
Libra yang sedang dalam perjalanan, tampak terkejut karena mobilnya mendadak berhenti tanpa diketahui pasti apa alasannya. Akhirnya Libra terpaksa melipir sejenak untuk menghindari tabrakan dengan mobil-mobil lain, lalu pria itu pun juga turun dari mobil untuk memeriksa apa yang terjadi dengan mobilnya itu. Libra benar-benar kaget, karena ternyata bensinnya habis.
Pria itu menepuk jidatnya sembari memukul badan mobil dengan kasar, ia sungguh menyesal karena sudah lupa mengisi bensin sampai kehabisan seperti ini. Akibatnya sekarang ia malah terjebak di jalan raya tanpa tahu harus mengisi bensin dimana, Libra pun kebingungan mencari-cari pom bensin di sekitar sana berharap agar ada tempat yang dekat untuk bisa mengisi bensin mobilnya.
"Haish, dimana ya pom bensin yang dekat? Ada-ada aja deh pake habis segala, sial banget emang! Kalo gini sih saya harus cari tempat eceran di dekat sini, karena gak mungkin ada pom disini," gumam Libra.
Akhirnya Libra mengambil sebuah tempat yang ia simpan di dalam mobil untuk mengisi bensin bila kehabisan seperti saat ini, setelahnya Libra bergegas pergi mencari tempat pengisian bensin yang terdekat baik melalui pom atau tempat pinggir jalan. Libra terus berjalan menyusuri jalanan yang lumayan sepi itu, karena situasi disana jarang sekali ada kendaraan atau orang yang lewat.
"Ah dimana ya tempat bensin? Masa iya saya harus jalan terus kayak gini? Kan pegal tau!" gumamnya.
Saat ia sedang asyik berjalan, tanpa disadari tampaknya ia tengah dipantau oleh seseorang dari jauh yang berada di dalam mobilnya. Orang itu mengambil ancang-ancang untuk menginjak pedal gasnya dan melajukan mobil dengan kencang, ya dia adalah Davin alias adik dari Gavin yang merupakan paman Ciara juga. Davin amat membenci Libra, ia tidak ingin Libra hidup dan merebut Ciara darinya.
"Awas kamu Libra! Kalau saya tidak bisa memiliki Ciara, maka siapapun juga tidak bisa!" geram Davin emosi.
"Ciara cuma boleh jadi milik saya, siapapun tidak boleh merebut dia dari saya!" sambungnya.
Dengan cekatan, Davin menarik persneling mobilnya dan segera menancap gas dengan kecepatan tinggi untuk mendekati Libra yang tengah berjalan di depan sana. Semakin lama kecepatan mobilnya semakin tinggi bersiap menabrak Libra dari belakang, ia tertawa keras terbahak-bahak seolah tak sabar untuk melancarkan aksinya.
"Habis kamu Libra! Rasakan ini, kamu harus mati!" ucap Davin dengan serius.
Libra masih belum sadar kalau bahaya sedang mengincarnya, ia terus berjalan ke depan mencari dimana tempat pengisian bensin yang dekat sambil terlihat kebingungan. Sedangkan mobil Davin sudah semakin dekat dengannya, dan hanya beberapa detik lagi bisa menyentuh bahkan menabraknya dengan kecepatan tinggi yang tak terkira.
"LIBRA AWAS!" tiba-tiba saja, seorang wanita di seberang berteriak cukup keras memperingatkan Libra sebelum mobil Davin semakin dekat.
"Hah??" Libra menoleh ke asal suara, ia melihat Bella disana dan berlari mendekatinya sambil terus berteriak agar Libra menghindar dari mobil Davin.
"Bella? Ngapain dia?" lirih Libra kebingungan.
"AWAS BELAKANG KAMU! MINGGIR!!" teriakan Bella semakin mencuat, membuat Libra beralih menatap ke belakang untuk memastikan.
Braakk
Beruntung Bella berhasil mendorong Libra dengan kuat sampai terpental ke pinggir, sayangnya Bella tak sempat menyelamatkan diri karena lebih dulu tertabrak mobil Davin. Sontak tubuh Bella tergeletak di aspal dengan posisi mengenaskan disertai darah yang mengalir cukup banyak, sedangkan Davin sudah pergi dari sana dan terlihat kesal karena rencananya digagalkan oleh tindakan konyol Bella.
"BELLAAAA!!!" Libra berteriak histeris melihat kondisi Bella saat ini, langsung saja ia bangkit dan menghampiri kekasihnya itu sambil menangis terisak.
•
•
Disisi lain, Ciara yang masih berada di tempat camping merasa kesal lantaran Libra tak mau mengangkat telpon darinya. Berulang kali Ciara mencoba menghubungi nomor pria itu, tetapi tetap saja hasilnya nihil dan membuat Ciara jengkel serta cemas dengan kondisi pamannya itu. Karena sejak tadi memang Libra belum ada memberi kabar padanya, dan Ciara sendiri juga bingung mengapa ia bisa sampai secemas ini pada Libra.
Hari sudah malam, semua kelompok berkumpul di luar masing-masing itu tenda untuk mengadakan acara api unggun serta menikmati santap malam yang mereka bawa dari rumah. Namun, Ciara seolah tak menikmati malam itu karena pikirannya terus mengarah ke sang paman yang sampai saat ini belum juga ada kabar. Bahkan chat darinya juga tak digubris oleh pamannya itu, sehingga membuat Ciara sangat cemas dan panik.
Akhirnya Ciara beranjak dari tempat duduknya, Ayu yang berada di sebelahnya pun keheranan saat Ciara tiba-tiba berdiri. Ayu pun bertanya padanya, namun Ciara hanya menjawab kalau dia ingin pergi ke toilet. Setelahnya, Ciara pergi begitu saja tanpa perduli dengan ocehan Hanum serta teman-temannya yang merasa Ciara tidak ingin membantu mereka menyiapkan makan malam disana.
__ADS_1
Melihat Ciara pergi menjauh dari wilayah camping, Seno yang bertugas menjaga di sekitar sana langsung tergerak penasaran. Pria itu coba mengikuti kemana Ciara pergi karena ia tak ingin sesuatu terjadi pada gadis itu, meski Seno tahu jika di area itu juga sudah ada cukup banyak petugas yang berjaga-jaga untuk menghindari hal-hal buruk. Mungkin ini hanya alasan Seno saja untuk lebih dekat dengan Ciara dan berduaan bersamanya.
"Ciara!" mendengar suara orang memanggilnya, sontak Ciara menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara tersebut.
Ciara menyipitkan matanya melihat Seno berada di dekatnya, ia heran mengapa pria itu malah mengikutinya dan bukan tetap berada di area tenda untuk mengawasi yang lain. Seno kini sudah tiba di depan wajah gadis itu, dengan santai Seno tersenyum sembari menyapa Ciara yang masih terdiam lesu karena memikirkan sosok Libra.
"Hai Ciara! Kamu mau kemana malam-malam begini? Apa kamu gak pengen makan di tenda bareng yang lain? Kalau iya, aku bisa temenin kamu ke posko kok," ucap Seno lirih.
"Umm, enggak kok. Ini aku cuma pengen ke toilet, abis itu juga aku balik lagi," ucap Ciara sendu.
"Ohh, kirain kamu lagi badmood atau apa gitu gara-gara kejadian sore tadi. Yaudah, biar aku antar ya sampai toilet? Soalnya jalannya lumayan gelap loh, nih makanya aku bawa senter buat terangin jalan," ucap Seno menawarkan diri.
Ciara mengangguk saja dibuatnya, tanpa berbicara lagi gadis itu langsung berbalik dan kembali melangkah ke arah toilet. Seno pun terkejut, kemudian menghidupkan senternya dan berlari mengejar Ciara yang sudah lebih dulu menjauh darinya. Tampaknya Ciara tak bisa melupakan sosok Libra saat ini, gadis itu belum dapat tenang jika Libra tak memberi kabar kalau dia baik-baik saja.
"Pikiran aku kok gak tenang gini ya? Semoga om baik-baik deh disana dan gak terjadi sesuatu yang buruk ke om!" batin Ciara sembari berjalan.
•
•
Di lain tempat, Nindi berada di sebuah cafe mewah bersama Leon karena pria itu mengajaknya untuk pergi makan malam bersama dalam rangka permintaan maafnya. Leon memang sengaja telah menyiapkan semua dekorasi disana untuk menyambut malam yang indah ini, tentunya agar gadisnya itu tidak sedih atau marah lagi padanya.
Nindi cukup terpukau dengan semua itu, apalagi yang ada disana semuanya adalah kesukaannya. Namun, tetap saja Nindi tidak bisa tersenyum bahagia atau setidaknya menikmati momen ini. Ya karena Nindi masih terus memikirkan janin yang ada di dalam perutnya, gadis itu sungguh tak menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini.
"Eee i-i-iya pak, ini bagus kok dan aku suka. Makasih ya udah capek-capek buatin semua ini?" ucap Nindi.
"Sama-sama Nindi, aku senang deh kalau kamu suka!" ucap Leon seraya menggenggam tangan gadis itu.
Nindi tersenyum saja sembari sesekali melirik wajah pria di hadapannya itu, namun lagi-lagi bayangan mengenai kejadian buruk yang menimpanya kembali menghantui pikirannya. Nindi merasa dirinya tidak pantas untuk bisa bersama dengan pria sebaik Leon, apalagi dengan semua yang sudah Leon lakukan untuknya ini. Tak pantas rasanya jika Leon mendapat wanita seperti dirinya, yang dalam menjaga kesucian saja ia tidak bisa lakukan.
"Apa kamu masih bisa tetap sesenang ini kalau tahu wanita yang lagi ada di depan kamu sekarang sedang mengandung anak orang lain?" batin Nindi.
Air mata menetes membasahi kedua pipinya, dan tanpa sadar tetesan itu jatuh menyentuh punggung tangannya yang sedang digenggam erat oleh Leon. Sontak Leon menyadari hal itu, segera saja pria itu panik dan bergerak maju mendekati gadisnya. Jujur Leon tak tahu apa yang terjadi sampai membuat Nindi menangis seperti itu, pasalnya daritadi ia tak merasa melakukan kesalahan apapun.
"Loh Nindi, kamu kenapa nangis begini? Bilang sama aku Nindi, ada apa! Atau kamu gak suka sama yang aku lakuin ini, hm? Kamu bilang aja Nindi, aku akan lakukan sesuai kemauan kamu!" ucap Leon panik.
Nindi terisak dan menghapus air matanya dengan telapak tangan, "Bukan pak, aku cuma terharu aja sama sikap bapak ke aku malam ini. Bapak udah siapin semua ini untuk aku, dan aku benar-benar terharu!" ucapnya sambil menggeleng pelan.
"Hah? Jadi, kamu nangis itu karena terharu? Duh ya ampun Nindi, kamu tuh bikin aku panik aja tau gak! Aku kira kamu kenapa-napa loh," ucap Leon lega.
"Maaf pak, aku emang gak bisa bikin bapak bahagia," ucap Nindi.
"Maksud kamu apa sih? Dengan kamu mau hadir disini dan terima ajakan aku, itu saja sudah cukup buat aku. Aku bahagia banget malah, karena kamu wanita yang aku cintai!" ucap Leon.
Deg!
__ADS_1
Hati Nindi makin tertusuk rasanya mendengar pengakuan cinta dari Leon barusan, seharusnya ia memang bahagia mendengar bahwa lelaki yang ia cintai ternyata juga mencintai dirinya. Namun, yang terjadi saat ini justru berbeda. Ya Nindi tidak ingin Leon salah dalam mencintai wanita, apalagi saat ini kondisinya Nindi tengah mengandung anak dari lelaki lain tanpa sepengetahuan Leon.
•
•
Setelah puas berada di dalam toilet, Ciara kini keluar dan kembali menemui Seno yang memang masih disana menunggunya. Tampak pria itu tersenyum begitu melihatnya, memang Ciara sudah menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit hanya untuk melamun di toilet. Namun, Seno tidak akan protes karena khawatir Ciara justru tak suka nantinya dan malah menjauh darinya.
Tapi tentu, Ciara mengetahui jika Seno pasti tidak nyaman karena menunggu lumayan lama. Harusnya memang tadi Ciara tidak terlalu lama berada di toilet, namun Ciara lupa kalau Seno mengatakan akan menunggu di luar sampai gadis itu selesai. Ciara pun merasa tidak enak pada Seno, meski saat ini Seno sendiri terlihat tersenyum santai tanpa merasa bete atau melakukan protes padanya.
"Udah selesai pakai toiletnya?" tanya Seno disertai senyum yang merekah di pipinya.
Ciara mengangguk kecil, "Udah kok, sorry ya lama? Aku tadi soalnya ya gitu deh, gak enak kalau diceritain ke kamu. Mendingan kita sekarang balik ke tenda aja yuk!" ucapnya.
"Eh sebentar deh, ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu. Kita ke tempat yang indah dulu yuk sebentar!" ucap Seno.
"Omongin soal apa kak?" tanya Ciara penasaran.
"Eee nanti aja deh kita omongin nya, gak asik lah kalau bicara sambil berdiri kayak gini. Lagian emangnya kamu gak pegel?" ucap Seno.
"Yaudah, terserah kamu aja. Kalo gitu kita jalan sekarang!" ucap Ciara.
Seno tersenyum setuju dengan ucapan Ciara dan berjalan bersama-sama menuju tempat yang pas untuk mereka bicara berdua, Seno sudah tidak sabar ingin sampai disana dan menyampaikan keinginannya pada Ciara. Sedangkan Ciara justru terlihat biasa saja, karena pikirannya masih terus mengarah ke sosok Libra yang belum memberi kabar atau sekedar membalas pesannya.
Sesampainya di lokasi, Seno langsung meminta Ciara untuk duduk bersamanya di depan sebuah taman yang indah dengan berbagai pemandangan. Memang lokasi ini berada agak jauh dari tempat mereka mendirikan tenda, tetapi Seno yakin Ciara dapat merasa nyaman karena kondisi disana memang terlihat cukup indah. Selain itu, ada juga berbagai jajanan yang tersedia di sekitar sana.
Kini Seno beralih menatap wajah gadis di sampingnya itu sambil tersenyum lebar, tangannya bergerak perlahan membelai rambut sang gadis dengan sentuhan lembut. Ciara diam saja tak mengatakan apapun, meski sebetulnya ia merasa risih dan ingin mengakhiri itu semua. Namun, Ciara takut Seno akan tersinggung lalu meninggalkannya begitu saja di tempat ini.
"Ciara, kamu mau sambil makan atau enggak? Biar nanti di tenda kamu gausah makan lagi, mau ya?" tawar Seno.
Ciara menggeleng perlahan, "Gausah kak, langsung aja kamu mau ngobrol apa sama aku!" ucapnya.
"Eee ya sebenarnya masalah ini agak susah sih buat diomongin, karena aku takut kamu malah menjauh dari aku nantinya. Tapi, aku terpaksa bicara ini sama kamu karena aku udah gak bisa tahan lagi Ciara," ucap Seno.
"Maksud kakak??" tanya Ciara dengan heran.
Seno langsung meraih kedua tangan Ciara dan menggenggamnya erat, ia tatap intens wajah gadis itu sembari mengusap punggung tangannya perlahan. Jantung Ciara pun berdetak lebih cepat dari biasanya, entah mengapa ia merasa tatapan Seno sangat berbeda dari sebelumnya. Pria itu sepertinya tengah memendam sesuatu di dalam dirinya saat ini yang ingin ia lampiaskan.
"Aku sayang sama kamu Ciara, aku cinta sama kamu sejak pertama kali kita ketemu. Kamu mau kan jadi pacar aku?" ucap Seno dengan serius.
Deg!
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1