Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 175. Pertemuan Ciara & Davin


__ADS_3

Cyra dan Askha kini kembali ke depan ruang rawat tempat Libra berada, mereka membawa bungkus makanan yang tadi mereka pesan di kantin. Askha tak membiarkan Cyra menemui Davin walau sebentar, karena pria itu tak ingin Cyra semakin dekat dengan Davin nantinya. Apalagi, saat ini Cyra memang terlihat begitu nyaman setiap kali ada bersama Davin yang selalu berhasil menenangkan gadis itu disaat ia merasa bersedih.


Sesampainya disana, mereka pun disambut oleh Ciara yang sudah menunggu sedari tadi. Ciara tampak bingung ketika melihat Cyra terus saja melirik ke belakang, ya karena Cyra berusaha mencari keberadaan Davin di sekitar sana. Ciara sontak mendekati putrinya itu, mencoba bertanya pada Cyra mengapa dirinya terus melirik ke arah belakang. Tentu saja Ciara penasaran, karena tingkah Cyra memang amat mencurigakan.


"Sayang, kamu kenapa ngeliatin ke belakang terus? Lagi cari siapa kamu, hm?" tanya Ciara dengan nada ketus dan penuh penasaran.


Sontak Cyra merasa gugup ketika mamanya bertanya seperti itu, ia tak tahu harus menjawab apa kali ini pada mamanya. Jika ia berkata jujur kalau ia tengah mencari sosok Davin, maka pasti mamanya itu akan sangat marah padanya. Namun, sekarang ini Ciara juga tak berhenti memandang ke arahnya dan menanti jawaban darinya.


"Umm, aku gak cari siapa-siapa kok, ma. Ah mama, kondisi papa gimana sekarang? Aku udah boleh temuin papa belum?" ucap Cyra berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Papa kamu udah mendingan kok sayang, kalau kamu mau ketemu ya masuk aja gih!" jawab Ciara.


"Wah syukurlah! Kalo gitu aku mau masuk ke dalam ya, ma? Mama makan aja duluan sama kak Askha, nanti aku nyusul!" ucap Cyra antusias.


"Ya sayang, kamu temuin papa kamu aja! Kebetulan tadi papa kamu juga nanyain kamu," ucap Ciara.


Cyra manggut-manggut sambil tersenyum, tanpa banyak berpikir lagi Cyra langsung masuk ke dalam untuk menemui papanya. Sedangkan Ciara tetap disana bersama Askha, tampak Ciara tersenyum lebar karena saat ini kondisi suaminya sudah pulih. Meski begitu, Ciara harus tetap berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Libra.


"Tante, silahkan dimakan makanannya! Aku tadi udah pesan makanan sesuai yang tante minta kok," ucap Askha menyerahkan bungkus makanan itu.


"Makasih Askha, tante jadi gak enak nih sama kamu karena tante ngerepotin kamu terus! Gara-gara ini, kamu jadi gak bisa sekolah deh. Maafin tante ya Askha!" ucap Ciara merasa tidak enak.


"Gapapa tante, aku ikhlas kok bantu tante sama Cyra. Lagian aku juga cemas banget sama kondisi om Libra tadi," ucap Askha.


Ciara pun mengambil bungkus makanan tersebut sambil tersenyum, lalu terduduk di kursi yang tersedia bersiap untuk menikmati makanan itu. Sedangkan Askha juga melakukan hal yang sama, karena memang ia pun sudah merasa lapar. Askha begitu cemas kalau Ciara akan bertanya mengenai Cyra saat di kantin tadi, tentunya ia bingung harus menjawab apa kepada Ciara nantinya.


"Oh ya Askha, tadi kamu kan susulin Cyra tuh ke kamar. Kamu tahu gak kenapa dia lama banget gak balik-balik? Ngapain aja sih dia?" tanya Ciara yang tampak penasaran.


Askha terkejut, lagi-lagi yang ia pikirkan benar kejadian dan sekarang ia sungguh bingung serta tak tahu apa jawaban yang tepat untuk itu. Askha pun menggaruk kepalanya, ia khawatir jika ia berkata jujur maka Ciara akan memarahi Cyra. Ia tak mau itu terjadi, karena ia begitu perduli dengan Cyra dan tidak tega jika melihat Cyra dimarahi.


"Eee itu....."


"Hai Ciara!" tiba-tiba saja, muncul seseorang yang menghampiri mereka dan menyapa wanita itu.


"Om Davin?" lirih Ciara tampak terkejut.

__ADS_1




Kini Cyra berada di dalam menemui papanya, ia tersenyum lebar sembari melangkah mendekati Libra yang terbaring lemah disana. Cyra pun terduduk tepat di samping tubuh pria itu, ia terus menatapnya dengan tatapan yang lembut. Sontak Libra terkejut melihat kemunculan putrinya, tadinya pria itu mengira Cyra masih kesal padanya.


Namun, dugaan Libra itu salah besar karena nyatanya Cyra mau datang menemuinya dan malah terlihat begitu khawatir padanya. Sebagai seorang anak, memang sepantasnya Cyra merasa cemas pada kondisi sang ayah. Apalagi, Cyra melihat sendiri bagaimana kondisi Libra sebelum ini saat harus dilarikan ke rumah sakit.


"Pa, papa gimana kondisinya? Udah sehat kan?" tanya Cyra seraya mengusap lengan papanya itu.


Libra tersenyum dibuatnya, ia tak bisa berhenti menatap wajah gadis yang ada di sampingnya itu dan rasanya ingin sekali ia memeluknya. Andai bisa, maka Libra sudah bangkit dan lalu memeluk erat tubuh putrinya yang cantik itu. Ya Libra ingin melakukan itu, karena ia merasa bersalah telah mengecewakan putrinya di malam ulang tahunnya.


"Sa-sayang, kamu gak marah sama papa? Padahal, papa sudah mengecewakan kamu sayang. Maafin papa ya Cyra, seharusnya malam itu papa datang di pesta ulang tahun kamu!" ucap Libra lirih.


Cyra menggeleng perlahan, "Enggak pa, papa gak perlu minta maaf sama aku! Sekarang aku mau papa pulihin kondisi papa aja ya, supaya papa bisa pulang terus kumpul lagi sama aku dan adik-adik!" ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Makasih ya sayang, papa beruntung punya anak seperti kamu! Ternyata kamu sudah lebih dewasa dari yang papa kira," ucap Libra merasa senang.


"Papa gausah khawatir ya, sebelum papa minta maaf itu aku udah maafin semua kesalahan papa kok! Lagian aku kan gak bisa maksa papa harus hadir di acara ulang tahun aku," ucap Cyra.


Cyra tersipu malu mendengar pujian dari papanya, wajahnya memerah dan membuatnya menunduk tak berani menatap ke arah sang ayah. Sedangkan Libra tampak menggerakkan tangannya, lalu mengusap wajah sang putri dengan lembut. Libra begitu senang dengan kehadiran Cyra disana, karena hanya Cyra yang bisa mengobati luka di hatinya.


"Papa mah paling bisa bikin aku malu, padahal aku kan biasa-biasa aja! Aku gak secantik mama yang dulu jadi primadona di sekolah," ucap Cyra.


"Jangan merendah begitu! Kamu cantik kok sayang, gak kalah dari mama. Pastinya ada banyak kan yang deketin kamu di sekolah? Terus ada yang mau jadi pacar kamu kan?" ucap Libra.


"Hah? Enggak kok pa, gak ada. Aku juga jarang dekat sama cowok," elak Cyra.


Libra tersenyum saja, namun seketika ia teringat pada perkataan Davin di bar semalam yang mengancam ingin mengambil Cyra darinya. Tentu Libra sangat khawatir, apalagi Cyra adalah putrinya yang sangat ia sayangi. Tak mungkin Libra rela kehilangan salah satu dari anaknya, karena tanpa mereka tentu hidupnya akan terasa sulit.


"Oh ya sayang, sekarang ini kamu masih dekat gak sih sama orang yang kamu bilang namanya Davin itu?" tanya Libra tiba-tiba.


Deg


Sontak Cyra terkejut bukan main mendengar ucapan yang ditanyakan papanya, ia bingung harus menjawab apa lantaran ia tak mau membuat papanya itu merasa kesal.

__ADS_1




Di luar sana, Ciara masih dibuat terkejut dengan kehadiran Davin yang secara tiba-tiba muncul di rumah sakit itu. Ciara tak mengerti bagaimana Davin bisa ada disana, padahal sama sekali tidak ada yang memberitahu itu kepadanya. Ciara pun terus menatap ke arah pamannya itu, seolah tak percaya jika Davin akan datang menemuinya kembali.


Davin sendiri menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ciara, ia tatap wajah wanita itu sambil terus tersenyum lebar ke arahnya. Davin benar-benar senang karena ia dapat bertemu kembali dengan wanita yang ia sayangi itu, sejak lama Davin selalu ingin kejadian ini terjadi di hidupnya. Hanya saja, Davin sudah berjanji pada Libra sebelumnya kalau ia tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi.


"Om, gimana caranya om bisa ada disini? Darimana om tahu tentang rumah sakit ini?" tanya Ciara dengan tubuh gemetar.


"Ya Ciara, anak kamu kan sekolah di tempat saya mengajar. Jadi, saya bisa tahu kalau suami kamu sekarang lagi dirawat disini. Kamu pasti belum tahu soal itu kan?" jawab Davin dengan santai.


"Apa? Cyra satu sekolahan sama kamu?" Ciara tersentak dan menatap tak percaya.


Davin menganggukkan kepalanya, ia senang dengan reaksi keterkejutan dari Ciara yang menambah sensasi imut di wajahnya. Davin merasa gemas, ingin rasanya ia menghampiri dan mencubit langsung pipi wanita itu. Namun, sekarang ini masih ada sosok Askha diantara mereka yang membuat Davin agak ragu melakukannya.


"Askha, apa kamu tahu soal ini? Benar Cyra satu sekolahan dengan pria ini?" tanya Ciara pada keponakannya itu.


"Eee a-aku juga baru tau sekarang tante, soalnya kemarin-kemarin aku gak lihat ada om ini kok di sekolahnya Cyra," jawab Askha.


Lalu, Ciara pun kembali menatap Davin dan terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Ciara yakin sekali kalau Davin hanya berbohong, ia tidak percaya jika Davin menjadi guru di sekolah putrinya. Apalagi yang ia tahu, Davin bukanlah sosok yang pintar dan tidak mungkin pria itu bisa menjadi seorang guru di sekolah favorit.


"Om, pasti om bohong kan? Mending om ngaku aja deh sekarang, apa om masih suka mengawasi keluarga aku?" ucap Ciara dengan tegas.


Davin menggeleng perlahan, "Tidak Ciara, itu tidak benar. Saya selama belasan tahun ini sudah menjauh dari kalian dan berusaha melupakan kamu, tapi baru-baru ini saya malah dipertemukan dengan putri kamu yang cantik itu," ucapnya.


"Ya terus kenapa om balik lagi kesini? Harusnya om itu enggak coba deketin Cyra, om sadar dong kalau itu bisa menyakiti aku!" sentak Ciara.


"Kamu gak suka lihat saya dekat dengan anak kamu, Ciara?" tanya Davin.


"Iyalah om, aku jelas gak suka. Pokoknya sekarang aku minta sama om Davin, om harus jauhi Cyra dan jangan pernah muncul di depan dia lagi! Aku gak mau lihat om dengan mata aku!" ucap Ciara.


Davin terlihat kecewa dengan perkataan Ciara barusan, padahal selama ini ialah yang paling tulus mencintai wanita itu. Davin memang kejam, tindakan yang ia lakukan dulu sangat tidak pantas untuk dimaafkan. Namun, cintanya itu begitu tulus dan tak bisa terhapuskan oleh waktu. Bahkan, hingga kini saja Davin masih terus memikirkan Ciara dan tidak bisa menikah dengan wanita lain.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2