Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 199. Tegang


__ADS_3

Libra masih terus menggenggam erat telapak tangan istrinya untuk mencegah supaya Ciara tidak bertindak nekat, apalagi saat ini Ciara dalam kondisi marah dan bisa saja berbuat hal yang aneh. Libra tak ingin itu terjadi, ia masih menyayangi Ciara dan tentu berharap Ciara mau memaafkan dirinya. Namun, Libra sendiri juga bingung harus bagaimana setelah Ciara memergoki perselingkuhan yang ia lakukan.


Ciara sungguh tak percaya, tangisan pecah di wajahnya ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa suaminya itu tengah bersama sosok perempuan di sebuah hotel. Pikirannya pun sudah meyakini, kalau pasti Libra sudah melakukan hal tidak senonoh bersama wanita itu. Apalagi, saat ini kondisi Libra dan juga wanita itu sama-sama tanpa busana dengan pakaian mereka yang berserakan.


"Kamu minta aku jangan lancang masuk ke kamar kamu ini, mas? Kamu takut ya kalau rahasia besar kamu ini terbongkar? Kamu tega ya mas, aku gak nyangka kamu sebusuk ini!" geram Ciara.


Libra menggeleng, "Sayang, kamu dengerin aku dulu! Kamu itu cuma salah paham, semuanya gak seperti yang kamu lihat. Aku sama Aline gak ada hubungan apa-apa, kami juga cuma ngobrol kok disini," ucapnya mengelak dari tuduhan sang istri.


"Hah? Cuma ngobrol ya mas? Ngobrol apa yang sampai harus buka semua pakaian kayak gini, ha?" tanya Ciara.


Libra terdiam dan tak bisa menjawab kali ini, apa yang dikatakan Ciara memang benar. Libra sudah tidak bisa berbohong lagi di hadapan wanita itu, apalagi Ciara juga telah melihat semuanya. Tidak mungkin Ciara akan percaya pada semua penjelasan Libra yang tidak masuk akal itu, Libra pun terlihat menyesali semua perbuatan yang ia lakukan.


"Kamu itu jahat mas, kamu jahat banget sama aku! Tega ya kamu ngelakuin ini semua ke aku?" sentak Ciara diiringi isak tangisnya.


Pria itu hanya bisa menundukkan wajahnya, ia menaruh kedua tangannya di depan seolah ingin menunjukkan penyesalan yang ia rasakan saat ini. Libra memang menyesal, tapi itu tak membuat Ciara merasa kasihan padanya. Ciara justru semakin jengkel melihat wajah pria itu, rasanya Ciara sudah tidak sabar ingin bercerai darinya.


"Kamu gak perlu pura-pura sedih kayak gitu di depan aku, mas. Itu gak akan merubah keputusan aku, lagian ini semua udah jelas kok. Kita akan bercerai, dan anak-anak semuanya ikut aku!" ucap Ciara.


Ciara pun beralih menatap pengacaranya, "Pak Willy, jadikan ini sebagai bukti di persidangan besok! Serahkan semua ke pengadilan!" titahnya.


"Baik bu!" ucap Willy patuh.


Setelahnya, Ciara melangkah mendekati Aline yang masih terduduk di atas ranjang sambil memegangi selimut yang menutupi tubuhnya. Ciara terus menatap wajah wajah Aline saat ini, rasanya ia begitu muak ketika berhadapan dengan pelakor seperti itu. Tak dapat dipungkiri, sebenarnya Ciara tak rela melihat suaminya menyentuh wanita lain.


"Kamu sekarang bisa puas main dengan suami saya, tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi kayak gini. Kamu bebas kok mau lakuin apa aja sama dia, karena saya udah gak perduli lagi!" ucap Ciara.


"Hiks hiks, maafin aku mbak! Aku beneran gak ada niat untuk—"


"Sssttt, jangan bicara apapun! Saya gak mau dengar suara kamu, turuti saja kata-kata saya dan setelah itu kamu diam!" ucap Ciara menyela.


"Sa-sayang, aku mohon sama kamu maafin aku!" ucap Libra penuh harap.


Ciara melirik sinis ke arah suaminya, bukannya kasihan ia justru semakin emosi dan terlihat mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, pertanda bahwa emosi di dalam dirinya semakin menguap dan hendak ia keluarkan untuk memberi pelajaran kepada suami jahatnya itu.




Disisi lain, Nadira yang baru sampai di rumahnya tampak syok ketika melihat putra dan cucunya tengah bertengkar disana. Sontak Nadira bergerak cepat untuk mendamaikan mereka, ya tentu Nadira tak ingin diantara Cyra ataupun Faiz saling bertengkar seperti itu. Biar bagaimanapun, mereka semua adalah bagian dari keluarganya dan harusnya mereka tidak bertengkar, melainkan saling membantu satu sama lain seperti pada umumnya.


"Jadi begitu ya sayang ceritanya, kamu udah ngerti kan sekarang? Faiz ini hitungannya om kamu, ya walau dia masih kelihatan muda. Jadi, kamu harus panggil dia paman ya!" ucap Nadira setelah selesai menceritakan mengenai identitas Faiz pada Cyra.


Cyra yang mendengar itu mengangguk paham, meski ia masih agak bingung dan syok karena memiliki paman setampan Faiz. Cyra akui kalau Faiz adalah lelaki yang tampan dan juga menarik, apalagi kondisinya Faiz juga masih muda dan jarak usia diantara mereka tidak terlalu jauh, mengingat saat ini Faiz masih memasuki usia 20 tahun lebih dikit.


"Ohh, iya iya paham kok oma. Tadi tuh aku kaget banget waktu bik Vita bilang kalau cowok ini anaknya oma," ucap Cyra.


"Ya sayang, wajar kok kalau kamu kaget. Faiz ini kan dari kecil mama sekolahin di luar negeri, jadinya kalian baru bisa ketemu sekarang deh setelah Faiz kembali dari sekolahnya," ucap Nadira.


"Hehe, iya oma. Sekarang aku udah ngerti dan tau siapa cowok ini," ucap Cyra.


"Yeh kalo udah ngerti mah minimal minta maaf gitu, jangan malah masih manggil cowok ini cowok ini aja. Sadar diri itu penting loh!" cibir Faiz.

__ADS_1


Glekk


Cyra menelan salivanya, ia terkejut karena ketika menoleh ke arah Faiz rupanya pria itu tengah menenggak minuman di gelasnya. Entah mengapa pesona Faiz semakin terlihat disaat pria itu meminum segelas air, bisa saja Cyra tergoda dengan pamannya itu nanti. Bahkan, sekarang saja gadis itu sudah harus bersusah payah untuk bisa mengedipkan mata dan menelan salivanya.


"Kenapa aku harus minta maaf ke kamu? Aku emangnya salah apa?" tanya Cyra.


"Dih pake nanya, sadar woi sadar! Tadi itu kamu kan udah tuduh aku yang enggak-enggak, pake bilang aku maling lagi, terus ngaku-ngaku anaknya mama Nadira. Kamu ingat kan pasti sama semua kelakuan kamu tadi?" sentak Faiz.


"Yah elah, itu kan cuma salah paham. Aku gak tau kalau kamu ternyata emang beneran anaknya oma," ucap Cyra membela diri.


Nadira yang mendengar itu benar-benar merasa pusing, ia menengahi keduanya dan meminta pada Cyra serta Faiz untuk berhenti bertengkar. Nadira sungguh tidak tahan mendengarnya, apalagi saat ini ia juga sedang dipusingkan dengan masalah yang menimpa Ciara. Ya terlebih setelah Ciara mendapat telpon dari Willy tadi, membuat Nadira begitu cemas dan menantikan kabar dari putrinya itu.


"Sudah ya sudah, kalian jangan bertengkar terus! Ini oma bingung loh sayang, jadi udah ya stop ributnya!" ucap Nadira menengahi.


"Maaf oma, abisnya om Faiz tuh nyebelin banget!" ucap Cyra menunjuk pamannya.


"Lah kenapa jadi aku yang kamu salahin? Jelas-jelas kamu tadi yang cari ribut dulu sama aku, terus disuruh minta maaf gak mau!" balas Faiz.


"Bukan gak mau, tapi kan aku emang gak salah. Jadi, buat apa aku minta maaf?" ucap Cyra.


"Sssttt, udah kalian berdua diam! Jangan ada yang ribut lagi! Mending kalian salaman aja deh, terus kenalin diri masing-masing biar akrab!" ucap Nadira pada putra dan cucunya itu.


"Ih gak mau!" tanpa diduga, Cyra serta Faiz justru mengucapkan kalimat itu secara bersamaan.


Reflek Cyra dan Faiz menutup mulut mereka masing-masing kali ini, ya mereka sendiri juga tak menyangka kenapa hal seperti itu bisa terjadi. Sedangkan Nadira tampak cekikikan, seolah senang melihat tingkah Cyra dan Faiz.




Ciara sendiri masih terdiam memandangi wajah suaminya disana dengan dua tangan terkepal kuat, jika saja ia memiliki keberanian lebih maka pasti ia sudah memukuli suaminya itu saat ini juga. Hanya saja, Ciara tak sanggup menyakiti seseorang yang pernah ia cintai itu. Apalagi, Libra juga adalah sosok ayah dari anak-anaknya.


"Kamu pertimbangkan lagi semua ini Ciara, jangan sampai kamu salah ambil keputusan! Batalkan semua gugatan cerai kamu itu, aku janji gak akan mengulangi ini semua!" bujuk Libra.


"Ck, itu semua gak akan mungkin terjadi mas! Aku sudah bertekad untuk berpisah dari kamu, bahkan sebelum aku berhasil memergoki kamu disini. Jadi, seharusnya sekarang aku gak punya alasan lagi untuk tidak menggugat cerai kamu!" ucap Ciara.


"Tapi Ciara, bagaimana dengan nasib anak-anak kita nanti? Mereka masih butuh aku," tanya Libra.


"Kenapa baru sekarang kamu ingat sama mereka? Tadi sewaktu kamu enak-enak sama tuh cewek kemana aja? Gak mikirin ya gimana perasaan mereka kalau tau ayahnya tidur sama perempuan lain yang bukan ibunya? Pasti mereka akan sakit hati mas," ucap Ciara dengan tegas.


"Aku tau aku salah Ciara, tapi please berikan aku kesempatan satu kali lagi untuk mengulang semuanya!" rengek Libra.


Ciara terkekeh mendengar permohonan dari suaminya itu, ia tak menyangka kalau Libra masih berani mengucapkan kata-kata itu di hadapannya kali ini. Setelah pengkhianatan yang dilakukan Libra terhadapnya tadi, sekarang pria itu malah berulang kali memohon ampun padanya dan meminta ia untuk tidak menceraikan lelaki itu.


"Aku juga janji sama kamu sayang, aku akan lakukan apapun yang kamu mau asalkan kamu batalkan semua gugatan cerai ini!" ucap Libra kembali.


"Cih, aku gak butuh apapun itu dari kamu mas! Satu yang aku mau, yaitu cerai sama kamu. Jadi kalau kamu memang mau aku maafkan, kamu hadir dong di persidangan besok!" ucap Ciara.


Libra menggeleng, "Itu gak mungkin aku lakuin sayang, aku gak mau pisah dari kamu!" ujarnya.


Ciara memalingkan wajahnya, rasa kesal menyelimuti dirinya saat ini setiap kali mendengar ocehan sang suami. Libra sendiri mulai berlutut di hadapan Ciara, tampak bahwa Libra benar-benar berusaha untuk menggagalkan perceraian mereka kali ini. Namun, Ciara masih tetap pada pendiriannya yakni berpisah dengan pria itu.

__ADS_1


"Aku mohon maafkan aku sayang, aku siap kok dihukum apapun itu sama kamu sekarang! Hukum aku aja sayang, tapi tolong jangan ceraikan aku!" ucap Libra merengek.


Melihat keseriusan di wajah Libra, tak sama sekali menggoyahkan keteguhan hati Ciara. Apapun usaha yang dilakukan pria itu untuk membujuknya, tetap saja keputusan Ciara tidak akan berubah. Luka yang sudah ditanamkan Libra di hatinya itu sangat besar, dan tak akan mungkin bisa hilang begitu saja dalam waktu yang singkat.


"Satu hukuman yang pantas untuk kamu mas, cerai. Aku harap kamu mau ngertiin aku kali ini aja, datang ya di sidang kita besok!" ucap Ciara.


Deg


Libra tersentak, ia mendongak menatap wajah Ciara dengan bola mata yang membulat lebar seolah tak percaya bahwa Ciara benar-benar yakin ingin bercerai dengannya dan sulit sekali untuk dibujuk.




Tiara masih terjebak di dalam sebuah kamar bersama Galen, mantan suaminya. Entah sampai kapan ia harus terus disana, karena sepertinya Galen selalu saja menghalanginya tiap kali ia mencoba untuk pergi. Padahal, Tiara sangat rindu dengan putranya dan ingin cepat-cepat pulang menemui Askha yang pasti sudah menunggunya di rumah.


Galen tersenyum saja ketika Tiara mendekat ke arahnya dengan mengenakan bathrobe di tubuhnya, ia masih berpura-pura fokus menonton tv dan seolah mengabaikan kedatangan Tiara. Niat Galen memang untuk mengurung wanita itu, sehingga sampai kapanpun Tiara memelas padanya, Galen tak akan semudah itu untuk luluh dan melepaskan Tiara.


"Mas, aku mohon sama kamu! Aku mau pulang mas, kasihan Askha pasti cemas nyariin aku!" rengek Tiara.


Galen melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali menatap televisi di depannya. Tiara yang jengkel pun terduduk di sebelah pria itu, diambilnya remote tv yang tergeletak di meja dan ia matikan televisi tersebut. Galen sontak terkejut, tindakan Tiara cukup berani dan benar-benar membuat Galen kesal karena aksi nekat wanita itu.


"Kalau aku lagi bicara, seenggaknya kamu jawab dong mas. Aku serius kali ini, aku mau pulang dan ketemu sama anak aku. Tolong jangan kayak gini, biarin aku pulang!" ucap Tiara.


"Apa sih Tiara? Kamu gausah kemana-mana, udah kamu diem aja disini sih!" ucap Galen.


"Jangan gila ya kamu, mas! Kita ini udah gak ada hubungan apa-apa, mana bisa kita tinggal satu atap kayak gini?" protes Tiara.


"Oh tentu bisa, gak perlu ada hubungan kan buat tinggal serumah?" ucap Galen.


Tiara menggeleng pelan, cukup sulit baginya untuk bisa keluar dari tempat itu dan melepaskan diri dari jeratan mantan suaminya. Tiara juga dibuat tak berdaya, sudah dua kali Galen melakukan tindakan keji terhadap dirinya saat ini. Ya Tiara hanya bisa pasrah kala itu, sebab ia tahu kalau tenaganya sudah pasti kalah kuat dibandingkan pria tersebut.


"Aku kangen sama Askha, mas. Aku khawatir dia kenapa-napa juga kalau sendirian di rumah, kamu pahami itu dong mas!" ucap Tiara.


"Alasan kamu itu terlalu dibuat-buat, aku yakin kok Askha bisa jaga dirinya sendiri! Dia itu udah besar, dia bukan anak kecil lagi yang harus bergantung sama kamu. Jadi, kamu jangan pakai alasan Askha untuk kabur dari tempat ini!" ucap Galen.


"Aku bukan alasan mas, aku ini emang khawatir sama Askha. Aku bukan kamu ya mas, yang bisa tenang padahal gak tau kondisi anaknya kayak gimana," ucap Tiara.


"Heh! Jaga bicara kamu ya Tiara! Kamu kira aku gak perduli sama anak kita, ha?" sentak Galen.


Tiara terdiam, gerakan tiba-tiba Galen yang mendekat dan mencengkram rahangnya itu membuat Tiara tak sempat melakukan apa-apa. Galen seperti begitu marah, kesempatan Tiara untuk bisa memohon padanya pun pupus sudah. Berbagai cara yang ia lakukan tak berhasil, Tiara kini sudah tak tahu harus melakukan apa lagi.


"Kamu jangan berharap bisa keluar dari tempat ini, karena itu tidak akan mungkin Tiara! Aku yang akan jaga kamu sendiri, supaya kamu gak bisa kemana-mana!" ucap Galen.


"Kamu itu kenapa sih, mas? Aku ada salah apa sama kamu sampai kamu begini ke aku? Perasaan aku gak pernah gangguin kamu loh, aku juga biarin kamu hidup bahagia sama selingkuhan kamu itu. Lalu, kenapa kamu gini ke aku sekarang?" heran Tiara.


"Emangnya salah ya? Aku cuma mau kamu ngerasain, gimana rasanya gak bisa ketemu dengan anak kandung kamu sendiri!" ucap Galen tegas.


Deg


Tiara terbelalak lebar, ia tak menyangka kalau ternyata Galen melakukan semua ini hanya untuk membalaskan dendamnya yang tidak bisa bertemu dengan Askha sewaktu dia kecil.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2