Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 143. Makan kamu


__ADS_3

Tiara bersiap berangkat ke kantor dengan diantar oleh Syahrul yang merupakan supir sekaligus pengawal baginya, Nadira sengaja meminta pria itu untuk khusus mengawal Tiara kemanapun Tiara akan pergi. Kini Tiara pun masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan orang-orang rumah, termasuk Askha yang ia titipkan kepada Nadira selaku nenek kandung dari pria kecil itu.


Selama perjalanan, Tiara terus teringat pada ancaman yang diberikan orang-orang suruhan Bagas kala itu. Rasanya Tiara merasa bahwa hidupnya tidak aman saat ini, apalagi sekarang ia hanya sendiri dan tak ada Galen di sisinya. Namun meski begitu, Tiara tak ingin merasa sedih atau ketakutan saat di depan Askha maupun keluarganya yang lain.


"Bu, kenapa ibu ngelamun aja kayak gitu? Pasti ibu lagi mikirin ancaman yang diberikan orang misterius itu ya?" tanya Syahrul menegurnya.


Tiara terkejut dengan ucapan tiba-tiba Syahrul barusan, ia pun tersenyum dan mencoba menenangkan diri di hadapan pria itu. Ya Tiara tidak ingin jika Syahrul mengetahui bahwa sekarang ia sedang ketakutan, karena Tiara tak mau membuat orang-orang di sekitarnya ikut merasakan ketakutan seperti yang ia alami saat ini.


"Eee bukan kok pak, saya lagi mikirin kerjaan nih. Tolong dipercepat ya pak, soalnya saya takut telat dan dimarahin sama bos saya!" ucap Tiara mengelak dari dugaan supirnya itu.


"Baik bu, siap!" Syahrul mengangguk dan mengikuti kemauan Tiara untuk mempercepat laju mobilnya.


Tiara pun kembali mengambil ponselnya, membuka sosial media miliknya dan berusaha melupakan berbagai ancaman yang diberikan Bagas padanya. Hingga kini Tiara masih tak tahu apa penyebab Bagas begitu benci pada keluarganya, ia juga heran mengapa Bagas bisa dengan mudah mendapat banyak informasi mengenai dirinya.


Akhirnya Tiara sampai di kantor bersama Syahrul, mobilnya terhenti tepat di halaman kantor tersebut dan Tiara bergegas turun dari mobil karena khawatir akan terlambat masuk kerja. Wanita itu melangkah tergesa-gesa, memasuki lift yang ramai lalu segera menuju ruangan Adrian yang ada di lantai 14 dan lumayan jauh tentunya.


Sesampainya di lantai ruangan itu, Tiara terkejut saat melihat Adrian tengah bersama seorang wanita yang ia tak tahu itu siapa. Tapi dari apa yang dilihatnya saat ini, wanita dengan pakaian berwarna merah itu terlihat begitu akrab dengan Adrian. Apalagi, Adrian juga terdiam saja ketika wanita itu mencium pipinya dan melambaikan tangan ke arahnya sebelum melangkah pergi dari depan sana.


Setelah dirasa aman, kini Tiara memutuskan maju mendekati bosnya itu sebelum sang bos masuk kembali ke dalam ruangannya. Ya Tiara berteriak menahan Adrian dengan memanggil namanya, membuat pria itu terhenti lalu menatapnya. Tanpa sadar, Adrian tersenyum begitu melihat Tiara muncul dan tidak jadi masuk ke dalam ruangannya.


"Eh Tiara, kamu sudah datang? Waktu kerja kan masih lama loh, emang ini gak terlalu pagi?" tanya Adrian tampak begitu senang.


"Ah iya pak, justru saya sengaja datang pagi biar saya gak terlambat. Lagian harusnya bapak senang dong kalau saya datang lebih awal, bukan malah heran kayak gitu," jawab Tiara santai.


Adrian tersenyum saja tanpa berkata apa-apa lagi, kemudian ia melebarkan pintunya dan mengajak Tiara masuk ke dalam. Tak ada penolakan dari wanita itu atau pikiran yang aneh-aneh, karena Tiara mengira jika Adrian hanya ingin berbicara padanya. Lagipun, mereka juga sudah sering berduaan di dalam ruangan ber-AC tersebut dan tidak pernah terjadi apa-apa pada Tiara.




Di dalam ruangan, Adrian pun mempersilahkan Tiara duduk dan lanjut berbincang bersama disana. Entah mengapa belakangan ini Adrian amat menyukai saat dimana ia bisa berdekatan dengan sekretaris barunya itu, meski pada awal-awal pertemuan mereka terjadi perdebatan yang cukup sengit dan membuat keduanya jengkel sampai sekarang ini. Namun, tiba-tiba saja Adrian malah berubah pikiran dan tidak lagi membenci wanita di hadapannya itu.


Berbeda dengan Adrian yang sudah mulai menyukai kehadiran Tiara, justru wanita itu sendiri masih penasaran dengan siapa perempuan yang Adrian temui di depan ruangannya tadi. Ya hingga kini Tiara ingin tahu sekali siapa sosok itu, karena tampaknya mereka sangat dekat bahkan sampai si wanita berani mengecup pipi Adrian dan tidak ada penolakan atau perlawanan dari pria itu sendiri.


"Pak, tadi saya gak sengaja lihat bapak lagi sama perempuan. Kira-kira itu siapa ya pak? Apa pacar atau malah istri bapak? Maaf nih pak bukan maksud saya kurang ajar, tapi saya penasaran aja soalnya saya belum tahu banyak tentang bapak!" ucap Tiara.

__ADS_1


"Ahaha, kamu lihat ya momen itu? Maaf maaf, saya juga gak tahu kenapa tiba-tiba dia bisa datang ke kantor saya pagi-pagi begini!" ucap Adrian terkekeh.


"Loh, emang dia itu siapa sih pak? Bapak pasti kenal kan sama dia? Soalnya bapak kelihatan akrab banget sih sama perempuan itu," heran Tiara.


"Ya Tiara, dia emang calon istri saya. Gak lama lagi kami berdua akan menikah," jawab Adrian.


Deg


Perasaan Tiara berubah sedemikian rupa ketika mendengar jawaban dari bosnya itu, ia tak menyangka kalau ternyata wanita yang tadi ia lihat di luar adalah calon istri Adrian dan sebentar lagi mereka akan menikah. Tiara sendiri juga tidak tahu mengapa dirinya bisa tiba-tiba merasa sedih, seolah-olah ia kecewa setelah mengetahui Adrian akan segera menikah dengan wanita lain.


"Kamu kenapa Tiara? Kok malah diam aja kayak gitu?" tanya Adrian terheran-heran.


Tiara tersentak saat Adrian menegurnya, ia reflek memandang wajah pria itu lalu terlihat gugup dan gemetar. Adrian tersenyum melihatnya, sepertinya Adrian memang telah terpesona dengan kecantikan milik sekretarisnya itu. Meski, Adrian belum tahu kalau Tiara sebenarnya sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki.


"Ah gapapa kok pak, tadi saya kaget aja dengar bapak ternyata baru mau nikah. Saya kira bapak ini udah berumah tangga loh," ucap Tiara gugup.


"Hahaha, enggak lah saya ini belum menikah. Gak tahu deh saya kayak males aja gitu," kekeh Adrian.


Tiara pun mengernyitkan dahinya, "Hah kok gitu? Maksudnya males gimana ya pak?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Ya jadi dulu itu saya pernah punya hubungan dengan seorang wanita, cukup lama kami pacaran sampai akhirnya kami sama-sama setuju untuk menikah. Tapi mendekati acara, tiba-tiba aja dia ketahuan selingkuh," ucap Adrian menjelaskan.


Tiara melongok dan sampai menutupi mulutnya karena terkejut dengan ucapan Adrian barusan, ia kini paham mengapa sikap Adrian dingin dan cuek sekali padanya saat awal-awal dulu. Ya meski sekarang Adrian telah banyak berubah, tapi tetap saja Tiara kadang kali merasa jengkel dengan tingkah lelaki itu.




Ceklek


Siang harinya, Tiara yang tengah asyik berkutat di depan layar laptopnya dikejutkan dengan suara pintu yang tiba-tiba terbuka tanpa diketuk lebih dulu. Sontak wanita itu tampak terkejut, lalu spontan menatap ke arah pintu dengan wajah penasaran. Ia mendongak, dan menemukan sosok Adrian yang masuk kesana sambil tersenyum memandangnya.


Tiara pun terlihat keheranan sekaligus tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, bagaimana bisa bosnya itu masuk ke ruangannya begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu dan kini seenaknya melangkah mendekatinya. Rasanya Tiara ingin mengumpat kasar, tetapi ia sadar akan posisinya disana yang hanya sebagai seorang sekretaris.


"Siang Tiara!" pria itu menyapanya, membuat Tiara mengangguk dan membalas dengan lembut.

__ADS_1


"Iya pak, siang juga! Ada apa ya bapak masuk ke ruangan saya kayak gini? Bikin saya kaget aja, abisnya bapak gak ketuk pintu dulu!" ujar Tiara.


Adrian justru tampak gugup dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, ia menarik kursi lalu terduduk di hadapan Tiara sambil berusaha mencari alasan yang tepat. Sedangkan Tiara masih terus memandang ke arah bosnya itu, seolah menunggu jawaban dari Adrian yang masih saja terdiam entah memikirkan apa.


"Pak? Bapak?" Tiara kembali menanyakannya.


"Eee ini loh, saya mau makan kamu."


"Hah??" Tiara terkejut bukan main.


"Eh eee enggak enggak, bukan begitu. Maksudnya, saya mau makan kamu siang-siang. Eh salah salah, siang-siang begini tuh enaknya makan kamu. Aduh masih salah juga!" Adrian sampai lelah sendiri karena ucapannya yang tak kunjung benar.


Sementara Tiara hanya melongok lebar mendengar apa yang dikatakan bosnya, sampai-sampai Adrian menepuk mulutnya sendiri karena terus saja salah bicara.


"Ma-maksudnya tuh gini Tiara, saya mau ajak kamu makan siang sekarang," ucap Adrian.


Adrian pun dapat bernafas lega karena akhirnya ia tidak lagi salah bicara, ia mengusap dadanya dan merasa tenang setelah berhasil menyampaikan keinginannya pada Tiara saat ini. Namun, Tiara justru semakin terkejut dan tak menyangka jika Adrian akan mengajaknya makan siang bersama.


"Apa pak? Bapak seriusan pengen ajak saya makan siang bareng?" tanya Tiara agak syok.


Adrian manggut-manggut saja, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang karena suasana jantungnya masih belum aman. Entah mengapa Adrian selalu saja begitu, padahal biasanya ia tidak pernah gugup ketika berhadapan dengan wanita. Akan tetapi, saat bersama Tiara justru Adrian merasakan sesuatu hal yang aneh dan tak ia mengerti sama sekali.


"Tapi pak, kerjaan saya masih banyak. Lagian emang bapak beneran mau makan siang sama saya? Saya ini cuma sekretaris bapak loh, apa bapak gak malu?" ucap Tiara memastikan.


"Kenapa saya harus malu? Saya butuh teman ngobrol aja, makanya saya ajak kamu," ucap Adrian.


"Umm, iya deh saya mau pak. Tapi, saya selesaikan kerjaan saya ini dulu ya pak? Jam makan siang juga kan masih sepuluh menit lagi," ucap Tiara.


"Bukan nanti Tiara, sekarang! Kamu ikut saya sekarang!" titah Adrian dengan tegas.


Tiara sampai terbelalak dibuatnya, apalagi ketika Adrian dengan cepat menutup layar laptopnya dan bangkit dari tempat duduknya. Mau tidak mau Tiara terpaksa menuruti perintah bosnya itu, ia mengambil tas lalu menyusul Adrian yang sudah lebih dulu melangkah keluar dari ruangan itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2