Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 112. Lama tak bertemu


__ADS_3

Nadira dan Gavin kompak mengaminkan ucapan Libra barusan, termasuk juga Gita yang tetap setia berdiri di sebelah lelaki itu. Ya meski dirinya ternyata tidak diperlukan kali ini, sebab Tiara sudah lebih dulu menemukan orang yang mau mendonorkan darahnya untuk Galen.


Kini Nadira tampak menatap fokus ke arah Gita, ia betul-betul penasaran siapa wanita itu dan mengapa baru kali ini ia melihatnya. Tidak elok tentu menurutnya, jika lelaki yang sudah beristri seperti Libra memiliki seorang sahabat wanita. Apalagi wanita itu masih muda dan cantik, pastinya akan menimbulkan kecurigaan di mata orang lain.


"Umm Libra, teman kamu ini siapa namanya? Mbak kok baru sekarang ini ya ketemu dia, kalian kenal sejak kapan?" tanya Nadira.


Libra spontan menatap Gita di sebelahnya, "Iya mbak, dia teman aku di rumah sakit. Namanya Gita, dan dia salah satu perawat terbaik yang pernah bekerja bareng aku," jawabnya dengan bangga.


"Iya nih kak, halo salam kenal!" sahut Gita.


Nadira pun tersenyum lebar dibuatnya, "Salam kenal juga, saya Nadira kakaknya Libra! Jadi, kamu perawat hebat dong ya?" ucapnya.


"Eee biasa aja kok, masih ada yang lebih hebat dari pada saya kak. Nah kalau Libra, baru deh dia ini gak ada tandingannya!" ucap Gita merendah.


"Apaan sih? Aku yang biasa aja mah, kamu itu justru yang luar biasa!" elak Libra.


Gita senyum-senyum kali ini sambil saling pandang dengan Libra, entah kenapa menyaksikan itu membuat Nadira merasa tidak suka dan muak. Tak sepantasnya lelaki yang sudah beristri seperti Libra, justru tampak akrab dengan wanita lain meskipun diantara mereka tidak ada hubungan spesial.


"Libra, boleh kita bicara sebentar disana?" tiba-tiba Nadira mengatakan itu, dan mengajak adiknya untuk berbicara menjauh dari sana.


"Bicara apa ya mbak?" tanya Libra keheranan.


"Ini penting, ayo kamu ikut sama mbak sebentar!" paksa Nadira.


"I-i-iya mbak..."


Akhirnya Libra ditarik paksa oleh Nadira untuk berbincang agak jauh dari tempat itu, ya karena ia memang ingin membahas mengenai Gita yang merupakan sahabat karib pria itu. Jujur saja Nadira tak menyukai kedekatan antara Libra dan Gita, pasalnya Libra merupakan suami dari putrinya yang tak lain adalah Ciara.


Mereka pun duduk dan berbincang di sebuah kursi yang jauh dari ruang rawat Galen, tampak Libra begitu penasaran melihat kakaknya yang terlihat sangat serius. Libra sedikit cemas kali ini, ia takut Nadira akan menanyakan mengenai Ciara yang ia sendiri pun tak tahu Ciara ada dimana.


"Libra, mana Ciara? Kenapa kamu malah datang sama wanita lain, bukan istri kamu?" tanya Nadira menginterogasi.


Libra tampak memalingkan wajahnya, ia terlihat bingung saat hendak menjawab pertanyaan itu. Tentu saja Libra tak tahu harus berkata apa pada kakaknya, tak mungkin jika ia jujur bahwa sebenarnya Ciara sudah pergi entah kemana selama beberapa hari ini. Jika sampai Nadira mengetahui itu, maka bukan tidak mungkin wanita itu akan sangat kecewa dan emosi padanya.


"Ayo jawab Libra, jangan diam aja! Kamu pasti lagi sembunyikan sesuatu kan dari mbak?" ucap Nadira.


Libra pun kembali menatap kakaknya itu, "Umm, ma-maaf mbak! Aku kesini sama Gita karena sesuai ucapan mas Gavin tadi," ucapnya lirih.


Nadira mendelik seolah tak percaya, membuat Libra garuk-garuk kepala serta bertambah gugup. Tak ada lagi yang bisa ia katakan kepada Nadira saat ini, apalagi wanita itu tampaknya memang sangat tidak mempercayai dirinya. Nadira tahu betul watak adiknya satu itu, sehingga Nadira bisa mengetahui kalau sedang ada yang disembunyikan olehnya.


"Beneran mbak, aku bawa Gita karena yang aku tahu Galen lagi butuhin donor darah. Kebetulan aja darah si Gita itu sama kayak Galen," ucap Libra kembali.


Nadira kini menganggukkan kepalanya dengan perlahan, "Iya iya, mbak juga kan gak ada bilang kalau mbak gak percaya sama kamu," ucapnya santai.


Libra terdiam seraya memandang ke arah lain, ia dibuat kikuk dengan perkataannya sendiri yang ternyata menjebak dirinya. Nadira pun semakin yakin, pasti ada yang sedang disembunyikan oleh Libra darinya mengenai Ciara. Wanita itu tahu, saat ini diantara Libra dan Ciara sedang terlihat masalah yang cukup besar.




Tiara kini mengantar Jessica ke luar rumah sakit sesudah wanita itu selesai mendonorkan darahnya, Tiara memaksa Jessica untuk segera pergi dari sana karena ia tak ingin Jessica berlama-lama ada di tempat itu saat ini. Bagi Tiara, bagaimanapun Jessica adalah seorang pelakor yang tidak akan pernah ia maafkan atas kelakuannya.


Bahkan dengan kasarnya, Tiara mendorong tubuh Jessica sampai nyaris terjatuh ke jalan. Jessica pun merintih kesakitan berusaha menahan dirinya, beruntung ia masih bisa menahan keseimbangan sehingga ia tidak terjatuh saat Tiara mendorongnya dengan kasar tadi. Sikap Tiara sungguh tak disangka oleh Jessica, padahal ia mengira Tiara akan berubah menjadi baik dan merasa hutang budi padanya.


"Pergi kamu dari sini, aku gak mau lihat wajah kamu lagi! Dan jangan pernah kamu dekati aku ataupun suami aku, karena dia juga gak mungkin mau sama kamu!" tegas Tiara.


Jessica menyeringai dibuatnya, "Oh ya? Kalau dia gak mau, kenapa bisa dia sampai menghamili aku Tiara?" ucapnya meledek.

__ADS_1


Deg


Tiara terhenyak mendengar perkataan Jessica barusan, ia pun seketika berpikir bahwa apa yang dikatakan Jessica memang ada benarnya. Disini Jessica tak sepenuhnya bersalah, sebab ada andil suaminya yang memang ingin memakai jasa wanita itu dikala dahulu ia tidak bisa memberi kepuasan pada suaminya itu.


"Bagaimana Tiara, benar kan yang aku bilang? Suami kamu itu lebih menyukai aku, Tiara. Dia sudah menanam benihnya di rahim aku, dan sebentar lagi keturunan kamu akan terancam!" ucap Jessica.


"Jangan ngaco ya kamu! Sampai kapanpun aku gak akan takut sama ancaman kamu!" tegas Tiara.


"It's okay, gapapa kalo kamu gak takut. Tapi asal kamu tahu Tiara, sekarang aja aku udah berhasil milikin 25 persen saham perusahaan suami kamu loh. Coba kamu bayangin deh, apa jadinya jika anak aku ini lahir nanti!" ujar Jessica.


Lagi dan lagi Tiara dibuat kaget dengan ucapan wanita itu, ia sampai terbelalak dan tak bisa berkata apa-apa untuk meladeninya. Ia baru tahu kalau suaminya memberikan seperempat dari saham perusahaannya kepada Jessica, padahal hingga kini saja Tiara masih belum mendapat sepeserpun harta kepemilikan suaminya.


Terlihat bola mata Tiara yang mulai membasah, sepertinya ia amat bersedih setelah mengetahui semua kebenarannya. Suaminya itu benar-benar kelewatan, ia merasa tidak dihargai sebagai seorang istri jika seperti ini. Galen justru lebih mementingkan selingkuhannya dibandingkan dirinya, sungguh perasaan Tiara amat hancur saat ini.


"Kenapa Tiara, kamu pasti kaget dan sedih ya dengar kata-kata aku tadi? Tenang aja, itu belum seberapa kok!" ucap Jessica tersenyum licik.


Tiara sontak menatap tajam ke arah Jessica, dahinya mengernyit pertanda bahwa ia sangat penasaran dengan maksud dari wanita itu. Jessica sendiri malah melebarkan senyumnya, kemudian berjalan kecil ke tempat yang menjauh dari Tiara dan berhenti begitu saja.


"Aku yakin kamu pasti penasaran kan, Tiara? Okay, aku akan beritahu kamu semua rencana aku. Nanti begitu Galen sadar, aku akan kembali tuntut dia akan hak aku dan anak aku ini!" sambung Jessica.


"Kamu keterlaluan Jessica! Kamu itu—" Tiara terkejut ketika seorang lelaki muncul dan menghadangnya saat hendak mendekati Jessica.


"Siapa kamu?" tanya Tiara pada lelaki itu.


"Aku Bagas, pacarnya Jessica. Aku disini untuk bantu dia menuntut haknya, dari suami kamu yang tidak tahu diri itu! Jadi, sebaiknya kamu jangan coba-coba menghalangi rencana kami!" jawab si lelaki yang ternyata adalah Bagas.


Tiara menggeleng perlahan, masalahnya kini bertambah rumit dengan hadirnya sosok lelaki itu. Ia sungguh bingung, apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam kehidupannya saat ini?




"Ma, dimana Leon ma? Aku mau bicara sama dia sebentar, tolong mama panggilkan Leon untuk aku!" pinta Galen dengan nada pelan.


Nadira pun mengernyitkan dahinya, "Tapi, kondisi kamu belum pulih benar Galen. Kamu jangan banyak bicara dulu, mending kamu istirahat aja dan gausah mikirin soal apapun ya!" ucapnya.


Galen menggelengkan kepalanya, "Enggak ma, aku cuma mau bicara sebentar sama Leon. Ini penting ma, tolong bantu aku sekali ini aja!" bujuknya.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Nadira setuju dengan permintaan putranya itu. Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke luar menemui Leon dan menyampaikan keinginan Galen tadi. Nadira juga mempersilahkan Leon untuk masuk ke dalam ruangan itu, ya tentu agar Galen bahagia.


Tak lama kemudian, Leon memasuki ruangan itu dan menemui bosnya dengan berhati-hati. Ia berdiri di sebelah Galen dengan dua tangan ia taruh di depan dan wajah yang menunduk, sontak Galen turut menoleh ke arahnya lalu berusaha mengangkat kepalanya walau sulit.


"Pak, ada apa bapak panggil saya? Memangnya kondisi bapak sudah membaik?" tanya Leon.


Galen mengangguk perlahan, "Saya baik-baik saja, Leon. Saya hanya ingin tahu, dimana istri saya? Kenapa dia tidak ikut menengok kondisi saya, apa dia sudah tidak perduli dengan saya?" ujarnya.


"Eee tadi saya lihat bu Tiara masih ada di area rumah sakit kok, pak. Tapi, dia terlihat sedang bersama seorang wanita," ucap Leon.


"Wanita? Wanita siapa?" tanya Galen penasaran.


"Saya juga gak lihat terlalu jelas, pak. Kayaknya sih saya belum pernah ketemu sama perempuan itu sebelumnya," jawab Leon.


"Haish, siapa ya yang sedang bersama Tiara? Tolong kamu cari tahu, Leon!" titah Galen.


"Bagaimana caranya pak? Masa iya saya—"


"Saya tidak mau tahu, pokoknya lakukan apapun itu sampai kamu berhasil mengetahui siapa perempuan yang lagi sama istri saya tadi!" Galen lebih dulu menyela ucapan asistennya itu.

__ADS_1


"Ba-baik pak!" ucap Leon gugup.


"Oh ya satu lagi, cari tahu juga siapa yang sudah mendonorkan darahnya untuk saya!" pinta Galen.


"Siap pak, saya akan laksanakan semua perintah bapak dengan segera!" ucap Leon tegas.


"Terimakasih."


Setelah mengatakan itu, Galen langsung memalingkan wajahnya dan berpikir keras siapa kiranya wanita yang sedang bersama Tiara saat ini. Galen curiga, wanita itu adalah Jessica yang hendak menemuinya tapi terhalang Tiara. Tentu saja Galen sangat panik dan khawatir, apalagi sebelumnya Tiara sudah mendengar sendiri perkataan Jessica mengenai perselingkuhan dirinya.


"Saya gak boleh biarkan Jessica mencuci otak Tiara, saya gak mau kehilangan Tiara!" gumam Galen dalam hatinya.




Tin tiiiinnnn.....


Ciara yang sedang berjalan di pinggir amat terkejut begitu mendengar suara klakson mobil yang muncul secara tiba-tiba, spontan ia pun terjatuh dan mengalami luka di bagian kakinya. Ya kondisinya memang Ciara tadi tengah melamun, sehingga ia tak sadar jika posisinya sudah berada hampir di tengah jalan raya yang lumayan ramai itu.


Beruntungnya Ciara tak tertabrak, namun meski begitu sekarang ini kakinya terlihat mengalami luka akibat benturan dengan badan trotoar. Ia pun meringis memegangi kakinya, berusaha mengurutnya untuk menghilangkan rasa sakit. Akan tetapi, usahanya sia-sia lantaran lukanya malah semakin terasa kali ini.


Sebelumnya Ciara memutuskan kabur dari rumah Seno, karena ia rasa dirinya sudah terlalu banyak merepotkan pria itu. Kini Ciara tak tahu hendak kemana, itulah sebabnya ia melamun di jalan raya tadi dan membuatnya terjatuh sampai mengalami luka seperti ini. Malang sekali nasibnya, tapi Ciara sadar kalau ini belum seberapa.


"Ciara!!" tanpa diduga olehnya, seseorang turun dari mobil dan berteriak serta melangkah ke arahnya.


Sontak wanita itu menoleh tanpa merubah posisinya, matanya terbelalak ketika menyadari sosok lelaki yang kini berdiri di hadapannya. Lelaki itu tampak membungkuk menatapnya, Ciara tentu mengenal sekali siapa lelaki yang ada di depannya saat ini. Ya dia lah Keenan Pattinson, alias mantan kaki tangan papa dan mamanya yang sangat setia.


"Om Keenan?" lirih Ciara dengan mulut menganga.


Keenan tersenyum dan memilih berjongkok di sebelah wanita itu, "Apa kabar Ciara? Maaf ya, tadi om yang bunyikan klakson sampai kamu kaget dan luka begini!" ujarnya.


"Ohh, i-i-iya gapapa om. Tadi salah aku juga kok, aku harusnya lebih hati-hati kalau jalan di jalan raya," ucap Ciara.


"Eee kamu kenapa jalan kaki, emangnya kamu gak diantar sama supir atau keluarga kamu?" tanya Keenan tampak keheranan.


Ciara tampak menundukkan wajahnya, ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada Keenan. Memang banyak yang belum diketahui oleh pria itu tentang dirinya, sebab Keenan telah lama tak menampakkan dirinya sejak memutuskan pensiun untuk bekerja sebagai asisten mamanya.


"A-aku lagi pengen jalan aja, om. Oh ya, kabar tante Celine gimana om? Dah lama aku gak ketemu sama kalian tahu," ucap Ciara coba mengalihkan pembicaraan.


Kali ini giliran Keenan yang memalingkan wajahnya dan tertunduk lesu, melihat itu membuat Ciara pun merasa heran dan bertanya-tanya. Ciara menduga jika tengah terjadi sesuatu juga diantara Keenan dan Celine, pasangan suami-istri itu mungkin saja sedang dihadapkan pada sesuatu masalah besar yang sama seperti dirinya alami.


"Tante Celine udah lama meninggal, Ciara."


Deg


Ciara benar-benar syok mendengar kabar itu, setelah sekian lama tak bertemu ternyata Celine alias istri dari Keenan itu sudah meninggal. Tentu saja Ciara membelalakkan matanya lebar-lebar, ia masih tak percaya jika itu benar-benar terjadi dan Celine sudah pergi untuk selamanya. Air mata pun mendadak muncul membasuh kedua pipinya, sepertinya Ciara merasa amat kehilangan kali ini.


"Ya ampun, maafin aku ya om! Aku jadi bikin om keinget lagi sama tante Celine, aku benar-benar gak tahu!" ucap Ciara merasa bersalah.


"Gapapa, kamu gak salah. Wajar aja kamu penasaran dan pengen tahu, kan kita sudah lama gak ketemu. Om minta maaf ya, waktu itu om gak kabarin kamu soal meninggalnya tante Celine!" ucap Keenan berusaha menahan sedihnya.


"I-i-iya om..."


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2