Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 48. Pengganggu


__ADS_3

Hari berganti malam, Ciara yang bersiap untuk tidur justru ditahan oleh Libra saat hendak beranjak dari meja makan sesudah menghabiskan makan malamnya. Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Ciara, ia menaruh satu tangan pada sandaran kursi dan wajahnya hampir menempel pada leher atau telinga gadis di dekatnya itu sembari tersenyum menatapnya.


Sontak Ciara terkejut dan spontan menatap ke arah sang paman, mereka pun sempat saling bertatapan satu sama lain selama beberapa detik. Sampai akhirnya Ciara sadar, lalu segera memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak ingin kejadian sebelumnya terulang kembali. Ya hingga kini Ciara memang masih belum bisa melupakan hal itu.


"Apa sih om? Kenapa om tahan aku? Aku harus tidur om, besok kan aku sekolah. Kalau aku gak tidur, nanti aku bisa kesiangan bangunnya. Emang om mau bangunin aku?" ucap Ciara merengut.


"Oh siap, aku siap bangunin kamu kok besok! Jangankan besok, setiap hari juga aku mah ayo aja!" ucap Libra penuh semangat.


Ciara mengernyit disertai mata yang menyipit, "Om udah gak waras ya? Sana sana deh, mending om cuci tuh piringnya sampai bersih biar gak numpuk besok!" ucapnya berniat pergi.


Namun, lagi-lagi Libra menahannya dan kali ini turut mencekal lengannya dengan kuat. Ciara pun tidak bisa pergi kemana-mana, tubuhnya sudah dikurung di kursi tersebut oleh pamannya yang memang tak membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Entah mengapa sejak kejadian ciuman mereka kala itu, Libra menjadi lebih agresif pada Ciara seperti saat ini. Seolah-olah Libra ingin menunjukkan kalau ia tertarik dengan gadis itu.


"Kamu mau kemana sih Ciara? Sebentar dulu napa, aku masih mau bicara sama kamu! Kalau kamu gak nurut, aku cium lagi nih kamu!" ucap Libra.


"Hah? Om kenapa jadi persis kayak om Davin sih sekarang? Mesum banget otaknya!" cibir Ciara.


Libra menyeringai mendengarnya, "Sembarangan kamu, masa kamu samain aku sama paman kamu yang mesum itu? Aku mah gak gitu kali, aku cuma nakut-nakutin kamu aja," ucapnya.


"Ah pake ngeles lagi, udah lepasin tangan aku! Kalau enggak, aku teriak nih!" pinta Ciara.


"Iya iya.." Libra akhirnya terpaksa melepaskan tangan Ciara dan membiarkan gadis itu pergi sesuai permintaannya.


Braakk


"Aduh!" tapi naas, baru saja hendak melangkah kaki Ciara justru tersandung kursi dan membuatnya terjatuh dalam posisi telungkup di lantai.

__ADS_1


"Eh awas jatuh!" teriak Libra memperingati.


Ciara melirik sinis ke arahnya, "Telat, aku udah jatuh tau! Om jahat dasar!" ucapnya merengut kesal.


"Hahaha..." bukannya menolong, Libra malah tertawa melihat ekspresi Ciara saat ini.


Karena kesal, Ciara pun memilih pergi begitu saja meninggalkan pamannya yang masih asyik menertawakan dirinya. Ciara melangkah menaiki tangga, lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu sangat keras sampai membuat Libra kaget dan menghentikan tawanya.




Keesokan harinya, Libra bersama Ciara telah bersiap untuk pergi ke sekolah. Keduanya kini melangkah ke luar rumah dan sudah tampak rapih, bahkan tadi Libra sengaja bangun lebih awal agar bisa mengantar Ciara ke sekolahnya. Libra tentu tak ingin terlambat di hari pertamanya mengawasi gadis itu, karena ia tidak mau kehilangan kepercayaan dari sang kakak, yakni Nadira.


Disaat mereka hendak menuju mobil, tiba-tiba saja sebuah motor datang dan berhenti di hadapan mereka dengan santainya. Pengemudi motor tersebut bahkan melepas helmnya sesaat setelah mesin motornya mati, lalu Ciara terbelalak lebar karena ternyata yang datang kesana adalah Seno alias seniornya di sekolah yang sebelum ini pernah menolongnya dan mengantarnya pulang.


"Mau apa kamu kesini? Kamu seniornya Ciara yang kurang ajar itu kan? Apa kurang kata-kata saya kemarin yang minta kamu buat jauhi ponakan saya? Kenapa kamu malah datang lagi?" ketus Libra.


"Om, please jangan marah-marah dulu! Kita kan gak tahu kak Seno kesini ada maksud apa," ucap Ciara.


"Eee iya Ciara, kebetulan aku emang sengaja mau jemput kamu kesini. Rencananya aku mau ajak kamu buat berangkat bareng sama aku ke sekolah," ucap Seno sambil tersenyum.


"Nah kan, ini udah gak bener nih! Ngapain kamu pake jemput Ciara segala? Dia gak butuh kamu, jadi udah sana kamu pulang aja!" sentak Libra.


"Maaf om, tapi kan semua keputusan ada di Ciara. Tergantung dia mau saya antar atau enggak, ya kan Ciara?" ucap Seno santai.

__ADS_1


"Kamu ini makin lama makin kurang ajar ya? Kamu udah gak anggap saya disini, sebaiknya kamu pergi atau saya panggil satpam buat usir kamu dari sini!" ucap Libra tersulut emosi.


Ciara pun panik dan coba menenangkan pamannya, "Om, udah om gak perlu kayak gini! Tujuan kak Seno kan baik mau antar aku," ucapnya.


"Apa? Baik darimana nya? Ini anak paling cuma mau modus sama kamu, dia itu padahal mah pengen dekat-dekat aja sama kamu Ciara. Kamu sadar dong, jangan mau dibodohi sama dia!" ujar Libra.


"Om, om gak boleh bicara begitu dong ke kak Seno! Gak baik tau!" ucap Ciara.


"Terserah kamu, intinya kamu berangkat sama aku dan bukan sama dia!" tegas Libra.


Ciara terdiam, pamannya itu memang sulit sekali dilawan dan ia tidak akan mampu membujuk supaya Libra mau bersikap lembut pada Seno. Lalu, Ciara menatap Seno dan memberi gestur pada pria itu untuk pergi dari sana. Namun, Seno tak mengerti dengan kode yang diberikan Ciara padanya.


"Umm om, sebentar ya aku mau bicara berdua sama kak Seno? Om disini aja, nanti aku balik lagi kok!" ucap Ciara pada pamannya.


"Ngapain sih Ciara? Kalau kamu bicara sama dia, nanti yang ada kamu telat loh. Mending kita berangkat sekarang yuk!" ucap Libra menolak.


Ciara menggeleng, "Sebentar aja om, kasihan kak Seno tuh!" ucapnya memohon.


Libra memandang sekilas wajah Seno, dapat dilihat ia sangat emosi lantaran pria itu masih saja berdiri disana dan bukannya pergi. Akhirnya Libra tak memiliki pilihan lain, ia terpaksa menyetujui permintaan Ciara agar tak membuat gadis itu marah dan kecewa padanya.


"Huh okay, kamu boleh bicara sama dia. Tapi, jangan lama-lama ya Ciara! Ini udah jam enam lewat loh, kamu bisa telat kalau kelamaan!" ucap Libra dengan ketus dan sinis.


"Iya om," Ciara tersenyum senang mendengar ucapan pamannya.


Lalu, gadis itu beralih menatap Seno dan mengajak pria itu bicara berdua dengannya. Seno setuju saja, mereka pun pergi menjauh dari Libra agar tidak diganggu olehnya. Terlihat Libra terus memantau mereka dari posisinya berdiri saat ini, ia sungguh tak terima dan tangannya pun terkepal kuat.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2