Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 225. Pria asing


__ADS_3

Ciara menemui Libra di rumah sakit tempat pria itu bekerja, kini sudah tidak ada lagi alasan baginya untuk merahasiakan semua kecurigaan yang ia tunjukkan kepada Cyra. Ciara terpaksa datang ke tempat itu saat ini, karena ia yakin Libra pasti bisa membantunya menyelidiki Cyra nanti. Apalagi, Libra merupakan ayah kandung Cyra dan pasti tidak akan menolak apabila ia meminta bantuan pria itu.


Begitu sampai disana, beruntung sekali bagi Ciara karena ia langsung bertemu dengan Libra dan dapat berbicara dengannya. Tanpa berpikir panjang, Libra pun mengajak mantan istrinya itu pergi ke ruang pribadinya agar mereka bisa berbincang lebih leluasa dan tak ada yang mengganggu. Ya Libra tampak begitu penasaran, karena tak biasanya Ciara mau datang ke rumah sakit menemuinya seperti itu jika tidak ada hal yang penting untuk disampaikan.


"Silahkan duduk Ciara!" ucap Libra meminta wanita itu duduk di sampingnya.


Tentu saja Ciara menurut dengan perintah pria itu, ia pun terduduk bersamaan dengan Libra yang juga duduk di sebelahnya. Ciara menghela nafasnya sesaat, menyibakkan rambut ke belakang dan coba menenangkan diri supaya ia bisa yakin kalau keputusannya meminta bantuan pada mantan suaminya itu tidak salah kali ini.


"Apa yang mau kamu bicarakan sama aku, Ciara? Kelihatannya penting sekali sampai kamu rela jauh-jauh datang kesini," tanya Libra tampak begitu penasaran.


"Eee a-aku mau bahas soal Cyra, mas. Ada sesuatu yang bikin aku curiga sama dia," jawab Ciara.


Libra mengernyitkan dahinya, "Apa maksud kamu? Emangnya apa yang bikin kamu curiga sama Cyra anak kita itu?" tanyanya terheran-heran.


"Iya mas, aku nemuin sesuatu di dalam tas Cyra waktu itu. Sesuatu itu yang bikin aku curiga sama Cyra, mas. Kamu harus tau tentang itu, makanya sekarang ini aku datang kesini," jelas Ciara.


"Sesuatu apa? Bisa kamu tunjukin sesuatu itu sekarang ke aku, hm? Aku penasaran banget loh ini," ucap Libra.


Ciara manggut-manggut kecil dan mengambil sesuatu itu dari dalam tasnya, sedangkan Libra masih terus menatapnya karena penasaran dengan apa yang ditemukan oleh Ciara. Lalu, tanpa lama Ciara menunjukkan obat pencegah kehamilan itu di hadapan mantan suaminya.


"Ini dia yang aku temuin di dalam tas Cyra, mas. Aku yakin kamu pasti tau obat apa itu, karena kamu kan seorang dokter mas," ucap Ciara lirih.


"Hah? I-ini kan..."


Libra benar-benar syok saat melihat obat yang diberikan Ciara kepadanya, ia tahu betul kalau obat itu adalah obat pencegah kehamilan. Namun, Libra masih tak mengerti mengapa bisa Ciara menemukan obat itu di dalam tas Cyra. Seketika ia menatap wajah Ciara, pikirannya mendadak kacau setelah melihat obat tersebut.


"Ini obat pencegah kehamilan, Ciara. Kenapa bisa obat ini ada di dalam tas anak kita? Apa yang dia lakuin emangnya?" ujar Libra.

__ADS_1


Ciara menggeleng perlahan, "Aku juga gak tahu, mas. Makanya aku datang kesini buat kasih tau semuanya ke kamu, karena aku curiga kalau Cyra itu menyembunyikan sesuatu di belakang aku," ucapnya sambil terisak.


"Yaudah, kamu gausah nangis kayak gitu! Aku akan cari tau semuanya, sekarang kamu tenang ya! Belum tentu apa yang kamu pikirkan itu benar terjadi, bisa aja ini bukan punya Cyra kan?" ucap Libra.


"Kamu benar mas, tapi tetap aja aku takut kalau sampai Cyra macam-macam di luar sana! Apalagi, aku gak bisa kontrol dia terus," ucap Ciara.


Akhirnya Libra mendekat dan memeluk mantan istrinya itu, ia mencoba menenangkan Ciara agar tidak terus menangis. Meski awalnya terkejut, namun Ciara justru membiarkan saja Libra memeluknya dan tidak melakukan pemberontakan sedikitpun.




Sementara itu, Cyra baru sampai di lokasi yang ingin ia datangi bersama Rila. Ya kini kedua gadis itu sama-sama turun dari mobil dan membawa tas mereka, langsung saja Cyra menghirup udara segar di sekitar pantai yang amat menyejukkan. Cyra pun merasa lebih tenang saat ini, karena setidaknya ia bisa menghilangkan segala pikiran buruknya.


"Haaaahh, segar banget disini ya Ril? Gue jadi gak sabar pengen main ke pantainya," ucap Cyra.


"Okay, gue ngikut lu aja." Cyra mengangguk setuju.


Akhirnya mereka berdua pergi memasuki hotel tempat mereka menginap itu, perlahan Cyra dan Rila mulai menuju tempat resepsionis. Rila pun meminta kunci kamarnya itu kepada penjaga disana, karena sebelumnya ia telah memesan kamar disana untuknya dan juga Cyra tentu.


Setelah berhasil mendapatkan kunci, dengan cepat kedua gadis itu pergi menuju lift dan naik ke lantai kamar mereka berada. Selama di dalam lift, semua terlihat baik-baik saja dan tidak ada yang membuat Cyra merasa tidak nyaman. Justru Cyra malah merasa lebih bahagia saat ini, karena ia sangat menginginkan ketenangan di dalam hidupnya.


Sesampainya di depan kamar, Rila langsung membuka pintu tersebut dengan kunci yang ia pegang dan menyuruh Cyra masuk ke dalam sana. Ya Rila pun ikut mengantar sahabatnya itu sampai ke dalam, terlihat Cyra begitu mengagumi kamar miliknya yang memang luas dan sejuk itu.


"Gimana Cyra, lu suka gak sama kamarnya?" tanya Rila pada gadis itu.


"Suka kok, suka banget malah. Ini sih udah lebih bagus daripada kamar gue di rumah, makasih banget ya Rila!" jawab Cyra dengan antusias.

__ADS_1


"Sama-sama, yaudah gue tinggal dulu ya? Kamar gue di sebelah lu kok, jadi kalo lu perlu apa-apa kesana aja!" ucap Rila.


"Okay, aman." Cyra manggut-manggut paham.


"Oh ya, ini kunci kamar lu. Disimpan baik-baik loh, jangan sampai hilang!" ucap Rila.


"Sip!"


Rila pun keluar dari kamar itu dan membiarkan Cyra beristirahat sendirian, lagipula Cyra memerlukan waktu untuk membereskan semua barangnya itu. Sontak Cyra bergerak maju dan mulai meletakkan semua bajunya ke dalam lemari, ia juga duduk di kasur miliknya dan tersenyum puas karena semua yang ada disana amat membuatnya nyaman.


"Huft, senang banget deh aku bisa ada disini!" gumamnya lirih.


Ceklek


Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi ketika tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamarnya dari arah luar. Seketika Cyra merasa panik, ia reflek bangkit dari tempat duduknya untuk mengecek siapa yang datang. Betapa stoknya Cyra, saat ia melihat sosok pria tinggi dengan jas hitam di tubuhnya mendekat ke arahnya.


"Si-siapa kamu? Kenapa kamu masuk ke kamar aku? Oh kamu pasti salah masuk ya? Ini itu kamar aku yang dipesan sama sahabat aku, kamu mending keluar deh!" ucap Cyra panik.


Pria itu menyeringai, lalu terus melangkah lebih dekat ke arah Cyra berada. Ia baru berhenti ketika sampai di dekat gadis itu, sedangkan Cyra saat ini hanya bisa diam memandang ke arah pria itu dengan wajah bingung. Cyra sungguh tak mengerti, siapa dan apa mau pria itu datang kesana.


"Kata siapa? Ini benar kamar saya kok, kamar yang dibayar oleh saya. Kamu justru menumpang disini," ucap pria itu.


Deg


Cyra benar-benar terkejut, ia tak mengerti apa yang dimaksud pria itu padanya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2