
"Cyra!!" suara teriakan itu tiba-tiba terdengar di telinga Cyra yang tengah berjalan menyusuri lorong sekolah seorang diri.
Sontak Cyra menghentikan langkahnya, ia penasaran dan segera menoleh ke arah orang yang memanggil namanya itu. Cyra pun terbelalak saat ini, karena ternyata yang ada disana adalah Davin. Gadis itu terlihat bingung, ia memalingkan wajahnya dan ucapan mamanya saat itu kembali teringat. Entah mengapa, Cyra masih bingung harus percaya pada mamanya atau tidak saat ini.
"Cyra, saya mau bicara sebentar sama kamu. Kita ke ruangan saya yuk, mumpung bel juga masih sekitar sepuluh menit lagi!" ucap Davin.
"Umm maaf pak, saya gak bisa! Saya punya banyak tugas yang belum saya kerjakan," Cyra menolaknya.
Disaat Cyra hendak berbalik dan pergi, tanpa diduga Davin menahannya dengan cara mencekal lengan gadis itu dari belakang. Seketika langkah Cyra terhenti, ia kembali menatap wajah Davin dengan ekspresi tak suka. Cyra juga berusaha melepaskan diri dari cengkraman Davin, tetapi tampaknya Davin begitu kuat dan tak ingin melepaskan Cyra.
"Pak, apaan sih? Lepasin saya, bapak jangan kurang ajar ya sama murid sendiri!" sentak Cyra.
Davin melongok lebar dan menggeleng dibuatnya, ia sungguh heran apa yang membuat Cyra sampai bersikap seperti itu padanya. Sikap Cyra sangat beda dibanding sebelumnya, saat ini gadis itu seolah takut padanya dan ingin menghindar darinya sekarang. Padahal, biasanya Cyra malah selalu ingin ada di dekatnya dan bercerita banyak padanya.
"Kamu tuh kenapa sih Cyra? Saya cuma mau bicara loh sama kamu, saya gak ada niat jahat. Kenapa seolah-olah kamu kayak gak suka gitu sih sama aku, hm?" tanya Davin dengan penuh heran.
"Saya bukan gak suka sama bapak, kan saya bilang tadi saya ada tugas yang belum dikerjain. Lepasin saya pak, jangan paksa saya!" pinta Cyra.
"Sebentar aja Cyra, ini penting!" ucap Davin.
Namun, Cyra tetap tidak mau menurut dengan permintaan gurunya itu. Dengan sekuat tenaga Cyra berontak berusaha melepaskan diri, tetapi ia sadar kalau tenaga Davin jauh lebih besar darinya. Sehingga, untuk bisa lepas kali ini sungguh suatu hal yang amat sulit baginya. Cyra pun mulai kebingungan, ia tak tahu harus melakukan apa untuk bisa menghindar dari sosok Davin.
"Kamu ikut sama saya ya, saya janji gak akan melukai kamu Cyra!" paksa Davin.
"Pak, lepas!" Cyra terus berontak, meronta dari genggaman Davin dan berusaha melepaskan diri agar Davin tidak memaksanya.
Tiba-tiba saja, seseorang muncul dari belakang dan menghentak keras telapak Davin sampai Cyra berhasil lepas. Kini Cyra reflek memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat dicengkeram kuat oleh Davin, namun ia juga tak lupa menatap ke arah sosok pria yang barusan menolongnya itu.
"Ada apa ini pak? Kenapa pak Davin paksa-paksa Cyra kayak gini? Ingat ya pak, status bapak itu disini guru loh! Masa seorang guru bertindak seperti itu ke muridnya sendiri?" sentak si pria, yang tak lain ialah Carlo alias ketua osis di sekolah.
"Haish, kamu salah paham Carlo! Saya ini cuma mau bicara sama Cyra, saya ada perlu sama dia. Kamu gausah ikut campur deh," ucap Davin kesal.
"Maaf pak, tapi saya lihat tadi Cyra gak mau tuh ikut sama bapak! Jadi, sebaiknya bapak jangan memaksa Cyra ya pak!" ucap Carlo dengan tegas, dan kini menggandeng lengan Cyra.
"Ayo Cyra, kita pergi!" sambungnya. Cyra hanya diam tak berkata apapun, tetapi mengikuti langkah kaki Carlo yang membawanya pergi.
Sedangkan Davin berdiam diri disana, ia menggeram kesal sembari mengepalkan tangannya.
•
__ADS_1
•
Singkat cerita, Cyra dibawa ke depan ruang osis oleh Carlo. Barulah tangan gadis itu dilepaskan, lalu kini Carlo fokus menatapnya karena khawatir pada kondisi gadis itu. Cyra masih terlihat gugup, apalagi ia tak terlalu mengenal sosok Carlo sebelumnya. Namun, ia tahu kalau Carlo merupakan ketua osis di sekolahnya dan juga merupakan kakak kelasnya.
Carlo adalah sosok lelaki yang tampan dan bersikap baik pada setiap orang yang ia temui, itu sebabnya Carlo menjadi idola bagi para wanita di sekolahnya. Meski begitu, Cyra tak ingin terlalu terpesona pada ketampanan pria di depannya itu. Ya Cyra juga telah seringkali diberitahu oleh papanya, kalau ia harus berjaga-jaga dengan setiap orang yang ia temui.
"Cyra, kamu gak kenapa-napa kan? Tangannya sakit gak?" tanya Carlo dengan begitu perhatian.
Cyra hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, ia tak tahu apakah ia harus bahagia saat ini atau justru bersedih. Ia senang karena Carlo datang menolongnya sehingga ia dapat menjauh dari Davin, tetapi entah kenapa Cyra justru menyesal telah bersikap tidak benar di hadapan Davin tadi. Padahal, selama ini Davin selalu baik kepadanya.
"Hey, kamu kenapa Cyra? Kalau emang ada yang sakit, bilang aja sama aku! Biar aku bantu kamu ke klinik sekarang, disana kamu bisa diobatin sama dokter!" ucap Carlo memastikan.
"Gausah kak, aku baik kok. Tangan aku tadi cuma dicengkeram sama pak Davin," ucap Cyra.
"Syukurlah! Tapi, aku boleh tahu gak kira-kira kenapa sih tadi pak Davin sampai kayak gitu ke kamu? Dia itu mau apa?" tanya Carlo dengan heran.
"Aku juga gak tahu, kak." jawaban itu yang keluar dari mulut Cyra saat ini.
Carlo mengangguk paham, ia menduga kalau saat ini Cyra masih syok akibat kejadian yang tadi menimpanya. Carlo pun membantu Cyra duduk di kursi yang tersedia, lalu meminta salah seorang anggota osis disana untuk membuatkan minuman. Carlo begitu perhatian saat ini kepada Cyra, seolah diantara mereka terjalin hubungan yang spesial.
"Kak, aku mau ke kelas aja. Sekali lagi makasih udah tolongin aku, tapi aku harus buru-buru ke kelas buat kerjain tugas!" ucap Cyra pamit.
"Eee ya soalnya semalam aku gak sempat, banyak urusan," ucap Cyra.
"Oh okay, aku paham kok. Kalo gitu biar aku antar sampai ke depan kelas kamu ya? Aku takut aja kamu dihadang pak Davin lagi nanti," ucap Carlo.
Deg
Cyra sampai melongok dibuatnya, niat Carlo untuk mengantarnya itu sungguh menimbulkan pertanyaan besar di dalam hatinya. Cyra khawatir jika Carlo memiliki niat lain dari kebaikannya itu, apalagi baru kali ini pria itu tampak begitu baik. Cyra pun menolak tawaran Carlo, ia kira untuk saat ini dirinya masih belum memerlukan sosok penjaga.
"Aku bisa sendiri kak, aku bukan gadis manja. Lagian pak Davin gak mungkin berani lagi deketin aku kayak tadi, dia pasti bakal takut kalau kamu muncul lagi," ucap Cyra.
"Haha, bisa aja kamu Cyra!" Carlo tersipu kali ini.
Setelahnya, Cyra bangkit kembali dari tempat duduk dan pergi begitu saja melewati Carlo. Cyra tampak melangkah tergesa-gesa, seolah tak ingin jika Carlo dapat mengejarnya dan meminta untuk mengantarnya sampai ke depan kelas. Meski Carlo tadi telah menolongnya, bukan berarti Cyra akan mempercayai pria itu seutuhnya.
"Huft, kenapa aku sedih gini ya pas Cyra pergi?" gumam Carlo bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
•
__ADS_1
•
Waktu istirahat tiba, Cyra bersama Rachel kini turun ke bawah untuk segera menuju kantin seperti yang biasa mereka lakukan. Kedua gadis itu saling bergandeng tangan, bisa dibilang memang Rachel adalah teman terdekat bagi Cyra. Apalagi, mereka sudah saling mengenal sejak Cyra masih duduk di bangku kelas empat SD.
Tanpa diduga, Cyra tak sengaja melihat sosok wanita yang mirip seperti Daiva di depannya saat ini. Hanya saja, Cyra bingung apa yang hendak dilakukan Daiva di wilayah SMP seperti itu. Tak mungkin jika Daiva hanya sekedar mampir, pastinya ada sesuatu yang genting sampai mengharuskan kakak sepupunya itu datang kesana.
"Eh Cyra, ada apaan sih? Kenapa lu malah tiba-tiba diem kayak gini? Kantinnya masih jauh, apa jangan-jangan lu kepincut ya sama cowok-cowok yang lagi main basket tuh?" tegur Rachel.
"Hah? Ish, ya enggak lah. Aku gak begitu kali Cel, emangnya kamu tuh yang suka tebar pesona kemana-mana!" elak Cyra.
"Hehe, ah lu mah bikin gue malu aja!" kekeh Rachel.
Cyra menggeleng pelan, pandangannya kembali mengarah ke sosok Daiva yang terlihat tengah berjalan tak jauh darinya. Daiva tampak tersenyum lebar sambil membawa sesuatu di tangannya, tentu saja hal itu membuat Cyra makin penasaran. Rasanya Cyra ingin menghampiri Daiva saat ini, tetapi ia bingung harus berkata apa pada Rachel.
"Eh terus ini kita kenapa berhenti Cyra? Lu ngeliat apaan sih, ha? Oh jangan-jangan lu lihat hantu ya? Dimana Cyra, dimana?" tanya Rachel lagi.
"Haish, enggak Rachel. Aku gak lihat hantu atau cowok-cowok yang lagi main basket, kamu kira aku indigo apa? Aku itu lihat kakak sepupu aku tuh disana," jawab Cyra dengan kesal.
Sontak Rachel mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Cyra, matanya membulat lebar karena ternyata apa yang dikatakan Cyra itu benar. Ya memang terdapat sosok Daiva disana yang masih terus berjalan dengan cepat sambil tersenyum lebar, entah kemana tujuannya dan apa maksud dari Daiva datang kesana.
"Eh iya ya bener, jeli juga mata lu Cyra. Tapi, tuh kakak lu mau ngapain ya kesini?" heran Rachel.
"Mana aku tau, kali aja dia ada urusan. Aku juga heran sih kenapa dia kesini, karena biasanya kan dia gak pernah tuh masuk ke wilayah SMP kayak gini," ucap Cyra.
"Yaudah, kita ikutin aja yuk biar kita tau kemana kakak lu itu mau pergi!" usul Rachel.
Cyra langsung menatap tajam wajah Rachel, ia tentu tak setuju dengan usul dari sahabatnya itu karena khawatir Daiva akan mengetahuinya nanti. Cyra memang ingin tahu kemana tujuan Daiva, tetapi tak mungkin jika mereka mengikuti Daiva saat ini. Cyra pun memutuskan untuk mengabaikan saja keberadaan Daiva di sekolahnya, terlebih tiba-tiba perutnya terasa lapar dan ingin memakan sesuatu.
"Udah lah biarin aja kak Daiva disini, kita gak berhak juga larang dia kan buat gak datang ke wilayah SMP?" ucap Cyra menasehati sahabatnya.
"Iya sih lu bener," Rachel menyetujuinya dan mengikuti saja perkataan Cyra tadi.
Akhirnya mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menuju kantin, namun tiba-tiba Rachel menahan langkah Cyra secara mendadak dan membuat gadis itu kesal sekaligus bingung. Padahal, mereka baru saja hendak melangkah beberapa senti ke depan.
"Cyra tunggu! Tuh lihat tuh, kak Daiva sepupu lu masuk ke ruang pak Davin!" unjuk Rachel.
"Apa??" Cyra yang melihat itu melongok seketika, ia tak menyangka dan benar-benar bingung saat mengetahui Daiva memasuki ruangan Davin.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...