
Waktu pulang sekolah tiba, Cyra bersama Rachel keluar dari sekolah mereka dan berdiri tepat di dekat gerbang sambil menunggu kendaraan jemputan mereka tiba. Kebetulan dua gadis cantik itu memang anak dari usahawan yang kaya raya, sehingga tentu mereka akan dijemput setiap pulang sekolah. Tidak seperti murid lainnya, terutama murid kurang mampu yang hanya bisa pulang menaiki angkot.
Namun, sungguh Cyra terkejut saat tiba-tiba ia melihat sebuah mobil berhenti di depan mereka dan memperlihatkan seorang pria yang duduk tepat di kursi kemudi dengan kacamatanya. Pria itu melirik ke arah keduanya disertai senyuman yang manis, seketika Cyra serta Rachel pun terbelalak kali ini. Detak jantung Cyra bahkan berdegup lebih kencang, meski ia tahu pria di dalam itu adalah Faiz.
Tanpa diduga, Faiz pun turun dari mobilnya dan melangkah menghampiri mereka berdua. Terlihat Rachel begitu antusias kali ini, karena memang Faiz adalah sosok pria yang tampan. Kini Faiz melepas kacamata dari wajahnya, lalu menyapa kedua gadis itu secara bergantian. Entah apa alasan Faiz datang kesana, sehingga Cyra benar-benar dibuat gugup dan tidak tahu harus berbicara apa.
"Halo Cyra! Halo juga kamu, temannya Cyra kan?" ucap Faiz menyapa keduanya.
"Ah iya, halo ganteng! Kenalin, namaku Rachel dan aku sahabat terbaiknya Cyra!" Rachel langsung mengenalkan dirinya dengan antusias dan menyodorkan tangan ke arah lelaki itu.
Cyra yang melihat kelakuan sohibnya hanya bisa menggeleng pelan, ia bingung mengapa bisa ia memiliki sahabat seperti gadis itu. Tapi biar begitu, Cyra tetap bangga dapat berteman dengan Rachel yang sangat setia dan selalu ada di sisinya disaat ia membutuhkan bantuan.
"Halo juga! Saya Faiz, abangnya Cyra!" ucap Faiz disertai senyum lebarnya.
"Hah??" Cyra menyela lebih dulu dan menatap wajah pria itu seolah terkejut, apalagi ketika Faiz mengaku sebagai abangnya di depan Rachel.
"Wah keren banget lu Cyra, bisa punya abang yang tampak kayak gini!" puji Rachel.
Cyra menggeleng saja mendengarnya, ia tak tahu harus berkata apa kepada Rachel setelah Faiz mengaku sebagai abangnya. Padahal, nyatanya Faiz itu merupakan pamannya alias anak dari omanya. Ya memang Faiz masih terlalu muda untuk disebut sebagai paman, tapi begitulah nyatanya.
"Kenapa sih Cyra? Kamu kayaknya gak suka banget saya kesini, apa kamu cemburu ya karena saya kenalan sama teman kamu ini?" tanya Faiz bermaksud menggoda gadis itu.
"Dih enggak lah, ngapain juga aku harus cemburu? Terserah kamu mau kenalan sama siapa kek, gak ada pengaruhnya buat aku!" elak Cyra.
Faiz tersenyum, lalu mendekat ke arah ponakan cantiknya itu dengan perlahan. Ia rangkul pundak Cyra tepat di hadapan Rachel, sehingga saat itu juga Cyra merasa gugup dan gemetar. Kini Cyra terus menatap wajah Faiz dari dekat, gadis itu sungguh tak tahu mengapa sikap Faiz mendadak berubah menjadi lembut seperti itu padanya.
"Gausah cemberut gitu, iya deh saya gak terlalu dekat lagi nih sama teman kamu itu. Tapi, coba dong kamu senyum sayang!" goda Faiz.
__ADS_1
"Apa sih om?" Cyra melotot lebar dan menyingkirkan tangan pamannya itu, lalu bergeser menjauh dari sang paman karena merasa tidak nyaman saat pria itu merangkulnya serta memanggilnya sayang.
"Loh kok om sih, Cyra? Masa cowok tampan kayak gini lu panggil om?" heran Rachel.
"Cel, dia itu—"
Belum sempat Cyra selesai bicara, Faiz sudah lebih dulu menariknya dan membawanya menjauh dari Rachel sembari membungkam mulutnya dengan telapak tangan. Cyra pun tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya pasrah ketika Faiz membawanya secara paksa entah kemana.
•
•
"Mmpphh mmpphh!!" Cyra terus memukul-mukul bahu pamannya seolah minta dilepaskan.
Akhirnya Faiz menurut, ia pun melepaskan gadis itu dan tersenyum ke arahnya sambil terus mendekap tubuhnya dengan kuat. Sedangkan Cyra tampak menarik nafas sedalam mungkin karena merasa sesak saat Faiz menutup mulutnya tadi, gadis itu juga kesal dan menatap tajam wajah pamannya disertai rahang yang mengeras.
"Om, sebenarnya om kenapa sih jadi kayak gini? Perasaan pas awal kita ketemu, om gak suka banget sama aku. Ini kenapa sekarang om jadi baik terus suka peluk-peluk aku begini?" tanya Cyra keheranan.
"Sederhana aja sih, aku itu disuruh sama oma kamu. Kalau enggak, mana mau aku begini sama kamu?" jawab Faiz dengan santai.
"Ck, yaudah lepas ah!" kesal Cyra.
Gadis itu langsung menghentak kasar lengan sang paman dan pergi menjauh, ia tak mau jika Faiz menyentuh tubuhnya sembarangan seperti tadi karena ia masih merasa kesal padanya. Cyra pun membersihkan tubuhnya yang bekas disentuh oleh pria itu, membuat Faiz menggeleng seketika.
"Segitunya kamu benci sama aku, hm? Aku ini tetap paman kamu loh Cyra, kamu harusnya hormat sama aku!" ucap Faiz.
"Ish, ngapain? Males banget aku harus hormat sama orang kayak kamu!" sentak Cyra.
__ADS_1
"Heh Cyra! Mulut kamu tuh kayaknya perlu dijahit deh, sembarangan aja kalo ngomong! Gak sopan tau kayak gitu, siapa sih orang tua kamu? Apa mereka gak ngajarin sopan santun ke kamu ya?" ucap Faiz dengan tegas.
"Om jangan bawa-bawa orang tua aku ya! Ini gak ada sangkut pautnya sama mereka, jadi kalo om mau hina ya hina aku aja!" ucap Cyra sangat kesal.
Faiz pun terdiam dan merasa bersalah, ia coba mendekati gadis itu untuk meminta maaf karena tadi ia telah berkata yang seharusnya tidak ia katakan kepada Cyra. Namun yang membuatnya semakin merasa tidak enak, saat ini Cyra justru menangis dan meneteskan air matanya.
"Hiks hiks.." ya Cyra menangis dengan deras sembari menutupi wajahnya.
"Loh loh, kok kamu nangis sih Cyra? Cuma begitu aja masa kamu sampe nangis segala? Iya iya, aku minta maaf deh kalau salah," ucap Faiz.
"Hiks hiks, huhuuu.."
Tangisan Cyra justru semakin deras, ia sepertinya teringat pada kedua orangtuanya yang berkata ingin bercerai dan ia sampai sekarang belum tahu apa kelanjutan dari proses perceraian mereka. Untuk itu, Cyra pun bersedih karena khawatir jika sampai orangtuanya benar-benar bercerai.
Faiz yang melihat itu tampak semakin panik, ia dekati gadis itu dan coba membujuknya agar tidak terus menangis. Ia sentuh punggung Cyra secara perlahan, rasanya ia tak bisa melihat gadis seperti Cyra menangis begitu di depannya. Apalagi, Faiz sadar kalau Cyra menangis karena kesalahan ia dalam berucap.
"Cyra, udah ya jangan nangis! Aku minta maaf sama kamu, gak enak tau dilihat sama orang-orang! Nanti mereka ngiranya aku sengaja nyakitin kamu lagi," ucap Faiz dengan nada panik.
"Hiks hiks hiks.." Cyra terus menangis deras, sehingga Faiz semakin kebingungan.
Terpaksa Faiz kembali memeluk erat tubuh ponakannya yang sedang menangis itu, ia tak mau ada orang lain yang melihat kejadian itu. Faiz pun berusaha keras membujuknya, mengusap lembut punggung gadis itu sambil terus meminta maaf padanya agar Cyra mau berhenti menangis.
"Hey!!" tiba-tiba saja, seorang lelaki datang kesana dan menegur mereka.
Sontak Faiz menoleh ke asal suara, disana ia melihat sosok Davin yang berdiri tegap sambil menatap dengan ekspresi marah. Sedangkan Cyra masih menangis di dalam pelukan Faiz, tak sadar saat Davin sudah menghampirinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...