Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 144. Masalah terus


__ADS_3

Libra dan Ciara tiba di halaman rumah Nadira pada pagi hari yang cerah ini, ya Libra hendak menitipkan istrinya itu kepada Nadira karena ia akan pergi bekerja dan membuka prakteknya. Libra hanya tidak ingin jika Ciara merasa bosan di rumah tanpa ada yang menemani, itulah sebabnya Libra mengusulkan Ciara untuk pergi kesana karena ada Nadira juga Askha yang bisa menjadi teman bagi Ciara.


Keduanya pun turun dari mobil, lalu langsung bergerak menuju pintu untuk menemui Nadira serta Gavin yang ada di dalam sana. Libra mengetuk pintu, sampai akhirnya Nadira muncul membuka pintu dan menyambut mereka dengan senyum lebar. Nadira tak menyangka Ciara dan Libra akan datang sepagi ini, karena biasanya mereka selalu bertamu pada siang atau sore hari ke rumahnya.


"Eh Ciara, Libra. Tumben banget kalian datang pagi-pagi begini, ada apa sayang?" ucap Nadira terheran-heran.


Ciara tersenyum saja sembari mencium tangan mamanya, begitu juga dengan Libra yang melakukan hal sama disana. Barulah setelahnya, Libra menjelaskan maksud kedatangan mereka kesana untuk menitipkan Ciara. Tentu saja Ciara terkejut dan reflek menatap suaminya, karena dia merasa bukan lagi anak kecil yang harus dititipkan.


"Begini ma, aku mau titip Ciara disini selama aku kerja. Soalnya kasihan kalau dia ditinggal di rumah sendiri, nanti kesepian. Ya walau disana juga ada asisten rumah tangga yang baru," ucap Libra.


"Ish, emangnya aku anak kecil apa mas? Bahasa kamu loh nyebelin banget!" sela Ciara.


Nadira terkekeh mendengar perdebatan diantara Libra dan juga Ciara saat ini, rasanya ia senang sekali melihat keakraban suami-istri itu. Nadira berharap mereka akan terus seperti itu, dan kejadian yang dialami dirinya serta Tiara tak terulang kembali. Apalagi, Ciara adalah putrinya yang amat ia sayangi dan tidak ingin Ciara terluka.


"Sudah sudah, ya gapapa kalau Libra mau titipin kamu disini. Mama juga senang kok dengan adanya kamu di rumah ini, kamu jadi bisa bantu-bantu mama buat urus Askha yang sekarang lagi mau makan tuh," ucap Nadira.


"Ah boleh ma, kebetulan aku emang kangen banget sama Askha!" ucap Ciara dengan antusias.


"Yaudah, kita masuk aja yuk! Omong-omong kalian udah pada sarapan belum nih? Mau sarapan bareng gak di dalam?" tanya Nadira.


"Gausah ma, tadi di rumah aku sama Ciara udah sarapan kok. Rencananya ini aku mau langsung ke tempat praktek, mungkin Ciara masih lapar nih pengen makan lagi," jawab Libra terkekeh.


Ciara langsung mengembungkan pipinya sambil memandang ke arah Libra, ia sepertinya kesal dengan apa yang dikatakan suaminya itu. Namun, Libra malah mencubit pipi Ciara dengan jahil dan sesekali tersenyum mengejeknya. Ciara pun semakin kesal, lalu menghadiahi cubitan ke setiap tubuh Libra yang baru saja membuatnya jengkel.


Untungnya Nadira berhasil memisahkan mereka dan meminta Ciara berhenti melakukan itu, walau masih kesal tetapi akhirnya Ciara pun menurut saja. Lagi-lagi Libra makin terkekeh melihat ekspresi istrinya saat ini, tapi kemudian pria itu memilih pamit dan pergi untuk menghindari keributan kembali dengan Ciara disana.


Setelah Libra pergi, kini Ciara dan Nadira hendak masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan. Akan tetapi, tiba-tiba saja ponsel milik Ciara berbunyi dan membuat langkah wanita itu terhenti sesaat untuk memeriksanya. Begitu melihat layar ponsel, Ciara terkejut karena ternyata kakaknya lah yang menelponnya saat ini.


"Galen? Kamu masih berhubungan sama kakak gak tahu diri kamu itu? Buat apa sih sayang?" tanya Nadira dengan ekspresi kesal.


Ciara menggeleng dengan cepat, "Enggak ma, ini juga baru pertama kak Galen telpon aku. Gak tahu deh kak Galen mau apa, boleh gak kalau aku angkat telponnya ma?" ucapnya.


Nadira menghela nafas sembari memalingkan wajahnya, ia mengangguk saja dan memberi izin bagi Ciara untuk mengangkat telpon itu. Sontak Ciara tampak tersenyum dan berterima kasih pada mamanya, kemudian mengangkat telpon di tempat yang tidak jauh dari Nadira berada.


📞"Halo kak! Kenapa nih kakak tumben banget telpon aku, kangen ya?" tanya Ciara dengan senyum lebarnya.


📞"Iya nih sayang, kakak kangen banget sama kamu!" jawab Galen di sebrang sana.


Nadira begitu muak mendengarnya, ia menunjukkan ekspresi mual yang membuat Ciara agak terkekeh namun berusaha menahannya. Sepertinya Nadira memang sudah benci dengan Galen, karena saat ini saja wanita itu begitu malas setelah mengetahui Galen lah yang menghubungi Ciara tadi.


📞"Tapi sayang, sebenarnya kakak mau kasih tahu sesuatu ke kamu yang penting banget. Kakak udah coba telpon ke nomor Tiara, tapi selalu gak nyambung," ucap Galen lagi.


📞"Hah? Sesuatu yang penting itu apa kak?" tanya Ciara tampak penasaran.


📞"Ya Ciara, barusan kakak dapat info dari anak buah kakak. Katanya, ada bom yang dipasang seseorang di mobil milik Tiara," jawab Galen serius.


Deg


•


•

__ADS_1


Libra tiba di ruang prakteknya, disana ia disambut dengan hangat oleh para pekerjanya yang bertugas membantunya di tempat itu. Tampak ada suster Lina dan juga Anin saat ini, sehingga Libra begitu senang karena mereka begitu rajin. Memang suasana disana masih sepi, ya karena tempat itu juga baru dibuka. Namun, kegigihan Lina serta Anin patut diapresiasi oleh Libra selaku pemilik klinik tersebut.


"Selamat datang dok! Kami sudah persiapkan semuanya, praktek bisa kita lakukan sekarang dok. Tinggal menunggu pasien aja yang mau datang nanti," ucap Lina.


Libra tersenyum dibuatnya, "Baiklah, terimakasih Lina. Kalo gitu saya ke ruangan saya dulu, kalian kerja yang benar ya!" ucapnya lirih.


"Siap pak!" ucap keduanya bersamaan.


Setelahnya, Libra segera pergi menuju ruangannya dan terduduk di kursi kebanggaannya. Baru saja ia meletakkan tasnya di meja, tiba-tiba sudah ada yang menghubunginya dan membuat Libra harus mengambil ponselnya. Libra terkejut melihat nama Ciara terpampang disana, senyuman mengembang di kedua pipinya sesaat sebelum mengangkat itu.


📞"Halo cantik! Baru juga ditinggal sebentar udah kangen aja, sabar sayang nanti aku pulang jam lima sore kok!" ucap Libra.


📞"Haish, aku bukan kangen sama kamu om Libra yang mesum dan ngeselin! Aku itu mau kasih kabar ke kamu, kalau mobil milik kak Tiara ada bomnya dan sekarang kak Tiara dalam bahaya!" ucap Ciara.


Deg


Betapa syoknya Libra mendengar kabar tersebut, ia spontan bangkit dari tempat duduknya dan menganga seolah tak percaya. Bagaimana bisa ada bom yang terpasang di mobil Tiara tanpa diketahui oleh siapapun? Padahal, tingkat keamanan di rumah Nadira telah diperketat dan diperbanyak sesuai janji dari Liam beberapa waktu lalu.


📞"Apa sayang? Kok bisa gitu sih? Siapa yang taruh bomnya coba?" tanya Libra terkejut.


📞"Ish, ya mana aku tahu. Makanya aku minta kamu buat selidiki semuanya, terus aku minta bantuan kamu supaya kamu bisa susulin kak Tiara ke kantornya sekarang! Soalnya ini aku coba telpon dia gak diangkat-angkat," panik Ciara.


📞"Eee i-i-iya sayang, ini aku langsung meluncur kesana. Tapi, kamu coba lagi buat hubungi nomor Tiara ya sayang!" ucap Libra.


📞"Iya iya mas, makasih ya? Kabarin aku loh!" ucap Ciara.


Telpon pun terputus setelah semuanya diberitahu kepada Libra, lelaki itu bergegas keluar dari ruangannya dan berniat menemui Tiara. Akan tetapi, suster Lina lebih dulu muncul dan mengatakan bahwa ada banyak pasien yang sudah mengantri di luar bersiap untuk menunggu penanganan darinya.


"Eee gimana ya? Ini saya baru dapat telpon dari istri saya, katanya ada sesuatu yang penting banget. Saya jadi bingung harus gimana, soalnya ini masalah nyawa ipar saya!" ucap Libra tampak panik.


"Oh ya? Kalau begitu dokter mending pergi aja dok, biar nanti saya yang urus semua pasiennya. Saya mengerti dikit-dikit kok dok," ucap Lina.


"Yakin kamu bisa Lina?" tanya Libra memastikan.


Lina mengangguk dengan penuh keyakinan, ia berhasil membuat Libra percaya dan tidak lagi meragukan kemampuan wanita itu. Sehingga, kini Libra pun dapat pergi dengan tenang untuk menemui Tiara di kantornya. Meski, Libra juga masih ragu untuk meninggalkan tempat prakteknya dan mengecewakan banyak pasiennya.


Drrrtt drrrtt


Baru saja Libra hendak melanjutkan langkahnya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan membuat langkah Libra terhenti. Ia melihat ponselnya, lalu terdapat nama salah seorang polisi yang ia simpan untuk bisa mendapatkan informasi mengenai Syifa. Tanpa berpikir panjang, Libra segera mengangkat telpon untuk memastikan semuanya.


📞"Halo pak! Ada apa?" tanya Libra tampak penasaran.


📞"Begini pak Libra, kami hanya ingin menginfokan kalau dokter Syifa kabur dari rumah sakit tanpa sepengetahuan kami. Tapi, sekarang kami sedang berusaha melakukan pengejaran dan akan menangkap kembali dokter Syifa!" jelas si polisi.


📞"Apa??" Libra terkejut dan amat jengkel mendengar kabar dari polisi itu.


Libra benar-benar kesal dan langsung menutup telpon itu, rasanya ia ingin menghancurkan tempat itu saat ini juga untuk melampiaskan kekesalannya. Namun, ia ingat kalau ia membangun tempat itu dengan susah payah dan penuh tenaga selama berminggu-minggu.


"Aaarrrgghhh sial! Kenapa coba dokter Syifa bisa kabur dari rumah sakit? Padahal ada banyak pasukan disana yang jaga dia, emang sialan!" Libra mengumpat kasar dan penuh emosi.


Akhirnya Libra memutuskan pergi menuju kantor Tiara dan memberitahu mengenai bom itu, barulah setelahnya ia akan membantu para polisi dalam mencari dokter Syifa yang melarikan diri dari rumah sakit dan memastikan wanita itu akan bisa ditangkap olehnya.

__ADS_1


•


•


Disisi lain, Tiara tiba di sebuah restoran mewah dekat kantornya yang biasa menjadi tempat favorit bagi Adrian untuk menikmati makan siang. Wanita itu melangkah masuk ke dalam restoran, bersama Adrian yang ada di sebelahnya. Keduanya langsung terduduk pada kursi yang tersedia, tanpa berpikir panjang Libra memanggil pelayan lalu mengatakan apa pesanan mereka saat ini.


Setelah pesanan mereka datang, Adrian pun mempersilahkan Tiara untuk memakannya lebih dulu jikalau memang Tiara sudah lapar. Namun, Tiara agak sedikit canggung karena berada cukup dekat dengan bosnya itu. Belum pernah Tiara duduk satu meja dengan Adrian sebelumnya, tapi sekarang ia harus melakukan itu karena Adrian lah yang memintanya saat di kantor tadi.


"Tiara, ayo dimakan dong makanannya! Makanan itu buat dimakan, bukan cuma dipandang apalagi didiemin kayak gitu," suruh Adrian.


Tiara terkejut dan spontan menatap ke arah si pria dengan mata terbelalak, ia semakin gugup dan langsung menunduk karena bingung. Tubuhnya terasa gemetar saat ini, entah mengapa Tiara selalu saja merasa seperti itu tiap kali berdekatan dengan Adrian yang merupakan bosnya itu. Padahal, waktu dulu Tiara amat membenci Adrian atas sikap cuek dan juga sombongnya.


"I-i-iya pak, nanti saya makan kok. Bapak aja duluan yang makan makanannya, tadi kan katanya bapak udah lapar terus minta ditemani sama saya buat makan siang!" ucap Tiara.


"Oh okay, saya akan makan ini. Tapi, kamu juga harus makan dong biar saya ada temannya!" pinta Adrian sambil tersenyum.


"Baik pak, ini saya makan kok!" ucap Tiara patuh.


Akhirnya Tiara mengikuti kemauan Adrian dan memakan pesanannya itu bersamaan dengan si pria, tentu saja Adrian tersenyum dan semakin bersemangat kali ini untuk menghabiskan makanan yang ia pesan tadi. Meski, Adrian juga tak kalah gugupnya ketika menatap wajah Tiara yang kini tepat berada di depannya.


Disaat mereka sedang asyik menikmati makanan itu, tiba-tiba saja seorang wanita muncul secara mendadak dan mengejutkan keduanya. Sontak baik Adrian maupun Tiara kompak terkejut dan sama-sama menoleh ke arah si wanita, lalu Adrian terbelalak lebar ketika menyadari keberadaan calon istrinya yang ada disana.


"Adrian, kamu kok malah makan siang sama wanita lain sih? Aku kan ada disini loh, apa kamu sekarang udah gak anggap aku lagi ya?" tegur si wanita.


"Eee Salma, jangan salah paham dulu ya! Kenalin, ini Tiara sekretaris baru aku! Kami cuma makan siang bareng kok, dan diantara kami juga gak ada hubungan spesial apalah itu," ucap Adrian seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Ohh, jadi nama perempuan ini Tiara?" wanita bernama Salma itu beralih melirik ke arah Tiara dengan tatapan sinisnya.


Tiara yang merasa gugup langsung beranjak dari kursinya, lalu berdiri menghadap ke arah Salma seraya membungkuk. Tiara pun mengenalkan dirinya pada Salma sembari mengulurkan tangan, tetapi sepertinya Salma tak menyukai hal itu dan malah diam memandang wajah Tiara seolah amat membencinya.


"Iya bu, saya Tiara sekretaris barunya pak Adrian!" ucap Tiara dengan gemetar.


"Heh! Sembarangan aja panggil saya bu, emang saya setua itu apa? Lagian kamu tuh gausah sok akrab deh sama saya, terus juga ya kamu jangan coba-coba buat deketin apalagi goda calon suami saya ini!" sentak Salma.


"Ma-maaf mbak, saya sama sekali tidak menggoda pak Adrian kok! Kami ini hanya sebatas atasan dan bawahan, mbak tenang aja!" ucap Tiara.


Salma hanya memalingkan wajahnya sembari melipat kedua tangannya di depan, lalu Adrian bergerak mendekati calonnya itu untuk berusaha menenangkannya. Biar bagaimanapun, Adrian tidak ingin terjadi keributan disana yang akan membuat banyak orang merasa terganggu.


"Salma, udah ya kamu jangan marah-marah begitu! Kalau kamu mau makan siang bareng aku, ayo kamu gabung aja sama kita!" ajak Adrian.


"Hah? Aku makan sama perempuan ini? Ih ogah ya Rian, males banget!" tolak Salma.


Tiara tersentak dan merasa jengkel dengan ucapan Salma barusan, rasanya ia benar-benar emosi dan ingin segera pergi saja dari sana. Tiara pun pamit kepada Adrian, lalu mengambil tasnya dan bersiap pergi meninggalkan tempat itu. Saat ini Adrian tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak mungkin ia membela Tiara di hadapan Salma.


"Saya permisi pak, terimakasih atas tawaran makan siangnya tadi!" ucap Tiara tegas.


Saat Tiara hendak keluar dari restoran, tanpa diduga Libra muncul tepat di hadapannya dan membuat langkah wanita itu terhenti.


"Tiara," panggil Libra dengan lirih.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2