Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 157. Ledakan kehancuran


__ADS_3

Libra yang masih terjebak di tengah jalan bersama istrinya, dikejutkan dengan kemunculan Syifa yang secara tiba-tiba itu. Apalagi, Syifa dengan jelas mengatakan kalau dia akan menghabisi seluruh keluarga mereka jika Libra tidak mau menuruti apa yang dia inginkan. Setelah Syifa memberitahukan keinginannya pada mereka, sontak Ciara terpancing dan tidak terima jika Syifa ingin Libra menikahinya.


Disaat mereka sedang bersitegang setelah permintaan yang dilontarkan Syifa tadi, lagi-lagi mereka berdua dibuat terkejut karena ada satu mobil lagi yang muncul dan berhenti di depan sana. Dari dalam mobil tersebut pun turunlah seorang pria berpakaian rapih yang sangat mereka kenali, ya Libra serta Ciara kompak tercengang karena yang datang kali ini adalah Bagas alias musuh bebuyutan mereka.


Berbeda dengan sepasang suami-istri itu, reaksi Syifa saat melihat Bagas justru tampak biasa-biasa saja dan tidak ada rasa kaget sedikitpun. Malahan Syifa seperti senang dengan kemunculan Bagas disana, tentu saja hal itu membuat Libra berpikir jika mungkin diantara Syifa dan Bagas telah terjalin kerjasama karena mereka berdua memang sama-sama ingin menghancurkan keluarganya.


"Ini dia Libra, orang yang bisa menghancurkan hidup kamu dan juga keluarga kamu sudah datang. Apa sekarang kamu masih gak yakin sama kata-kata aku tadi, hm?" ucap Syifa tersenyum seringai.


Libra terkejut dengan penuturan wanita itu, ia tak menyangka kalau ternyata Syifa memang benar telah bekerjasama dengan Bagas saat ini. Libra pun semakin dibuat bingung, ia akan harus menghadapi dua orang licik sekaligus yang bisa melakukan apapun sesuai keinginan mereka. Dengan begitu, kini Libra terlihat panik dan tidak tahu harus berbuat apa untuk meredam amarah keduanya.


"Hahaha, apa kabar Libra dan Ciara? Serangan kemarin mengejutkan bukan? Congrats ya, kalian masih bisa selamat dari serangan itu!" ucap Bagas.


"Sial! Jadi benar kalau serangan itu dalangnya dari anda? Apa maksud anda sebenarnya, ha? Kenapa anda melakukan ini ke keluarga saya, apa salah kami?" geram Libra.


"Salah kalian? Bukan, ini semua salah bokapnya Ciara!" ucap Bagas sembari menunjuk ke arah Ciara.


Deg


Ciara sontak ikut terkejut dan membelalakkan matanya begitu Bagas menunjuk ke arahnya, ia tak mengerti apa maksud Bagas mengatakan itu. Lalu, ayahnya yang mana yang dimaksud pria itu tadi dan apa yang telah dilakukan ayahnya sebenarnya. Pikiran itu terus berkecamuk di dalam kepalanya, membuat Ciara merasa cemas lalu terus saja menatap wajah suaminya dengan bingung.


"Kalian pasti bingung kan? Panjang ceritanya jika saya harus menjelaskan sekarang, jadi sebaiknya kalian siap-siap aja karena sebentar lagi keluarga kalian akan hancur di tangan saya!" ucap Bagas.


"Hahaha, hahaha..."


Bagas dan Syifa kompak tertawa puas saat ini, dari suara tawa mereka saja sudah menunjukkan betapa bencinya mereka terhadap Libra dan keluarganya. Namun, Libra sendiri masih belum mengerti apa yang dimaksud kedua musuhnya itu. Libra pun terus berpikir keras, mencoba menerka apa rencana yang sudah dijalankan oleh kedua iblis itu saat ini.


Tapi tak lama kemudian, beberapa mobil kembali muncul dan berhenti tepat di dekat mereka. Bagas serta Syifa terus saja tertawa sembari mengangkat kedua tangan mereka, seolah-olah ini bagian dari rencana yang hendak mereka lakukan. Libra pun tampak panik, ia berbisik dan meminta Ciara untuk segera pulang lebih dulu meminta bantuan.


"Sayang, kamu pulang ke rumah sekarang ya! Bilang ke pak Liam dan yang lainnya, susul saya kesini! Sepertinya akan terjadi penyerangan yang besar, kamu harus bisa selamatkan diri dan juga Cyra!" bisik Libra di telinga istrinya.


Kali ini Ciara mengangguk paham, meski agak ragu tapi kemudian ia memutuskan untuk mengikuti saja saran dari suaminya itu. Ya Ciara bergegas pergi dari sana bersama putrinya, lalu meminta bantuan kepada para pengawal dan juga papanya yang kebetulan masih berada di rumah. Ciara tampak sangat panik, ia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada suaminya saat ini.


Sementara Bagas sangat senang melihat Libra menyuruh Ciara kembali ke rumahnya, dengan begitu maka daftar korban yang dapat ia binasakan akan semakin banyak. Ciara termasuk di dalamnya, dan pastinya akan ikut terkena ledakan dahsyat karena Bagas telah memasang bom di dalam rumah tersebut tanpa sepengetahuan Libra maupun pihak keluarganya yang ada disana.


"Bagus Libra, bagus! Kamu memang harus menyuruh istri dan anak kamu itu pulang, pemikiran yang luar biasa!" ucap Bagas.


"Diam kamu Bagas! Kelakuan kamu itu benar-benar bikin saya kesal, saya tidak akan pernah memaafkan kamu kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anak saya!" geram Libra.


"Oh waw, saya jadi ngeri nih. Kita lihat saja Libra, apa kamu masih bisa melihat mentari esok hari atau tidak!" ucap Bagas menyeringai.


"Kurang ajar!" Libra mengumpat kesal.


Perkelahian sengit pun terjadi antara Bagas dan juga Libra, sedangkan para pasukan bersenjata yang dibawa Bagas telah tiba dan akan terus menyerang ke arah rumah milik Gavin bersama Syifa. Ya tentunya semua itu telah diatur sedemikian rupa oleh Bagas, supaya mereka bisa membuat seluruh pasukan Gavin sibuk dan orang-orang di dalam rumah itu akan meledak karena bom yang ada.


__ADS_1



Sementara itu, Tiara dan Adrian hendak pergi ke luar untuk mengikuti sesi meeting dengan klien yang sudah menunggu di salah satu cafe. Tiara terlihat amat gugup saat ini, apalagi sedari tadi sikap Adrian padanya memang cukup aneh. Bisa dibilang kalau pria itu seolah-olah begitu perhatian padanya, meski tidak ditunjukkan secara langsung olehnya.


Disaat mereka hendak keluar dari kantor, tanpa diduga Salma alias kekasih Adrian itu muncul dan menemui mereka disana. Sontak Tiara merasa tidak enak hati dengan gadis itu, pasalnya Tiara tahu kalau Salma adalah calon istri dari bosnya. Tiara pun tak mau jika sampai Salma salah menduga, apalagi mengira dirinya ada rasa dengan Adrian saat ini.


"Hai sayang! Kamu mau kemana sih buru-buru banget? Aku baru aja datang loh, niatnya aku pengen ajak kamu jalan-jalan berdua gitu supaya kita makin dekat dan makin romantis!" ucap Salma.


Adrian terlihat tidak menyukai keberadaan Salma di hadapannya, pria itu malah memalingkan wajahnya dan menghela nafas singkat. Namun, Salma tetap berusaha untuk membuat calon suaminya itu mau tersenyum dan menatapnya. Tapi tetap saja, sikap Adrian memang tidak bisa diubah karena pria itu tidak ingin Salma terus mendekatinya.


"Salma, aku lagi kerja ya sekarang. Kamu jangan ganggu aku dong, kamu harus bisa paham sama waktu kerja aku ini! Kalau kamu mau jalan-jalan, yaudah pergi aja sendiri sana! Aku gak bisa temenin kamu dong sekarang," ucap Adrian ketus.


"Ih kamu kok jadi berubah gini sih sayang? Perasaan dulu tiap kali aku kesini, kamu selalu senang dan lebih mentingin aku dibanding kerjaan kamu. Tapi, kenapa sekarang jadi beda?" heran Salma.


"Dulu ya dulu, gara-gara itu juga kerjaan aku sekarang jadi numpuk tahu!" ucap Adrian kesal.


"Jadi kamu gak mau nih nemenin aku jalan-jalan? Emang kamu gak sedih nanti kalau misal ada cowok lain yang deketin aku, hm?" tanya Salma.


"Enggak."


Salma terbelalak lebar mendengar jawaban dari pria yang ia cintai itu, sikap Adrian jauh berbeda dan sudah berubah lebih dingin padanya saat ini. Salma pun menggeram kesal, rasanya ia tak terima dengan sikap Adrian yang begitu dingin. Ingin sekali Salma memukul sesuatu untuk melampiaskan emosinya, karena menurutnya Adrian benar-benar menyebalkan dan tidak bisa ditolerir lagi sikapnya.


"Yaudah, sekarang aku sama Tiara mau ada rapat penting. Kamu mending pulang aja deh Salma, atau kalau mau nunggu disini ya terserah kamu!" ucap Adrian dengan ketus.


Adrian menggeleng, "Gak bisa lah Salma, mau ngapain kamu pake ngikut segala? Nanti yang ada kamu malah ngerepotin disana," jawabnya tegas.


"Ih tapi kan aku lagi pengen ada di dekat kamu terus manja-manja sama kamu gitu," rengek Salma.


"Haish, cukup ya Salma! Aku tuh muak ngadepin sikap aneh kamu yang kayak gini, tolong berhenti ganggu aku sekarang! Kamu pulang aja sana, aku lagi banyak urusan!" sentak Adrian.


Deg


Lagi-lagi Salma dibuat syok dengan ucapan Adrian yang begitu tegas dan keras, pria itu sepertinya sangat emosi saat ini dan tak bisa menahannya lagi. Adrian sudah terlanjur kesal dengan sikap sok manis yang ditunjukkan Salma sedari tadi, apalagi Adrian juga sedang memiliki banyak masalah yang membuat pria itu lebih mudah emosi.


Salma pun hanya bisa diam sembari menundukkan wajahnya, gadis itu terlihat begitu sedih dan air mata mulai menetes membasahi kedua pipinya. Ia menangis, namun tak mengundang keperdulian bagi Adrian yang masih saja cuek. Bahkan, Adrian lebih memilih pergi dan menggandeng tangan Tiara meninggalkan gadis itu disana.


"Hah? Ish, kok kamu malah pergi sama dia sih sayang? Kamu jahat, Adrian tunggu!" Salma tampak begitu kesal dan berusaha mengejar kekasihnya.


Ya Salma tak terima setelah melihat Adrian bergandengan tangan dengan wanita lain, meski ia tahu wanita itu hanyalah sekretaris Adrian. Akan tetapi, dari sikap yang ditunjukkan Adrian tadi membuat Salma makin was-was jikalau Adrian akan pergi meninggalkannya. Tentu saja Salma tak mau itu terjadi, karena ia sangat mencintai Adrian dan ingin memiliki pria itu seutuhnya.




Bruuukkk

__ADS_1


Libra terjatuh ke aspal setelah menerima pukulan serta tendangan secara beruntun dari Bagas, kini Libra tampak kesulitan untuk bangkit karena tubuhnya begitu terasa sakit. Ia terus memegangi bagian dadanya yang sesak, pukulan Bagas memang luar biasa dan berhasil membuatnya kesakitan serta sulit membalas.


Bagas sendiri merasa puas dibuatnya, ia mengira kalau saat ini dirinya telah menang setelah berhasil mengalahkan Libra disana. Tak ada lagi yang bisa menghentikan niatnya kali ini untuk menghabisi Libra dan juga keluarganya, semua keturunan Albert akan ia habisi karena ia begitu benci dengan pria itu yang telah membunuh ayah serta kakak perempuannya beberapa tahun lalu.


"Hahaha, kamu bisa apa sekarang Libra? Gak mungkin lagi ada yang bisa menghalangi niat saya sekarang, sebentar lagi Ciara dan keluarga kamu yang lainnya akan saya habisi!" ujar Bagas.


Libra melongok lebar mendengar perkataan Bagas barusan, entah mengapa ia memiliki firasat buruk yang membuatnya ketakutan bukan main. Libra tak mengerti lagi harus melakukan apa, kondisinya saat ini sudah terluka cukup parah akibat perkelahiannya dengan Bagas yang ternyata sangat kuat dan sulit untuk ditaklukkan olehnya itu.


"Kamu lihat ini Libra, lihat ini!" tiba-tiba saja, Bagas menunjukkan sesuatu seperti remote di depannya.


"Hah? Remote apa itu Bagas? Jangan main-main dengan saya, katakan apa sebenarnya yang sedang kamu rencanakan!" geram Libra.


"Ahaha, kamu panik Libra? Ini adalah alat yang akan saya gunakan untuk menghabisi keluarga kamu, sebentar lagi mereka semua akan mati!" ucap Bagas.


"Apa maksud kamu? Tolong katakan yang jelas dan jangan bertele-tele!" sentak Libra.


"Kamu ingin tahu? Baiklah, saksikan saja sendiri kematian dari para keluarga kamu itu sekarang!" kekeh Bagas.


Libra geleng-geleng kepala dibuatnya, ia heran sekaligus bingung apa yang dimaksud Bagas sebenarnya saat ini. Remote itu terlihat bukan seperti remote pada umumnya, entah apa yang disembunyikan Bagas dan tidak diketahui oleh Libra. Sontak Libra pun merasa penasaran, ia terus berpikir keras sambil coba menebak-nebak.


Setelahnya, Bagas menekan tombol remote tersebut dan tersenyum menyeringai ke arah Libra di bawah sana. Bagas tampak menunjukkan remote itu pada Libra, saat itu juga Libra terbelalak lebar dan amat syok melihatnya. Libra kini baru tahu, Bagas telah memasang di rumahnya dan dalam sepuluh detik rumah itu akan meledak dibuatnya.


"Bagas, hentikan perbuatan kotor kamu itu! Jangan sampai kamu menyesal nantinya, saya mohon berhenti Bagas!" teriak Libra memohon.


"Hahaha, sampai kapanpun saya tidak akan pernah menyesal Libra. Ini adalah mimpi yang saya ingin lakukan sejak lama, menghabisi keluarga kalian adalah keinginan saya!" tegas Bagas.


"Kurang ajar, berhenti Bagas!" Libra mengumpat dan bangkit sambil berusaha merebut remote itu.


"Cukup Libra, kamu gak perlu buang-buang tenaga untuk mengambil remote ini! Silahkan, kamu pegang saja dan saksikan sendiri kematian keluarga kamu!" ucap Bagas seraya menyerahkan remote nya.


"Memang biadab kamu Bagas!" umpat Libra.


Disaat Libra mengambil alih remote itu, betapa syoknya ia karena ternyata waktu sudah menyisakan tiga detik lagi. Libra pun terbelalak dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia segera menatap ke arah rumahnya begitu detik sudah menunjukkan angka satu. Saat itu juga Libra menganga lebar, rumah yang ia tinggali bersama istri dan anaknya meledak lalu hancur dalam waktu sekejap.


Duarrrr


Suara ledakan itu terdengar sangat keras dan sampai harus membuat Libra menutup kedua telinganya saat ini, ia tak menyangka dan masih belum bisa mempercayai semua yang terjadi di depan matanya itu. Rumah beserta keluarganya telah hancur dalam sebuah ledakan dahsyat, orang-orang yang ada di sekitar pun berlarian berusaha menyelamatkan diri dari kebakaran hebat.


"Hahaha, inilah kehancuran yang sesungguhnya Libra! Nikmati semuanya, rasakan kematian dari seluruh anggota keluarga kamu itu!" ucap Bagas tampak sangat puas.


Libra hanya bisa terdiam saat ini, tubuhnya ambruk dan ia merasa begitu hancur karena telah gagal dalam menyelamatkan keluarganya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2