Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 140. Tingkah aneh Adrian


__ADS_3

Libra terkejut saat tiba-tiba istrinya masuk ke ruang prakteknya dan menganga lebar, ya Ciara kini mendekat lalu terlihat tidak suka saat melihat Libra tengah berdekatan dengan seorang wanita cantik. Namun, perasaan Ciara sedikit lega setelah tahu bahwa wanita yang ada disana adalah pasien yang sedang pingsan dan tak seharusnya Ciara berpikir aneh tentang suaminya itu.


"Kamu kenapa sayang? Kok tiba-tiba masuk terus teriak kayak gitu?" tanya Libra keheranan.


"Eee a-aku....."


Ciara tampak kebingungan dan garuk-garuk kepala memikirkan jawaban, wanita itu cukup malu karena Libra tersenyum menatapnya. Sepertinya Libra tahu kalau Ciara tadi sempat salah paham dan cemburu, akibatnya kini Libra pun berusaha menggodanya. Ciara langsung berbalik ke arah lain dengan cepat, menyembunyikan wajahnya itu dari sang suami.


"Kamu gausah cemburu, cinta aku kan cuma buat kamu sayang! Lagian Alya ini pasien aku loh, masa kamu cemburu juga sama dia? Apalagi, orangnya lagi pingsan tuh," goda Libra.


Ciara makin tidak bisa menahan wajahnya dari semu merah, ya wanita itu sadar kalau dirinya benar-benar malu mendengar ucapan suaminya tadi. Kini kedua pipinya dipenuhi kemerahan akibat menahan malu, dan Libra yang melihatnya langsung menarik wajah wanita itu agar menghadap ke arahnya. Ciara sungguh terkejut dengan tindakan tiba-tiba suaminya, terlebih sekarang ada suster Lina yang menyaksikan momen mereka berdua.


Libra juga membawa Ciara untuk duduk di kursi dekat sana agar mereka bisa saling berbincang, sedangkan suster Lina diminta untuk mengecek kondisi Alya yang masih pingsan. Bagaimanapun juga, Alya adalah pasien Libra dan pria itu harus bertanggung jawab untuk merawat Alya sampai dia bisa sadar dari pingsannya.


"Mas, itu pasien kamu kenapa gak dipindah ke ruang rawat aja sih? Kan daripada dia disini ganggu pasien yang lain, mending dibawa aja kesana kan!" ucap Ciara memberi usul.


Libra tersenyum dibuatnya, "Nanti dulu dong sayang, gak boleh buru-buru kayak gitu! Kalau dia gak mau bayar biaya kamarnya gimana? Rugi dong aku nanti udah bawa dia kesana, yang ada malah jadi masalah nanti," ucapnya.


"Iya sih, lagian emang dia sakit apa mas? Kok bisa sampai pingsan kayak gitu, emangnya kamu gak bener ya periksa dia?" tanya Ciara penasaran.


"Heh sembarangan! Aku udah belajar ilmu kedokteran jauh-jauh ke luar negeri, masa dibilang gak bener? Dia pingsan bukan salah aku lah, tapi emang kondisi tubuhnya lagi menurun," jelas Libra.


"Ohh, kamu ajarin aku ilmu kedokteran juga dong mas! Biar aku bisa bantu kamu disini," pinta Ciara.


Libra geleng-geleng kepala dan tersenyum mendengar permintaan istrinya itu, bukannya menurut kini Libra malah bergeser lebih dekat ke arah Ciara dan mendekap erat tubuh wanita itu sambil mengecupnya sesekali. Ciara terima saja diperlakukan seperti itu, karena dia juga senang saat mendapat perhatian dari suaminya.


"Kamu gausah ngada-ngada deh, kamu itu cukup diam di rumah dan jaga kandungan kamu! Soal kerja itu biar jadi urusan aku, okay?" ucap Libra.


Ciara mengangguk paham, lalu membenamkan wajahnya di bahu sang suami. Libra pun tak melewatkan kesempatan itu, ia langsung mengusap rambut sang istri dan mencium setiap inci wajahnya tanpa ada yang terlewati. Kemesraan pasangan suami-istri itu dilihat jelas oleh suster Lina, tentu saja wanita itu tampak iri dan hanya bisa senyum-senyum tipis sambil menutupi pandangannya.


Drrrtt drrrtt


Tiba-tiba saja, ponsel milik Libra berdering dan mengharuskan lelaki itu untuk mengambilnya. Ia bangkit lalu meraih ponselnya, matanya terbelalak ketika mendapati sebuah pesan dari nomor salah seorang anak buahnya.


[Alvin] : Ada kabar penting bos, sekarang dokter Syifa udah siuman dan polisi siap untuk melakukan interogasi ke beliau. Kalau bos mau tahu sendiri, bos bisa datang kesini!


Begitu membaca isi pesan tersebut, Libra langsung melepas jas dokternya dan mengajak Ciara untuk pergi dari tempat itu. Tak lupa Libra juga meminta suster Lina untuk menghandle semuanya, karena saat ini pria itu harus menemui dokter Syifa di rumah sakit dan memastikan dia akan mendapat hukuman.




Sementara itu, Adrian tampak berdiri di depan ruangan milik Tiara dan terlihat ragu saat hendak mengetuk pintu ruangan itu. Ya Adrian pun bingung sendiri saat ini, antara ia harus mengetuknya atau menunggu sampai Tiara keluar dengan sendirinya. Namun, sekarang ia sedang dikejar oleh waktu dan tidak bisa jika terlalu lama menunggu disana.


"Duh, saya ketuk apa enggak ya? Kalau saya ketuk, malu saya dong dikiranya gak sabaran dan nanti malah Tiara ngomel ke saya! Tapi kalau enggak diketuk, kelamaan bisa telat ini meetingnya!" gumam Adrian sembari menggaruk tengkuknya.


Pria itu sampai terus mondar-mandir di depan pintu seraya memegangi kepalanya, ia bingung harus melakukan apa karena hingga kini Tiara tak kunjung juga membuka pintu. Ia menggigit jarinya sendiri, berulang kali matanya melirik ke arah pintu dan berharap Tiara muncul supaya semua ini bisa cepat selesai.


Akhirnya setelah berpikir cukup lama, Adrian memutuskan untuk mendekat ke arah pintu dan mengetuknya saja sambil memanggil nama Tiara. Namun belum sempat ia melakukan itu, pintu tiba-tiba saja sudah terbuka lebih dulu. Betapa terkejutnya Adrian saat ini, karena tangannya malah menempel pada kening Tiara yang reflek mengaduh kesakitan karena punggung tangan pria itu.


"Aduh!" Tiara tak kalah syok dengan sang bos, ia tak menyangka kalau saat ini Adrian berada di depannya dan tangan pria itu juga menyentuh keningnya.


"Loh pak Adrian, kok bapak ada disini sih?" tanya Tiara sembari mengusap-usap keningnya.


Adrian sendiri tampak gugup dan kebingungan, ia tergagap saat hendak menjelaskan pada Tiara sambil berusaha mencari-cari alasan. Sedangkan Tiara semakin dibuat bingung dengan sikap bosnya itu, apalagi Adrian terlihat jauh berbeda dibanding yang Tiara temui di ruangannya beberapa saat lalu.


"Eee saya cuma mau panggil kamu, abisnya kamu lama sih. Ini udah jam segini, harusnya kamu lebih cepat dong kerjanya! Kalau kita telat datang ke tempat meeting nanti, bisa berabe tau!" ucap Adrian.


"Ohh, tapi kan waktu meetingnya masih setengah jam lagi pak. Saya rasa kita gak akan telat kok," ucap Tiara.

__ADS_1


"Kamu jangan membantah kata-kata saya ya, Tiara! Kamu itu sekretaris saya, dimana-mana sekretaris itu nurut sama atasannya!" tegur Adrian.


"Baik pak, siap salah!" ucap Tiara.


"Yaudah, semuanya sudah kamu bereskan kan?" tanya Adrian memastikan.


"Sudah pak." Tiara menjawab disertai anggukan.


"Bagus, kalo gitu ayo kita berangkat sekarang!" ajak Adrian yang langsung membalikkan tubuhnya.


Pria itu melangkah lebih dulu dengan diikuti oleh Tiara di belakangnya, tapi kemudian Adrian malah menghentikan langkahnya dan membuat Tiara bingung. Adrian kini menoleh ke arahnya, tentu saja Tiara tampak keheranan dan bertanya-tanya apa yang terjadi atau mungkin ia melakukan kesalahan.


"Tiara, maaf soal yang tadi? Kening kamu gapapa kan?" ucap Adrian tanpa diduga.


Deg


Tiara betul-betul terkejut dengan ucapan yang dilontarkan pria itu, ia tak percaya kalau ternyata bosnya bisa memiliki perasaan seperti itu. Namun, Tiara sedikit senang dan berharap kalau Adrian akan terus begitu padanya.


"Ah iya gapapa kok pak, sakitnya juga udah hilang. Lain kali bapak lebih hati-hati aja, supaya gak terjadi lagi yang kayak gitu!" ucap Tiara sambil tersenyum.


"Yasudah, kamu jalannya jangan di belakang saya kayak gitu! Sini di samping saya aja!" titah Adrian.


"Tapi pak, saya kan—"


"Jangan bantah!" Adrian lebih dulu menyela sebelum Tiara sempat menyelesaikan kata-katanya.


"Ba-baik pak!"


Dengan gugup Tiara melangkah ke dekat pria itu seusai perintahnya, ya baru saja Tiara senang dengan sikap Adrian tadi tetapi kini lagi-lagi bosnya itu sudah bertindak seenak hati. Namun, Tiara juga tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menurut dan berjalan di samping pria itu. Lagipula, melakukan itu juga bukanlah sesuatu hal yang buruk.


setelahnya, mereka sama-sama masuk ke dalam lift yang ternyata kosong dan hanya ada mereka berdua saat ini. Tiara benar-benar gugup karena harus berduaan dengan Adrian di dalam lift itu, bahkan Adrian sendiri juga merasakan hal yang sama. Tiara juga menggeser posisinya menjauh dari pria itu, tapi kemudian Adrian melirik ke arahnya.


Tiara memejamkan matanya dan agak kaget ketika Adrian menegurnya seperti itu, ia lalu menoleh dan coba menjelaskan alasannya mengapa ia bergeser.


"Ma-maaf pak, saya cuma—"


"Gak ada cuma cuma, sini geser lagi! Kalau kamu kayak gitu, tandanya kamu menghina saya!" lagi dan lagi, Adrian lebih cepat berbicara dibanding Tiara yang membuat wanita itu semakin jengkel.


"Maafin saya pak, iya deh saya geser lagi ini kok!" Tiara sangat kesal dan terpaksa bergeser kembali mendekati pria itu.


"Lama banget sih!" karena tidak sabaran, Adrian menarik paksa lengan Tiara ke dekatnya.


"Eh eh pak!"


Tapi sesuatu hal yang tidak diduga terjadi, Tiara kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh karena tarikan dari bosnya itu. Beruntung Adrian dengan sigap menangkapnya dan menahan tubuh wanita itu, namun saat ini posisi mereka malah saling menyentuh dan terlihat seperti sedang berpelukan.


Ting


Tiba-tiba pintu lift terbuka, disaat yang sama ada banyak karyawan di luar sana yang menyaksikan hal itu dan begitu terkejut. Mereka kompak menutup mulut karena tak menyangka jika Adrian akan memeluk tubuh sekretarisnya disana.


Karena malu dan tidak ingin karyawannya salah paham, Adrian malah melepaskan tubuh Tiara sehingga wanita itu terjatuh begitu saja ke luar lift.


Bruuukkk


"Awhh!!" Tiara meringis dan menatap jengah ke arah bosnya itu.


Adrian pun meminta semua orang disana untuk tidak salah paham terkait hal tadi, tanpa perduli dengan Tiara yang masih tergeletak kini Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya disana.


"Ih pak Adrian tunggu!"

__ADS_1


Tiara bangkit dengan cepat seraya merapihkan pakaiannya dan juga berkas-berkas yang terjatuh tadi, ia mengejar bosnya itu sambil berteriak dan mengabaikan orang-orang yang masih menatap ke arahnya dengan penuh curiga itu.




"Dokter Syifa!"


Libra berteriak kesal sesaat setelah memasuki ruang rawat tersebut, ia bersama Ciara kini tiba di rumah sakit untuk menemui dokter Syifa yang dirawat disana semenjak terjatuh ke dalam danau dan mengalami koma. Kini disaat dokter Syifa telah pulih, maka semua proses hukum harus kembali dilanjutkan dan Libra tidak sabar untuk itu.


Dokter Syifa sendiri tampak begitu terkejut saat melihat Libra dan Ciara memasuki ruangan itu, ia membelalakkan matanya dan kebingungan harus berbicara apa di hadapan mereka. Apalagi, dokter Syifa tahu kalau semua yang ia lakukan kepada Libra dan Ciara sangat keterlaluan karena telah membuat mereka nyaris berpisah.


"Do-dokter Libra, sa-saya...."


"Tidak usah banyak bicara Syifa, saya tidak mau mendengar omong kosong anda itu! Sekarang juga anda harus menerima hukuman yang pantas, atas apa yang telah anda lakukan!" Libra menyelanya.


"Tapi Libra, aku masih sakit loh. Kamu gak lihat apa kondisi aku lemas begini?" ujar dokter Syifa.


Libra menggeleng disertai geraman kesal, rasanya saat itu juga ia ingin memukul Syifa jika ia tidak perduli dengan status gender wanita itu. Namun, Libra harus menahan semuanya karena selain Syifa adalah wanita disana juga terdapat banyak polisi. Ciara sendiri pun meminta suaminya itu untuk tenang, karena sekarang mereka berada di rumah sakit yang mana merupakan tempat orang sakit.


"Mas, kamu tenang ya! Kamu boleh emosi, tapi kamu harus tahan diri kamu! Akan ada waktunya dokter Syifa mendapat hukuman kok," ucap Ciara.


"Iya Ciara, aku minta maaf. Aku tadi kebawa emosi karena kelakuan wanita ini!" kesal Libra.


Dokter Syifa merengut saat Libra menunjuk dan berbicara kasar kepadanya, hingga kini wanita itu masih mencintai Libra dan sampai kapanpun pasti itu akan tetap bertahan. Dokter Syifa juga belum menyerah untuk mendapatkan libra, karena sekarang ia hanya perlu berhadapan dengan Ciara setelah Gita pergi untuk selamanya.


"Heh Ciara! Asal kamu tahu ya, semua ini terjadi tuh gara-gara kamu! Andai aja kamu mau tinggalin Libra, pasti aku gak akan senekat itu membunuh Gita!" ucap dokter Syifa dengan tegas.


Ciara mengernyitkan dahinya, "Kamu bicara apa sih Syifa? Aku gak ngerti deh, tolong jangan aneh-aneh ya!" ujarnya tampak bingung.


"Halah gausah sok polos deh kamu! Kamu kan tahu kalau aku cinta sama suami kamu ini, harusnya kamu ngertiin dong dan tinggalin dia! Dasar wanita gak tahu diri!" sentak Syifa.


"JAGA MULUT KAMU SYIFA!" geram Libra.


Ciara terkejut dengan tindakan suaminya, ya ucapan keras pria itu tadi sampai membuat dokter Syifa kejang-kejang entah karena apa. Libra sendiri terlihat kebingungan, padahal seharusnya Syifa tidak sampai seperti itu hanya karena ucapannya. Kini polisi yang menunggu di luar mulai ikut masuk, ya tentu saja karena teriakan Libra tadi.


"Maaf pak Libra, ada apa ini? Kenapa anda berteriak begitu keras tadi?" tanya si polisi.


"Eee ma-maaf pak, tadi saya terpancing emosi. Tapi, saya juga gak ngerti kenapa Syifa jadi kayak gini. Mungkin dia cuma akting pak," jawab Libra.


"Sebaiknya bapak dan istri bapak menunggu di luar, kondisi pasien masih belum membaik!" titah polisi.


"Tapi pak, saya—"


"Mohon menurut pak, ini semua demi kelancaran proses hukum!" sela si polisi.


Libra mendengus kesal dan mengusap wajahnya, ia tatap dokter Syifa saat ini dengan tajam seolah menunjukkan betapa kesalnya ia kepada wanita itu atas semua yang dia lakukan.


"Kamu pikir saya tidak tahu Syifa? Kamu hanya pura-pura kan? Dasar licik!" gumam Libra di dalam hatinya sebelum ditarik pergi oleh Ciara.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...|||...


...Siapa yang dukung couple Tiara - Adrian?...


...😋😋😋...

__ADS_1


__ADS_2