Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 186. Perseteruan


__ADS_3

Cyra kini masuk ke dalam rumahnya dan terduduk di sofa sambil menangis terisak, ia merasa jika apa yang dilakukan mamanya tadi sudah berlebihan dan tak sepantasnya Ciara bersikap seperti itu. Padahal, Cyra yakin sekali kalau Davin bukanlah orang jahat seperti yang dibilang mamanya itu. Akan tetapi, entah mengapa Ciara selalu saja melarang Cyra untuk mendekati Davin atau berada di dekatnya.


Disaat yang sama, Libra keluar dari kamarnya dan tak sengaja melihat putrinya tengah menangis di depan sana. Karena penasaran dan ingin tahu apa penyebab Cyra menangis seperti itu, sontak Libra bergegas menghampiri gadis itu dan ikut terduduk di sebelahnya. Perlahan Libra merangkul pundak Cyra, membuat sang empu terkejut lalu menoleh ke arahnya sambil menyeka air mata di pipinya.


"Pa, kenapa papa kesini?" tanya Cyra dengan lirih dan air mata yang masih mengalir saat ini.


Libra tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala putrinya itu, ia heran mengapa Cyra sampai bisa sesedih itu kali ini. Padahal, biasanya Cyra sering tersenyum dan merupakan gadis yang ceria, bahkan jarang menangis. Libra pun mendekap erat, mencoba bertanya secara perlahan pada putrinya dan tidak memaksa gadis itu bercerita.


"Papa tadi gak sengaja lihat kamu lagi nangis disini, makanya papa samperin aja. Sebagai papa yang baik, papa kan maunya kamu gak sedih lagi. Emang ada apa sih sayang, hm?" ucap Libra lembut.


Cyra menggeleng pelan, "Gapapa pa, papa gak perlu khawatir sama aku!" ucapnya berbohong.


"Hm, masa sih? Kalau gapapa, kenapa kamu nangis hayo? Mending kamu jujur deh sama papa, apa sih yang bikin kamu nangis!" ucap Libra tak percaya.


"A-aku kesel aja pa," ucap Cyra sambil menunduk.


Libra mengernyitkan dahinya dan terlihat bingung mendengar ucapan putrinya itu, ia pun menarik dagu Cyra dan menangkup wajahnya. Ditatapnya mata gadis itu dengan tajam, sehingga membuat Cyra tak bisa bergerak banyak. Libra benar-benar serius kali ini, karena ia penasaran apa sebenarnya yang membuat Cyra menangis seperti itu.


"Kamu kesel kenapa sayang, hm? Kok bisa kamu kesel sampai nangis kayak gitu?" tanya Libra tegas.


"Eee a-aku...." Cyra terlihat bingung menjawabnya.


"Kak Cyra!!" tiba-tiba saja, Adel yang merupakan adik dari Cyra berteriak memanggil nama kakaknya itu sambil melangkah menuruni tangga.


Sontak Libra serta Cyra menoleh secara bersamaan ke arah Adel, mereka melupakan sejenak perbincangan yang tadi mereka lakukan. Ya Libra tak ingin putri kecilnya itu tahu kalau saat ini Cyra sedang menangis dan memiliki masalah, itulah sebabnya Libra bergegas menyeka air mata di wajah Cyra agar Adel tidak curiga.


"Ah iya Lia, kamu kenapa teriak-teriak gitu sih? Papa sama kakak kamu ini sampai kaget loh dengarnya sayang," ucap Libra tersenyum lebar.


"Hehe, maaf papa! Aku cuma mau minta bantuan kak Cyra buat kerjain pr bahasa Inggris aku, soalnya ada yang aku gak ngerti nih. Kakak bisa bantu aku kan?" ucap Adel dengan suara lembutnya.


Cyra tersenyum dibuatnya, "Ohh, ya bisa kok Lia. Mana sini aku lihat soal nya?" ucapnya.


Adel pun bergerak mendekat ke arah sang kakak, lalu menyerahkan buku pelajaran miliknya kepada Cyra dan disambut dengan gembira. Libra sendiri hanya diam memandangi mereka, ia membiarkan saja kedua putrinya itu saling berinteraksi. Kini Libra beranjak dari sofa, mencoba mengecek situasi di luar karena ia sungguh penasaran.


__ADS_1



Di luar, Ciara masih terlibat perdebatan dengan Davin terkait permintaannya pada pria itu untuk menjauhi Cyra, putrinya. Ciara tak ingin jika Davin terus saja berada di dekat Cyra seperti saat ini, sebab ia khawatir Davin akan berbuat suatu hal yang tidak benar pada gadis itu. Sebagai seorang ibu, Ciara tentu ingin yang terbaik bagi putrinya dan ia tidak mau putrinya itu terluka karena Davin.


Akan tetapi, Davin sendiri kekeuh tak ingin menurut dengan apa yang dikatakan Ciara. Ia tetap saja berkata kalau dirinya ingin dekat dengan Cyra, sehingga hal itu memancing amarah Ciara. Masih untung ada Galen disana, ya jika tidak mungkin sudah terjadi keributan yang lebih parah dari itu. Galen terus menahan tubuh Ciara, karena ia tak mau Ciara sampai berbuat nekat nantinya.


"Om, aku mohon sama om kali ini aja! Tolong om jauhi anak aku, Cyra! Aku gak mau kalau om sampai merusak dia juga, seperti dulu om merusak aku!" sentak Ciara.


Davin justru terkekeh, "Hahaha, kamu gak perlu takut soal itu Ciara! Saya ini sudah berubah, saya bukan Davin yang dulu lagi. Saya akan melindungi Cyra seperti anak kandung saya sendiri, bahkan lebih dari ayahnya itu!" ucapnya tegas.


"Jaga bicara om itu! Jelas mas Libra lebih sayang dan berhak untuk Cyra, daripada om yang bukan siapa-siapanya!" ucap Ciara semakin emosi.


Ciara sudah benar-benar terpancing dengan ucapan Davin yang begitu menyebalkan, namun lagi-lagi Galen melarangnya untuk mendekati Davin karena itu sangat berbahaya. Ciara pun hanya bisa berbicara dari balik pagar yang tinggi, sedari tadi mereka memang tidak membuka pagar itu karena khawatir Davin akan memaksa masuk menemui Cyra.


"Om, sekarang om pergi dari sini! Saya gak mau situasinya makin kacau, saya mohon om!" ucap Galen mengusir Davin dari rumah itu.


Davin pun menuruti permintaan Galen kali ini, perlahan ia membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauh secara perlahan. Tapi sebelum itu, Davin menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Ciara dan tersenyum menyeringai. Entah apa maksudnya melakukan itu, namun Ciara sama sekali tidak perduli dan masa bodo dengan itu.


Setelah Davin pergi, Libra baru sampai dan terkejut melihat Ciara serta Galen berdiri di dekat pagar seperti tengah emosi. Sontak Libra mendekati mereka, ia menatap wajah istrinya yang terlihat begitu kesal dan nafasnya yang terengah-engah. Libra sungguh heran, ia tak mengerti apa yang sebenarnya baru saja terjadi disana.


"Ada apa ini? Ciara sayang, kenapa kamu emosi kayak gini?" tanya Libra terheran-heran.


"Eee Cyra ada di dalam, dia lagi ngajarin Lia bahasa Inggris. Emangnya kenapa sih?" ucap Libra.


Saat itu juga Ciara langsung melangkah melewati kedua pria tersebut, ia masuk ke rumahnya untuk menemui Cyra disana. Sedangkan Libra serta Galen masih terdiam di tempat itu, Libra tampak sangat bingung dan penasaran kali ini. Tidak ada yang mau memberitahu padanya apa yang tengah terjadi, sampai membuat Ciara sebegitu kesalnya.


"Libra, sebaiknya kamu susulin Ciara sana! Saya khawatir dia melampiaskan emosinya ke Cyra, itu bisa bahaya!" titah Galen.


"Hah? I-i-iya bang.." Libra menurut saja, ia bergegas pergi menyusul istrinya ke dalam rumah.


Galen pun menghampiri Amar yang masih setia menunggu disana, baru setelahnya Galen mengajak putra angkatnya tersebut untuk pergi dari sana dan pulang ke rumah mereka bersama-sama.



__ADS_1


"Cyra!!" Ciara kini berteriak memanggil nama putrinya dan membuat kedua gadis yang tengah terduduk di sofa itu menoleh bersamaan.


Baik Cyra maupun Adel sama-sama terkejut dengan kemunculan Ciara, mereka kompak berdiri lalu menatap wajah Ciara dengan bingung. Cyra sendiri sudah menebak kalau Ciara pasti akan memarahinya, apalagi tampak wajah Ciara yang begitu emosi dan tatapan tajamnya. Sungguh Cyra tak mengerti harus melakukan apa, sebab ada Adel juga di sampingnya saat ini.


"Cyra, ayo ikut mama sekarang!" pinta Ciara yang langsung menggandeng lengan putrinya.


"Tapi ma, kak Cyra kan lagi ngajarin aku buat pr. Mama emang ada urusan apa sih sama kak Cyra?" ucap Adel bertanya dengan polosnya.


"Lia, sayang kamu minta ajarin sama papa kamu aja ya! Mama pinjam dulu kak Cyra nya, okay?" ucap Ciara coba memberi pengertian.


"Eee oke ma." Adel menurut saja kali ini.


Ciara pun tersenyum lebar, kemudian mengajak Cyra menuju kamarnya dengan menarik paksa lengan gadis itu tanpa rasa kasihan sedikitpun. Cyra juga tak berontak, meski ia merasakan sakit pada bagian lengannya itu akibat tarikan sang mama. Cyra paham betul kalau mamanya itu tengah emosi, sehingga Cyra tak berani melawannya.


Sementara Libra baru sampai di ruang tamu, ia lihat Adel tengah sendirian disana dan membuatnya kebingungan. Sontak Libra segera menghampiri Adel, kemudian bertanya pada gadis itu dimana Cyra dan apa yang terjadi. Libra juga heran, mengapa Ciara serta Cyra tidak terlihat di sekitar sana saat ini, padahal jelas-jelas tadi Ciara masuk kesana.


"Lia sayang, kamu lihat mama kamu gak? Terus kakak kamu juga kemana?" tanya Libra.


"Eh papa!" Adel justru menarik lengan papanya dan mengajak pria itu duduk di sofa bersamanya untuk membantunya mengerjakan pr.


"Sa-sayang, kamu mau apa sih? Papa kan tanya sama kamu tadi, dijawab ya!" ucap Libra.


"Entar dulu papa, sekarang papa bantu aku kerjain pr bahasa inggris ya! Soalnya kata mama, aku disuruh minta bantuan papa dulu!" ucap Adel sambil tersenyum lebar.


Libra terbelalak seketika, ia menepuk jidat dan terlihat kebingungan saat ini. Ia tak mungkin menolak kemauan putri kecilnya itu, namun ia juga penasaran apa yang dilakukan istrinya bersama Cyra disana. Sungguh Libra ingin mencari tahu tentang itu, akan tetapi Adel terus saja memaksa agar dirinya dapat membantu gadis itu.


"Pa, ayo papa bantu aku dong!" pinta Adel dengan wajah memelas.


"Eee iya sayang iya..." Libra pun terpaksa menurut.


Akhirnya Libra membantu Adel dalam mengerjakan pr bahasa inggris, meski pikirannya terus saja mengarah ke sosok Ciara dan Cyra. Libra khawatir jika Ciara memarahi Cyra terlalu berlebihan, itu pasti akan membuat Cyra merasa kesal nantinya. Apalagi, jika sampai Cyra tidak bisa menahan diri dan malah pergi dari rumah karena terbawa emosi.


"Duh, saya rasanya cemas banget sama Cyra! Ya semoga aja deh Ciara gak berlebihan tegurnya, walau saya gak tahu apa masalahnya!" gumam Libra di dalam hatinya.


Libra mulai mengajarkan Adel untuk menjawab soal di buku tugasnya itu, ia tampak sabar mengajari sampai Adel benar-benar bisa menjawabnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2