Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 115. Berbaikan?


__ADS_3

Libra bersama Nadira telah tiba di apartemen tempat tinggal lelaki itu sebelumnya, ya Libra gagal untuk menghalangi Nadira dan kini malah wanita itu sudah sampai disana bersiap untuk mencari dimana keberadaan putrinya. Dengan cepat Nadira bergerak menuju unit apartemen Libra, lalu meminta Libra membuka pintu sambil mengancamnya.


Mau tidak mau, Libra pun terpaksa membukakan pintu untuk Nadira dan membiarkan wanita itu masuk ke dalam memeriksa semuanya. Langsung saja Nadira melakukan itu, kemudian Libra mengikuti dari belakang dengan wajah was-was khawatir jika Nadira mengetahui semua dan malah memarahinya karena Ciara tidak ada disana.


"Ciara, dimana kamu Ciara? Ini mama nak, ayo keluar ikut sama mama!"


Nadira terus berteriak seraya melangkah mengelilingi apartemen itu demi mencari dimana putrinya, namun sepanjang ruangan ia tidak berhasil menemukan keberadaan Ciara disana. Sehingga, Nadira pun tampak heran dan menatap Libra dengan penuh rasa curiga.


"Libra, kamu sembunyiin dimana Ciara? Kenapa dia gak ada di apartemen kamu? Apa yang terjadi sebenarnya sama kalian berdua?" tanya Nadira.


"Umm, tenang dulu mbak! Biar aku bisa jelasin semuanya ke mbak," pinta Libra.


"Yaudah, ayo dong kamu jelasin sekarang ke mbak! Apa yang sudah terjadi sama kalian, terus kenapa Ciara bisa sampai gak ada disini?" ujar Nadira.


"Eee itu...."


Ting nong ting nong....


Baru saja Libra hendak menjelaskan pada Nadira, tanpa diduga sebuah bel berbunyi dari luar unit apartemen itu dan membuat keduanya terkejut. Libra pun spontan menoleh ke arah pintu, ia penasaran siapa yang datang disana dan untuk apa orang itu datang secara mendadak.


"Sebentar ya mbak, aku mau cek dulu ke depan! Siapa tahu yang datang itu Ciara," ucap Libra.


Nadira hanya menganggukkan kepalanya, lalu Libra bergegas pergi menuju pintu untuk mencari tahu siapa yang ada di depan sana. Begitu ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia saat mengetahui Seno lah yang datang kesana dan kini tengah berdiri tepat di hadapannya dengan wajah emosi.


"Ciara ada di dalam? Saya mau ketemu sama dia, tolong bilangin ke dia kalau ada saya disini!" ucap Seno dengan tegas.


Libra menatap heran ke arah Seno, ia tak mengerti mengapa tiba-tiba Seno datang lalu menanyakan keberadaan Ciara dan ingin bertemu dengan wanita itu. Tentu saja Libra sangat kesal, lelaki itu menaruh curiga pada Seno mengingat sebelumnya Seno mengatakan kalau dia ingin merebut Ciara darinya dan akan berbuat apapun demi mewujudkan keinginannya itu.


"Saya gak akan kasih izin anda untuk bertemu dengan istri saya!" ketus Libra.


Seno menyeringai mendengarnya, "Jadi, Ciara sudah pulang? Oh syukurlah, tadinya saya kira dia pergi entah kemana!" ucapnya merasa lega.


Sedangkan Libra langsung berubah ekspresinya, ia tampak terkejut mendengar perkataan Seno barusan yang seolah-olah menunjukkan kalau pria itu tahu dimana keberadaan Ciara sebelumnya. Libra pun terpancing emosinya, tanpa berpikir lebih dulu ia langsung menarik kerah baju Seno dan mendorongnya sampai membentur dinding.


"Heh sialan! Maksudnya apa kamu bilang begitu, ha? Kamu tahu dimana istri saya? Katakan, dimana dia sekarang!" sentak Libra.


Seno mengernyit tanda heran, "Loh, bukannya Ciara sudah pulang? Anda ini gimana sih? Kan anda loh suaminya," ucapnya kebingungan.


"Gausah banyak basa-basi, akui saja kalau kamu yang sembunyikan Ciara dari saya! Sekarang cepat katakan, dimana Ciara!" tegas Libra.


"Eee sa-saya...."


"Ada apa ini??" tiba-tiba saja, Nadira yang sedari tadi menunggu di dalam kini muncul dan heran melihat Libra tengah bertengkar dengan seorang lelaki.


Sontak Libra menghentikan gerakannya, ia melepas tubuh Seno dan beralih menatap Nadira. Ketiganya kini sama-sama terdiam, tentunya dengan ekspresi yang berbeda. Nadira tampak sangat penasaran dan heran mengapa Libra begitu emosi pada pria muda yang ada di dekatnya, untuk itu ia coba mendekati keduanya lalu bertanya secara langsung.




Sementara itu, Tiara kembali berduaan dengan suaminya di dalam ruang rawat itu. Mereka baru selesai menyantap makanan yang diberikan Jessica tadi, tentunya tanpa Galen ketahui kalau makanan itu diberikan oleh Jessica. Kini keduanya saling berdekatan satu sama lain, tak lupa Tiara menggenggam telapak tangan Galen dengan erat sambil terus tersenyum memandangnya.


Galen benar-benar senang dengan momen romantis yang ia dan Tiara lakukan saat ini, seketika semua pikiran buruknya hilang dan berubah menjadi rasa bahagia. Galen ingin semua terus seperti ini tanpa ada yang berubah sedikitpun, meski ia sendiri lah yang telah merusak kebahagiaan keluarga kecilnya dengan mencari perempuan lain di luaran sana.


Perlahan-lahan Tiara memulai aksinya untuk menggoda sang suami, ia gerakan jari-jemarinya mengusap lembut dada bidang suaminya itu. Galen sontak memejamkan mata, senyum terukir di wajahnya seolah menikmati sentuhan wanita itu. Tiara pun menyeringai puas dibuatnya, ia senang karena mudah sekali untuk merayu lelaki itu.

__ADS_1


"Mas, kamu tuh kalau lagi sakit gini malah nambah ganteng deh! Aku kan jadi kepengen tahu, apalagi udah lama kita gak begituan sejak kamu sewa perempuan lain di luar," goda Tiara.


Ucapan Tiara kembali mengingatkan Galen akan dosa yang ia perbuat sebelumnya, bahkan hingga kini Galen juga masih sangat berdoa pada Tiara karena ia sudah mengkhianati cinta suci wanita itu demi seorang wanita murahan. Terlebih saat ini Jessica tengah dalam kondisi hamil, pastinya masalah besar akan menimpa mereka nantinya.


"Maafkan aku Tiara, aku benar-benar nyesel udah berkhianat dari kamu! Harusnya aku sadar kalau aku udah punya segalanya di kamu, yang gak mungkin bisa aku dapatkan dari Jessica atau wanita lain di luar sana!" ucap Galen bersedih.


Tiara tersenyum seraya mengusap wajah suaminya, "Gapapa mas, aku udah maafin kamu kok. Aku senang kalau kamu mau berubah," ucapnya lirih.


"Itu pasti sayang, pasti aku akan berubah dan gak mungkin mengkhianati kamu lagi!" ucap Galen dengan nada serius.


"Aku senang dengarnya mas, semoga kamu beneran mau berubah ya!" ucap Tiara dengan lembut.


Lama mereka saling berpandangan dan memegang tangan satu sama lain, lalu Galen yang hilang kontrol malah menarik wajah Tiara dan menekan tengkuknya dengan kuat. Sontak Tiara terkejut, kini posisinya dan Galen sudah saling menempel serta wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti.


"Ma-mas, kamu mau apa? Ini rumah sakit loh, jangan ngada-ngada deh mas!" ucap Tiara gugup.


"Hm, tadi bukannya kamu yang godain aku? Katanya kamu kepengen nganu, udah ayo kita lakukan aja sekarang disini! Gapapa sayang, gak akan ada yang lihat kok!" ujar Galen.


"Umm, ta-tapi—mmpphh!!"


Belum sempat Tiara selesai berbicara, Galen sudah langsung melahap bibirnya dengan ganas dan liar sambil terus menekan tengkuk nya. Tiara terkejut bukan main, ia berusaha mengimbangi gerakan Galen yang terlalu liar itu sehingga sulit untuk bisa mengambil nafas walau sebentar.


Ceklek


"Kak Galen!! Kakak gak—" tanpa diduga, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dari luar dan seorang wanita tampak berteriak masuk ke dalam.


Tentu saja Galen serta Tiara sama-sama terkejut, mereka kompak mengakhiri ciuman panas itu lalu menoleh ke asal suara secara bersamaan dengan mulut menganga. Betapa kagetnya mereka, karena yang ada di depan sana adalah Ciara alias adik dari Galen yang memang datang untuk menjenguknya.


Ciara sendiri juga terkejut bukan main, ia sampai tidak bisa bergerak atau meneruskan ucapannya tadi saat melihat kakaknya tengah bercumbu disana. Ciara sungguh menyesal, karena tadi ia langsung membuka pintu dan masuk begitu saja tanpa mengetuk lebih dulu atau meminta izin.




Ciara ditemani Keenan kini berniat pergi ke kantin, namun tak disangka ternyata mereka malah berpapasan dengan Libra dan Nadira yang kebetulan juga baru tiba di rumah sakit itu. Sontak Libra terbelalak melihat istrinya ada disana bersama lelaki lain, emosi langsung menguasai dirinya seolah tak terima ada laki-laki lain yang menyentuh istrinya.


"Ciara, jadi ternyata kamu disini? Aku udah cari kamu kemana-mana loh sayang, dan kamu malah asyik berduaan sama cowok lain!" ujar Libra.


Wanita itu menggeleng heran dengan apa yang diucapkan Libra barusan, ia tak mengerti mengapa Libra bicara seperti itu padanya dan terlihat begitu emosi. Memang ia telah salah karena pergi dari rumah, namun itu semua juga terjadi karena ia merasa tak pantas menjadi istri dari lelaki itu.


"Selera kamu sekarang udah makin menurun ya sayang? Masa kamu doyan jalan sama om-om kayak gini? Pantas aja aku hubungin kamu gak pernah nyambung, jadi ini alasannya!" cibir Libra.


"Apa maksud kamu sih? Aku bukan wanita seperti itu ya mas!" kesal Ciara.


"Halah, terus ini apa ha? Siapa laki-laki yang ada sama kamu itu, kenapa kalian bisa berduaan disini coba?" sentak Libra.


"Mas, tahan dulu emosi kamu! Kalau kamu gak tahu apa-apa, mending kamu diam deh!" ucap Ciara.


Libra menggeleng dibuatnya, lalu karena emosi ia melangkah mendekat ke arah Keenan dan mencoba memberi pelajaran pada pria itu. Ya Libra telah salah paham kali ini, tanpa berpikir lebih dulu langsung saja ia memukul wajah Keenan dengan tangannya dan sampai membuat Keenan terhuyung.


Bugghhh


Ciara dan Nadira kompak terkejut, mereka langsung memisahkan Libra serta Keenan agar tak terjadi keributan di rumah sakit itu. Ciara pun juga coba menjelaskan pada suaminya itu mengenai siapa Keenan sebenarnya, karena jujur saja Ciara sangat malu dengan apa yang dilakukan Libra barusan.


"Mas udah, cukup! Kamu itu apa-apaan sih? Ngapain kamu pukul om Keenan coba?" ucap Ciara.

__ADS_1


"Ohh, om-om ini namanya Keenan? Sialan banget ya anda, beraninya anda menyentuh istri saya!" geram Libra.


"Libra cukup! Tahan emosi kamu!" kali ini giliran Nadira yang dibuat emosi.


Libra pun menurutinya, ia tidak lagi terbawa emosi dan menundukkan wajahnya seraya menghela nafas karena khawatir Nadira akan semakin marah. Tapi meski begitu, hingga kini Libra masih merasa kesal dan jengkel saat melihat istrinya bersama laki-laki lain dan tampak cukup akrab.


"Keenan ini mantan asisten pribadi mbak sama mas kamu dulu, asal kamu tahu itu Libra! Kamu gak boleh bersikap kurang ajar sama dia!" tegas Nadira.


"Apa??" Libra tersentak mendengarnya.


"Iya mas, itu dia makanya kamu harus bisa tahan emosi dan jangan main pukul wajah orang gitu aja!" sahut Ciara ikut memarahi suaminya.


Libra pun tampak menyesal dan merasa bersalah, namun bukannya meminta maaf pria itu malah menarik tangan Ciara dan mengajaknya pergi untuk bicara berdua. Mau tidak mau, Ciara terpaksa mengikuti kemauan suaminya itu karena dia juga ingin semuanya cepat selesai.




Akhirnya Libra melepaskan tangan Ciara tepat ketika mereka sampai di taman rumah sakit, pria itu meminta istrinya untuk duduk dan langsung dituruti olehnya. Ya mereka berdua kini sama-sama duduk di bangku taman, dengan pandangan mengarah ke wajah masing-masing dan tangan yang kembali menyatu untuk saling menggenggam.


"Kamu itu darimana aja? Kenapa setiap kali aku hubungi kamu, handphone kamu selalu gak aktif?" tanya Libra dengan tegas.


"Umm itu..."


"Apa kamu selama ini tinggal sama om-om itu, ya?" tiba-tiba Libra menyela dan menebak apa yang dilakukan Ciara selagi pergi dari rumah.


Ciara pun terbelalak kaget ketika mendengar ucapan suaminya, baru saja tadi pria itu menyesali perbuatannya karena sudah salah tuduh dan memukul wajah Keenan, tapi kini Libra malah seenaknya mengatakan hal itu. Tentu saja Ciara tak terima, dengan cepat ia mengelak dari tuduhan suaminya barusan.


"Apa sih mas? Kan udah aku bilang tadi, om Keenan itu mantan asisten pribadi mama dan papa aku dulu. Kamu kok masih aja ngira yang enggak-enggak soal dia sih, mas?" kesal Ciara.


"Iya iya, yaudah terus kamu kemana? Kenapa gak pulang-pulang?" tanya Libra lagi.


"A-aku nginep di salah satu hotel, mas. Aku sengaja nonaktifkan handphone aku, supaya aku bisa bebas dari kamu," jawab Ciara berbohong.


"Hah? Kok kamu gitu sih sama aku? Apa kamu udah gak mau lagi sama aku?" heran Libra.


"Bu-bukan begitu mas, aku kan cuma merasa gak pantas aja buat kamu," ucap Ciara.


"Gak pantes gimana sih? Kamu itu istri aku, dan aku sayang banget sama kamu. Gak mungkin aku ngerasa kamu gak pantas buat aku," ucap Libra.


"Ya tapi kan aku—"


"Mandul?" lagi-lagi Libra lebih cepat menyela ucapannya, membuat wanita itu tersentak.


Kini Ciara memalingkan wajahnya, dua bola matanya tampak sudah berkaca-kaca seolah hendak mengeluarkan air mata kesedihan. Namun, dengan cepat Libra memegang kedua pundak istrinya itu dan menaikkan dagunya seraya memberikan tatapan tajam agar Ciara mau menurut.


Libra menjelaskan pada istrinya itu kalau ia tak mempermasalahkan bila Ciara tidak bisa mengandung anak, baginya kehadiran anak itu semua ditentukan oleh Tuhan dan ia hanya bisa pasrah jika memang Tuhan belum menghendaki dirinya memiliki keturunan.


"Makasih mas—huweekk"


Tiba-tiba saja, Ciara merasa mual saat hendak berbicara. Wanita itu pun spontan menutupi mulutnya, menahan rasa mual yang muncul agar tidak membuat suaminya jengkel. Akan tetapi, Libra justru merasa cemas dan heran saat istrinya itu mual-mual. Ia khawatir terjadi sesuatu pada wanita itu, terlebih wajah Ciara yang mendadak pucat.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


...~~~...


...NAH LOH CIARA KENAPA TUH?🤔...


__ADS_2