
Sepulang dari sekolahnya, Ciara langsung menemui pamannya yang kebetulan juga sudah menunggu di depan sana. Tampak Libra pun tersenyum begitu melihat keponakannya yang cantik jelita itu keluar dan berjalan ke arahnya, tak lupa Ciara menyapa pria itu disertai senyuman manisnya yang selalu membuat Libra tidak bisa tidur. Dari ekspresi wajah sang gadis, Libra tahu betul kalau saat ini Ciara sedang bahagia dan menginginkan sesuatu.
Ciara sendiri memang sangat berharap dapat mengikuti kegiatan camping yang diselenggarakan pihak sekolah kali ini, sebab sebelumnya ia sudah dua kali ingin ikut tetapi gagal karena tidak diizinkan baik oleh mama maupun papanya. Tapi, kali ini ia yakin kalau Libra pasti bisa membantunya untuk bicara dengan kedua orangtuanya itu. Meski Ciara juga tahu mama papanya masih berasa di luar negeri dan akan kembali dalam waktu yang lama.
"Waduh waduh, ada apa nih ponakan saya yang cantik ini? Kok datang-datang senyum-senyum kayak gitu sih? Pasti kamu lagi bahagia ya, iya kan?" tanya Libra tampak menggodanya.
"Umm, ya iya sih om aku emang lagi bahagia. Soalnya sekolah aku mau adain camping satu angkatan gitu, eh enggak sih sama ada anak kelas dua belas juga. Tapi, mereka itu gak wajib buat ikut karena ini kegiatan angkatan aku," jelas Ciara.
"Oalah, jadi kamu mau ikut camping nih ceritanya? Emang kamu berani ikut yang kayak gituan? Kan biasanya camping itu di dekat hutan-hutan loh, apa kamu gak takut?" goda Libra.
Ciara menggeleng dengan pipi mengembung, "Enggak lah, ngapain juga aku takut sama yang begituan? Lagian disana itu nanti rame om, bukan cuma aku sendiri yang camping. Kan ada teman-teman aku juga," ucapnya.
"Hahaha, bener juga sih kamu. Yaudah, terus kapan tuh camping nya?" tanya Libra.
"Minggu ini om, makanya aku mau minta bantuan om buat izin ke mama papa. Soalnya dulu waktu ada kegiatan camping juga, mereka tuh gak pernah kasih izin ke aku tau," pinta Ciara.
"Oh ya? Kenapa gitu?" kaget Libra keheranan.
"Gak tahu deh, mereka sih alasannya karena takut aku kenapa-kenapa atau celaka gitu. Padahal kan aku udah bisa jaga diri sendiri," ucap Ciara.
"Ohh ya wajar sih namanya orang tua, tapi sekarang kan mereka lagi di luar negeri tuh. Kalau kamu camping nya Minggu ini, bisa lah kamu pergi tanpa beritahu mereka," ujar Libra.
"Emang iya om, tapi aku gak mau yang kayak gitu. Itu namanya aku bohongin mama papa," ucap Ciara.
Libra tersenyum lebar mendengar ucapan ponakannya, ia merasa bangga pada gadis itu karena di usianya yang sekarang ini dia masih tetap bersikap jujur dan berani. Kini ia pun tahu kalau peranan orang tua dalam mendidik anaknya sangat penting, sehingga Ciara bisa tumbuh dewasa dengan baik dan tidak seperti kebanyakan anak-anak lainnya di luar sana yang suka berbohong.
"Kamu pintar banget sih, makin cinta saya sama kamu!" ucap Libra sembari mengusap puncak kepala ponakannya.
"Udah ah om, ayo kita pulang! Abis itu om tolong telponin mama ya!" ucap Ciara.
__ADS_1
"Okay, tapi kamu mau gak kalau kita lunch bareng dulu?" ucap Libra menawarkan.
"Umm..." gadis itu berpikir sejenak sembari mengetuk-ngetuk jarinya ke dagu, bermaksud agar membuat Libra kesal.
"Ya aku mau deh, kebetulan aku juga lapar," sambungnya disertai senyum manisnya.
"Nah bagus, yaudah yuk kita ke mobil!" Libra langsung merangkul pundak Ciara dan membawanya ke dalam mobil.
•
•
Disisi lain, Leon sudah setia menunggu di halaman sekolah Nindi demi dapat menemui gadis itu dan meminta maaf atas keterlambatan yang ia lakukan sebelumnya. Leon merasa sangat bersalah karena sudah mengingkari janjinya, dan kini Leon berniat menebus semua itu dengan cara membahagiakan Nindi, sosok gadis yang telah membuat hidupnya lebih berwarna dan terasa bahagia itu.
Tak lama kemudian, gadis yang sedari tadi ditunggu olehnya pun tiba. Ya Leon langsung tersenyum begitu melihat Nindi muncul di hadapannya saat ini dan tengah berjalan ke arahnya, tentu saja Leon tak mau menunggu terlalu lama karena ia sudah sangat ingin bertemu gadis itu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kala itu. Leon juga tak mau jika Nindi salah paham padanya, mengira kalau ia sengaja datang terlambat untuk menjemputnya.
"Hai Nindi! Syukurlah, kali ini saya gak telat lagi jemput kamu dan malah saya datang lebih awal!" ucap Leon sambil tersenyum.
"Sa-saya mau minta maaf sama kamu, karena kemarin saya terlambat datang dan akhirnya gak bisa antar kamu ke sekolah. Soalnya waktu itu saya dikasih tugas sama bos Galen," jawab Leon.
"Oh, iya udah aku maafin kok. Harusnya kamu gak perlu pake datang kesini segala," ujar Nindi.
Leon menghela nafasnya dan meraih dua tangan Nindi untuk digenggam, "Kamu masih marah ya sama saya? Okay saya paham, tapi gimana kalau sekarang kamu ikut saya dan kita makan siang bareng?" ucapnya coba membujuk gadis itu.
"Aku gak mau pak, aku mau makan di rumah aja sama kak Rifka," ucap Nindi menolak.
"Eee apa kamu yakin nih tolak ajakan saya? Biasanya kamu paling senang kalau diajak makan bareng sama saya, kenapa sekarang begini?" ujar Leon.
"Karena menurut aku, buat apa kita keseringan makan di luar kan? Yang ada cuma jadi pemborosan dan buang-buang uang aja, lagian kak Rifka udah masak kok jadi harus dimakan lah," ucap Nindi.
__ADS_1
"Bilang aja kamu masih marah sama saya gara-gara kemarin, ya kan? Ayolah Nindi, saya kan udah minta maaf sama kamu!" bujuk Leon.
"Aku juga udah maafin pak Leon kok, lagian itu mah masalah sepele. Yaudah, aku pulang duluan ya pak? Ojek aku udah sampe nih," ucap Nindi.
"Nindi tunggu!" Leon kembali mencegah gadis itu pergi, ya tentunya ia tidak ingin Nindi pergi tanpa dirinya karena niat ia datang kesana adalah untuk menjemput gadis itu.
"Kenapa pak?" tanya Nindi dengan malas.
Perlahan Leon melingkarkan tangannya di pinggang Nindi dan memeluk gadis itu dari depan sembari membenamkan wajahnya pada ceruk sang gadis, Nindi yang mendapat perlakuan seperti itu pun terkejut karena tak biasanya Leon memeluknya di tempat umum dan terlihat begitu emosional. Sungguh jantung Nindi berdebar-debar cukup kencang, sebab dia sadar juga kalau dirinya memang menyukai pria di depannya itu.
"Saya sayang sama kamu, Nindi. Saya gak bisa kalau kamu terus cuek sama saya kayak gini, tolong maafkan saya ya! Saya janji deh, saya akan antar jemput kamu terus setiap hari!" ucap Leon.
Namun, Nindi yang masih terbawa emosi malah mendorong paksa tubuh Leon darinya hingga pelukan mereka terlepas. Nindi menatap wajah pria itu dengan tatapan tajam, seolah menunjukkan bahwa dirinya masih belum bisa memaafkan Leon. Tampak Leon sungguh tak mengerti pada apa yang dilakukan Nindi, dia pun berusaha meminta penjelasan dari gadis itu.
"Ada apa Nindi? Apa kamu memang tidak mau memaafkan saya?" tanya Leon risau.
Nindi menggeleng dengan mata berkaca-kaca, "Bukan pak, tapi aku cuma mau pulang. Kasihan ojek aku udah nunggu lama, nanti dia malah marah sama aku karena kelamaan munculnya," jawabnya bohong.
"Tapi Nindi, kamu bareng saya aja ya pulangnya! Saya masih mau bicara sama kamu, please!" ucap Leon memaksa.
"Gak bisa pak, aku udah pesan ojek dan dia udah sampai daritadi. Gak enak lah kalau aku batalin gitu aja, baiknya kamu kembali kerja biar gak dimarahin sama kak Galen!" ucap Nindi tetap menolak.
"Nindi, saya—"
"Maaf pak, aku permisi dulu! Kapan-kapan aja ya kamu kesini lagi?" sela Nindi.
Setelah mengatakan itu, Nindi langsung berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Leon tanpa perduli dengan perasaan pria itu. Sepertinya kekecewaan Nindi sudah terlalu besar pada Leon, gadis itu mungkin akan sulit untuk bisa memaafkan Leon. Meski Nindi sendiri tahu kalau dirinya masih belum bisa menghilangkan rasa cintanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...