Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 117. Anak pelakor


__ADS_3

Seminggu kemudian....


Setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit, Galen pun diizinkan pulang dan ini sudah merupakan hari ketiga pria itu ada di rumahnya. Akan tetapi, Galen begitu sedih saat ini ketika melihat Tiara sudah siap dengan koper berisi barang miliknya yang akan dia bawa pergi dari rumah itu. Galen tak bisa menahan istrinya itu lagi, meski ia sangat tidak ingin Tiara meninggalkannya.


Tiara memang belum sepenuhnya melupakan kejadian dimana Galen menghamili Jessica, itu sebabnya kini Tiara mengemasi barang-barangnya dan akan meninggalkan rumah itu dalam waktu dekat. Tiara sudah tidak bisa tinggal berdua dengan suaminya lagi, dan mungkin wanita itu juga akan mengajukan perceraian ke pengadilan agar bisa terbebas dari lelaki seperti Galen.


Tak lupa Tiara juga membawa serta Askha alias putranya dalam kepergian ia kali ini, karena bagi Tiara pria kecil itu adalah segalanya yang harus ia bawa pergi. Tentu tak mungkin Tiara akan membiarkan Askha bersama Galen, sebab ia tahu pria itu akan segera menikahi Jessica. Tiara pun sudah ikhlas dengan itu, ia tidak lagi perduli apa yang hendak dilakukan Galen.


"Sayang, sekali lagi aku tanya sama kamu. Apa kamu serius mau ceraikan aku? Kamu juga akan bawa pergi Askha dari rumah ini, hm?" Galen kembali menemui istrinya itu dan mengajukan pertanyaan yang sama berulang-ulang.


Tiara berbalik dan menatap wajah suaminya dengan tatapan dingin, wanita itu sudah malas berurusan dengan Galen atau sekedar berbicara padanya. Mereka memang masih belum resmi bercerai, tetapi bagi Tiara semua hubungan tentang mereka telah usai. Rasa cintanya pada Galen pun hilang entah kemana, sehingga kini Tiara tidak lagi perduli pada lelaki yang sempat ia kagumi itu.


"Harusnya kamu juga udah tahu, mas. Aku gak mungkin bisa bertahan dalam kondisi seperti ini, jadi lebih baik aku pergi bersama Askha!" lirih Tiara.


"Enggak, itu gak boleh terjadi. Gimana bisa aku hidup tanpa kalian berdua sayang? Kalian itu udah seperti separuh nyawa aku, mana mungkin aku kuat menjalani hidup tanpa kalian?" rengek Galen.


"Bullshit mas! Semua yang kamu katakan itu omong kosong!" sentak Tiara.


Tiara berjalan mendekati suaminya sembari menenteng koper di tangannya, wajahnya terlihat sangat emosi dan ingin segera melampiaskannya. Galen pasrah saja kali ini, pria itu menunduk lesu dengan kedua tangan ditaruh di depan sambil menahan tangisnya.


"Kalau memang kamu benar-benar sayang dan perduli sama aku ataupun Askha, harusnya kamu gak selingkuh di belakang aku mas! Itu semua gak mungkin terjadi!" sambung Tiara.


"Tiara, aku kan udah minta maaf sama kamu. Aku juga udah bilang kalau saat itu aku khilaf, dan kamu bukannya udah maafin aku ya?" ucap Galen.


"Khilaf? Seenaknya kamu bilang itu khilaf? Berarti, aku juga boleh dong tidur berdua bersama lelaki lain dengan dalih khilaf? Iya kan mas, dan kamu gak boleh marah sama aku kalau itu terjadi. Gimana, kamu setuju?" ucap Tiara.


"Maksud kamu apa sih? Jangan begini dong Tiara, kamu dengerin aku dulu!" ucap Galen.


"Cukup mas!!"


Tiara menghentak kasar kedua tangan Galen yang hendak menyentuhnya, wanita itu menunjuk wajah suaminya menggunakan jari telunjuk dan terlihat menahan emosi dengan rahang gemetar.


"Aku udah gak mau dengar kata-kata kamu lagi, kita cerai mas!" ucap Tiara tegas.


Deg


Galen tersentak, ia tak mampu berbicara apa-apa setelah Tiara membentaknya dan terlihat begitu emosi. Bahkan, kini Tiara melangkah begitu saja melewatinya dan keluar dari kamar itu sembari membawa barang-barang miliknya. Tiara sudah tidak perduli lagi dengan Galen, kini wanita itu pun akan pergi meninggalkan Galen untuk selamanya.




Sementara itu, Ciara baru selesai melakukan tes medis di rumah sakit atas penyakitnya yang saat ini menyerang tubuhnya. Ciara terlihat sangat sedih dan terus berjalan memegangi surat dari dokter di tangannya, wanita itu tak menyangka hidupnya akan seberat ini. Ia harus menanggung penyakit yang terbilang parah, bagaimana bisa ia membahagiakan suaminya jika seperti ini?


Ciara pun tak sengaja melihat Libra tengah berbincang bersama Gita di depan sana, ada rasa cemburu di dalam hatinya dan tak terima saat lelaki yang ia cintai berdua bersama wanita lain. Namun, entah mengapa tiba-tiba otaknya malah berpikir kalau mungkin saja ia harus mengikhlaskan Libra bahagia dengan Gita.


Dengan penyakit yang dideritanya, Ciara tentu semakin mustahil untuk bisa melahirkan seorang anak melalui rahimnya. Ia juga tidak bisa memaksa Libra untuk tetap setia bersamanya, karena pasti setiap lelaki menginginkan kehadiran sosok anak yang akan menjadi penerus baginya.


Tanpa diduga, sepertinya Libra melihat keberadaan Ciara disana dan langsung menghampirinya. Lelaki itu heran melihat Ciara tampak murung saat ini, apalagi Ciara sampai tak sadar jika sekarang Libra telah berada di dekatnya. Libra sampai harus menegur Ciara dengan menepuk pundaknya, barulah wanita itu tersadar dan menatap ke arahnya.


"Ma-mas? Kok kamu tiba-tiba udah ada disini?" Ciara terkejut dan tampak heran melihat suaminya itu.

__ADS_1


Libra tersenyum dibuatnya, "Ya sayang, aku tadi lihat kamu lagi berdiri disini makanya aku samperin deh. Kamu udah selesai kontrolnya, gimana kata dokter?" ucapnya dengan lembut.


"Eee aku...."


"Duh, gimana ini? Gak mungkin aku jelasin ke mas Libra kalau tumor di rahim aku udah makin parah, bisa-bisa mas Libra khawatir!" batin Ciara.


Libra pun merasa heran melihat ekspresi Ciara saat ini, pasalnya wanita itu terlihat seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Ia tahu jika Ciara tengah berusaha berbohong padanya, dan sebagai seorang suami tentunya Libra tidak akan suka jika dibohongi oleh istrinya sendiri.


"Ciara, kamu jujur aja sama aku sekarang! Apa yang dokter katakan tentang kamu, hm?" Libra kembali bertanya pada istrinya itu dengan lebih tegas.


Ciara benar-benar dibuat bingung, matanya mendongak menatap wajah sang suami yang kini tepat berada di depannya. Libra sendiri bergerak semakin dekat, lalu mencengkram kedua pundak Ciara dan menariknya perlahan. Ditatapnya dengan intens seluruh wajah Ciara saat ini, sampai membuat wanita itu makin bingung dan tak tahu harus apa.


"A-aku...."


"Libra gawat!" tiba-tiba saja, Gita yang tadinya tetap diam di tempatnya kini malah bergerak mendekat lalu menggangu pasangan suami-istri itu.


Libra pun mengalihkan pandangannya pada Gita seraya melepaskan tubuh Ciara, ia mengernyitkan dahinya ketika melihat Gita muncul dengan wajah panik dan nafas terengah-engah. Sepertinya ada kabar buruk yang hendak disampaikan oleh Gita saat ini kepadanya, untuk itu Libra terpaksa melupakan sejenak pertanyaannya pada Ciara tadi.


"Ada apa Gita? Kenapa kamu kelihatan panik banget kayak gitu?" tanya Libra penasaran.


"Ah iya, itu barusan aku dapat kabar kalau ada pasien yang harus kamu tangani. Kondisinya parah banget, dia baru kecelakaan dan harus segera ditangani!" jawab Gita.


"Apa??" Libra terkejut bukan main mendengarnya.


"Yaudah, aku segera kesana sekarang. Kamu duluan ya, aku mau pamit dulu sama istri aku!" sambungnya.


Gita mengangguk perlahan dan pergi lebih dulu menuju ruang operasi, sedangkan Libra tampak kembali memandang wajah Ciara dengan perasaan bingung. Sejujurnya Libra tidak ingin meninggalkan istrinya itu, tetapi tugas memanggilnya dan tak mungkin ia membiarkan pasiennya begitu saja tanpa melakukan apapun.


"Iya mas gapapa, aku bisa pulang sendiri kok. Kamu urus aja pasien kamu ya!" Ciara menyela.


"Okay, nanti kita berkabar lagi!" ucap Ciara.


Cup


Tak lupa Libra mengecup sekilas kening istrinya sebelum pergi dari sana, Libra pun tampak sangat cemas dan terburu-buru menyusul Gita. Sehingga kini Ciara tinggal seorang diri, tetes air mata mulai membasahi pipinya sembari berjalan meninggalkan rumah sakit.




Tiara kini telah berhasil membawa putranya keluar dari rumah sang suami, ia menggendong tubuh Askha sembari menenteng satu koper miliknya yang berisi barang-barang keperluan mereka. Tiara sudah tidak tahan lagi, ia ingin pergi sekarang juga dari rumah itu dan meninggalkan suaminya yang sudah mengkhianati cinta mereka.


Galen juga tampak tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya pasrah melihat istrinya melangkah keluar bersama putranya. Galen menangis, ya itulah yang ia lakukan saat ini karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan istri dan anaknya. Galen sungguh tak menyangka, kalau kesalahan yang ia lakukan itu bisa berakibat fatal seperti ini.


Namun ketika Tiara hendak memasuki taksi yang ia pesan, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di dekatnya dan membuat Tiara terkejut. Tiara tahu betul siapa pemilik mobil itu, karena ia sudah sering sekali melihatnya. Ya benar saja dugaannya, tak butuh waktu lama kini Nadira keluar dari mobil itu dengan tampang heran melihat ke arah Tiara.


"Tiara, ini ada apa? Kamu mau kemana sama Askha, kok sampai bawa-bawa koper kayak gitu sih?" tanya Nadira dengan bingung.


Tiara pun terlihat bingung dan tak tahu harus menjawab apa, ia ragu untuk menceritakan semua pada Nadira saat ini karena ia tidak ingin membuat hubungan Nadira dan Galen rusak. Akan tetapi, tak mungkin juga jika Tiara berbohong pada Nadira sebab Nadira pasti akan mengetahuinya.


"A-aku mau pergi ma, aku udah gak kuat lagi terus-terusan ada di rumah ini. Aku juga mutusin buat pisah dari mas Galen, karena aku rasa semua ini sudah cukup," jawab Tiara dengan gugup.

__ADS_1


"Maksud kamu??"


Nadira benar-benar terkejut mendengar ucapan Tiara barusan, ia langsung menoleh ke arah Galen yang terlihat tengah memperhatikan dari jauh. Tanpa banyak bicara lagi, Nadira pun bergerak menghampiri putranya itu dengan ekspresi marah. Sedangkan Tiara tampak terbelalak dibuatnya, wanita itu khawatir Nadira akan memarahi Galen.


"Galen! Apa yang kamu lakukan ke Tiara, ha? Kenapa kamu sakitin dia sampai dia mau pergi dari rumah ini? Kamu itu gak punya hati ya Galen?" sentak Nadira memarahi putranya itu.


"Mama?" Galen tersentak dan bingung saat mamanya tiba-tiba muncul di depannya.


"Ayo jawab Galen! Kamu itu emang anak gak tahu diuntung ya? Kamu sama aja kayak mama kamu, sukanya nyakitin hati perempuan!" ujar Nadira.


"Hah? Maksud mama apa??" heran Galen.


"Jangan panggil saya mama! Kamu itu cuma anak pelakor yang gak tahu diri!" tegas Nadira.


Deg


Galen sontak terkejut dan tak mampu berkata-kata, ucapan Nadira itu kembali mengingatkannya pada momen kelam beberapa tahun lalu saat Nadira masih sangat membencinya. Galen pun menunduk lesu, ia menyesal dan kecewa pada dirinya sendiri karena melakukan kesalahan itu.




Jessica tengah bersama Bagas alias kekasihnya itu di parkiran rumah sakit, wanita itu baru saja usai melakukan tes kesehatan sekaligus mengecek kondisi kandungannya di dalam sana. Bagas pun tampak setia menemani, menunggu sampai wanitanya selesai dan pulang bersamanya.


Kini keduanya sama-sama tersenyum puas karena rencana yang mereka berdua lakukan sebentar lagi akan terlaksana, keinginan mereka untuk membuat Galen hancur dan menderita tidak lama lagi akan terjadi. Bagas pun tampak sudah tidak sabar dengan itu, mengingat ia benar-benar benci pada Galen karena ia kehilangan papanya.


"Kamu tenang aja Bagas! Gak lama lagi kita bisa menguasai harta Galen sepenuhnya, karena aku akan menikah dengan dia nanti. Kamu percaya aja sama aku ya sayang!" ucap Jessica menyeringai.


Bagas mengangguk perlahan, "Ya Jessica, orang seperti Galen itu harus diberi pelajaran! Dia dan papanya dulu sama-sama kejam, aku gak akan pernah bisa maafkan dia sebelum aku bikin dia benar-benar menderita!" ucapnya menggeram.


"Iya sayang, aku paham kok sama kesedihan kamu. Kalau aku jadi kamu, pasti aku juga bakal dendam banget sama si Galen itu!" ujar Jessica.


"Hm, thanks ya sayang karena kamu udah mau bantu aku buat jalanin rencana ini! Aku percaya sama kamu, pasti kamu bisa melakukan semuanya dan bikin si jahat Galen itu menderita!" ucap Bagas.


"Oh tentu sayang, dengan anak ini maka semua itu bisa kita lakukan. Dia juga gak akan tahu, kalau sebenarnya anak ini bukan anak dia!" ucap Jessica.


Bagas pun tersenyum menyeringai dibuatnya, ia turut mengusap perut Jessica yang masih belum terlalu membesar itu dan mendekap tubuh wanitanya sembari mengecup keningnya. Bagas sangat senang memiliki kekasih seperti Jessica, sebab tentunya Jessica mau menuruti semua yang ia katakan dan membantunya menjalankan misi balas dendam kepada Galen saat ini.


"Apa??" tanpa disadari oleh keduanya, rupanya sedari tadi ucapan mereka didengar oleh seorang wanita di belakang mereka.


Disaat mereka berdua menoleh ke asal suara, ternyata sudah berdiri sosok Ciara disana yang tentu saja baru selesai juga melakukan tes medis di rumah sakit itu. Tadinya Ciara memang tak sengaja mendengar kedua orang itu menyebut-nyebut nama Galen alias kakaknya, sehingga Ciara pun memilih untuk mendekati mereka dan mendengarkan ucapan Jessica serta Bagas disana.


"Jadi, kalian ini mau bikin kak Galen menderita? Sebenarnya kalian siapa, kenapa kalian dendam banget sama kakak aku?" tanya Ciara pada mereka dengan wajah penasaran.


Baik Bagas maupun Jessica sama-sama bingung harus menjawab apa, kini mereka juga tahu kalau yang berdiri di hadapan mereka adalah adik dari Galen. Tentu jika mereka memberitahukan semua rencana mereka pada Ciara, pasti Ciara akan segera memberitahu juga kepada kakaknya itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...~~~...

__ADS_1


...NOH UDAH SATSET YAAA...


__ADS_2