Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 182. Ngelive di kelas


__ADS_3

Pagi hari ini, Cyra kembali bersekolah seperti biasa dan mengikuti pelajaran pertama di hari yang membosankan ini. Cyra merasa sangat bosan saat Davin menerangkan materi di depan sana, apalagi pelajaran yang diberikan Davin adalah salah satu yang paling Cyra benci dan sulit dimengerti. Bahkan, sedari tadi gadis itu tampak mengucek mata sembari mengipas-ngipas lehernya dengan buku.


Muncul ide gila di dalam kepala gadis itu, ya secara diam-diam Cyra mengambil ponsel miliknya dari dalam tas dan menyalakannya. Tanpa diduga, Cyra meletakkan tasnya di atas meja lalu menaruh ponsel itu bersandar pada tas miliknya. Dengan begini, maka kemungkinan Cyra akan ketahuan oleh Davin sangat tipis. Namun, ia tak tahu kalau Davin adalah guru yang selalu fokus pada dirinya sedari tadi.


Cyra pun memulai rekaman siaran langsung di akun sosial media miliknya, terlihat puluhan orang mulai berbondong-bondong masuk melihat video siaran gadis cantik itu. Kecantikan Cyra memang mengundang banyak perhatian dari netizen, sehingga di usia mudanya Cyra sudah memiliki jutaan followers. Bahkan, kali ini saja yang menonton videonya sudah menyentuh angka ratusan.


"Halo guys! Aku lagi sekolah nih, tapi bosen banget jadi aku live aja deh," ucap Cyra bisik-bisik di depan kamera agar tak terdengar siapapun disana.


Gerak-gerik Cyra cukup mencurigakan tentunya, apalagi gadis itu lebih sering melirik ke bawah. Davin pun tak henti memantaunya, ia sudah tahu apa yang dilakukan Cyra saat ini. Hanya saja, Davin masih ingin berpura-pura tidak tahu dan memberi waktu bagi Cyra bersenang-senang. Sementara ini Davin juga terus menerangkan materi dari bukunya, seolah tak mengetahui kejadian itu.


Rachel, murid satu meja yang duduk di sebelah Cyra menyadari tindakan gila sohibnya itu. Seketika Rachel berniat menegur Cyra dan meminta Cyra mengakhiri semua itu, karena bagaimanapun Davin bisa saja memergoki hal tersebut. Sebagai seorang sahabat yang baik, tentu Rachel tak ingin bila Cyra dihukum oleh guru itu.


"Eh Cyra, lu udah gila ya? Lu bisa-bisanya ngelive pas lagi mata pelajaran pak Davin, mending lu matiin deh siaran live lu itu! Nanti kalau pak Davin tahu bisa gawat, Cyra!" tegur Rachel.


"Sssttt, kamu diem-diem aja Rachel! Kalau kamu gak berisik dan gak cepu, gak akan ada yang tahu kok soal ini!" pinta Cyra.


"Ta-tapi Cyra—"


Cyra lebih dulu menempelkan jarinya pada bibir sahabatnya itu, ia tersenyum dan kemudian kembali fokus menatap kamera di ponselnya tanpa perduli dengan apa yang dicemaskan Rachel tadi. Bahkan, Cyra dengan santainya menyapa para penonton di siaran langsungnya itu sambil merapihkan rambutnya dan memberi senyuman lebar.


"Guys, kalian jangan ada yang cepu ya! Nanti aku ketahuan sama guru aku, okay!" ucap Cyra.


Rachel menggeleng saja melihat kelakuan sohibnya itu, ia tak tahu lagi harus bagaimana untuk bisa memberitahu Cyra saat ini. Apa yang dilakukan Cyra tentu sangat beresiko, meski hubungan antara Cyra dan Davin terbilang cukup dekat. Namun, tentu saja tak ada yang mengetahui hal itu selain mereka berdua sendiri.


"Cyra!" tanpa diduga, Davin yang sebelumnya tengah menjelaskan materi itu kini malah memanggil gadis itu dan berjalan mendekat ke arahnya.


Sontak Cyra merasa panik dan reflek menyembunyikan ponselnya ke dalam tas miliknya, ia sampai lupa mematikan siaran langsung karena tiba-tiba saja Davin sudah berada di dekatnya. Cyra pun tak tahu harus berbuat apa, terlebih Davin seperti sangat curiga padanya dan terus menatap tajam ke arahnya saat ini.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Cyra? Kenapa daritadi kamu sepertinya gak fokus sama penjelasan saya, hm?" tanya Davin dengan tegas.


"Eee...." Cyra benar-benar gugup saat ini, ia bingung sekali harus mengatakan apa pada gurunya.


Tatapan Davin kini mengarah ke tas milik Cyra yang ada di meja, sedari tadi ia memang sudah menaruh curiga pada tas tersebut dan mengira bahwa Cyra menyembunyikan sesuatu disana. Akan tetapi, Davin belum tahu apakah yang dilakukan Cyra sampai gadis itu tampak gugup ketika ditegur olehnya dan terlihat begitu ketakutan.


"Cyra, coba tunjukkan itu ke saya! Kamu main hp ya tadi sewaktu saya menjelaskan?" ucap Davin.


"Pak, saya gak sembunyiin apa-apa kok. Tadi saya dengerin penjelasan bapak loh, mungkin bapak yang saya lihat," elak Cyra.


"Jangan bohong, ayo cepat berikan tas kamu ke saya!" pinta Davin.


Kali ini Cyra terpaksa menyerahkan tas miliknya kepada Davin, saat itu juga Cyra memejamkan mata karena tidak berani melihat reaksi Davin nantinya. Betul saja, tanpa menunggu lama Davin langsung berhasil menemukan ponsel gadis itu disana. Davin menggeleng melihatnya, ia heran bagaimana bisa Cyra menyalakan siaran langsung di sosial medianya sewaktu pelajaran tengah berlangsung.


"Kamu ngelive di waktu belajar, Cyra? Sebenarnya niat kamu ke sekolah itu apa sih Cyra? Kamu mau belajar atau ngelive dan cari pengikut baru?" tanya Davin tampak menegur gadis itu.


"Ma-maaf pak, sa-saya...." Cyra sangat gugup dan sungguh ketakutan saat ini.

__ADS_1


Davin yang sudah terlanjur kesal memilih menyimpan ponsel milik Cyra dan mengembalikan tas itu ke atas meja, sontak Cyra makin melongok dan tak menyangka kalau Davin akan mengambil ponselnya itu. Tadinya Cyra berpikir kalau Davin hanya akan menegurnya, tapi ternyata ia salah dan Davin benar-benar bersikap profesional kali ini.


"Handphone kamu saya sita sekarang, supaya kamu bisa lebih fokus dalam pelajaran! Kalau kamu mau ini kembali, kamu datang ke ruangan saya nanti! Okay, sekarang kita kembali fokus ya ke materi yang saya jelaskan tadi!" ucap Davin tegas.


Cyra hanya bisa pasrah melihat Davin kembali ke tempatnya dengan membawa ponsel miliknya, gadis itu menggeleng perlahan seolah tak percaya kalau semua itu akan terjadi. Sungguh Cyra menyesal, namun penyesalannya itu tak berarti apa-apa karena saat ini ponselnya sudah diambil oleh Davin dan akan sulit baginya mendapatkan ponsel itu kembali.


Rachel kini menepuk pundaknya, ia coba menenangkan Cyra yang terlihat panik sekaligus ketakutan. Sedari tadi memang Rachel sudah memperingatkan Cyra untuk tidak bertindak nekat, tetapi Cyra malah mengabaikan peringatannya. Akhirnya, kini Cyra sendiri harus menanggung akibat dari apa yang dia lakukan tadi.


"Cyra, lu yang sabar ya! Gue kan udah ingetin lu tadi, tapi lu gak mau dengar. Sekarang lu ikhlas aja kalo hp lu itu diambil pak Davin!" bujuk Rachel.


"Ish, gimana bisa aku ikhlas? Itu hp aku Rachel, ya aku harus ambil balik lah!" ucap Cyra.


"Oh gitu, emangnya lu berani ke ruangan pak Davin? Dengar-dengar, pak Davin itu orangnya serem banget loh. Gue gak yakin kalau dia bakal balikin tuh hp lu nanti," ucap Rachel.


Deg


Ucapan Rachel barusan berhasil membuat Cyra makin ketakutan, jantungnya berdebar kencang dan pikirannya mengarah kemana-mana.




Disisi lain, Ciara baru hendak membersihkan tubuhnya dengan berendam di dalam bathtub yang sudah ia isi dengan air hangat disertai bisa yang cukup banyak. Ciara pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi, perlahan ia menanggalkan pakaian di tubuhnya sampai tak ada yang tersisa satupun saat ini.


Tanpa diduga olehnya, Libra berhasil menyusul masuk ke kamar mandi yang sama dan mendekati wanita itu. Libra terperangah melihat kondisi istrinya saat ini yang tengah berendam di depannya, apalagi tubuh Ciara terlihat jelas di matanya. Rasa gairah di dalam dirinya pun meluap, sudah lama juga Libra tak mendapat jatah dari sang istri tercinta.


Barulah ketika Libra berada di dekatnya dan hendak masuk ke dalam bathtub tersebut, Ciara sadar akan keberadaan pria itu dan mulai membuka matanya. Seketika Ciara terkejut, lalu reflek menutupi seluruh tubuhnya dengan kedua tangan. Ciara sangat tak menyangka jika Libra akan masuk kesana, bahkan kini nyaris berendam bersamanya.


"Mas, kamu mau apa? Ngapain coba kamu ikut kesini, ha? Kamu gak lihat apa? Aku ini mau berendam loh, jangan ganggu deh!" protes Ciara.


Bukannya menjawab, Libra justru menempelkan jari telunjuknya di bibir sang istri dan tersenyum menyeringai. Lantas kini Libra masuk ke dalam bathtub tersebut, ia angkat sejenak tubuh Ciara dan memindahkannya ke atas pangkuannya. Tak ada yang bisa dilakukan Ciara, karena suaminya itu tampak sangat kuat kali ini.


"Sssttt, kamu gak perlu protes sayang! Aku mau ikut berendam sama kamu, sekalian kita bersenang-senang disini." Libra mulai menggoda istrinya dengan cara menjilat area telinganya.


"Ka-kamu ngapain sih, mas? Lepasin aku, tolong jangan ganggu aku dulu sekarang!" pinta Ciara.


"Sudah lama kita gak bersenang-senang, sekarang ini waktu yang tepat loh. Apa kamu juga gak pengen, hm?" bisik Libra.


"Eengghh..." tanpa sadar Ciara melenguh saat Libra mengecup lehernya dan menekan gunungnya.


Ya saat ini kondisinya Libra sudah berhasil menyentuh seluruh bagian tubuh istrinya, sebab Ciara berada dalam pangkuannya dan tidak bisa bergerak banyak. Kedua tangan pria itu cukup aktif memberi stimulus pada setiap anggota tubuh Ciara, sehingga wanita itu berkali-kali harus menggigit bibir bawahnya menahan suara yang hendak muncul.


Sebagai informasi, Libra masih mengenakan pakaiannya secara lengkap dan belum melepaskan baik itu baju maupun celananya. Ciara pun merasa risih dengan itu, karena tubuh polosnya itu harus bersentuhan dengan pakaian sang suami. Padahal, seharusnya Libra melepas dahulu semua pakaian di tubuhnya dan baru naik ke dalam bathtub.


"Kamu menikmatinya sayang, hm? Aku yakin kamu juga merindukan ini kan?" Libra terus menggoda istrinya, sampai Ciara tak tahan lagi.

__ADS_1


"Ahh..." ya suara laknat itu akhirnya keluar juga, tepat ketika Libra menyentuh bagian intinya.


Libra menyeringai di sela-sela kegiatannya, ia senang karena Ciara berhasil terbawa suasana dan mau menerima sentuhan darinya. Setidaknya, kini Libra dapat kembali menikmati tubuh Ciara dan melupakan sejenak masalah mereka. Mungkin saja setelah ini, Ciara juga tak akan marah lagi padanya dan dapat kembali seperti dulu lagi.




Singkat cerita, di waktu istirahat Cyra kini cepat-cepat mendatangi ruangan Davin untuk meminta ponselnya kembali. Bagaimanapun, bagi Cyra ponsel itu sangat berharga karena ia bisa menghasilkan uang dari sana. Namun, entah kenapa ada sedikit keraguan di dalam hatinya saat hendak mengetuk pintu dan memanggil gurunya itu.


Cyra pun mencoba menguatkan dirinya, ia pejamkan mata sejenak sembari mengambil nafas yang dalam sebelum mulai mengetuk pintu. Cyra khawatir jika ia akan dimarahi oleh Davin di dalam sana, apalagi sikap pria itu terlihat berbeda tadi. Cyra tak menyangka Davin juga bisa sampai semarah itu, yang membuatnya kini begitu ketakutan.


TOK TOK TOK....


Akhirnya gadis itu berhasil memberanikan dirinya, ia ketuk pintu itu berulang kali dan menanti jawaban dari dalam ruangan tersebut. Setelahnya, barulah terdengar suara yang meminta Cyra untuk langsung masuk saja kesana. Tanpa berpikir panjang, Cyra sontak membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan Davin dengan berhati-hati.


"Permisi pak, saya boleh masuk?" ucap Cyra dengan lirih saat menatap wajah Davin.


"Ya, sini kamu Cyra!" titah Davin.


Tentu saja Cyra tersenyum lega mendengar itu, kini ia melangkah kembali dan tak lupa menutup pintu sesuai perintah. Cyra pun terduduk di hadapan Davin, matanya terus menatap wajah pria tersebut dengan penuh harap. Cyra yakin jika Davin pasti akan mau mengembalikan ponsel miliknya, meski ia tahu ini akan sulit nantinya.


"Ada apa kamu kesini, Cyra? Ini kan jam istirahat, apa kamu gak mau makan atau kumpul bareng teman-teman kamu?" tanya Davin ketus.


"Hah? Tadi kan bapak yang minta saya kesini waktu di kelas, yaudah saya mah nurut aja. Lagian saya gak bisa hidup tanpa hp saya pak, tolong balikin ya pak! Please!" jawab Cyra sambil memohon.


"Ohh, jadi ini semua perkara hp kamu? Kamu beneran mau saya balikin hpnya, hm?" ucap Davin.


Cyra mengangguk antusias, "Iya dong pak, balikin ya! Kalau enggak, nanti saya bisa dimarahin sama ortu saya," ucapnya.


"Okay, nanti akan saya balikan hp kamu itu. Tapi, ada syaratnya loh Cyra," ucap Davin.


Cyra terkejut dan melongok seketika, mulutnya sampai terbuka akibat tak menyangka jika Davin akan mengatakan itu. Cyra kembali dibuat cemas saat ini, ia khawatir Davin akan memberi syarat yang di luar nalar padanya. Apalagi, terlihat senyum seringai terpampang di wajah pria itu dan membuat Cyra begitu ketakutan.


"Syarat apa ya pak?" tanya Cyra dengan gugup.


"Mudah aja, nanti waktu pulang sekolah kamu harus ikut dengan saya! Kalau tidak, ya saya gak mau kembalikan ponsel kamu ini," jawab Davin.


Deg


Lagi-lagi Cyra dibuat terkejut, rupanya syarat yang diberikan Davin hanya memintanya untuk ikut dengan pria itu. Namun, tetap saja rasanya itu sulit bagi Cyra untuk dilakukan. Pasalnya, Cyra khawatir akan ada murid lain yang salah paham nantinya. Ya sebenarnya Cyra sangat ingin pergi bersama Davin, hanya saja ia merasa cemas kali ini.


"Kenapa kamu malah diam, setuju gak? Hp kamu baru akan saya balikin sepulang sekolah nanti, setelah kamu memutuskan mau ikut sama saya atau enggak," ucap Davin.


"I-i-iya pak..." karena tak ada pilihan lain, Cyra pun terpaksa mengiyakan ucapan gurunya itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2