Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 216. Bukan papaku


__ADS_3

Tiara masih terdiam menatap ke arah pintu tempat dimana Salma berdiri dan menutupi mulutnya, ia sungguh tak mengira jika Salma akan datang dan memergoki dirinya yang tengah berpelukan dengan Adrian. Kini Tiara tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa bingung karena Salma telah melihat langsung kejadian tersebut. Ia bisa saja mengatakan kalau itu semua adalah kemauan Adrian, tetapi apa ia sanggup membuat hubungan rumah tangga bosnya itu hancur nantinya.


"Mas, jadi ini yang kamu lakukan selama ini di belakang aku? Bertahun-tahun kita menikah, kamu gak pernah sentuh aku sama sekali, apalagi sampai peluk aku seperti itu. Tapi, kenapa kamu bisa peluk wanita lain yang bukan istri kamu, mas?" sentak Salma disertai isak tangisnya.


Adrian menggeleng dan coba mendekati istrinya, ia tahu tindakannya tadi adalah salah dan ia berharap Salma mau memaafkannya.


"Salma, kamu cuma salah paham. Aku sama Tiara itu—" baru saja ia hendak menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Salma sudah langsung mengangkat tangannya dan meminta Adrian untuk diam.


"Diam kamu mas! Aku gak butuh penjelasan apa-apa lagi dari kamu," sela Salma.


"Tapi Salma, aku—"


"Aku bilang diam, ya diam mas! Aku udah tau semuanya, aku lihat pakai mata kepala aku sendiri kok. Kamu selingkuh di belakang aku sama sekretaris kamu ini, dan sekarang kamu masih mau mengelak!" sentak Salma.


Adrian terus menggelengkan kepalanya, ia juga meraih dua tangan Salma dan berusaha menenangkan wanita itu. Akan tetapi, Salma dengan cepat berontak lalu mendorong tubuh Adrian agar menjauh darinya. Salma benar-benar emosi, bahkan kini ia beralih menatap wajah Tiara dan terlihat begitu kesal setelah apa yang terjadi.


"Bu, sa-saya...." Tiara sungguh ketakutan, ia sampai tidak berani menatap wajah istri bosnya itu.


"DIAM KAMU!"


Plaaakk


Satu tamparan melesat di wajah Tiara, sangat keras dan membuatnya nyaris terjatuh karena tamparan itu. Sepertinya Salma tidak bisa lagi menahan emosi di dalam dirinya, sehingga ia lampiaskan semua itu dengan sebuah tamparan. Salma sangat membenci Tiara saat ini, di matanya ia menganggap Tiara sebagai seorang perebut suami orang.


"Kamu itu emang wanita gak tahu diri, kamu gak pantas dikasihani! Seharusnya saya sudah meminta suami saya untuk memecat kamu sejak lama, karena kamu itu pelakor!" ucap Salma.


"Salma, cukup!" Adrian kembali mendekati istrinya, lalu coba menghentikan aksi wanita itu.


Niat Salma untuk kembali menampar Tiara pun terhenti, ia melirik ke arah Adrian yang kini berada di dekatnya dan terlihat mengepalkan tangannya. Salma tidak akan pernah mau mendengarkan perkataan suaminya itu lagi, sebab ia telah merasa dikecewakan pada hari ini.


"Salma, kamu dengerin aku dulu! Kita bicara berdua, aku akan jelaskan semuanya ke kamu kenapa ini bisa terjadi!" ucap Adrian.


"Kenapa? Kamu suka sama perempuan ini, iya kan? Aku tau itu mas, selama ini kamu gak pernah sentuh aku pasti juga karena dia kan. Iya kan mas? Ngaku kamu Adrian!" geram Salma.


"Ya Salma, itu benar. Aku cinta sama Tiara, dan aku juga gak pernah cinta sama kamu. Dari awal, pernikahan kita ini karena perjodohan kedua orang tua kita. Aku gak pernah setuju sama sekali dengan pernikahan ini!" jawab Adrian dengan tegas.


Deg


Salma amat syok mendengarnya, ia sungguh kecewa dengan semua ucapan yang dilontarkan suaminya itu. Ternyata benar dugaannya selama ini, Adrian memang tidak pernah mencintainya. Salma tentu sangat kecewa, ia menangis dan tak bisa menahan kesedihan itu. Hatinya terasa amat sakit, apalagi ia sudah melakukan berbagai cara untuk bisa mengambil hati pria itu.


__ADS_1



Singkat cerita, Adrian tengah duduk bersama Tiara di sebuah taman yang tak jauh dari kantor. Adrian sengaja membawa Tiara kesana, karena ia ingin bicara empat mata dengan wanita itu. Setelah kejadian di kantor tadi, tentunya Adrian merasa perlu untuk menenangkan Tiara dan meyakinkan wanita itu kalau dirinya benar-benar mencintainya.


Tidak hanya itu, Adrian pastinya juga akan segera menceraikan Salma dan menikahi Tiara alias wanita yang ia cintai. Adrian tahu kalau Tiara pun memiliki rasa yang sama kepadanya, sebab wanita itu selalu tampak gugup tiap kali ada di dekatnya. Namun, ia juga sebenarnya tidak ingin menyakiti hati Salma yang sama sekali tak bersalah dalam hal ini.


"Tiara, saya mohon maaf atas kelakuan istri saya! Dia tidak seharusnya menampar kamu seperti tadi, saya juga marah besar sama dia karena dia sudah melakukan itu ke kamu!" ucap Adrian.


"Enggak pak, ini bukan salah bu Salma. Justru semua ini kesalahan kita, memang harusnya bapak tidak terlalu dekat dengan saya. Bapak itu sudah punya istri, wajar kalau istri bapak marah melihat kita berpelukan seperti tadi," ucap Tiara.


"Tapi Tiara, saya gak cinta sama Salma. Saya ini cuma cinta sama kamu, dari dulu sampai sekarang pun masih begitu!" ucap Adrian.


"Saya minta bapak hapus rasa cinta bapak terhadap saya, karena itu hanya akan menimbulkan masalah pak! Saya gak mau ya gara-gara ini, saya jadi punya musuh!" pinta Tiara.


Adrian menggeleng pelan, "Itu gak akan terjadi Tiara, mana mungkin saya bisa lakukan itu?" ujarnya.


"Bapak pasti bisa, ini semua demi keluarga bapak dan juga kebaikan saya! Kasihan bu Salma, dia itu juga punya perasaan pak!" ucap Tiara.


Adrian terdiam saat itu juga, jujur memang ia juga merasa kasihan terhadap Salma. Akan tetapi, ia pun tak dapat memaksakan diri untuk mencintai wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Selama hidupnya, Adrian hanya mencintai Tiara dan ia tidak akan mungkin bisa melepaskan Tiara begitu saja dari dalam hidupnya.


"Gak Tiara, saya gak bisa melakukan itu. Saya juga gak mau melepaskan kamu, karena cuma kamu yang saya cinta. Saya rela menceraikan Salma dan bermusuhan dengan keluarga saya, asalkan saya bisa menikah dengan kamu!" tegas Adrian.


Tiara menggeleng tak percaya mendengarnya, perkataan Adrian sungguh membuatnya semakin bingung dan tidak tahu lagi harus berbicara apa kepada lelaki itu. Tampaknya Adrian benar-benar serius kali ini, karena dia sampai rela untuk menceraikan istrinya. Namun, Tiara tentu tak ingin semua itu terjadi karena bagaimanapun ia juga seorang wanita.


"Kamu tidak perlu takut Tiara, karena saya akan selalu melindungi kamu!" ucap Adrian.


"Tetap aja, saya gak akan setuju dengan perkataan bapak. Saya ini juga perempuan pak, saya tahu gimana perasaan bu Salma," ucap Tiara.


"Lalu, apa yang kamu inginkan Tiara? Apa kamu gak mau menikah dengan saya?" tanya Adrian.


Tiara mengangguk kali ini, dengan lantang ia mengatakan pada Adrian kalau ia tak akan pernah mau dan bisa menikah dengan pria yang sudah beristri itu. Sampai kapanpun, Tiara juga tidak akan merubah keputusannya itu. Hidupnya saat ini sudah hancur, ia tak mau menambah masalah lagi yang di kemudian hari akan memperburuk keadaan.


"Maafkan saya pak, saya tidak bisa melakukan itu! Saya ini punya anak yang harus saya perhatikan, jadi saya lebih baik kehilangan pekerjaan ini daripada saya harus menikah dengan bapak. Secepatnya saya akan urus pengunduran diri itu," ucap Tiara.


Deg


Adrian terbelalak seketika, tak mungkin ia bisa mengizinkan Tiara untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai sekretaris.



__ADS_1


Disisi lain, Galen datang ke sekolahan tempat Askha alias putranya berada. Ia sengaja kesana saat ini karena ia tahu kalau sekarang adalah waktunya bagi para murid untuk pulang ke rumah, sehingga ia tentu bisa mengajak Askha pulang bersamanya nanti. Ya Galen berharap Askha tak akan menolaknya kali ini, karena ia benar-benar ingin berbincang berdua dengan putra semata wayangnya itu.


Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu sedari tadi olehnya itu tiba juga. Askha terlihat keluar dari sekolah dan berjalan menuju parkiran motornya bersama seorang wanita, tentunya dia adalah Laura yang merupakan kekasih Askha sendiri. Galen belum pernah bertemu dengan wanita itu, karena ia sebenarnya tak banyak tahu tentang putranya.


"Askha!" langsung saja Galen bergerak cepat mendekati putranya itu, ia menyapa dan lalu berdiri tepat di hadapannya sambil tersenyum.


Melihat papanya ada disana, Askha sontak merasa terkejut dan kebingungan saat ini. Ia heran karena tak biasanya Galen datang kesana untuk menemuinya, tetapi ia berusaha tetap santai dan menghormati pria yang juga merupakan papa kandungnya itu. Meski, selama ini Galen tidak pernah ada di kehidupannya.


"Iya pa, papa ngapain kesini? Cari siapa?" tanya Askha seraya menyipitkan matanya.


"Papa pengen ketemu kamu, Askha. Ada yang mau papa bicarakan sama kamu sekarang, ikut papa yuk!" jawab Galen.


Askha menggeleng, "Enggak pa, aku gak bisa. Aku ada janji sama pacar aku," ucapnya menolak.


Galen pun baru tahu mengenai hal itu, rupanya gadis yang ada di sebelah anaknya itu adalah kekasihnya. Galen sontak tersenyum ke arah gadis itu dan tak lupa menyapanya, ia berusaha bersikap ramah di depan Laura agar Askha mau mendengarkan apa yang ia katakan tadi.


"Oh, kamu udah punya pacar? Halo cantik! Siapa nama kamu?" ucap Galen.


"Eee aku Laura, om." Laura mengenalkan diri dan hendak mencium tangan Galen, tetapi Askha menahannya.


"Gausah," ucap Askha.


Laura terkejut, ia tatap wajah kekasihnya itu sembari mengernyitkan dahinya. Banyak pertanyaan muncul di benaknya, tapi Askha memberi kode padanya untuk diam dan menurut saja. Laura tak mengerti apa yang terjadi, karena yang ia tahu Galen adalah ayah kandung dari Askha.


"Ah iya gapapa, cukup kenalan aja gak perlu pakai cium tangan segala. Tapi kamu keren loh Askha, kamu bisa punya pacar secantik ini!" ucap Galen.


"Maaf pa, tapi aku harus pergi sekarang!" ucap Askha yang kemudian melangkah dengan cepat.


Ya Askha pergi meninggalkan papanya disana dengan menggandeng tangan sang kekasih, ia tak mau berlama-lama berada di dekat Galen karena khawatir papanya itu akan mempengaruhi pikirannya. Ia sendiri sudah diberitahu oleh mamanya, kalau ia harus berhati-hati jika bertemu dengan papanya dimanapun.


"Askha, tunggu Askha! Dengerin papa dulu, papa cuma mau bicara sama kamu!" teriak Galen.


Askha tak memperdulikan hal itu, ia terus berjalan ke arah parkiran dan bergegas menuju motornya agar bisa pergi dari sana. Sedangkan Laura tampak bingung kali ini, gadis itu heran dan bertanya-tanya mengapa Askha malah kabur dari kejaran papanya yang hanya ingin bicara dengannya.


"Sayang, kamu ini kenapa sih? Kok kamu menghindar dari papa kamu?" tanya Laura heran.


"Enggak Lau, dia bukan papaku. Sekarang coba kamu pikir, gimana bisa dia jadi papa aku sedangkan dia aja gak tahu apa-apa tentang aku?" ucap Askha.


Laura terdiam seketika.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2