
Galen serta Tiara kompak terkekeh mendengarnya, sedangkan Nadira merasa lega karena ternyata ucapan Galen tadi hanya candaan semata. Nadira juga merasa tenang lantaran Galen tidak menganggap kata-kata yang tadi ia lontarkan sebagai kalimat yang menyakiti hatinya, untung saja pria itu tak terlalu mempermasalahkannya.
Sementara Libra kembali menatap Ciara dengan satu tangan merogoh kantong untuk mengambil sesuatu, rupanya ia sudah menyiapkan sebuah cincin disana yang ia beli sebelumnya. Libra pun seolah siap untuk melamar Ciara di hadapan keluarganya saat ini, yang tentunya hal itu sama sekali tidak diduga oleh Ciara sebelumnya.
"Ciara..." panggilan Libra itu membuat sang gadis terkejut, kemudian menoleh ke arahnya.
Begitu menoleh, Ciara langsung dibuat kaget saat melihat sebuah cincin yang ditunjukkan oleh Libra kepadanya. Cincin itu bersinar seiring dengan kilauan lampu di restoran tersebut, membuat siapapun yang melihatnya merasa terpesona. Ciara benar-benar tak menyangka, ternyata Libra telah menyiapkan semuanya sampai sedetail ini.
"Ciara, setelah mendapat restu dari keluarga kamu. Sekarang giliran aku yang mau tanya ke kamu, apa kamu mau menikah sama aku dan menjadi bagian dari hidup aku, Ciara?" ucap Libra dengan tulus.
"Hah? Om serius ngomong begitu? Om ngelamar aku sekarang?" kaget Ciara.
Libra menganggukkan kepalanya, "Iya Ciara, aku gak pernah main-main sama usapan aku," ucapnya tegas.
"Tapi om, aku..."
Ucapan Ciara terputus saat tiba-tiba Libra menarik satu tangannya dan mendongak menatap wajah gadis itu dengan serius, Ciara sontak terdiam lalu menatap bingung ke arah Libra yang seperti mengharapkan sesuatu. Sejujurnya Ciara juga sangat mencintai Libra dan ingin menikah dengannya, tetapi Ciara belum dapat melakukan semuanya.
"Ciara, aku tahu kamu belum siap. Tapi, seenggaknya kamu jawab dulu pertanyaan aku tadi biar aku bisa tenang dan gak perlu cemas lagi mikirin hubungan kita!" ucap Libra.
"Iya sayang, kamu kasih tahu aja jawaban kamu ke kita sekarang!" sahut Nadira ikut bicara.
"Umm a-aku...."
Ciara terlihat menatap dengan serius ke arah wajah sang kekasih, ia ingin memastikan bahwa kali ini pilihannya tidak salah. Ciara memang masih memendam rasa sakit di hatinya saat ini, setelah apa yang dilakukan Davin dahulu padanya. Sehingga tentunya Ciara tak ingin kejadian itu kembali terulang kali ini, meski selama ini ia tahu bahwa Libra adalah orang yang baik dan tulus mencintainya.
"Aku terima lamaran om, aku mau nikah sama om dan jadi istri om," ucap Ciara meneruskan.
Sontak Libra menganga tak percaya mendengar perkataan Ciara, lamarannya kali ini berhasil dan tentunya ia sangat bahagia. Sangking bahagianya, Libra sampai kelepasan memeluk erat tubuh Ciara di hadapan yang lainnya saat ini. Pria itu benar-benar tidak menyangka akan bisa menikah dengan gadis idamannya, ini adalah sebuah mimpi yang selalu ia dambakan di dalam benaknya. Memiliki Ciara adalah anugerah tersendiri bagi Libra, ia bersyukur untuk itu.
"Aku senang banget dengarnya, aku bahagia sayang! Akhirnya kita menikah juga, aku gak sabar mau hidup berdua sama kamu!" ucap Libra antusias.
"Om, iya om aku tahu om bahagia banget. Tapi, kita gak bisa cepat-cepat nikah. Aku emang mau nikah sama om, tapi gak dalam waktu dekat ini," ucap Ciara.
Libra terdiam menatap wajah Ciara setelah melepas pelukannya, kemudian ia tersenyum dan menangkup wajah gadisnya itu dengan tatapan serius. Libra mengatakan kalau dirinya akan selalu siap menunggu sampai kapanpun, yang terpenting saat ini Ciara telah memberi kepastian padanya berupa jawaban kalau dia juga ingin menikah dengan Libra.
"Aku ngerti Ciara, dari awal juga aku gak maksa kamu buat mau nikah dalam waktu dekat. Aku akan tunggu kamu sampai kamu siap, lagipula aku juga masih harus mempersiapkan semuanya," ujar Libra.
"Iya om," singkat Ciara.
"Nah udah om Libra, itu cincin gak ditaruh di jari Ciara apa? Masa cuma dipegang doang? Kasihan Ciara udah berharap!" celetuk Galen.
"Eh iya iya, duh aku sampai lupa kalau tadi niatnya aku mau pasang cincin ini di jari manis kamu. Yaudah, aku pasang sekarang ya sayang?" ucap Libra terkekeh sendiri.
Ciara mengangguk saja mempersilahkan Libra melakukan keinginannya, lalu tanpa berlama-lama lelaki itu segera memasukkan cincin di jari manis gadisnya disertai sorak-sorai yang diberikan oleh orang-orang disana. Tak lupa Libra mengajak Ciara berdiri, meminta gadis itu untuk ikut berdansa dengannya. Sontak yang lain pun mengikuti mereka, dan sama-sama berdansa disana dengan pasangan masing-masing diiringi alunan musik yang merdu.
•
•
__ADS_1
Keesokan harinya, disaat hendak mengantar Ciara ke sekolah, Libra justru tak sengaja melihat Bella tengah mondar-mandir di pinggir jalan. Sontak karena kasihan dan merasa Bella butuh dibantu, akhirnya Libra memutuskan menghentikan mobilnya sejenak ke pinggir untuk turun dan memeriksa kondisi wanita itu sebagai sesama manusia.
Tentunya Ciara yang tengah berdandan di sebelahnya langsung terkejut, ia menatap ke arah kekasihnya itu dengan wajah bingung seolah meminta penjelasan mengapa mereka berhenti saat ini, padahal sekolah masih jauh. Libra pun menunjuk ke arah depan, memperlihatkan Bella yang sedang berdiri dengan wajah cemas disana.
Seketika ekspresi Ciara berubah, gadis itu tampak tak suka saat melihat Bella kali ini. Ciara tahu betul Bella adalah mantan kekasih yang sangat dicintai oleh Libra, untuk itu Ciara merasa kesal setelah tahu Libra masih memperdulikan wanita itu dan bahkan sekarang ingin membantunya. Namun, Ciara sendiri juga tak bisa melarang keinginan sang kekasih.
"Ohh, jadi om tuh masih perduli sama kak Bella? Atau jangan-jangan om juga masih cinta sama dia, ya?" ujar Ciara dengan nada bete.
Libra tersenyum menatap gadisnya, "Enggak, kamu jangan salah paham dulu sayang! Aku mau bantu dia karena kasihan, siapa tahu dia lagi kesusahan tuh. Sesama manusia kita kan harus saling tolong menolong," ucapnya pelan.
Ciara tampak memalingkan wajahnya, kemudian menunduk karena kesal. Ia tak senang mendengar perkataan Libra yang jelas-jelas menunjukkan kalau dirinya masih memberi perhatian terhadap sang mantan, ingin rasanya ia mengamuk dan melarang Libra untuk turun, tetapi ia tidak berani karena takut justru akan terjadi keributan diantara mereka.
"Yaudah, aku temuin Bella dulu ya? Kamu kalau gak mau ketemu sama dia, tunggu aja disini nanti aku balik kok gak lama!" ucap Libra sembari mengusap puncak kepala gadisnya dan tersenyum.
"Hm." hanya deheman yang Libra dengar, pria itu tahu kalau saat ini Ciara sedang cemburu.
Tanpa berlama-lama lagi, Libra bergegas turun dari mobilnya dan melangkah ke dekat Bella yang sedari tadi memang masih disana. Ciara hanya bisa melihat mereka dari dalam mobil, gadis itu sungguh geram ketika tahu Libra lebih mementingkan menolong Bella dibanding mengantar dirinya tepat waktu ke sekolah pagi ini.
"Bella!" lelaki itu pun menyapa sang mantan, membuat wanita pemilik nama langsung menoleh ke arahnya dan tersenyum sumringah.
"Eh Libra, kok kamu ada disini?" tanya Bella heran.
"Ah iya, aku emang selalu lewat sini tiap pagi kalau anterin Ciara ke sekolahnya. Kamu sendiri ngapain berdiri disini kayak orang bingung, ada masalah?" ucap Libra.
"Umm..." bukannya menjawab, Bella justru melihat ke arah mobil seolah tengah mencari sesuatu. Libra pun tampak keheranan dibuatnya.
"Eh iya iya, maaf sayang. Ups!" Bella tak sengaja mengucap kata itu, yang sontak membuat dirinya reflek menutup mulut menggunakan tangannya.
"Ahaha, ada-ada aja kamu Bella. Sudah, sekarang kamu lagi apa nih disini? Mobil kamu mogok apa gimana?" ujar Libra terkekeh.
"Eee ini mobilku bannya bocor, gak tahu kayaknya nginjek paku deh," ucap Bella.
"Ohh, parah juga ya? Kalo gitu biar aku telponin montir deh suruh kesini bantu kamu, kebetulan aku ada kenalan nih," ucap Libra menawarkan diri.
"Ah boleh, makasih ya Libra? Tapi, apa gak ngerepotin kamu?" ucap Bella.
Libra menggeleng pelan, "Gak dong, lagian kan cuma sebentar. Abis itu aku juga pamit mau antar Ciara sekolah soalnya," ucapnya.
"Makasih banyak loh Libra, kamu emang pahlawan buat aku!" tanpa diduga, Bella langsung mendekat dan memeluk erat tubuh Libra disana seolah sengaja hendak memancing emosi Ciara.
Ya benar saja, dari dalam mobil kini Ciara menggeram kesal dengan tangan terkepal saat melihat kelakuan Bella itu. Ingin sekali rasanya ia turun dan melabrak Bella saat ini juga, tetapi entah mengapa Ciara tak berani melakukan itu karena dirinya terlalu takut jika nantinya Libra malah akan membencinya hanya karena berbuat onar.
•
•
Begitu sampai di sekolah, Ciara langsung bergegas turun dari mobil tanpa berkata apapun pada pamannya. Ya tentu saja Ciara masih kesal dengan kejadian tadi, sehingga kini ia memutuskan untuk tidak terlalu lama berada disana bersama Libra yang malah akan membuat dirinya semakin emosi karena terus teringat pada pelukan hangat Bella tadi.
Libra pun terkejut, tak menyangka jika Ciara sampai semarah itu padanya. Karena tidak ingin masalah ini semakin larut, Libra memilih ikut turun dan mengejar gadis itu sampai ke depan sekolah. Beruntung Libra masih berhasil menyusulnya, ia cekal lengan Ciara dari belakang sehingga gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana lagi saat ini.
__ADS_1
"Ciara, tunggu dulu sayang! Kamu masih marah ya sama aku gara-gara kejadian tadi? Ya ampun sayang, aku kan udah jelasin di mobil kalau Bella duluan yang peluk aku! Aku gak pernah mau dipeluk sama dia, sayang!" ucap Libra.
"Ish, apa sih om? Lepasin ah aku mau sekolah!" sentak Ciara coba berontak.
"Gak mau, aku gak akan lepasin kamu sebelum kita baikan! Ayo kita selesaikan semuanya dulu, aku gak mau ini semakin berlarut!" ucap Libra memaksa.
"Selesaikan gimana sih om? Udah gak ada yang perlu diselesaikan," ucap Ciara tegas.
"Ada, udah ayo kita bicara dulu di taman samping! Mumpung bel masih agak lama nih, aku gak mau ya lihat pacar aku yang cantik ini ngambek terus. Eh udah tunangan aku deh ya statusnya?" ujar Libra.
"Tau ah, terserah om aja!" ucap Ciara ketus.
Libra tersenyum lebar, kemudian mengajak paksa gadis itu ke taman di samping sekolah yang tidak terlalu jauh. Libra tentunya ingin agar Ciara tak kesal lagi padanya dan mendiamkan ia seperti tadi, karena jujur Libra paling tidak bisa jika gadis yang ia cintai sedang marah karena kesalahannya. Apalagi ia tahu yang dilakukan Bella tadi memang salah, dan itu semua diluar prediksi Libra sebelumnya.
Sesampainya di taman, mereka pun terduduk berdampingan dengan tangan Ciara yang masih setia digenggam erat oleh Libra seolah tak ingin melepasnya. Namun, sepertinya Ciara memang belum bisa memaafkan Libra untuk saat ini. Ya gadis itu malah membuang muka dan terlihat jelas ekspresi kekesalannya, Libra pun mendekat ke telinga gadis itu lalu meniupnya perlahan.
"Ih om geli tau!" protes Ciara sembari memegangi telinganya yang terasa geli.
Libra justru terkekeh, ekspresi Ciara yang seperti ini seolah menjadi candu baru baginya. Libra pun merangkul pundak gadisnya, mendekap erat sekuat tenaga sambil sesekali juga mencium puncak kepala gadis itu dan mengusapnya untuk memberi kenyamanan. Libra ingin membuktikan pada Ciara, kalau cintanya kepada gadis itu tidak main-main.
"Aku tuh sayang dan cinta sama kamu, Ciara. Aku minta maaf kalau udah nyakitin hati kamu gara-gara kejadian tadi, tapi aku mohon kamu jangan ngambek terus kayak gini ya sayang!" ucap Libra.
"Kenapa jangan? Aku ngambek ya wajar lah, om gak tahu diri sih! Om itu udah punya tunangan, tapi masih aja perduli sama cewek lain!" cibir Ciara.
"Iya iya, aku tahu aku salah. Harusnya tadi aku gak turun dan temuin Bella, aku juga gak tahu kalau kejadiannya bakal kayak tadi. Aku minta maaf lagi ya sama kamu, cantik?" bujuk Libra.
"Hm, gak mau ah. Kecuali om mau janji sama aku kalau om gak akan temuin atau perduli lagi sama kak Bella!" ucap Ciara merengut.
"Okay, aku janji sama kamu!" ucap Libra mantap.
Ciara terbelalak, "Kok gampang banget sih om? Emang om udah gak cinta lagi ya sama kak Bella?" ujarnya tak percaya.
Libra tersenyum, lalu menarik dagu Ciara dan menatapnya serius. Ia bergerak mendekat, mengecup sekilas bibir gadisnya dengan lembut hingga membuat Ciara terkejut. Libra berharap dengan ini, maka gadis itu bisa tahu kalau dirinya benar-benar jatuh cinta padanya. Disaat Ciara melamun, Libra kembali mengecup bibirnya dan menempelkannya cukup lama disana.
"Mmhhh om jangan begini ah!" Ciara yang tersadar langsung mendorong tubuh pamannya itu.
"Kamu kenapa sih? Aku cuma mau tunjukin ke kamu, kalau rasa cinta aku itu gak main-main sayang. Aku udah gak ada rasa lagi sama Bella, karena semua rasa itu sekarang ada di kamu!" ucap Libra.
"Masa sih om? Terus kenapa tadi om gak berontak waktu dipeluk sama kak Bella?" tanya Ciara.
"Kata siapa? Aku berontak kok, kalau enggak pasti tadi Bella tuh bakalan lama peluknya. Kamu itu kan gak lihat jelas karena di dalam mobil," ucap Libra.
"Ah alasan aja, padahal tadi om—"
Belum sempat Ciara selesai bicara, Libra sudah lebih dulu melahap bibirnya sampai Ciara tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah dan memejamkan mata menikmati semuanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1