
Libra terbangun dari pingsannya dan terkejut karena saat ini ia sudah berada di rumah sakit bersama Ciara yang menemaninya, padahal sebelumnya ia ingat betul kalau ia sedang pingsan di tengah jalan setelah dokter Syifa menusuknya dengan pisau. Namun, ia juga senang karena ada Ciara alias sang istri yang begitu setia menunggunya disana.
Ciara langsung tersenyum bahagia karena melihat Libra telah sadarkan diri, ia sangat senang tentunya setelah suaminya dipastikan tidak kenapa-napa atau mengalami luka serius. Tadinya Ciara sudah sangat khawatir begitu polisi memberi kabar mengenai kondisi Libra yang tertusuk pisau, tapi beruntung Libra memang masih bisa diselamatkan karena tusukan tersebut tidak terlalu dalam menembus tubuhnya dan Libra tak kehilangan banyak darah.
"Oh mas, aku senang banget akhirnya kamu bisa sadar! Daritadi aku tungguin momen ini tahu, akhirnya aku lega lihat kamu buka mata kayak gini dan senyum ke aku!" ucap Ciara.
"Aku juga sama senangnya seperti kamu sayang, apalagi yang pertama kali aku lihat itu kamu. Makasih ya, kamu selalu setia nemenin aku kapanpun dan dimanapun! Aku beruntung punya istri seperti kamu sayang!" ucap Libra.
"Sama-sama mas, itu udah tugas aku kok. Kamu harus terus bertahan ya, ingat loh di dalam sini ada calon bayi kita!" ucap Ciara menunjuk perutnya.
Libra mengangguk paham, tidak mungkin ia lupa dengan hal yang amat membahagiakan itu. Libra juga sudah merasa lebih baik saat ini, ia tahu tadi dokter Syifa tidak benar-benar ingin menusuknya dan hanya berusaha kabur darinya. Terbukti, tusukan yang dibuat dokter Syifa hanya melukai sedikit dari bagian tubuhnya.
"Dimana dokter Syifa, sayang? Apa dia sudah berhasil tertangkap?" tanya Libra kemudian.
Ciara menggeleng perlahan, ia katakan yang sebenarnya pada sang suami bahwa dokter Syifa berhasil melarikan diri dan kabur menjauh dari kejaran para polisi sebelumnya. Saat itu juga Libra menggeram kesal, pria itu mengepalkan tangannya dan memukul kasur tempatnya terbaring saat ini untuk melampiaskan kekesalannya.
"Ah sial! Ini semua gara-gara aku yang teledor tadi, harusnya aku gak percaya gitu aja kalau dokter Syifa menyesali perbuatannya!" geram Libra.
"Sabar mas, polisi juga kan masih melakukan pengejaran! Kamu banyak-banyak istirahat aja dulu, jangan terlalu emosi dan mikirin dokter Syifa yang kabur!" bujuk Ciara.
"Iya sayang, tapi aku gak bisa tenang kalau dokter Syifa belum tertangkap. Dia itu sumber bahaya untuk hubungan kita sayang," ucap Libra.
"Maksud kamu gimana?" tanya Ciara keheranan.
Libra meraih satu tangan istrinya dan ia genggam dengan erat sambil mengecupnya, pria itu juga tersenyum lebar menatap ke arah sang istri dengan sangat lembut. Ciara yang melihatnya begitu terbuai, wanita itu benar-benar terpesona pada ketampanan suaminya yang luar biasa. Pantas memang jika Libra disukai oleh banyak wanita, karena selain tampan pria itu juga seorang dokter.
"Aku tahu dokter Syifa itu mengincar kamu untuk jadi korban dia selanjutnya sayang, dan aku gak mau itu sampai terjadi. Maka dari itu dia harus ditangkap secepat mungkin dan diberi pelajaran!" ucap Libra dengan tegas.
"Ohh, aku sih gak takut ya mas. Selama ada kamu di sisi aku, pasti aku bakal merasa aman terus!" ucap Ciara.
"Duh, bisa aja nih istri aku yang cantiknya maksimal!" ucap Libra tersenyum sembari mencubit gemas hidung istrinya.
Keduanya pun saling menatap dan tersenyum satu sama lain, Ciara bahkan tak berkedip ketika melihat wajah suaminya yang begitu tampan tepat berada di hadapannya saat ini. Karena gemas, Libra menarik tengkuk Ciara dan menahannya serta memberikan kecupan hangat di bibirnya. Mereka larut dalam gairah yang luar biasa, dengan bibir saling beradu melahap penuh nikmat.
Akan tetapi, tanpa diduga pintu ruangan justru terbuka dan membuat mereka berdua menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Saat itu juga Ciara dan Libra terbelalak lebar, mereka merasa sangat malu karena kepergok sedang saling bercumbu. Apalagi, yang memergoki mereka adalah Nadira dan juga Gavin alias orang tua Ciara.
"Mama, papa? Ma-maaf ma, a-aku tadi cuma..." Ciara terlihat gugup ketika mama dan papanya muncul lalu menatap ke arah mereka.
Nadira tersenyum lebar seraya melangkah ke dekat putrinya diikuti oleh Gavin dari belakang, mereka sama sekali tidak marah ataupun kecewa dengan apa yang dilakukan Libra dan Ciara tadi. Justru mereka tampak senang, ya karena kemesraan antara sepasang suami-istri itu benar-benar luar biasa dan Nadira bahagia melihat putrinya bahagia.
"Ngapain kamu minta maaf sayang? Mama justru senang lihatnya kalau kalian seromantis itu, semoga kalian berdua terus kayak gitu ya sayang!" ucap Nadira sambil tersenyum.
"Iya dong ma, aku sama Ciara itu kan pasangan suami-istri yang romantis!" ucap Libra.
Ciara terkekeh dan mencolek pipi suaminya karena gemas, sedangkan Nadira serta Gavin sudah sama-sama berdiri di dekat mereka saat ini. Baik Nadira maupun Gavin begitu bahagia melihat Libra sudah sadarkan diri, karena sebelumnya pria itu tertusuk dan sempat mengalami kondisi yang buruk sampai pingsan di tempat.
__ADS_1
"Syukurlah kamu sudah sadar Libra, mama tadi khawatir banget loh begitu dengar kabar kamu kena tusuk dan masuk rumah sakit!" ucap Nadira.
"Aku gapapa kok ma, yang kayak gitu mah udah biasa buat aku. Tapi, aku nyesel banget karena gagal buat tangkap dokter Syifa. Harusnya tadi aku gak ceroboh dan percaya gitu aja!" ucap Libra.
"Tenang aja Libra, tadi papa udah kirim banyak anak buah yang terbaik untuk bantu kamu tangkap si Syifa itu!" sahut Gavin.
"Terimakasih ya pa! Terus, kabar dokter Syifa sekarang gimana?" tanya Libra penasaran.
"Nah itu dia Libra, barusan mama dan papa dapat kabar dari kepolisian kalau dokter Syifa tercebur ke danau bersama mobilnya. Sekarang mereka semua disana lagi berusaha menolong dokter Syifa," jawab Nadira dengan lirih.
Libra terkejut bukan main mendengarnya, ia tak menyangka kalau mobil milik dokter Syifa akan tercebur ke dalam danau dan sekarang wanita itu sedang dalam bahaya. Libra tak mau jika sampai Syifa meninggal dunia sebelum mendapat hukuman atas perbuatannya, karena Syifa harus diberi hukuman yang setimpal nantinya.
"Kalo gitu aku harus cepat-cepat kesana, aku mau bantu polisi untuk selamatin dokter Syifa! Dia gak boleh meninggal duluan!" ucap Libra.
Ciara, Nadira dan Gavin kompak tidak setuju dengan perkataan Libra barusan. Mereka tentu tak ingin Libra memaksakan diri untuk menyelamatkan Syifa saat ini, apalagi kondisi Libra yang masih belum pulih benar saat ini. Terutama Ciara, ya wanita itu yang paling kekeuh dan tegas melarang suaminya untuk tidak pergi dari rumah sakit.
•
•
Sementara itu, Tiara tengah bermain bersama Askha alias putranya bersama Galen yang baru saja ditinggal oleh ayahnya itu. Tiara pun terlihat begitu kasihan pada Askha, karena sekarang pria itu harus tumbuh tanpa adanya sosok ayah. Entah apa yang bisa Tiara katakan nantinya pada pria itu mengenai ayahnya, karena pasti lambat laun Askha akan menyadari saat tidak ada sang ayah di sisinya.
Tiara tetap berusaha tegar di depan putranya saat ini, ia bermain dan menghibur pria kecil itu agar tidak terus memikirkan Galen yang sekarang entah ada dimana. Tiara sendiri juga sebenarnya tidak ingin situasi seperti ini terjadi, karena ia selalu memikirkan perasaan putranya yang masih kecil dan pastinya butuh sosok ayah yang bisa mendampingi sekaligus memberikan pengajaran.
Disaat ia sedang asyik bermain bersama putranya, tiba-tiba bik Vita muncul menghampiri mereka lalu hendak menyampaikan sesuatu padanya. Tiara terkejut, melirik sejenak ke arah bik Vita sembari meletakkan mainan di tangannya ke atas meja. Tiara sungguh penasaran apa yang hendak disampaikan bik Vita saat ini, karena tampaknya bik Vita memang memiliki informasi yang penting baginya.
"Bukan non, tapi itu di depan ada laki-laki yang cari non Tiara dan katanya mau ketemu sama non. Mungkin non mau temuin dia ke depan, atau disuruh masuk kesini aja non?" jelas bik Vita.
"Hah? Laki-laki siapa bik? Bibik ada tanya nama dia siapa gak?" Tiara begitu bingung dibuatnya.
"Yah itu dia non, bibik lupa buat nanya tadi. Soalnya dia bilang mau ketemu sama non Tiara dan ada keperluan penting," jawab bik Vita.
"Ohh, ya kalo gitu suruh dia masuk ke ruang tamu aja bik nanti biar aku kesana!" pinta Tiara.
"Baik non!" bik Vita pun sigap melakukan perintah dari Tiara, ia berjalan ke luar menemui sosok pria yang ia maksud dan memintanya masuk.
Sementara Tiara tetap disana bersama putranya, tapi ia memanggil pelayan lainnya yang ada di rumah itu untuk menjaga Askha sejenak selama ia menemui tamu di depan. Tiara sungguh penasaran, untuk itu ia mempercepat langkahnya menuju ruang tamu demi bisa melihat siapa pria yang datang dan ingin bertemu dengannya itu.
Saat sampai di ruang tamu, Tiara membelalakkan matanya begitu melihat sosok Nico yang sudah duduk di sofa sendirian sambil tersenyum lebar. Nico tampak menatap ke kanan dan kiri sembari menepuk-nepuk pahanya, hal itu sontak membuat Tiara terkejut dan sekaligus bingung. Darimana Nico bisa mengetahui alamat rumah Nadira?
Perlahan Tiara menghampiri pria itu, ia masih tidak percaya dengan kedatangan Nico disana. Tadinya Tiara mengira ia sudah aman dari Nico sejak pindah tinggal ke rumah Nadira, tetapi sekarang Nico malah mendatangi tempat itu dan menemuinya. Tiara benar-benar bingung, seolah tidak tahu apa alasan Nick datang kesana.
Wanita itu mendekat, kemudian berdehem sedikit dan berhasil membuat Nico menoleh ke arahnya. Sontak Nico bangkit dari tempat duduknya, pria itu tersenyum memandang wajah Tiara dengan penuh ceria. Nico senang karena Tiara akhirnya mau menemuinya, apalagi tampilan Tiara saat ini terlihat begitu cantik dan mempesona.
"Hai Tiara! Aku senang banget bisa lihat kamu lagi sekarang, kamu makin cantik aja sih dan bikin aku susah buat lupain kamu!" ucap Nico.
__ADS_1
Tiara memutar bola matanya, "Gausah basa-basi, cepat bilang mau apa kamu kesini!" ucapnya dengan ketus disertai rahang bergetar.
Nico terkekeh kecil dan mendekati tubuh Tiara, tanpa ragu ia mengusap pipi mungil wanita itu hingga membuat Tiara merasa risih lalu menepis tangan si lelaki. Sesaat kemudian, Nico berhenti tepat di dekat wajah Tiara dan bersiap membisikkan sesuatu di telinganya. Tiara pun merasa gugup, bahkan detak jantungnya bergerak begitu cepat.
"Aku cuma mau ambil kembali apa yang menjadi milik aku dulu," bisik Nico.
Deg
•
•
Ciara baru keluar dari kamar mandi karena ia tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecilnya, wanita itu pun berniat kembali ke ruang tempat Libra dirawat karena ia tidak bisa meninggalkan pria itu terlalu lama disana. Ciara masih cemas dengan kondisi suaminya, meski dokter yang merawatnya mengatakan bahwa Libra sudah makin membaik.
Namun, langkahnya terhenti saat tiba-tiba ada sosok lelaki yang berdiri di hadapannya dan membuat Ciara sangat terkejut. Ciara pun tampak ketakutan, bahkan tidak berani bergerak mendekat ketika lelaki itu tersenyum ke arahnya. Ciara benar-benar tak mengerti, ia heran bagaimana bisa pamannya itu ada di rumah sakit tempat Libra dirawat.
"Om Davin?" lirih Ciara. Tubuhnya terbujur kaku seolah tidak bisa digerakkan saat ini, matanya juga terus menatap tajam ke arah pria itu.
Sedangkan Davin sendiri tampak bergerak mendekat ke arah Ciara, senyuman lebar terus terpampang di wajahnya ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan Ciara di depan toilet. Padahal, tadinya Davin hendak mencari dimana kamar tempat Libra berada untuk menemui keluarganya. Namun, suatu kebetulan tentu bagi Davin bisa bertemu Ciara saat ini.
"Iya Ciara, apa kabar? Kamu pasti sedih ya sama kondisi suami kamu sekarang? Kasihan banget sih kamu, tapi saya akan bantu doa semoga suami kamu itu bisa selamat dan baik-baik saja!" ucap Davin sambil tersenyum.
"Om gak perlu repot-repot doain mas Libra, karena sekarang juga dia udah membaik kok. Mas Libra itu bukan orang yang lemah, dia pasti bisa melewati ini semua!" ucap Ciara santai.
"Baguslah, sekarang tolong antar saya ke ruangan suami kamu itu ya!" pinta Davin.
"Mau apa lagi sih om? Om masih gak kapok-kapok ya sama kejadian dulu, apa om masih pengen ganggu hubungan aku sama mas Libra?" tanya Ciara.
Davin terlihat santai saja ketika Ciara begitu ketakutan padanya dan mengira ia masih seperti dulu, padahal Davin datang kesana atas perintah dari kakaknya yang merupakan ayah wanita itu. Ya Gavin memang tidak bisa menemui Davin di tempat lain, karena sekarang Gavin sedang sibuk menjaga Libra yang tertusuk pisau tadi.
"Saya ini cuma mau ketemu papa kamu, jangan berprasangka buruk dulu lah sama saya! Emang papa kamu itu gak bilang apa ke kamu?" ucap Davin.
Ciara terdiam menunduk, ia baru ingat pada perkataan papanya sebelum ini. Gavin memang sudah menceritakan semua mengenai Davin yang datang kembali dan hendak meminta haknya, mungkin saja itulah penyebab Davin datang ke rumah sakit itu untuk menemui papanya.
"Ohh, iya papa udah bilang kok tadi. Yaudah, ruangan mas Libra ada disana. Ayo om ikutin aku aja dari belakang!" ucap Ciara mencoba tenang.
Davin mengangguk setuju, perlahan Ciara mulai melangkah lebih dulu melewati tubuh Davin dan pergi menuju ruangan tempat suaminya berada. Davin pun mulai mengikuti langkah kaki Ciara, terbesit di dalam pikirannya ingatan mengenai Ciara beberapa waktu lalu yang sempat ia cintai dan sangat membuatnya terobsesi.
"Kalau saja saya bisa memiliki kamu Ciara, maka pasti saya tidak perlu meminta hak warisan saya dari mas Gavin. Kehidupan saya benar-benar sudah hancur, saya gak tahu lagi harus gimana!" gumam Davin di dalam hatinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
__ADS_1
...ADA GAK YANG RINDU SAMA OM DAVIN?😋...