka dan merasa tidak pernah memiliki masalah apapun dengan mereka. Untungnya ada Liam beserta para anak buahnya yang siaga di depan sana, walau jumlah mereka masih kalah dibanding orang itu.


"Siapa kalian? Kenapa kalian membuat rusuh di depan rumah saya, apa mau kalian?" tanya Libra dengan nada tegas.


Salah seorang dari mereka bergerak maju mendekati Libra, ia tersenyum seringai sembari menodongkan senjata ke arah Libra dan membuat Liam serta anak buahnya terkejut bukan main. Mereka tak menyangka kalau pasukan itu ternyata memiliki senjata, tentunya ini akan sangat membahayakan bagi keselamatan Libra maupun yang lainnya.


"Lo nanya apa mau gue? Kita semua kesini itu pengen ambil nyawa lu, dan seluruh keluarga lu. Jadi, lu mau serahin itu secara baik-baik atau kita ambil secara paksa?" ucap orang itu.


Libra terlihat begitu santai, ia turunkan tangan si pria yang menodongkan senjata ke arahnya itu dan malah bergerak semakin mendekatinya. Liam pun sudah sangat was-was dibuatnya, dia bahkan memerintahkan anak buahnya untuk meminta bantuan karena saat ini mereka masih kalah jumlah dan juga tidak memiliki senjata.


"Saya gak ngerti apa masalah kalian, tapi jika kalian menginginkan nyawa saya maka kalian harus berusaha dan itu tidak akan mudah!" ujar Libra.


"Itu mudah bagi kami, sekarang bersiaplah untuk menjemput ajal lu!" ucap si pria.


Lalu, tiba-tiba saja pria itu mulai menyerang Libra dengan kedua tangannya yang masih memegang pistol itu. Tentu saja pasukannya yang lain juga ikut maju menyerang Liam beserta anak buahnya, terjadilah keributan besar di halaman depan rumah Libra dan Ciara yang membuat seisi rumah merasa panik dan ketakutan. Bahkan, Cyra sampai menangis deras ketika mendengar suara perkelahian tersebut. Seolah-olah ia tahu bahwa ayahnya sedang dalam bahaya, karena diserang oleh rombongan orang tak dikenal yang bersenjata.


Sontak Ciara terlihat cemas dibuatnya, ia masih memantau dari balik jendela dan berharap kalau suaminya akan baik-baik saja. Nadira serta Tiara pun terus berusaha menenangkannya, tak lupa Nadira juga menghubungi Gavin untuk meminta bantuan. Ya Nadira tahu jika Gavin memiliki pasukan yang cukup kuat dan banyak, pastinya itu bisa membantu Libra dan yang lainnya disana.


"Ciara, kamu tenang ya sayang! Mama udah hubungi papa kamu, sekarang kamu duduk aja ya jangan terus panik begitu! Kasihan Cyra, dia pasti ikutan panik juga sayang!" ucap Nadira.


"Iya Ciara, yuk kita balik ke sofa aja! Kamu harus yakin kalau Libra pasti bakal baik-baik aja!" sahut Tiara.


"Tapi kak, ma, aku gak bisa tenang dong kalau kayak gini. Suami aku lagi bertarung di bawah sana, aku khawatir banget ma. Aku gak mau terjadi sesuatu sama mas Libra," ucap Ciara gemetar.


"Sssttt, kamu gak boleh bicara sembarangan kayak gitu! Suami kamu pasti baik-baik aja, ayo udah kamu balik ke sofa kasihan anak kamu!" bujuk Nadira.


"Tapi ma—"


Nadira sudah lebih dulu menarik putrinya itu secara paksa menuju sofa, ya Nadira hanya tidak ingin Cyra terus merasakan ketakutan seperti apa yang dirasakan Ciara saat ini. Untuk itu, kini mereka semua kembali terduduk di sofa sembari berusaha menenangkan Cyra yang terus saja menangis.


"Tuh kan, Cyra nangisnya semakin deras. Udah kamu kasih dia asi aja supaya dia lebih tenang!" ucap Nadira.


"I-i-iya ma.." Ciara menurut kali ini, ia pun berusaha tenang dan memberikan asi untuk putrinya.


"Duh ya Tuhan, selamatkan lah suami hamba!" batin Ciara.




Disisi lain, Galen masih dalam suasana berkabung atas kepergian Jessica untuk selamanya setelah dinyatakan meninggal karena pendarahan yang tak kunjung berhenti. Galen tampak sangat bersedih saat ini, ia terus menangis di depan makam Jessica yang masih basah itu dan mengingat segala kejadian yang mereka alami dulu.


Tak lama kemudian, datanglah Bagas disana menemui Galen sembari bertepuk tangan seolah meledek pria itu. Sontak Galen terkejut, lalu menoleh ke belakang dan menemukan sosok Bagas tengah berdiri menatapnya. Galen pun bangkit dari posisinya, menyeka air matanya dan fokus menatap Bagas yang berdiri di dekatnya.


"Bagus bagus, hebat ya anda bisa bersedih di atas makam selingkuhan anda! Sungguh luar biasa!" ucap Bagas mencibirnya.


Galen terkekeh mendengarnya, satu tangannya kini sudah mengepal kuat pertanda bahwa ia mulai emosi akibat perkataan Bagas tadi. Memang Bagas amat pandai memancing emosi seseorang, terlebih Galen ini adalah tipe orang yang mudah emosi. Itulah sebabnya mengapa Bagas sengaja mendatangi makam Jessica saat ini, ia yakin kalau Galen pasti sedang menangis disana.


"Apa anda sudah lupa Galen? Wanita ini yang sudah menghancurkan hidup anda loh, anda kehilangan segalanya gara-gara dia. Lantas kenapa anda malah masih perduli dengan dia?" ujar Bagas.


"Diam anda! Saya tahu Jessica tidak mungkin punya niat seperti itu, semua yang dia lakukan semata-mata untuk mengikuti perintah anda. Tapi, begitu dia berhasil melakukan semuanya, anda tinggalkan dia begitu saja dalam keadaan hamil!" sentak Galen.


"Hahaha, apa perduli saya? Saya hanya ingin menghancurkan hidup anda dan keluarga anda, Galen!" kekeh Bagas.


"Dasar manusia tidak beradab! Apa yang anda lakukan terhadap Jessica, itu semua sangat kejam! Anda telantarkan dia disaat dia sedang mengandung anak-anak anda, dan selama ini saya lah yang merawat dan menjaga dia!" tegas Galen.


"Ya ya ya, segitunya ya anda membela selingkuhan anda ini? Memang sikap anda ini sudah mirip seperti ayah anda, sama-sama tukang selingkuh dan tidak mau disalahkan!" ucap Bagas.

__ADS_1


Deg


Galen semakin tersulut emosi mendengar ucapan yang dilontarkan Bagas, dua tangannya kini terkepal kuat dan tubuhnya bergetar hebat akibat menahan emosi. Ia langsung bergerak maju dan mencengkram kerah baju Bagas dengan penuh emosi, ia tampak sangat marah karena Bagas telah berani-beraninya menghina sang ayah saat ini.


"Jangan pernah bicara hal buruk tentang ayah saya!" sentak Galen dengan penuh emosi disertai tatapan tajamnya.


"Wow wow, santai bro santai! Gak perlu lah emosi kayak gini, kalem!" ucap Bagas sambil terkekeh.


"Anda tidak usah banyak bicara! Katakan saja, apa yang anda inginkan sekarang! Kalau anda hanya ingin mencari keributan, jangan bawa-bawa nama ayah saya sekarang!" geram Galen.


"Hahaha...."


Bagas malah tertawa puas karena berhasil memancing amarah Galen saat ini, lalu ia pun melepaskan cengkraman Galen dan mendorongnya perlahan sampai terhuyung ke belakang. Galen masih terus menatap tajam ke arahnya, tetapi kali ini mereka tidak berkelahi karena menghargai makam Jessica yang masih basah.


"Kalem bro, daripada anda marah-marah lebih baik sekarang anda pikirkan nyawa mantan istri anda dan juga adik tercinta anda itu!" ucap Bagas.


Deg


Betapa terkejutnya Galen ketika mendengar ucapan Bagas barusan, ia penasaran apa sebenarnya yang dimaksud Bagas mengenai keselamatan mantan istri dan adiknya saat ini. Ia pun coba bertanya pada Bagas untuk memastikan apa yang terjadi, ia khawatir jika Ciara sedang dalam bahaya karena kelakuan buruk pria itu.


"Maksud anda apa? Kenapa anda bilang saya harus memikirkan nyawa keluarga saya? Apa yang anda lakukan ke mereka, ha?" tanya Galen penasaran.


"Silahkan anda cari tahu saja sendiri!" ucap Bagas dengan ketus sembari berbalik dan pergi dari pemakaman itu.


Galen merasa geram dan jengkel pada sikap yang dilakukan Bagas barusan, ia berusaha mengejar Bagas secepat mungkin dan meminta penjelasan darinya secara rinci. Tentunya Galen tak terima apabila Bagas melakukan sesuatu yang buruk terhadap keluarganya, apalagi Ciara yang merupakan adik tercintanya.




Sementara itu, situasi di rumah Libra masih belum kondusif. Beberapa anak buahnya berhasil dikalahkan dan tergeletak tak berdaya, apalagi bala bantuan belum datang yang membuat Libra serta Liam terlihat kesulitan. Jumlah musuh yang lebih banyak, dan juga senjata yang mereka bawa membuat keduanya terlihat begitu hati-hati.


Melihat kehadiran seorang pria bersenjata di depannya, sontak baik Ciara maupun kedua wanita di dekatnya sama-sama panik. Mereka berteriak dan reflek bangkit dari sofa, apalagi ketika orang itu mendekat ke arah mereka sambil terus menodongkan senjatanya. Tentu saja Ciara amat ketakutan, terlebih ia masih menggendong Cyra saat ini yang juga tampak panik dan terus menangis.


"Jangan bergerak! Kalau kalian tidak mau saya tembak satu persatu, termasuk bayi itu!" ucap si pria mengancam.


"Ja-jangan! Tolong jangan apa-apakan anak saya! Kamu ini siapa, kenapa kamu mau melukai kami semua?" ucap Ciara dengan lantang.


Pria itu menyeringai dibuatnya, "Ahaha, bukan kalian semua yang akan saya lukai. Tapi, hanya kamu Ciara! Lebih baik kamu serahkan diri kamu ke saya sekarang, jika tidak saya akan habisi kalian semua!" ucapnya tegas.


Ciara melongok lebar disertai mulut menganga, ia syok lantaran pria itu mengatakan jika dirinya lah yang menjadi incaran dalam penyerangan ini. Namun, Ciara merasa ia tidak pernah berbuat salah atau berurusan dengan siapapun itu. Ciara pun tak mengerti mengapa pria itu menginginkannya, dan kini ia hanya bisa menggeleng perlahan.


"Jaga bicara kamu ya orang aneh! Saya gak akan biarkan kamu bawa putri saya ataupun cucu saya dari sini, kamu pergi saja sana dan jangan ganggu kami!" sentak Nadira.


"Iya betul, aku dan mama Nadira akan terus menjaga Ciara serta Cyra. Kalau kamu mau bawa mereka, kamu harus langkahi dulu mayat kami!" sahut Tiara.


Bukannya merasa gentar dan mundur, pria itu justru terkekeh dan bertepuk tangan seolah meledek mereka. Ya sepertinya ia memang tidak takut karena yang ia hadapi hanyalah sekumpulan wanita, tapi meski begitu ia tidak tahu jika wanita-wanita itu bisa menjadi buas disaat mereka akan melindungi anggota keluarga mereka yang terluka.


"Kalian jangan coba-coba untuk melawan saya, kalian lihat kan apa yang saya bawa sekarang? Jika ini mengenai kalian, pasti kalian akan langsung mati!" ucap orang itu.


"Kematian itu di tangan Tuhan, bukan kamu!" sentak Ciara penuh emosi.


"Baiklah, kita lihat saja seberapa kuat kalian bisa bertahan. Karena sekarang tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari kematian," ucap si pria.


Disaat orang itu hendak bergerak maju semakin mendekati Ciara dan yang lainnya, tiba-tiba saja seseorang dari belakangnya menodongkan pistol ke arah kepala bagian belakang sembari berteriak menghentikan aksinya. Sontak lelaki itu terkejut, begitupun dengan Ciara serta yang lainnya karena mereka tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Berhenti disitu, jika tidak pistol ini akan membuat seluruh isi kepala anda keluar!" ancam seseorang di belakangnya.


Begitu melihatnya, Ciara pun tersenyum lebar karena Gavin datang tepat waktu menyelamatkannya. Ciara tampak sangat senang dan lega kali ini, setidaknya dengan begitu maka orang jahat yang ingin melukainya tidak bisa berbuat apa-apa. Tak hanya Ciara, bahkan Nadira serta Tiara kompak mengusap dada mereka sambil menghembuskan nafas.


"Sekarang angkat tangan anda dan jatuhkan senjata anda!" titah Gavin dengan tegas.

__ADS_1


Orang itu menurut saja dan menjatuhkan senjatanya ke lantai, seketika Gavin sadar bahwa senjata milik orang itu hanyalah senjata palsu. Ya seringaian muncul di bibirnya, rupanya sedari tadi yang dijadikan ancaman oleh orang itu adalah sebuah senjata palsu dan tentunya tidak berbahaya.


"Ternyata cuma senjata palsu," batin Gavin.


"Sekarang kamu ikut saya! Ciara, kalian semua masuk ke kamar sekarang ya!" ujar Gavin.


Ciara dan yang lainnya kompak mengangguk, lalu pergi ke kamar bersama-sama sesuai perintah Gavin. Sedangkan pria itu sendiri membawa orang jahat yang tadi menyusup masuk menuju halaman untuk diserahkan kepada Libra, ya tentu saja Gavin ingin menginterogasi orang itu untuk memastikan siapa yang sudah menyuruhnya.


Bruuukkk


Tubuh orang itu dijatuhkan begitu saja ke jalan tepat di hadapan Libra serta seluruh anak buahnya, semuanya kini telah berubah dan pasukan Libra berhasil menang mengalahkan pasukan si orang misterius itu. Libra pun tampak sangat geram, ia dekati orang itu dan memaksanya untuk menjawab pertanyaan darinya.


"Heh! Jawab sekarang pertanyaan saya! Siapa yang menyuruh kamu untuk melakukan ini semua?" sentak Libra.


"Hahaha, sampai kapanpun saya gak akan pernah kasih tahu ke kalian semua!" ujar orang itu.


"Kurang ajar!" Libra mengumpat dan hendak menghajar orang itu.


Akan tetapi, tiba-tiba saja sebuah bom asap muncul dari atas dan mengakibatkan pandangan mereka terhalang oleh asap tersebut. Sontak hal itu dimanfaatkan oleh orang itu dan pasukannya untuk kabur dari sana, tentunya tanpa disadari oleh Libra maupun yang lainnya.


"Hey jangan lari kalian!!"




Kini Bagas sedang duduk di dalam kursi mobilnya sambil tersenyum lebar, tak lama seorang pria menyusul masuk ke dalam sana seolah hendak melaporkan sesuatu. Tidak lain tidak bukan, pria itu memang merupakan anak buah Bagas alias orang suruhannya untuk menaruh sesuatu di dalam rumah Gavin yang sedang kosong.


"Bagaimana tugas yang saya perintahkan? Kamu berhasil kan menaruh bom di rumah itu?" tanya Bagas pada anak buahnya itu.


"Sudah bos, semuanya sudah saya lakukan dengan baik. Betul memang kata bos, pancingan yang bos lakukan ke rumah Libra berhasil membuat rumah itu kosong tanpa penjaga sedikitpun. Saya jadi lebih mudah melakukan tugas ini," jawab si pesuruh.


"Bagus, bayaran kamu akan segera saya berikan! Sekarang kamu bisa pergi, jangan sampai ada yang melihat kita berinteraksi disini! Nanti yang ada rencana kita bisa terbongkar," ucap Bagas.


"Baik bos!" ucap si pesuruh dengan sigap.


Setelahnya, orang suruhannya itu keluar dari mobil dan pergi meninggalkan Bagas sesuai perintah. Kini Bagas pun dapat tersenyum lebar dan merasa lega setelah rencana yang ia susun berhasil dijalankan dengan sempurna, sebentar lagi pastinya Bagas akan berhasil menghancurkan seluruh keturunan Albert yang masih hidup saat ini.


"Hahaha, sebentar lagi dendam saya akan terbalaskan dan seluruh keluarga Albert akan lenyap di tangan saya!" gumam Bagas.


"Kamu memang pintar Bagas! Gak salah aku bekerjasama dengan kamu," ucap seorang wanita yang terduduk di kursi bagian depan.


Bagas tersenyum menatapnya, ya memang ia telah mengajak salah seorang musuh Libra yang juga satu tujuan dengannya. Dialah dokter Syifa, buronan yang selama ini dikejar-kejar oleh polisi dan masih belum ditemukan. Kala itu, Bagas berhasil menyelamatkan Syifa dan mengajaknya bekerjasama untuk menghancurkan Libra beserta keluarganya.


"Ini semua berkat ide dari kamu juga, Syifa. Saya senang bekerjasama dengan kamu," puji Bagas.


"Yasudah, kita mau kemana sekarang? Apa ada pertunjukan seru lainnya setelah ini?" tanya Syifa tampak penasaran.


"Tentu saja, semuanya baru permulaan Syifa. Akan ada lebih banyak pertunjukan seru lainnya yang lebih daripada ini, kamu pasti akan lebih bahagia nantinya!" ucap Bagas.


"Waw aku gak sabar banget nunggu itu, pasti Libra akan sangat menderita dan menyesal karena telah menolak aku dulu!" ucap Syifa.


"Pastinya." Bagas mengangguk perlahan.


Syifa pun kembali berbalik menatap ke arah jalan, sedangkan Bagas memerintahkan supirnya untuk melajukan mobilnya saat ini. Di dalam perjalanan, Bagas tak henti-hentinya tersenyum dan merasa senang karena sebentar lagi rencananya untuk menghancurkan keluarga Albert akan berhasil.


"Tunggu pembalasan dari saya, saya pastikan kamu akan lebih menderita dari apa yang saya rasakan Galen! Setelah seluruh anggota keluarga kamu, barulah kamu yang akan saya habisi!" batin Bagas.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2